
...Jujurlah, meskipun itu menyakitkan agar tak ada sesal di kemudian hari....
...~~~...
Dihadapan Briyan, Zulfa menceritakan semua kesalahan yang telah diperbuatnya. Zulfa pasrah jika tidak mendapat maaf dari Briyan, karena memang Zulfa tak pantas untuk mendapatkan kata maaf, baik dari Briyan maupun dari Nara.
Sebisa mungkin Zulfa menahan agar tak menangis di hadapan lelaki yang pernah mengisi relung hatinya.
Menyesali segala perbuatan yang tak sepantasnya dilakukan. Andaikan saja Zulfa yang berada diposisi Nara, mungkin saat ini Zulfa sudah gila dengan takdir yang sedang mempermainkannya.
Briyan tidak pernah menyangka jika Zulfa turut ikut dalam rencana penjebakan dirinya. Dan yang lebih parahnya, Zulfa mengumpankan Nara yang berstatus sepupunya sendiri untuk melancarkan rencana itu.
"Astaga Zulfa! Kamu benar-benar sangat keterlaluan! Bukankah kamu ini juga seorang perempuan? Dimana hati nurani kamu, Fa!" Briyan sangat menyayangkan perbuatan Zulfa yang sangat keterlaluan.
"Sekali lagi maafkan aku, Riy! Aku berani bersumpah jika saat ini Nara memang sedang mengandung anakmu. Aku tahu betul jika Nara adalah wanita baik-baik," sesal Zulfa dengan penuh iba.
"Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan memaafkan siapa saja yang turut dalam penjebakan malam itu sebelum orang itu bersimpuh dan bertekuk lutut di kaki Nara." Briyan menatap tajam kearah Zulfa.
"Tidak masalah jika aku harus bersimpuh di kaki Nara asalkan kalian memberiku maaf."
"Sebenarnya aku ingin sekali menghajarmu seperti aku menghajar kedua bajingan itu. Tapi aku masih punya hati nurani. Kamu pikir aku tidak marah padamu? Aku sangat marah, bahkan sangat kecewa. Kamu sebagai seorang perempuan sama sekali tidak punya hati nurani, Fa!. Bagaimana jika kamu yang berada di posisi Nara? Apa yang akan kamu lakukan?" sentak Briyan dengan kasar.
"Maafkan aku Riy,"
Meskipun Zulfa mengucapkan kata maaf beribu kali, Briyan tetap berteguh pada janjinya. Tidaklah mudah untuk memaafkan seseorang yang telah menghancurkan nama baiknya.
Fisya hanya bisa merangkul Zulfa dan membisikkan kata sabar. Isaknya pecah. Hidupnya telah hancur dan saat ini dia dihantui dengan rasa penyesalan.
"Sya, katakan dimana keberadaan Nara saat ini. Aku ingin bertemu untuk bersimpuh ei kakinya."
"Aku tidak tahu, Zul." Fisya menggeleng pelan.
Meskipun Fisya tahu dimana keberadaan Nara saat ini, tetapi dia ingin memberitahukan kepada siapapun dimana Nara berada.
"Jadi aku harus mencari Nara kemana, Sya?"
__ADS_1
"Sabar ya, Zul. Kamu harus tetap tenang agar tidak berdampak pada janinmu."
Dua jam telah berlalu. Kini Zulfa beristirahat dengan tenang di rumahnya mama Nuri.
Fisya sengaja membawa Zulfa pulang ke rumah karena saat ini kedua mertuanya sedang keluar kota untuk menyelesaikan sebuah masalah. Bahkan Brayan saja juga heran, masalah apa yang telah tercipta sehingga kedua orang tuanya harus turun tangan sendiri.
"Sya ... apakah Riyan udah tahu kalau kamu membawa Zulfa kesini? Jangan sampai Riyan marah karena melihat Zulfa disini."
"Dia sahabat aku, Mas. Dan aku tidak akan meninggalkannya dalam kesedihan."
"Tapi dia sudah sangat keterlaluan lho, Sya! Jika itu terjadi denganmu, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Kamu nyumpahin aku agar di perkosa oleh orang lain ya!" protes Fisya.
Brayan segera menepuk jidatnya. Dia melupakan jika saat ini Fisya sedang dalam masa pancaroba.
Didalam sudut malam yang sepi, Nara seorang diri. Terdiam, terpaku menatap Briyan tanpa rasa jengah. Senyum tipis di bibirnya mampu menggetarkan hati Briyan saat ini.
Gaun putih yang membalut tubuhnya, membuat cahaya terang keluar dari dalam tubuhnya.
Tanpa kata, Nara melambaikan tangan kepada Briyan sebagai tanda perpisahan. Namun, Briyan yang tidak menginginkan hal itu segera berlari untuk mengejar Nara yang perlahan sudah mulai melebur untuk menghilang.
Hingga akhirnya ....
Bruukkk!
Briyan langsung terjatuh dari tempat tidurnya. Apa yang baru saja dia lihat seperti nyata, bukan halusinasi semata.
"Ah, ternyata aku hanya mimpi," keluhnya.
Briyan tidak bisa kembali tidur lagi. Mimpinya terasa begitu nyata. Sepanjang malam pikiran tak lepas dari mimpi yang baru saja menghampirinya.
"Apakah Nara baik-baik saja diluar negeri sana?" Briyan bermonolog dalam kesunyian malam.
"Ra, aku sangat merindukanmu. Ra, pulanglah! Aku minta maaf dan kita mulai lembar baru. Aku berjanji akan menebus semua kesalahanku, tapi kamu harus pulang!"
Hampir satu malam Briyan memeluk sebuah bingkai dirinya dan Nara yang sedang melakukan ijab.
__ADS_1
..
Disudut kota yang sangat syahdu dan membuat orang selau merasa nyaman berada di kota itu, Agung segera menuju rumah lamanya.
Disudut kota Jogja, tersimpan rindu yang membelenggu. Tak bisa diucapkan dengan kata-kata karena Jogja adalah kota istimewa.
"Mas, apakah yakin jika Mey pulang ke rumah lama?" tanya Nuri tidak yakin.
Agung merasa jika sang adik memang pulang ke rumah lama, karena itu adalah satu-satunya tempat yang dimilikinya.
"Aku yakin, Dek. Disini dia tidak mengenali siapa-siapa lagi," balas Agung dengan mata yang fokus ke depan.
Jalanan yang sedikit macet membuatnya harus sering mengucapkan kata sabar. Selama ini Agung menahan rindu untuk bisa bertemu lagi adiknya yang memilih tinggal di luar negeri setelah kepergian kedua orang tuanya.
Memang jarak lahir antara Agung dan Meisha cukuplah jauh. Bahkan Mey lahir saat Nuri telah melahirkan bayi kembarnya kala itu.
"Setelah ini aku tidak akan membiarkan anak itu pergi lagi," lirih Agung.
"Mas jangan terlalu keras dengan Mey jika kamu ingin mendapatkan hatinya. Sedikit mengalah mungkin akan menjadi solusi agar Mey tidak pergi lagi," saran Nuri.
"Tapi Mey itu masih muda dan masih labil, Sayang. Aku tidak yakin jika dia bisa mengelola perusahaan dengan baik," balas Agung.
"Bagaimanapun, kamu harus menyerahkan perusahaan miliknya. Jika tidak, dia akan terus beranggapan jika kamu tidak ingin membagi harta warisan dan ingin menguasai sendirian."
"Tapi .... "
"Kami harus mengikhlaskan, karena itu bukan hak kamu, Mas."
Agung mengangguk pelan. Dia mengikuti saran istrinya. Mungkin dengan cara seperti itu hubungannya dengan sang adik bisa membaik dan tidak ada kesalahpahaman lagi.
Tidak menunggu lama, mobil Agung telah berhenti di sebuah rumah besar yang masih sama seperti sedia kala. Sedikitpun Tidak ada yang berubah dari rumah itu, karena Agung menyuruh orang untuk menjaga dan membersihkan rumah lamanya.
"Pak Agung," Seorang scurity langsung membuka pintu gerbang.
"Pak Saleh, apakah Mey sudah pulang ke rumah ini?"
Pertanyaan yang membuat pak Saleh ternganga. Bagaimana mungkin kedatangan Meisha langsung tercium oleh sang kakak.
__ADS_1
...~~~...
Ngantuk berat, belum sempat di revisi. moon maap kalau banyak typonya. Selamat malam, selamat beristirahat 🙏