Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 25 | Pertengkaran


__ADS_3


Tidak ada yang bisa menjamin jika satu produksi tetapi akan berbeda hasilnya. Mungkin inilah yang menggambarkan antara dua anak kembar yang memiliki perbedaan karakter, dimana sang kakak sudah bisa berpikir dewasa sementara sang adik masih kekanak-kanakan dan keras kepala.


Bagaikan disambar petir di siang hari saat sebuah kabar berita yang disampaikan oleh Briyan membuat keluarganya merasa sangat shock. Selama ini Briyan telah diberikan kepercayaan penuh oleh kedua orang tuanya. Namun, apa yang terjadi? Briyan malah mengecewakan kedua orang tuanya.


Agung menatap tajam kearah Briyan yang menunduk tak berdaya.


BRAAKK !!


Satu gebrakan meja membuat seluruh anggota keluarga tersentak dengan dada yang berdebar.


"Papa benar-benar sangat kecewa kepada, Riy! Inikah hasil dari kepercayaan yang telah Papa berikan kepadamu? Kamu benar-benar merusak nama baik keluarga kita!" Mata Agung memerah menatap Briyan, saudara kembarnya Brayan.


Selama ini Agung sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang baik dan tidak salah jalan. Namun, kenyataan kebebasan yang dia berikan malah membuatnya terseret dalam pergaulan bebas di luar sana.


Berbeda dengan Agung yang dilanda kemarahan luar biasa, Nuri hanya bisa terisak saat mendengar pengakuan anaknya.


"Bisa-bisa kamu melakukan hal yang sepantasnya kamu lakukan, Riy!" Kini giliran Brayan yang turut menghakimi Briyan.


"Aku tahu aku salah, aku minta maaf. Pa, tolong maafkan aku. Aku tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Briyan tidak bisa menikahi Nara, Pa." Sampai detik ini Briyan belum berani untuk mengangkat wajahnya.


"Kenapa, kenapa kamu harus mengikuti jejak papa, Riy? Kenapa?" bentak Agung dengan napas naik turun.


Dalam kasus ini Agung merasa telah gagal menjadi seorang ayah untuk anak-anaknya. Masa lalu yang kelam kini harus diikuti oleh salah satu anaknya.


"Papa tidak mau tahu! Sebagai seorang laki-laki kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan."


"Tapi Riyan tidak mencintai Nara, Pa. Riyan tidak merasa melakukan hal itu pada Nara. Riyan hanya dijebak. Pa, tolong percaya pada Riyan."


"Apa kamu bilang? Dijebak? Kamu pikir Papa tidak tahu jika ini hanya akal-akalan kamu untuk lari dari kenyataan. Iya kan? Berani berbuat berani bertanggung jawab, Riy!" sentak Agung dengan emosi.


Hati Nuri sangat hancur ketika mendengar pengakuan Briyan yang dituntut untuk bertanggung jawab atas seorang wanita yang sedang hamil. Entah apa yang terjadi malam itu sehingga Briyan bisa berada dalam satu ranjang dengan seorang wanita. Karena kecewa, Nuri memilih untuk meninggalkan ruang keluarga sambil menangis perbuatan yang telah dilakukan oleh anaknya.

__ADS_1


"Sya, tolong tenangkan mama dulu ya," pinta Brayan kepada istrinya.


"Iya." Dengan sebuah anggukan, Fisya segera berdiri untuk mengejar mertuanya yang saat ini telah masuk kedalam kamar.


Brayan tak habis pikir mengapa adiknya bisa melakukan perbuatan terlarang, sementara mereka berdua pernah belajar mendalami ilmu agama saat berada di pesantren.


"Jadi sudah berapa bulan?" Brayan memecahkan suasana hening.


"Baru dua bulan."


Mata Brayan langsung membulat dengan lebar. "Jadi ini adalah projects yang kamu katakan itu? Sungguh hebat kamu Riy! Aku yang duluan nikah tetapi kamu yang duluan punya menghamili anak orang." Brayan tersenyum sinis menatap adiknya.


"Kamu sudah berani berbuat berarti kamu juga harus berani untuk bertanggung jawab. Dalam hal ini aku tidak bisa membelamu, yang pasti kamu harus bertanggung jawab dengan cara menikahi wanita itu," lanjut Brayan lagi.


"Tetapi aku tidak mencintainya, Ray. Aku hanya dijebak malam itu!" bantah Briyan.


"Apapun itu alasannya kamu harus tetap bertanggung jawab, Riy!"


"Iya, aku tahu. Tapi apakah mungkin anak itu adalah anakku? Mungkin saja wanita itu hamil dengan pria dan menebalkan aku untuk bertanggung jawab."


Satu tamparan kerasa mendarat di pipi Briyan. Saat itu juga mata Brayan terbelalak lebar saat melihat papanya dengan menampar Briyan dengan sangat keras.


"Jaga ucapanmu, Riy! Papa dan Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk seperti ini. Papa dan Mama benar-benar menyesal telah memberikan kebebasan padamu. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik kamu tinggal di luar negeri bersama Oma!" bentak Agung keras.


Briyan langsung terdiam seribu bahasa saat papanya benar-benar sangat marah kepada dirinya. Bahkan saat Brayan dan papanya pergi, Briyan masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya. Berulang kali Briyan hanya membuang napas beratnya serta mencoba untuk mengingat kejadian malam itu. Namun, sayangnya Briyan tidak bisa apa yang terjadi malam itu.


**


Di dalam kamar Brayan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Sungguh ini adalah pukulan terberat untuknya. Dia tidak habis pikir mengapa Briyan bisa melakukan hal kotor seperti itu.


"Kenapa Riyan harus melakukan perbuatan seperti itu, kenapa Sya?"


Fisya tahu bagaimana perasaan Brayan saat ini. Dia hanya bisa memberikan pelukan hangat agar, suaminya merasa lebih tenang.

__ADS_1


"Sabar Ray. Ini adalah ujian."


"Tapi Riyan sudah mencoreng nama baik keluarga, termasuk nama baikku juga, Sya. Dan dengan seenak jidatnya Riyan tidak mau bertanggung jawab. Anak macam apa itu?"


"Iya, aku tahu jika Riyan sudah mengecewakan keluarga. Kita pikirkan besok lagi ya. Sekarang kamu istirahat, karena besok kamu harus mengajar."


Brayan mengangguk dengan pelan mengikuti saran istri untuk beristirahat. Malam pun berlalu begitu saja tanpa ada pengembangbiakan telur katak. Keduanya memilih tidur begitu saja karena pemikiran sedang kacau.


Pagi ini tidak seperti biasanya. Fisya tidak melihat tanda-tanda mama mertuanya berada di dapur pun langsung mengambil alih tugas yang utama mama mertuanya di dapur, yaitu memasak untuk sarapan pagi.


"Ray, apa aku batalkan aja ya kontrak kerja dengan itu?" tanya Fisya pada Brayan yang tengah mengupas bawang.


"Lho, kenapa? Ada apa?"


"Aku takut jika akan selalu bertemu dengan Mas Alqan dan membuat kesalahpahaman, karena suamiku pecemburuan orangnya," ujarnya.


Brayan langsung menarik tipis dua garis bibirnya. "Itu karena aku sayang sama kamu, Sya. Tapi aku percaya sama kamu jika kamu bisa menjaga hati kamu. Aku tidak merasa keberatan jika kamu bekerja sama dengan Alqan, yang penting kamu bisa menjaga cinta kita."


Senyum Fisya pun mengembang luas. "Ray, makasih ya, kamu udah percaya dan mendukungku sepenuhnya."


"Iya, tapi ada syaratnya."


Fisya langsung mengernyit saat Brayan meminta sebuah syarat.


"Apa itu?"


"Panggil aku Mas, atau Sayang. Sekarang aku ini suamimu dan kamu harus menghargai aku. Masa iya pria lain kamu panggil Mas, sementara suami sendiri di panggil nama, 'kan terdengar enggak sopan, Sya "


Fisya yang menyadari akan kesalahannya segera meminta maaf kepada Brayan jika penuturannya selama ini sangat tidak sopan.


"Iya. Aku minta maaf ya jika penuturanku tidak beradab. Makasih udah ingetin aku dan mulai saat ini aku akan panggil kamu Mas Rayan."


Sebagai permintamaafan, Fisya langsung mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Brayan.

__ADS_1


"Gak usah mancing, kalau enggak mau bertanggung jawab!" ucap Brayan sambil melirik kearah Fisya.


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2