
Sudah hampir 5 menit, Agung dan Nuri hanya memperhatikan dua pasang mata yang saling menatap diiringi dengan senyum di bibir mereka.
"Makan, keburu dingin makanannya!" tegur Nuri yang sudah mulai merasa jengah.
Saat itu juga mata Fisya langsung memutuskan pandangannya kepada Brayan. Fisya sampai lupa jika saat ini mereka sedang berada di meja makan untuk sarapan.
"Mama juga makan, enggak usah memperhatikan orang," sahut Brayan.
"Nah, benar tuh, Ray. Mama kamu kayak gak pernah muda aja 'kan?" sambung papanya.
"Memangnya dulu Mama gimana, Pa?"
"Kamu ini mau tahu aja urusan orang tua. Sudah makan aja, nanti kamu malah telat!" ujar Nuri.
Fisya tersenyum canggung. Apalagi saat mata Brayan tak henti untuk menatap dirinya.
"Ray, makan! Nanti keburu dingin, enggak enak nanti," kata Fisya.
"Suapin."
Saat itu juga mata Fisya langsung melotot dengan lebar Dengan cepat Fisya langsung menolaknya. "Apaan sih, Raya! Malu tahu dilihatin mama sama papa," bisik Fisya.
"Udah enggak usah malu anggap aja mama sama papa enggak ada," kata Nuri.
Fisya tersenyum tipis lalu menyuapkan satu sendok penuh kedalam mulut Brayan, membuat pria itu kesusahan untuk mengunyah.
"Akk lagi ya."
Belum juga habis nasi yang ada di mulut, suapan demi suapan sudah masuk kedalam mulut lagi.
"Sya, kamu mau membunuhku." Brayan bersusah payah menelan nasinya. "Gak gini juga, Sya! Ma, lihatlah, menantu mama menyiksaku."
"Sudahlah, banyak drama kamu! Sya, abis ini kita ke butik ya. Mama pengen nyari baju buat acara undangan minggu depan."
"Gak boleh! Hari ini Fisya enggak gak boleh kemana-mana!" Dengan cepat Brayan memberikan larangan.
Bukan tanpa alasan. Brayan sengaja melarang karena tadi pagi Fisya sempat mengeluh sakit diarea sensitifnya.
"Kamu apa-apaan sih, Ray? Mama cuma ngajak menantu mama untuk ke butiknya. Gak kemana-mana, kok!" protes Nuri.
"Sekali aku bilang enggak boleh, berarti ya enggak gak boleh, Ma. Kamu mengerti 'kan Sya?" Brayan menaikan satu alisnya untuk memberi sebuah isyarat kepada Fisya.
__ADS_1
"Iya, aku tahu itu. Ma, maafin Fisya ya." Dengan berat hati Fisya memilih untuk menuruti keinginan Brayan.
Nuri hanya membuang kasar napas beratnya. Dia tidak menyalakan Fisya. Mungkin saja Brayan melarang Fisya karena ada alasan tersendiri.
**
Semakin hari, Brayan malah membatasi aktivitas Fisya untuk pergi ke Butik. Apalagi setelah mereka melakukan hubungan suami-istri, pagi harinya Brayan tidak akan mengizinkan Fisya untuk ke Butik. Apapun itu alasannya, tetap tidak boleh.
"Ray!" panggil mamanya.
"Iya, Ma. Ada apa?" Brayan menoleh saat mamanya mengejar sampai di teras.
"Mama itu enggak tahu bagaimana cara berpikir kamu setelah menikah. Dengan cara kamu melarang Fisya ke Butik, itu sama aja kamu mengekang dia, Ray! Apa kamu enggak berpikir bagaimana kalau Fisya tertekan?"
"Ma, Rayan tahu apa yang harus Rayan lakukan. Itu semua juga untuk Fisya, Ma. Pokoknya kalau Fisya di rumah jangan Mama suruh untuk terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah. Lagian rumah sebesar ini gak ada ARTnya."
Nuri sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Brayan hanya mengehela napas panjangnya. Mungkin ini cara Brayan yang mencintai Fisya?
"Sudahlah, Ma. Kalau Mama cuma mau mengajak Fisya shoping, Rayan tidak akan pernah memberikan izin. Lagian perempuan hobinya kok cuma shoping terus. Gak kasihan apa sama dompet suaminya?"
Saat ingin menjawab ucapan Brayan, tiba-tiba Agung muncul dari pintu. "Ray kamu tidak bisa mengekang keras seperti itu kepada Fisya. Jangan buat dia tertekan!"
"Ma, Pa. Rayan itu cuma tidak ingin Fisya merasa kelelahan, itu saja. Rayan harap, kalian tahu apa maksud Rayan." Karena tidak ingin berdebat dan tidak ingin terlambat sampai di pondok, Brayan memilih untuk segera berlalu.
"Apakah Rayan melarang Fisya karena Fisya sudah bekerja tadi malam, ya?" tebak Agung.
"Maksud Mas Agung, mereka .... "
Agung hanya menganggukkan kepalanya. Sepertinya alasan Brayan cukup masuk akal. Dia tidak ingin membuat istrinya kelelahan lagi.
"Anak itu benar-benar ya." Nuri yang baru paham akhirnya menghela napas beratnya.
**
Rasa benci itu kini sudah terkikis habis tak tersisa lagi. Bahkan hanya sekedar untuk mengingat saja sudah tak mampu. Dan separuh hati yang hilang itu kini telah menyatu lekat di dalam hati.
Dua hati yang memiliki perbedaan, menyatu dalam sebuah ikatan yang sah. Meskipun seringkali terjadi perdebatan, tetapi mereka punya cara lain untuk mengatasinya.
"Ray, cepatan!" seru Fisya yang sudah bosan menunggu Brayan.
Malam ini rencananya Fisya akan menginap di rumah Abinya. Namun, Fisya harus menunggu Brayan yang belum juga siap untuk memakai pakaiannya.
"Sya ... aku tidak tahu baju mana yang akan aku pakai."
__ADS_1
Fisya hanya menarik kasar napasnya. Dia yang terlahir sebagai perempuan, tidak pernah mempermasalahkan tentang pakaian. Baginya yang penting nyaman untuk dipakai itu sudah cukup.
"Kamu ini udah kayak perempuan!"
Akhirnya Fisya turun tangan untuk mencarikan pakaian yang cocok untuk suaminya.
Jantung Fisya mendadak ingin lepas ketika sebuah tangan melingkar di perutnya. Dengan manja Brayan menyandarkan kepala di bahu sang istri.
"Sya, kita tunda saja ya ke rumah Abi," rengeknya. "Kita bobok disini sambil membudidayakan telur katak," bisiknya lagi.
Fisya langsung bergidik geli saat hembusan napas mengenai daun telinganya. "Tapi kita udah berjanji akan tidur disana, Ray. Umi pasti sudah menyiapkan semuanya."
"Mereka pasti akan mengerti, kok." Tangan perlahan naik hingga membuat desiran menggeliti di seluruh tubuh Fisya
"Ray."
Brayan tak memperdulikan panggilan Fisya. Karena saat ini dia hanya ingin fokus pada satu tujuannya. Membudidayakan telur katak.
Layaknya pasangan suami-istri lainnya, Brayan memperlakukan Fisya dengan penuh kelembutan dan gairah, karena Brayan adalah lelaki normal yang tidak akan puas hanya dengan satu kali permainan.
Dibawah temaram lampu kamar, keduanya menyatukan tubuh dalam ikatan yang suci lahir dan batin.
Setelah berhasil menyebarkan telur katak, mereka berdua langsung segera membersihkan diri, meskipun mereka baru saja mandi.
"Sya, apakah kamu sudah siap jika kita memiliki anak di usia kita yang masih muda atau berencana untuk menundanya?"
Fisya yang sedang mengeringkan rambutnya terbelalak. Jujur, dia tidak berpikir sampai disitu. Jika memang dipercayakan secepatnya, Fisya hanya bisa bersyukur. Namun, jika harus menunggu, Fisya pun hanya bisa pasrah, karena semua dia percayakan kepada sang pencipta.
"Aku tidak berharap lebih, tapi jika Allah mempercayakan secepatnya maka aku akan bersyukur."
Jawaban Fisya membuat Brayan melayang. Selama dia mengenal Fisya, baru kali ini Fisya bisa berbicara bijak.
"Ya ampun Sya .... pikiran kamu sekarang dewasa banget sih!"
"Iya. Dan pikiranmu sekarang cethek ."
Pada akhirnya Fisya harus mengundur lagi janji yang telah dia buat untuk orang ke rumah orang tuanya. Itu semua karena kelakuan Brayan yang membuatnya menyerah.
Jika saat ini Fisya bisa merasakan sebuah kebahagiaan, maka berbeda dengan Alqan yang terus dihantui dengan rasa penyesalan, hingga membuatnya buta dan berambisi untuk bisa mendapatkan Fisya kembali.
"Sya ... kamu tidak boleh bahagia diatas penderitaanku. Kita harus sama-sama bahagia dan sama-sama sakit." Alqan menatap tajam sebuah foto yang ada di tangannya.
...~~~...
__ADS_1
...🌹 BERSAMBUNG 🌹...