
Sebuah penyesalan pasti akan datang di belakang, jika di depan itu namanya pendaftaran. Itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan Alqan saat ini. Setelah dia melihat sebuah kebahagiaan dari Fisya, rasanya dia juga ingin bersanding dengannya.
Zulfa yang dengan keras memutuskan hubungan mereka lalu ditambah papa Alqan yang terus menyerahkan dirinya, membuat pakan merenungi akan kesalahannya.
Semua Alqan menganggap jika Zulfa akan memperjuangkan cintanya. Namun, nyatanya Alqan salah. Zulfa tetap bersikeras untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Sya ...!" Sebuah teriakan menggema hingga ke rumah tengah. Siapa lagi bukan Brayan yang sedang memanggil Fisya.
Fisya yang sedang berada di teras segera berlari menuju. Entah mengapa Brayan memanggil dengan suara keras.
"Ada apa Ray?"
Dada Fisya naik turun setelah sampai di dalam kamar.
"Kenapa kamar kita berubah jadi menjadi seperti ini?"
Fisya hanya bisa nyengir saat mendapatkan pertanyaan itu dari Brayan. Jelas saja Brayan akan memprotes dinding wallpaper barunya yang dia tempelkan dua warna, yaitu warna merah yang bergambar hello Kity dan warna silver polos.
"Ini kan kamar kita berdua. Dan kamu juga enggak suka dengan warna pilihanku kan? Jadi aku berinisiatif untuk membagi dua wallpaper dinding kamar ini. Yang merah adalah milikku dan yang silver adalah milikmu. Nanti aku juga akan membagi sprei serta selimut kita," ucap Fisya jahil.
Brayan yang sudah lelah langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang berada di dalam kamar. Sambil memijat pangkal hidungnya Brayan berkata, "Jadi kamu juga akan bagi dua tempat tidur kita?"
Fisya mengangguk pelan. "Iya dong. Guling kita ada dua. Nanti yang satu aku pakaikan sarung Hello Kitty dan akan aku pakaikan sarung bantal biasa milikmu."
"Ya ampun Fisya ... Enggak harus seperti itu juga dong. Kita ini suami-istri, masa semua harus di pisahin, sih? Gak sekalian aja kamu suruh aku buat tidur di kamar lain, gitu?"
Brayan tak lagi mendengarkan pembelaan dari Fisya. Bisanya dengan cepat Fisya akan menimpali ucapannya. Namun, kali in Brayan tak mendengarkan apa-apa lagi.
Tiba-tiba saja Brayan merasa bersalah saat melihat Fisya hanya memelintir ujung jilbabnya.
Sambil membuang napas beratnya Brayan berkata, "Jangan pasang wajah seperti itu, jelek!"
"Jadi gimana dong, masa aku rombak lagi. Aku sama mama capek lho masangnya."
__ADS_1
"Jadi kamu dibantuin sama mama?"
Fisya hanya mengangguk pelan. Pasti ini semua adalah ide mamanya untuk membagi dua seperti ini.
Sepertinya tidak ada gunanya untuk memperpanjang masalah ini. Brayan juga tidak akan menyalahkan Fisya. Sudah semestinya pasangan suami istri harus saling menghargai.
Sebagai pria yang normal tentu saja ada rasa ingin memiliki. Apalagi saat hubungan mereka sudah halal. Namun, karena terbentengi oleh rasa gengsi, Brayan tidak pernah berani untuk meminta atas haknya sebagai seorang suami.
"Ray kamu kenapa?" tanya Fisya saat naik keatas tempat tidur.
Brayan menatap lekat wajah Fisya yang juga sedang menatapnya. Keduanya saling bersitatap layaknya dalam sebuah film Bollywood.
Fisya yang sudah menanggalkan hijab dan membiarkan rambut hitam pekatnya tergerai begitu saja, membuatnya seperti seorang bidadari di mata Brayan.
"Sya." panggil Brayan dengan pelan.
"Iya, ada apa?"
"Sudah hampir 2 minggu kita menjadi pasangan suami-isteri, tapi sekalipun kita belum pernah melakukan malam pertama. Memangnya kamu enggak gak mau untuk melayani suami kamu?"
Jantung Fisya langsung bergemuruh dengan kuat. Desiran seperti sengatan arus listrik menjalar ke seluruh tubuhnya. Pipinya pun juga sudah teras sangat panas.
Ya ampun ... mengapa Rayan harus bertanya seperti itu sih? Dia hanya membuatku semakin malu saja. Seharusnya jika dia menginginkan hak-nya, langsung aja. Gak harus bertanya seperti itu. Apakah semua orang akan bertanya terlebih dahulu saat hendak melakukan hubungan suami-istri? Rayan, sedikit peka dong! Kamu buat aku malu!
"Sya! Ditanya kok malah diem sih. Jangan bilang kamu pura-pura nggak denger karena sengaja mau menghindar 'kan?"
"Kamu ngomong apa sih Ray. Cepat sekali kamu mengambil kesimpulan seperti itu?"
"Lalu?" Brayan langsung menautkan kedua alisnya. "Kita buka sekarang?"
Meskipun merasa malu, Fisya hanya memberikan sebuah anggukan kecil sebagai tanda atas jawabannya.
Brayan yang paham akan isyarat yang diberikan oleh Fisya tersenyum puas. Akhirnya dia akan memiliki Fisya sentuhnya, sekalipun dia harus membuang rasa gengsi saat hendak mengajak Fisya untuk melakukan malam pertamanya.
Fisya merasa sangat malu ketika Brayan telah melihat seluruh anggota tubuh tanpa celah.
__ADS_1
"Ray, matiin lampunya dong!" pinta Fisya.
"Kenapa? Kamu malu. Untuk apa malu? Kita sudah halal, Sya. Masa kamu gak mau melihat anggota tubuhku?" protes Brayan.
"Ya udah, aku mati dulu."
Brayan tidak ingin membuat Fisya semakin malu. Dia memakluminya karena ini adalah pengalaman pertama mereka. Namun, Brayan akan memastikan jika Fisya tidak akan pernah malu lagi untuk selanjutnya
Sebelum Brayan menjamah sang istri, terlebih dahulu Brayan membacakan sebuah doa diatas kening sang istri.
Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami."
Akhirnya sebuah penyatuan tubuh sepasang suami istri malam ini berjalan dengan lancar. Meskipun awalnya masih saling malu-malu, tetapi pada akhirnya rasa malu itu sirna.
Rasa takut dan sakit yang sempat Fisya rasakan, kini berubah menjadi sebuah kenikmatan. Peluh yang mengalir menunjukkan betapa panas pergulatan malam ini. Kesunyian malam yang menjadi saksi bisu atas penyatuan dua insan yang saling mencintai.
...~~~...
...🌹Bersambung 🌹...
Jangan lupa tinggalkan Like!
Halo-halo, Author Hanya ingin mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan 🥰🥰
Jangan lupa tetap baca novel recehnya author ya.
Oh iya, cuma mau bilang kalau Author punya Chat Story lho, bantu ramaikan dong 🙏
Judulnya Pesona ART Cantik
Caranya aku Gampang kok
__ADS_1