Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 36 | Nara Hilang


__ADS_3


Kebencian yang mendalam mampu membutakan hati. Bahkan sedikitpun tak ada rasa empati untuk Nara yang sedang hamil muda. Tanpa rasa iba, Briyan meninggalkan Nara seorang diri di rumah kontrakan.


Sudah tiga hari kepergian Briyan tanpa kabar membuat Nara berusaha untuk melewati hari dengan kemampuannya sendiri. Bahkan Nara harus berjalan kaki untuk ke pasar sekedar pembeli sayur.


Saat ini Nara berdiri di depan sebuah apotik. Dia mengingat ucapan ibunya jika harus tetap mengkonsumsi vitamin untuk meredakan rasa mualnya. Namun, saat Nara melihat sisa uang yang ada di dompet, dia segera menepis keinginan untuk membeli vitaminnya. Jika uang yang diberikan oleh Briyan dia gunakan untuk membeli susu dan vitamin, maka uang itu tidak akan cukup untuk membeli kebutuhan lainnya selama Briyan belum pulang. Nara sendiri tidak tahu apakah Briyan akan kembali pulang atau tidak. Bisa jadi ini hanyalah sebuah trik untuk membuang dirinya.


Saat ini langkah Nara tertuju ke sebuah counter. Dengan berat hati dia ingin menjual ponselnya agar bisa membeli susu dan vitaminnya.


"Permisi Mas, ini kalau dijual laku berapa ya?" Nara memberikan ponselnya kepada seorang pegawai counter.


Pria itu segera membolak-balikkan ponsel milik Nara. "Ini asli enggak?" tanyanya.


"Ya jelas asli-lah, Mas."


"Ada boxnya?"


Seketika Nara menggeleng pelan, karena sudah pasti box itu ada di rumah ibunya.


"8 juta. Bagaimana?"


Nara membulatkan matanya dengan lebar. Bagaimana bisa ponsel berlogo buah apel yang kena gigit tikus hanya di hargai 8 juta saja. Sedangkan harga aslinya saja 3 kali lipat dari tawaran mas pegawai counter tadi.


"Gimana Mbak, jadi enggak?"


"Ya udahlah Mas, jadi aja." Dengan berat hati Nara merelakan satu-satunya barang yang dia miliki. Mungkin setelah ini Nara bisa mengolah uang itu agar tetap bisa bertahan di tempat tinggal barunya.


Hidup Nara kini berubah total. Jika dulu mobil adalah kendaraan yang bisa mengantarkan kemanapun dia pergi, berada dengan saat ini yang harus berjalan kaki. Namun, Nara sama sekali tidak mengeluh, apalagi menyesali hidupnya.


Sesampainya di rumah Kontrakan, Nara segera menata sayuran ke dalam kulkas. Meskipun hanya untuk makan sendiri, tetapi Nara selalu ingat pesan ibunya yang harus tetap mengkonsumsi sayuran.


****


"Mas Riyan." Suara Husna membuyarkan lamunan Briyan yang sedang menata laptopnya


"Kamu apa-apaan sih, Hus! Gak sopan!"


"Maaf Mas, dari tadi aku ngomong tapi mas Riyan malah ngelamun aja. Apakah mas Riyan sedang memikirkan mbak Nara? Ya ... wajar sih, mas Riyan itu kan masih pengantin baru," celetuk Husna.


"Jangan sembarang kalau ngomong!"


Briyan yang sudah tersadar dari lamunannya segera mendengarkan ide yang diberikan oleh Husna. Sebenarnya pekerjaan Briyan sudah selesai, tetapi karena dia enggan untuk akhirnya dia menyuruh Husna untuk mengedit beberapa foto dan video yang telah mereka dapatkan.

__ADS_1


Seharusnya Briyan merasa senang karena tidak melihat wajah Nara yang sok memelas itu, tetapi entah mengapa bayangan Nara selalu melintas di kepalanya.


"Hus, kamu pas hamil dulu sering muntah-muntah enggak?" Entah angin segar darimana yang membuat Briyan tiba -tiba bertanya seperti itu kepada Husna.


"Dulu pas awal kehamilan tiap hari, Mas. Bahkan tiap jam. Apalagi kalau mencium aroma yang menyengat, pasti langsung muntah. Ada apa Mas, kok tanya seperti itu?"


"Gak ada, cuma nanya aja."


"Satu lagi, Mas. Aku tuh dulu paling nek kalau liat muka suamiku. Bawaannya mau muntah kalau liat dia. Akhirnya kami tidur terpisah selama dua bulan," Husna terkekeh saat bernostalgia masa kehamilannya saat itu.


"Aku tidak menyuruhmu untuk bernostalgia, Husna!"


"Iya maaf, Mas."


"Kamu selesai sendiri. Jika sudah selesai kirim ke aku sebelum kamu publishkan! Aku pulang duluan."


Briyan memilih bangkit dan mengemasi barang-barangnya.


Rasanya Husna ingin memprotes, tetapi langkah Briyan terlalu cepat meninggalkan pendopo dan segera melajukan mobilnya.


"Astaga ... masa iya aku ngedit disini sendirian. Mending aku pulang ajalah. Dasar mas Riyan enggak jelas!"


Dalam perjalanan pulang, Riyan mendapatkan telepon dari mamanya.


"Kamu ini ya kebiasaan enggak bisa ucapkan salam!" protes mamanya dari balik telepon.


"Assalamualaikum, ada apa mama?"


"Waalaikumsallam, kok gitu sih, Nak?"


"Riyan lagi di jalan, Ma. Ada apa?"


"Oh ... ya sudah kalau lagi nyetir. Mama cuma mau nanya kalian baik-baik aja kan? Soalnya ibunya Nara telepon mama, tanya kenapa ponselnya Nara tidak bisa dihubungi."


Briyan segera menepikannya mobilnya agar bisa fokus untuk mendengarkan cerita mamanya.


"Halo ... Riy kamu masih dengarkan Mama kan?"


"Iya, Riyan masih dengar kok, Ma. Terus apa kata ibunya Nara?"


"Gak ada sih, cuma mertua kamu tanya, kalian tinggal dimana? Sebenarnya kalian tinggal dimana sih Riy, Mama juga pengen ke rumah baru kamu."


Seperti biasa, saat mamanya menanyakan tentang tempat tinggal, Briyan segera mematikan ponselnya begitu saja dan tidak mengangkat panggilan selanjutnya.

__ADS_1


"Ponsel Nara gak bisa dihubungi? Ada apa?" Briyan segera melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap segera sampai ke rumah. Dia sangat penasaran apa yang telah terjadi kepada Nara sehingga ponselnya tidak bisa dihubungi.


Bayangkan Nara yang polos terus saja melintas dalam pikiran Briyan. Dia takut jika Nara melakukan kecerobohan saat berada diluar, mengingat saat ini banyak kejahatan yang bertaburan dimana-mana. Dengan bodohnya, Briyan sama sekali tidak pernah terpikir untuk menyimpan nomor ponsel Nara.


"Jika sampai terjadi sesuatu, aku tidak akan memaafkanmu, Ra! Karena keluargaku pasti akan menyalahkanku."


Mobil Briyan sudah berhenti di pinggiran jalan. Dengan langkah setengah berlari, berharap Briyan cepat sampai di rumah.


"Ra!" teriak Briyan sambil menggedor pintu.


"Ra, buka pintunya, ini aku!" teriak Briyan lagi. Namun, tetap saja tidak ada jawaban dari dalam dan pintu pun terkunci rapat.


Briyan mencoba mengintip dari celah jendela, tetapi tidak ada tanda-tanda Nara ada di dalam.


Hatinya telah gusar. "Ra, buka pintunya atau aku dobrak!"


Namun, saat Briyan hendak mendobrak pintu tetangga sebelah langsung keluar.


"Percuma, Mas. Mbaknya gak ada di rumah."


Briyan terpancing dan segera menghampiri tetangga sebelahnya.


"Memangnya dia kemana, Buk?"


"Sudah dua hari ini pintunya tutup terus."


"Iya, tapi dia kemana, Buk?"


"Ya, mana saya tahu, Mas. Dah ah, jangan berisik, kami mau istirahat tidur siang."


Briyan kembali lagi ke teras rumahnya. Saat ini pikirannya hanya satu, menemukan Nara secepatnya.


"Sudah tahu lagi hamil, keluyuran gak jelas. Nanti kalau ada apa-apa, aku juga yang disalahkan. Wanita memang sungguh merepotkan!" umpat Briyan saat ingin kembali ke mobilnya.


"Kemana aku harus mencari satu orang di tengah-tengah kota seperti ini?"


Dengan perasaan kesal Briyan berusaha untuk mencari keberadaan Nara yang entah berada dimana. Rasa lelah tak dihiraukan lagi demi untuk menemukan keberadaan Nara.


"Jangan-jangan Nara di culik."


Tanpa pikir panjang lagi, Briyan segera menginjak gas, berharap dia bisa segera menemukan Nara.


...~~~...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2