Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 52 | Menjadi Gelandangan


__ADS_3


Seperti hilang arah dan tujuan, kini Briyan tak tahu kemana dia harus melangkah setelah sampai di kota Jogja lagi. Namun, dengan semangat yang membara dia tidak akan menyerahkan begitu saja. Dia yakin jika saat ini Nara masih berada di kota itu.


Bagaikan hilang ditelan bumi, Briyan sangat kesusahan untuk mencari istri sendiri. Untuk saat ini dia belum bisa bernapas dengan tenang menemukan Nara dan meminta maaf padanya.


Sesampainya di Bandara YIA ( Yogyakarta International Airport ) kota Jogja, Briyan di jemput oleh seseorang. Kali ini dia harus merogoh kantong lebih dalam untuk menemukan keberadaan Nara.


Sebelum menuju ke kontrakannya, Briyan singgah ke kantor polisi untuk meminta bantuan, berharap para polisi juga turun tangan untuk menemukan keberadaan Nara saat ini.


"Semua bisa diatur karena uang." Briyan bermonolog sambil tersenyum sinis meninggalkan kantor polisi.


"Aku harus mencarinya dari sudut mana, sedangkan kota ini terlalu luas untuk Nara yang kecil seperti batang lidi."


Briyan bingung akan mencari Nara dari sebelah mana, tetapi tempat pertama yang akan dia kunjungi adalah tempat bekerjanya kala itu. Mungkin saja sekarang saat ini Nara masih bekerja disana untuk menyambung hidupnya.


Peluh yang bercampur dengan lelah seakan membuatnya menyerah. Ternyata tidaklah mudah untuk menemukan seseorang ditempat yang luas seperti ini.


"Ra, apakah kamu benar-benar ingin berpisah dariku? Jika memang itu yang kamu mau, tolong berikan aku satu kesempatan untuk meminta maaf kepadamu, setelah itu kamu boleh pergi kemanapun kamu mau."


###


Hari ini adalah hari ketiga Briyan berkeliaran mencari Nara. Bahkan dia sampai mengabaikan penampilannya. Saat ini Briyan hampir sama seperti anak jalanan, karena siang dan malamnya dihabiskan di jalan tanpa rasa lelah.


Baru kali ini Briyan merasakan hidup bebas di luar bersama para gelandangan. Dia bisa merasakan bagaimana malam panjang berlalu hingga sang fajar menyingsing kembali. Begitulah aktivitas Briyan selama tiga hari di kota Jogja.


Saat Briyan sedang duduk dengan beberapa anak jalanan, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia pun segera menjawab panggilan tersebut.


[ Bos, saya sudah menyebarkan berita ini kepada anak buah dan salah satu diantara mereka pernah melihatnya. Sebaiknya anda segera pergi ke alamatnya, Bos ]


Tanpa peduli lagi dengan penampilannya Briyan langsung menunju ke alamat yang telah disebutkan oleh salah satu orang suruhannya. Namun, di tengah perjalanan ponselnya berbunyi kembali. Satu panggilan dari petugas kantor polisi juga mengatakan hal yang serupa, bahwa tim gabungannya telah menemukan Nara yang terjaring razia dalam pedagang kaki lima.

__ADS_1


Menurut pengakuan dari Nara, jika dirinya hanyalah pembelian, bukan pedang. Namun, bukti mengarah pada Nara yang sedang berada di tempat itu.


"Pak, tolong lepaskan saya! Saya bukan pedagang kaki lima."


"Kamu pikir kami akan percaya dengan alasanmu? Hampir semua yang tertangkap akan mengatakan jika dia bukan pedagang. Sudahlah, kamu tidak usah banyak alasan!"


"Ya ampun Pak, saya berani bersumpah jika saya ini hanya seorang pembeli, bukan penjual! Pak .... tolong dengarkan saya!"


Nara hanya pasrah ketika dia telah ditempatkan bersama dengan beberapa orang pedagang kaki lima lainnya.


"Ya Allah, begitu besarkah ujian dan cobaan yang harus aku tanggung ini," lirihnya dengan pelan.


Namun, saat Nara mengelus perutnya, netranya menangkap sosok yang begitu familiarnya, tetapi dia ragu karena pakaian yang ambur adul.


"Pak, cepat lepas istri saya!"


Samar-samar Nara mendengar suara yang begitu menusuk hatinya. Suara yang menggetarkan hatinya. Bahkan Nara sudah berusaha untuk menghapus suara itu dalam ingatannya.


"Nara." Satu panggilan membuat degup jantung Nara bertalu-talu.


"Ayo kita pulang." Sampai detik ini Nara belum sanggup untuk mendongak.


Sudah jelas jika sang pemilik suara itu adalah Briyan, suaminya.


"Ra," panggilnya lagi.


Briyan berjongkok untuk memegang tangan Nara yang bergemetar. "Kamu mau jalan sendiri atau aku gendong."


Mata Nara langsung membulat dengan lebar. Bahkan untuk menelan salivanya saja rasanya sangat sulit. Debaran di dadanya semakin kencang manakala tangan Briyan berusaha untuk menyentuh pundak.


"Aku bisa jalan sendiri."

__ADS_1


Briyan mengangguk pelan dan mempersilahkan Nara untuk jalan lebih dulu. Rasanya seperti mimpi bisa menemukan Nara di siang hari.


Didepan kantor polisi, Briyan langsung menahan langkah Nara lalu berkata, "Ra, berikan aku waktu lima menit untuk minta maaf kepadamu. Jujur aku menyesal telah menyia-nyiakanmu. Ra, maafkan aku."


Sesuai dengan ucapannya Briyan bersujud di kaki Nara dan membuat wanita terbelalak dengan lebar. Dengan cepat dia segera mengangkat tubuh Briyan untuk bangkit.


"Mas Riyan apa yang kamu lakukan? Bangun!"


"Aku tidak akan bangun sebelum kamu memaafkan aku, Ra." Briyan menepis pelan tangan Nara.


"Mas bangun! Kalau Mas Riyan enggak bangun, aku enggak mau memaafkan Mas Riyan!" ancam Nara.


Detik itu juga Briyan langsung bangkit dan menatap Nara dengan tatapan penuh penyesalan, hingga membuat Nara merasa canggung.


"Jadi kamu mau memaafkanku?"


Kepala Nara mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Briyan. Meskipun hatinya pernah tersakiti, tetapi Nara tidak bisa membohongi perasaannya sendiri jika dia sudah jatuh cinta pada pria yang selalu menyia-nyiakan dirinya.


**


Setelah mendapatkan kata maaf dari Nara, Briyan langsung mengajaknya untuk singgah ke sebuah warung makan. Sudah tiga hari Briyan tidak bisa menelan makanannya karena belum bisa menemukan Nara.


Diam-diam Briyan memperhatikan Nara yang sedang makan dengan lahap. Bibirnya terangkat tipis. Dengan bodohnya, selama ini dia telah menyia-nyiakan wanita yang tulus kepada dirinya.


Briyan mencoba memberikan diri untuk menggenggam tangan Nara dan berkata, "Ra, aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersama denganku. Tapi kelak tolong jangan pisahkan aku dengan anakku."


Bagaikan tersambar petir disiang hari. Tubuh Nara mendadak terasa sangat lemas dan bergemetar saat Briyan menyebut anak yang ada dikandungnya dengan sebutan anakku.


"Ra," panggil Briyan "Bagaimana?"


"Aku ... "

__ADS_1


...~To Be Continue ~...


__ADS_2