Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 28 | Bukan kabar Buruk


__ADS_3


Semua keperluan Rayan sudah disiapkan sepenuhnya oleh Fisya. Saat ini Brayan layaknya seorang raja yang semua kebutuhannya telah siapkan oleh pelayannya.


"Jadi bagaimana hasilnya?"


"Hasilnya Riyan harus segera bertanggung jawab. Mau tidak mau dia harus segera menikahi Nara dalam waktu secepatnya."


Briyan yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Brayan dan Fisya mendadak wajah menjadi merah padam. Ternyata Briyan baru tahu mengapa Brayan dan papanya pulang telat. Diam-diam ternyata mereka bertemu dengan keluarga Nara. Yang paling menyakitkan adalah mengapa tanpa sepengetahuan dirinya.


"Tadi kamu bilang apa, Ray?" Tiba-tiba saja pintu kamar Briyan terbuka dan menampilkan sosok Briyan yang langsung masuk begitu saja.


Brayan dan Fisya langsung menatap langkah Briyan yang semakin mendekat. Keduanya pun hanya bisa menelan kasar salivanya, karena merasa sangat terkejut dengan kedatangan Briyan kedalam kamarnya.


"Jelaskan sekali lagi apa maksudnya?" ulang Briyan dengan tatapan tajam.


"Riy, kamu dengar?" Brayan memutar bola matanya.


"Aku sudah denger semuanya, Ray. Tak perlu kamu jelaskan aku tahu!"


Briyan yang hendak mengambil air minum ke dapur terpaksa harus mengurungkan niatnya karena tak sengaja mendengar pembicaraan Brayan dengan istrinya.


"Ray, kenapa sih kamu enggak percaya kalau ini hanya sebuah jebakan? Aku masih waras dan tidak mungkin menghamili anak orang, Ray!" Briyan masih bersikukuh dengan pendiriannya jika dia tidak menghamili Nara.


"Tapi semua bukti mengarah padamu, Riy. Kamu harus bertanggung jawab untuk menikahi Nara."


"Kamu pikir aku mau? Tidak! Aku tidak akan pernah mau untuk menikahi wanita itu!" Briyan pun langsung berlalu meninggalkan kamar Brayan sambil membanting pintunya dengan keras.


BRAAKKK


"Astaghfirullahaladzim." Fisya mengelus dada karena terkejut dengan suara bantingan pintu.


Suara itu menggema hingga mengagetkan kedua orang tuanya yang berada di kamarnya. Karena penasaran kedua orang tuanya pun keluar untuk memastikan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


"Ray ada apa?" tanya papanya saat melihat Brayan berlari untuk mengejar Briyan.


"Riyan udah dengar semua dan dia enggak terima, Pa."


Agung menghela napas kasarnya sambil menjambak rambutnya. Entah apa maksud anaknya yang satu itu hingga membuat dirinya hampir gila. "Dasar anak itu!" Agung pun langsung bergegas menuju kamar Briyan.


"Riy, buka pintunya! Jangan seperti anak kecil seperti ini, Riy!" teriak papanya sambil menggedor pintu kamar Briyan.


"Jika Papa hanya menyuruh Riyan untuk bertanggung jawab, Riyan tidak ingin membuka pintunya!" seru Briyan dari dalam kamar.


Nuri hanya bisa mengelus pundak suami untuk lebih tenang saat menghadapi Briyan.


"Mas, jangan terlalu keras. Kita harus membujuknya dengan pelan. Mas tahu 'kan bagaimana sifat Riyan?"


"Iya aku tahu, semua ini tak bisa berlarut-larut, Dek. Tadi kami sudah menemui keluarga Nara dan mereka meminta agar Riyan segera bertanggung jawab sebelum aib terangkat ke telinga masyarakat. Kamu tahu kan apa konsekuensinya kan?"


Untuk saat ini Nuri tak bisa berpihak pada Briyan karena anak itu memang harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan.


"Riy, buka pintunya! Jika kamu masih menganggap mama ini mama kamu, tolong buka pintunya!" seru Nuri.


Hening untuk sejenak. Agung dan Nuri masih menunggu Briyan membuka pintu.


Dengan wajah layu, Briyan akhirnya menunjukkan batang hidungnya di depan orang tuanya.


"Ikut Mama!" tegas Nuri.


Seperti seorang narapidana hendak menjalani eksekusi, Briyan hanya pasrah untuk mengikuti langkah mamanya, sekalipun enggan untuk menatap orang yang akan menghakiminya.


"Sejak kapan Mama mengajarkan kamu menjadi seorang pengecut yang lari dari tanggung jawab? Kamu seorang laki-laki yang harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan. Dengan sikapmu seperti ini sama saja kamu telah menyakiti Mama, Riy!"


Briyan masih tertunduk, sungguh tak sedikitpun dia ingin menyakiti mamanya, tetapi dia juga tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang sama sekali tidak dia lakukan.


"Riy, kamu dengar apa kata Mama 'kan?" timpal Agung.

__ADS_1


"Riyan dengar, Pa."


"Bagus jika kamu mendengar. Berarti tidak ada alasan lagi kamu bertanggung jawab 'kan?"


"Iya, Pa." Dengan berat hati, Briyan mengiyakan, membuat mamanya merasa sangat lega mendengar jawaban Briyan.


**


Usai membicarakan masalah kapan akan menikahi Nara, akhirnya Briyan menjatuhkan kasar tubuhnya diatas tempat tidur.


"Sial," umpatnya.


Briyan benar-benar tidak mengingat dengan jelas mengapa dia bisa tidur satu ranjang dengan Nara dalam keadaan tanpa busana.


Briyan hanya mengingat jika malam itu dia dan beberapa temannya sedang melakukan dinner. Namun, entah mengapa saat hendak pulang kepalanya terasa sangat pusing. Dengan bantuan Nara, dia pun meninggalkan restoran.


"Aku yakin jika Nara telah menjebakku. Tidak mungkin aku melakukan perbuatan terlarang itu. Jika aku memang melakukan hubungan terlarang seharusnya ada sesuatu yang aneh dalam tubuhku. Namun, nyatanya tidak ada tanda-tanda aku mengambil kehormatannya."


Briyan masih belum bisa memejamkan mata. Keputusan yang disampaikan oleh papanya sungguh keputusan buruk untuknya. Bagaimana tidak, dalam tempo satu minggu dia harus segera menikahi Nara yang sedang hamil, entah anak siapa yang ada di dalam kandungan Nara saat ini, tetapi dia yang harus bertanggung jawab atas kehamilan wanita itu.


"Aku memang tak sebaik Rayan, tapi aku juga masih punya pendirian dan keimanan. Mana mungkin aku merampas kehormatan seorang wanita. Semua ini hanya jebakan!" Berulang kali Briyan mengumpat dalam kekesalannya.


"Jika memang benar Nara yang telah merencanakan semua ini, aku tidak akan tinggal diam. Lihat saja, apa yang akan aku lakukan pada nanti."


.


.


.


.


...~BERSAMBUNG~...

__ADS_1


__ADS_2