
...Jika bisa memutar waktu, satu pintaku, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan orang yang tulus menyayangiku dan menerimaku apa adanya. Jika aku bisa meminta, aku tidak akan pernah membuatnya menitihkan air matanya hanya untuk kebodohanku. Aku menyesal telah mengabaikan cinta. Dan aku menyesal saat aku baru mengetahui jika semua tuduhanku selama ini sudah salah basar....
...~Briyan~...
Bagaikan kaca yang terlempar dari atap. Pecah berkeping tak bisa menyatu lagi. Sungguh sangat hancur, layaknya hati Briyan saat mengetahui kebenarannya. Namun, terlambat untuk disesali karena Nara sudah pergi. Bahkan kedua orang tuanya tidak ada yang mau memberitahu dimana keberadaan Nara saat ini.
Saat Briyan mengunjungi kediaman orang tua Nara, mereka sama sekali tidak mengetahui jika Nara pergi meninggalkan rumah Briyan.
Ponsel Briyan pun tak hentinya berdering. Entah sudah berapa puluh kali Mey menelepon, tetapi Briyan sengaja mengabaikannya.
Sebelum meninggalkan Mey di tempat penginapannya beberapa hari yang lalu, Briyan sempat mengatakan jika dua hari lagi dia akan pulang ke Jogja. Namun, sudah lebih dari dua hari Briyan tak kunjung memberinya kabar kepada Mey, sehingga wanita menghubungi Briyan.
Dengan kesal akhirnya Briyan segera mengangkat panggilan dari Mey. Baru juga Briyan meletakkan ponsel di telinga, suara Mey sudah menusuk genderang telinganya.
[ Aku cuma mau bilang kalau aku saat ini sudah ada dalam perjalanan untuk pulang ke Jogja. Aku kecewa denganmu yang mengingkari janjimu sendiri, Riy ]
"Mey ... kamu jangan seperti anak-anak dong! Aku bukan ingin ingkar, tapi istriku pergi dan aku belum bisa menemukan keberadaannya. Kamu batalkan perjalananmu ke Jogja dan pulanglah ke rumah. Mama dan papa merindukanmu, Mey."
[ Riy, bukan aku tidak menyayangi mereka, tapi aku belum bisa menerima kenyataan ini. Kamu tahu kan mengapa mama dan papaku kolaps? Semua gara-gara papa kamu, Riy! Jika saja papa dan mama tidak memikirkan papa kamu, mungkin penyakit papaku tidak akan kambuh dan meninggalkan aku selamanya. Sudahlah Riy, aku pikir kamu satu-satunya orang yang bisa mengerti akan perasaanku, tapi nyatanya kamu sama seperti mereka, egois.]
Mey segera menutup sambungan telepon sepihak, tanpa memberikan kesempatan pada Briyan untuk membela diri dan membela orang tuanya.
Siapa yang menyangka jika di balik pintu ada mamanya yang hendak mengantarkan makan siang untuk Briyan.
Dadanya berdesir kuat saat tanpa sengaja mendengarkan percakapan Briyan melalui sambungan teleponnya.
Karena merasa tidak sanggup lagi akhirnya Nuri masuk ke dalam kamar, membuat Riyan terlonjak.
"Katakan dengan jelas jika dimana Mey-Mey saat ini?"
"Mama .... " Briyan menelan kasar salivanya.
__ADS_1
Bukan maksud ingin menyembunyikan Mey dari keluarga, tetapi Briyan hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk membawa Mey pulang.
"Riy ... tolong jangan bohongi Mama! Dimana Mey-mey sekarang? Mama merindukan dia, Riy!"
Mata Nuri sudah memerah, mana mungkin Briyan akan sanggup saat melihat mamanya mengiba kepada dirinya.
"Mama tenang dulu, Riyan akan katakan dimana Mey berada, tapi Mama juga harus katakan dimana Nara berada. Bagaimana?"
Bukan Briyan jika tidak bisa mengambil sebuah kesempatan dalam kesempitan. Briyan berharap jika mamanya mau mengatakan dimana keberadaan Nara saat ini.
"Kamu keterlaluan ya Riy! Bisa-bisa kamu menggunakan kesempatan ini untuk memeras Mama," sungut Nuri.
"Tapi kalau Mama keberatan ya sudah, Riyan juga tidak akan memberitahu dimana keberadaan Mey sekarang."
Meskipun Nuri sudah sangat merindukan Mey, tetapi dia masih berpegang teguh pada rencana yang sudah disusun rapi oleh Rayan dan suaminya. Nuri tidak ingin menghancurkan usaha dan kerja keras Brayan dan suaminya.
Maaf Riy, Mama tidak bisa memberitahumu dimana Nara saat ini.
"Mama tidak tahu kemana Nara pergi, Riy. Tapi sebelum pergi Nara mengatakan ingin pergin ke Jerman ke tempat pamannya. Bahkan Nara juga tidak memberitahu kedua orang tuanya jika dia pergi. Mama harap kamu jangan katakan apapun kepada orangtuanya Nara, ya. Mama tidak tahu bagaimana jika mereka akan menuntut keluarga kita karena kepergian Nara." Nuri mencoba untuk memasang wajah sendu agar Briyan mempercayainya.
"Riy, bagaimana kami bisa mencegah jika Nara sendiri sudah menyerah. Bahkan dia juga sudah menandatangani surat perceraian kalian. Hanya tinggal tanda tanganmu, maka berkas selesai," ucap Nuri.
Emosi Briyan semakin meluap. Dia tidak terima jika harus melepaskan Nara begitu saja, sementara dia belum meminta maaf kepada wanita yang telah benar-benar mengandung anaknya.
"Sampai kapanpun Riyan tidak akan menceraikan Nara, Ma!"
"Mama pun juga tidak menginginkan perceraian kalian, Riy! Tapi kamu sendiri yang menginginkannya dan papa mempercepat agar kamu tidak terlalu lama untuk menyaksikan Nara."
Briyan menghela napas kasarnya. Dia benar-benar sangat frustasi dengan kepergian Nara yang tanpa berpamitan kepada dirinya.
"Mama sudah mengatakan keberadaan Nara, sekarang giliran kamu mengatakan dimana keberadaan Mey saat ini! Awas kalau bohong, Mama gantung kamu di jemuran belakang rumah sana!" ancam Nuri.
Karena Briyan tidak ingin ingkar kepada mamanya, akhirnya Briyan mengatakan dimana keberadaan Mey saat ini.
__ADS_1
Nuri yang mendapatkan informasi tentang Mey segera meninggalkan kamar Briyan dan segera memberitahukan kepada sang suaminya jika saat ini Mey sudah kembali.
Agung merasa sangat shock dengan kabar yang baru saja diterimanya, tetapi dia merasa sangat bahagia jika Mey mau pulang ke Indonesia lagi.
"Mas ... Apa tidak sebaiknya kita ini mengalah dan memantaunya dari sini. Memey akan menganggap jika kamu tidak mau membagi warisan dengannya. Kita sebagai orang tua harus bisa mengalah, Mas." Nuri terus menasehati suaminya agar bisa menghadapi masalah dengan kepala dingin.
Agung belum bisa menerima masukkan istrinya. Dia masih belum yakin jika Memey bisa mengelola perusahaan dengan baik, mengingat Memey belum bisa berpikir dewasa.
"Maaf, Sayang. Bukan aku ingin menguasai warisan ini, tetapi aku belum yakin jika Memey bisa mengelolanya dengan benar. Tunggu saja, pasti akan ada waktu dimana aku akan memberikan perusahaan itu padanya."
***
Malam terasa sangat panjang. Briyan belum bisa memejamkan mata karena hatinya diliputi dengan sejuta penyesalan. Kini Nara benar-benar pergi dengan membawa darah dagingnya.
"Aaaarrrggg ...." Briyan mengacak kasar rambutnya.
Sejak kepergian Nara, dia tidak pernah bisa tidur dengan nyenyak. Bayang-bayang dirinya yang selalu acuh kepada Nara terus muncul dalam ingatannya.
"Nara ... maafkan aku yang sudah menyakitimu. Tolong Kembalilah pulang."
Dalam kesunyian malam, Briyan menitihkan air mata penyesalannya. Namun, semua sudah terlambat untuk disesali.
Tangan Briyan mengepal dengan gigi yang menggeretak kuat. Matanya juga membulat dengan lebar.
"Kalian harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kalian lakukan kepadaku. Alqan ... Yoshi ... aku tidak akan memaafkan kalian sebelum kalian bersimpuh di kaki Nara."
...TBC...
.
.
.
__ADS_1
...Terimakasih Untuk dukungan kalian semuanya, meskipun sepi, sunyi tapi aku tetap semangat ðŸ˜...