Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 48 | Berharap Kabar Baik


__ADS_3


Tidak ingin berada di tempat maksiat cukup lama akhirnya Briyan memilih meninggalkan tempat tersebut. Meskipun tangannya terasa memar, setidaknya dia merasa sangat puas telah memberikan sedikit pelajaran kepada Alqan dan Yoshi.


Tidak seperti biasanya keadaan rumah terasa sunyi. Tanpa ingin peduli, Briyan segera masuk kedalam kamarnya. Namun, saat baru melepaskan jaketnya, dia mendengar jika namanya di panggil. Briyan sangat hafal siapa pemilik suara tersebut.


Setelah mengetuk pintu beberapa kali dan belum ada jawaban, Zulfa tetap berusaha memanggil nama Briyan, berharap lelaki itu mau membuka pintunya.


Dengan wajah kesal, Briyan membuka pintu dan bertanya, "Ada apa?" ketusnya.


"Riy, sebelumnya aku minta maaf. Tapi aku tidak tahu minta tolong dengan siapa lagi jka bukan kamu. Fisya dan Rayan, mereka sudah tidur."


"Katakan dengan jelas, tidak usah bertele-tele!"


Dengan penuh keberanian, Zulfa mengatakan jika air di kamar mandinya tidak bisa jalan, sementara dia tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.


"Lagian siapa yang menyuruhmu untuk tinggal disini? Apakah kamu sudah dibuang oleh keluargamu dan juga ayah dari bayimu? Merepotkan saja!" ketus Briyan tajam.


Ucapan Briyan memang sangat menyakitkan. Namun, Zulfa mencoba untuk tidak terlihat menyedihkan.


Jika melihat keadaan Zulfa saat ini, seakan dirinya melihat bayangan Nara dengan perut yang hampir sama besarnya dengan perut Zulfa.


"Tidak perlu terlihat menyedihkan, karena hidupmu sudah menyediakan! Jika bukan karena Fisya, aku tidak sudi untuk menerimamu di rumah ini! Dasar merepotkan!"


Meskipun kesal, Briyan tetap menuju ke kamar yang ditempati oleh Zulfa. Salah satu kamar tamu yang jarang di tempati, bahkan kedua orang tuanya saja tidak tahu jika pengaliran air ke kamar itu tidak lancar. Briyan yang bukan ahlinya mana bisa untuk memperbaikinya.


"Aku tidak bisa memperbaikinya. Di dekat dapur sana ada kamar mandi. Kamu bisa menggunakan kamar mandi disana!"


Zulfa hanya bisa menatap nanar kepergian Briyan. Tak ada yang perlu disesali, karena semua telah terjadi. Zulfa tidak bisa mengembalikan waktu yang telah berlalu, apalagi untuk memperbaiki serpihan hati yang telah hancur.


"Riy, maafkan aku. Mungkin ini adalah karma untukku yang telah menyia-nyiakanmu."

__ADS_1


Zulfa akhirnya menuruti ucapan Briyan untuk menggunakan kamar mandi yang ada di dekat dapur. Namun, siapa yang akan menyangka jika kamar mandi itu sedang rusak. Selain pintunya yang rusak, bola lampu di kamar mandi itu ternyata juga mati.


Zulfa baru menyadari saat dia hendak menyalakan lampunya. Karena merasa panik, Zulfa pun langsung menjerit. "Aaaaa ...."


"Tolong! Briyan, tolong!" Zulfa berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi, berharap Briyan bisa mendengar teriakannya.


"Riyan .... tolong bukain pintu!" lanjut Zulfa lagi.


Namun, karena kamar mandi berada di belakang membuat Briyan yang berada di lantai dua tidak bisa mendengar teriakkan Zulfa.


Sebisa mungkin Zulfa berusaha untuk membuka pintu kamar mandi yang telah terkunci. Namun sayangnya tidak berhasil.


Zulfa hanya bisa pasrah. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding sambil terus menggedor pintu.


"Ya Allah, bantu hamba-Mu untuk bisa keluar dari disini, Ya Allah."


..


Briyan yang sama sekali belum mengisi perutnya sejak tadi pagi membuat cacing di perut terus memprotesnya. Semenjak kepergian Nara, dia tidak mengontrol lagi jadwal makannya dengan baik. Terkadang dia hanya makan saat perutnya sudah sangat lapar.


Di meja makan, Briyan menyantap masakan yang dimasak oleh iparnya. Namun, saat suapan pertama Briyan tidak yakin jika itu adalah masakan Fisya.


Meskipun sudah lama berpisah, Briyan tidak pernah lupa dengan rasa masakan yang saat ini masuk ke kerongkongan.


"Apakah Zulfa yang masak?"


Saat itu juga Briyan menyadari jika dia tidak melihat keberadaan Zulfa dan beranggapan jika saat ini Zulfa sudah tidur. Namun, samar-samar Briyan mendengar suara gedoran dari arah kamar mandi.


Awalnya Briyan merasa merinding, tetapi karena rasa penasaran, dia memilih menghampiri kamar mandi untuk memastikan lebih jelas.


Saat Briyan hendak memutar kenop, dia juga mendengar rintihan kecil dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Apakah di kamar mandi ini ada penghuninya," gumamnya.


Bola matanya langsung terbelalak dengan lebar saat melihat sepasang kaki dibelakang pintu.


"Astaga ...."


Awalnya Briyan mengira jika itu adalah kaki makhluk halus, tetapi saat dipastikan dengan jelas ternyata itu adalah kaki manusia.


"Riy ... To-long," lirih Zulfa pelan.


Briyan merasa sangat terkejut saat melihat tubuh Zulfa lemas tak berdaya. Antara ingin menolong atau mengabaikan, karena Zulfa adalah salah satu dalang di balik penjebakan malam itu.


"Riy ...." ulangnya lagi.


"Dasar wanita hanya bisa merepotkan saja!"


Meskipun hatinya sangat kecewa kepada Zulfa, tetapi Briyan terpaksa mengangkat tubuh wanita itu. Entah mengapa dia merasa tidak tega saat Zulfa merintih kesakitan.


"Riy, terima kasih. Maaf aku — " Belum siap Zulfa menyelesaikan ucapannya, Briyan segera menurunkan tubuh Zulfa dengan pelan.


"Beristirahatlah, sudah malam!"


Tak menunggu sebuah jawaban, Briyan segera meninggalkan Zulfa yang saat ini sudah berada di depan pintu kamarnya, karena dia ingin mencari informasi lebih lanjut tentang keberadaan Nara.


Dalam kesunyian malam Briyan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tujuannya saat ini adalah menuju studio miliknya. Namun, saat ditengah perjalanan ponselnya berdering. Sebuah panggilan telepon dari Husna, membuat Briyan menepikan mobilnya ke pinggir jalan.


[ Halo assalamualaikum, Mas Riyan Maaf malam-malam mengganggu. Aku cuma mau ngasih kabar kalau Nara ada di Jogja, Mas. Tadi sore aku sempat melihatnya, tapi saat ingin ku kejar, dia sudah tak terlihat lagi ]


Briyan yang mendengarkan laporan dari Husna segera menutup telepon. Tanpa pikir panjang, dia memutar mobilnya untuk segera menuju ke Jogja malam ini juga. Berharap jika apa yang dikatakan oleh Husna memang benar adanya.


"Sebenarnya apa yang sedang di rencanakan oleh mama dan papa sehingga mereka mengatakan jika Nara pergi ke Jerman. Aku harus segera menemukan Nara secepatnya!"

__ADS_1


...~~~...


...TBC...


__ADS_2