Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 35 | Anak Alqan


__ADS_3


Selama tinggal di tempat baru, Nara jarang keluar rumah. Selain belum mempunyai kenalan, dia juga memang lebih menikmati kesendirian dalam membaca artikel tentang masa kehamilan dari trimester pertama hingga trimester terakhir.


Jika menelisik, usia kandungan Nara sudah berjalan hampir dua bulan, dimana sedang masa morning sikness.


Mata Nara mengedar saat melihat Briyan masuk kedalam rumah tanpa ucapan salam.


"Siapa yang menyuruh kamu duduk di sofa ini? Bukankah sudah aku katakan jika kamu tidak boleh menyentuh milikku? Ini sofa ku!"


Nara akhirnya langsung berdiri tanpa ingin berdebat. Kebencian Briyan yang tidak bisa berkurang membuat Nara memilih mengikuti saja alurnya hingga waktu kelahirannya tiba.


Sepertinya niat Nara untuk menjadi istri yang berbakti pupus sudah. Semua usahanya hanya sia-sia karena Briyan tidak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.


"Ini uang yang bisa kamu gunakan dalam satu minggu ke depan. Semoga kamu bisa memanfaatkan dengan baik. Aku hanya ingin mengatakan kepadamu jika aku tidak akan pulang dalam waktu satu minggu kedepan. Aku harap kamu bisa menjaga diri dengan baik."


Nara menatap nanar punggung Briyan yang sudah menggendong sebuah tas ransel di pundaknya.


"Kamu serius ingin meninggalkan aku sendiri disini, Riy?"


Briyan membuang kasar napas beratnya.


"Nanti jika projects sudah siap aku akan pulang."


Terlambat sudah untuk disesali, karena semua sudah terjadi. Pernikahan yang tak pernah diinginkan mampu merubah sosok Briyan tidak memiliki hati lagi.

__ADS_1


"Nara, kamu harus kuat." Lagi-lagi Nara hanya bisa bermonolog sendiri untuk menguatkan hatinya yang sedang rapuh.


**


Disisi lain kabar bahagia tentang kehamilan Fisya juga ya telah didengar oleh Alqan. Rasa bencinya untuk Brayan pun semakin membubung tinggi. Apalagi Alqan bisa melihat dengan jelas tawa Brayan saat mengantarkan Fisya ke rumah sakit.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah rela jika Fisya mengandung anak dari pria itu! Terlebih dia adalah kakaknya Riyan yang bodoh itu!" Alqan mengepalkan tangannya dengan kuat. Ingin rasanya menonjok dinding, tetapi Alqan masih bisa berpikir jika itu hanya akan menyakitinya sendiri.


"Setelah ini, aku tidak akan izinkan kamu untuk bekerja lagi. Untuk masalah Butik, biarkan Mama yang mengurus."


Fisya menautkan kedua alisnya ketika dia menganggap jika suaminya terlalu berlebihan. Dia hamil, bukan sakit.


"Ya ampun, Mas. Aku hamil, bukan sakit lho! Lihatlah di luar sana banyak wanita hamil yang masih sanggup untuk bekerja," sanggah Fisya.


"Itu istri orang, bukan istriku! Kalau kamu berminat menjadi istri orang, silahkan kamu jadi istri orang itu," ucap Brayan dengan sewot.


"Mas, kayaknya ada yang mengikuti kita, deh," bisik Fisya pelan.


Brayan segera membalikkan badannya untuk melihat keadaan di belakangnya. Namun, dia tidak menemukan siapa-siapa di belakangnya hanya seorang suster yang sedang mendorong pasiennya.


"Mana, tidak ada."


"Mungkin aku hanya berhalusinasi aja. Ya udahlah kita pulang aja."


Kali ini demi keselamatan Fisya, Brayan sengaja meminjam mobil papanya dan memberikan motornya untuk dibawa sang papa.

__ADS_1


Mungkin Brayan dan Briyan adalah saudara kembar yang satu darah dan satu induk. Namun, siapa yang akan menyangka jika keduanya memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda. Brayan yang lembut dan penyayang, sementara Briyan dingin dan keras kepala. Ibarat keduanya adalah langit dan bumi BB yang beda jauh, meskipun masih satu produksi.


"Mas, kemarin aku lihat Zulfa, lho," ucap Fisya mengeluarkan unek-unek hatinya.


"Bagus dong kalau kamu bertemu dengan sahabat kamu. Jadi bagaimana kabarnya sekarang? Mengapa dia bisa putus dengan Alqan."


Saat itu juga Fisya terdiam karena tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan sahabat lamanya. Bahkan Fisya juga belum sempat untuk menyapanya.


"Kok diam?" Brayan sekilas melirik istrinya yang terdiam dengan tatapan lurus ke depan.


"Aku enggak sempat menyapanya karena dia keburu pergi, Mas. Tapi, aku tuh masih penasaran apakah Zulfa sedang hamil ya?"


Brayan yang terkejut dengan refleks segera menginjakkan rem, membuat kepala Fisya hendak terbentur ke dashboard. Beruntung tangan Brayan segara menghalanginya.


"Sya, maaf." Jantung Brayan berdebar tak menentu. Dia takut jika terjadi sesuatu dengan istrinya.


"Iya, gak papa, Mas."


Brayan memilih menepikan mobilnya untuk meminta penjelasan dari ucapan sang istri.


"Zulfa hamil? Tapi dia kan belum nikah."


Fisya mengangguk pelan. "Aku juga belum yakin, tapi perut Zulfa udah melembung. Aku yakin jika Zufa itu memang sedang hamil."


"Sudahlah enggak usah membahas Zulfa. Biarkan dia hamil dengan siapa. Paling-paling juga hamil anaknya Alqan."

__ADS_1


...~~~...


...TBC...


__ADS_2