Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 20 | Bertemu Dengan Alqan


__ADS_3


Fisya yang merasa diabaikan memilih meninggalkan kamar dan mencari keberadaan mama mertuanya untuk menghilangkan rasa penatnya.


"Lho ... mana Rayan?" tanya mama mertuanya.


"Rayan tidur, Ma. Dia ngambek sama Fisya."


Nuri yang sedang menonton televisi menautkan kedua alisnya. "Ngambek?" cicitnya.


Fisya mengangguk pelan dan langsung menceritakan apa yang baru saja terjadi. Hal itu membuat Nuri tertawa pelan. "Ya, itulah salah satu kelemahannya. Dia masih suka ngambek. Sebenarnya bukan ngambek, sih. Cuma pengen perhatian lebih aja."


Nuri dan Fisya akhirnya terlibat perbincangan hangat. Sebelum menjadi menantu Nuri, Fisya memang sudah dekat dengannya. Apalagi Nuri adalah salah satu pelanggan tetap di butiknya.


"Kan malah disini!"


Fisya dan Nuri langsung menoleh kebelakang dan melihat Brayan berjalan malas kearah mereka.


"Kamu udah bangun?" tanya Fisya cepat.


"Siapa yang tidur? Aku cuma pura-pura tidur."


"Ngambeknya juga pura-pura 'kan?" sambung mamanya.


Brayan mendengkus pelan lalu merebahkan tubuhnya di sofa, tepat membelah duduk keduanya wanita yang dicintainya.


"Ma, Fisya itu nyebelin banget tahu! Masa kamar kami mau di berikan wallpaper Hello Kitty warna pink. Mama 'kan tahu kalau Rayan gak suka warna pink!" adu Brayan kepada mamanya.


Bukannya mendapatkan pembelaan, Brayan malah ditertawakan oleh mamanya.


"Bagus dong, biar gak gelap kamar kamu."


Jangan ditanya lagi bagaimana bibir Brayan yang mengerucut, karena sang mama sama sekali tak berpihak padanya.


"Mama sama Fisya sama-sama nyebelin!" Karena merasa kesal, Brayan memilih untuk meninggalkan istri dan mamanya begitu saja.

__ADS_1


***


Seminggu telah berlalu. Fisya dan Brayan pun juga sudah mulai aktif lagi untuk menjalankan aktivitas mereka seperti biasanya. Sebelum berangkat ke pondok, Brayan mengantarkan Fisya terlebih dahulu ke butiknya.


"Jangan ngebut-ngebut, ya!" pesan Fisya sambil mencium tangan Brayan.


"Iya."


"Jangan lupa makan siang!"


"Iya."


"Satu lagi ... jaga pandangan!"


"Iya ... iya! Ya ampun ... kamu ini makin hari makin bawel ya! Mata ini, hati ini, jantung ini hanya untuk kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir akan hal itu."


Fisya mengangkat kedua garis bibirnya sebelum Brayan benar-benar meninggalkan butik.


"Aku berangkat ya."


"Iya udah sana!"


Tak butuh waktu lama, Brayan telah sampai di pondok. Tidak semua orang tahu jika Brayan baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Fisya. Namun, jika mereka jeli, mereka akan tahu sebuah cincin yang telah menyemat di jari manisnya.


**


Sebuah mobil telah terparkir di depan butik milik Fisya. Meskipun tidak yakin, tetapi Alqan sudah bertekad untuk menemui Fisya dan meminta maaf kepadanya.


"Mas Alqan." Mata Fisya menangkap Alqan yang sudah ada di depannya.


"Assalamualaikum, Fisya. Bisakah kita berbicara sebentar saja," kata Alqan tanpa basa-basi.


Sebenarnya tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Hubungan mereka sudah berakhir dan Fisya juga sudah menikah. Akan tetapi, Fisya merasa tidak enak jika harus menolaknya.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Ya udah kita ngobrol di sana ya." Fisya menunjukkan sebuah sofa.

__ADS_1


"Tidak, Sya. Lebih enaknya kita ngobrol di cafe dekat sini, mau ya?" pinta Alqan.


"Tapi .... "


"Tolong Sya, cuma sebentar kok nggak lama."


Dengan berat hati Fisya mengiyakan permintaan dari Alqan. Keduanya pun akhirnya menuju sebuah cafe yang berada tidak jauh dari butk milik Fisya.


"Kamu mau pesan apa, Sya?" tanya Alqan setelah duduk di sebuah meja.


"Gak usahlah, Mas. Mas Alqan mau ngomong apa? Sepertinya penting?"


Alqan menatap Fisya dengan penuh rasa penyesalan. Selamat ini dia tidak pernah memperhatikan Fisya dengan jelas. Kini baru disadari jika Fisya ternyata lebih cantik dibandingkan dengan Zulfa.


"Sya, sebelumnya aku minta maaf sudah mengecewakanmu beserta keluarga kita. Aku benar-benar khilafah," sesal Alqan.


Fisya hanya bisa menarik napas beratnya sambil membuang pandangannya ke arah lain. Tanpa Alqan meminta maaf, Fisya sudah memaafkan Alqan. Fisya yakin jika itu adalah cara Allah menunjukkan jalan kepadanya agar bisa bersatu dengan Brayan.


"Mas Alqan enggak ak usah merasa bersalah. Justru Fisya mau berterima kasih kepada mas Alqan karena perjodohan kita akhirnya dibatalkan."


"Kamu tidak kecewa atau sakit hati denganku?" Alqan terkejut saat Fisya terlihat biasa saja dan menunjukkan wajah bahagianya.


"Tidak, Mas. Makasih ya, udah membuka jalanku dan Rayan untuk bersatu."


Saat itu juga mata Alqan terbelalak lebar. Ternyata dugaannya salah. Fisya sama sekali tidak kecewa ataupun merasa sakit hati atas apa yang telah dia lakukan.


Tenang Alqan, masih banyak waktu dan cara untuk mengambil Fisya kembali.


Alqan memaksakan senyumnya, meskipun hatinya tengah terbakar dengan rasa tidak suka kepada Brayan.


...~~~...


...🌹 Bersambung 🌹...


Jangan Lupa Like!

__ADS_1


Makasih untuk dukung kalian


Semoga Author bisa konsisten menyelesaikan novel ini 🙏


__ADS_2