Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 51 | Minggat


__ADS_3


"Sya, aku berangkat dulu ya," ucap Rayan.


"Iya."


"Udah dong jangan ngambek gitu. Aku harus gimana biar kamu percaya dan enggak ngambek lagi? Apakah aku harus mencari Zulfa dan menyuruhnya untuk mengatakan siapa bapak dari anaknya?"


"Udahlah enggak usah bawa-bawa nama Zulfa lagi. Lama-lama aku kok malah nek mendengar namanya," ketus Fisya.


Mendadak Fisya merasa tidak suka saat nama Zulfa menggema di telinganya. Mungkin karena rasa cemburu dan hormon sebagai seorang ibu hamil yang mudah sensitif.


"Ya sudah, aku enggak akan menyebut nama dia lagi, tapi setelah ini jangan ngambek ya!"


Setelah melewati sedikit drama, akhirnya Brayan bisa berangkat kerja dengan tenang. Meluluhkan hati wanita itu butuh kesabaran, meskipun harus menjengkelkan.


Drama pertama telah usai, tetapi ada drama yang lebih menegangkan saat hubungan anak dan ayah tidak baik-baik saja sekalipun duduk saling berhadapan.


Agung yang masih marah kepada Briyan, karena telah mengungkit masa lalu dan menyudutkan dirinya. Masa lalu yang tidak jauh berbeda dengannya, tetapi Briyan masih mau bertanggung jawab, tidak seperti dirinya yang lari dari kenyataan.


Nuri dan Mey saling melemparkan pandangan saat melihat kedua lelaki itu hanya saling menatap tanpa kata.


"Hmm." Nuri berdeham agar suasana tidak menegangkan.


"Cepat sarapan jika kalian tidak ingin terlambat untuk bekerja," lanjutnya lagi.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Briyan segera menyantap sarapannya sekalipun juga sedang marah kepada mamanya.


"Riy ... kamu mau kemana?" tanya Mey yang melihat Briyan telah membawa sebuah ransel.


"Aku mau kemana aku pergi itu urusanmu. Aku muak satu atap dengan para pembual."

__ADS_1


Briyan yang merasa dipermainkan oleh keluarganya sendiri memilih meninggalkan rumah dan melanjutkan untuk mencari Nara.


Tanpa berpamitan kepada mamanya, Briyan langsung melajukan mobil. Dalam hati ada setitik rasa bersalah, tetapi mamanya sudah sangat keterlaluan kepada dirinya. Dan yang lebih parah, ternyata semua anggota keluarganya turut andil dalam menghilangnya Nara.


Saat mendengar suara mobil Briyan telah pergi, Nuri yang ada di dalam kamarnya segera berlari keluar, berharap masih bisa mengejar mobil yang kini sudah meninggalkan pekarangan rumahnya.


"Mey ... Riyan mau kemana?" tanya Nuri dengan napas yang naik turun.


"Mey juga gak tahu, Mbak. Tapi sepertinya dia mau minggat. Soalnya dia bawa ransel," jelas Mey.


"Apa?" Nuri sangat terkejut.


Sang suami yang sudah tidak ada di rumah, serta Brayan yang sudah berangkat ke mengajar, membuat Nuri terlihat sangat panik.


"Sya ... telepon Rayan sekarang juga!" perintah Nuri saat melihat Fisya hendak mencuci piring.


"Ada apa, Ma?"


Fisya membuang napas beratnya lalu berkata kepada mama mertuanya. "Biarkan saja Riyan berusaha mencari Nara sampai ketemu, Ma. Itu tandanya saat ini Riyan sudah menyesal. Jika memang mereka berjodoh, Allah pasti akan menjaga keduanya dan waktu akan menyatukan mereka kembali. Bukankah Adam dan Hawa juga pernah terpisah lama? Mama enggak usah khawatir, semua akan baik-baik saja," jelas Fisya dengan santai.


Dengan jawaban Fisya membuat Nuri merasa sedikit lega. Tidak salah lagi jika Brayan memilih Fisya untuk menjadi pendamping hidupnya. Selain cantik, Fisya juga bisa berpikir lebih dewasa.


***


Fisya dan Mey memang sudah saling mengenal, karena Mey pernah berada satu sekolah dengannya sebelum Mey memutuskan untuk pindah keluar negeri. Awalnya Fisya tidak percaya jika Mey adalah bibinya Brayan, kerena usia mereka hanya terpaut beberapa bulan saja. Itu artinya, nenek Brayan melahirkan lagi saat mamanya sudah melahirkan dirinya. Sedikit lucu, tetapi begitulah adanya.


"Apakah kamu keberatan menemaniku belanja, Sya?" tanya Mey yang merasa Fisya tidak banyak bicara.


Fisya segera menepis ucapan Mey. "Bukan. Tapi aku hanya canggung saja. Lidahku juga kelu saat ingin memanggilmu dengan sebutan bibi," jelas Fisya.


Mey malah menertawakan ucapan Fisya yang dianggapnya berlebihan. "Tidak perlu canggung! Bukankah kamu juga sudah tahu jika aku tidak ingin di panggil dengan sebutan itu. Aku merasa geli dengan sebutan bibi atau aunty, meskipun memang seperti itu cara yang dianjurkan. Panggil aku seperti biasa saja karena diantara kita tidak ada yang berubah. Yang berubah itu hanyalah perasaanmu saja. Rasa benci itu telah berubah menjadi rasa cinta," kekeh Mey.

__ADS_1


Fisya tidak bisa menyembunyikan tawanya. Meskipun terlihat judes, tetapi Mey tidaklah berubah. Dia masih sama seperti dengan Mey 5 tahun lalu.


"Sya ... aku memutuskan untuk berhijab. Apakah Allah akan memanfaatkan segala khilaf dan dosaku?"


Sejenak Fisya menghentikan langkahnya. Matanya membulat lebar dan berbinar saat mendengar pernyataan dari Mey yang memutuskan ingin berhijab


"Masha Allah, Mey," seru Fisya penuh keterkejutan.


"Allah senantiasa memaafkan umat-Nya yang bersungguh-sungguh untuk bertaubat. Aku harap keputusanmu ini murni lahir batin, bukan hanya mengikuti trend yang ada. Aku akan merasa sangat bahagia jika kamu mau berhijab," kata Fisya dengan penuh rasa bahagia.


"Tapi akhlakku belum sempurna dan ilmu agama yang aku miliki masih dangkal, Sya. Apakah aku berdosa jika menggunakan hijab tapi tidak tahu apa-apa tentang agama?"


Fisya kembali menatap Mey dengan senyum lebarnya. "Asalkan kamu ikhlas dan mau belajar. Ya sudah sekarang aku tahu apa yang harus kita beli. Untuk masalah ilmu agama, nanti kita sama-sama belajar dengan mengikuti pengajian rutin di komplek."


Mey mengangguk pelan dan mengikuti langkah Fisya ke dalam beberapa toko untuk mencari keperluan untuknya.


"Nanti masalah hijab dan pakaian, kita mampir ke Butik aku aja. Di sana lengkap pakaian muslimah. Aku jamin kualitasnya juga oke, mama aja enggak pernah kecewa dengan produk dari bukti aku."


"Wah ... keren ya, Sya. Ternyata kamu udah punya Butik sendiri."


Setelah merasa cukup, Fisya segera mengajak Mey untuk ke Butiknya agar tidak terlalu lama dia meninggalkan rumah. Meskipun sedang kesal dengan suaminya, tetapi Fisya tidak lupa akan pesan dari suaminya untuk tidak berlama-lama diluar.


"Nanti kalau Rayan marah, bilang sama aku ya! Masa iya, istrinya di kurung di rumah terus enggak boleh kemana-mana. Kamu juga Sya, kalau merasa keberatan ya tinggal di protes! Bukannya kamu dulu tukang protes?"


"Itu kan dulu, berbeda dengan sekarang, Mey."


"Halah sama aja. Bedanya cuma sekarang udah halal untuk disentuh."


...~~~...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2