
Sesampainya di rumah, Fisya langsung berlari ke untuk ke kamar mandi, karena merasa perutnya bergejolak ingin muntah. Bertepatan dengan itu, Nuri yang duduk di ruang tengah merasa heran bertanya kepada Brayan. "Istri kamu kenapa, Ray?"
"Gak tahu, Ma. Tadi pas pulang dari acara fashion show dia masih baik-baik saja. Tapi pas dari pasar atas perutnya mual karena nyium aroma buah mangga, Ma," jelas Brayan.
"Mungkin masuk angin, Ray! Makanya kalau bawa motor itu jangan ngebut-ngebut!"
"Rayan itu nggak pernah ngebut-ngebut, Ma. Apalagi saat membawa Fisya, mana berani Rayan untuk ngebut," protes Rayan.
"Oh ya, Ma. Mama kan banyak teman-temannya coba dong tanyain siapa yang punya mangga muda. Soalnya Fisya pengen banget makan mangga muda, Ma. Tadi sempat nyari di pasar, tapi gak ada yang jual mangga muda."
Mata Nuri langsung menautkan kedua alisnya. Tanpa pikir panjang, dia langsung menduga-duga tentang telur katak yang selama ini disemai oleh Brayan. Mungkinkah telur katak itu sudah berkembang?
"Serius kamu Ray? Wah ... jangan-jangan angin malam telah membuat Fisya muntah-muntah seperti itu."
"Mungkin juga, Ma. Karena beberapa hari ini Fisya tidur sedikit larut karena harus menyelesaikan desainnya. Rayan dengar angin malam itu emang nggak bagus buat kesehatan sih." Rayan bermonolog sambil mengingat tentang kegiatan Fisya akhir-akhir ini.
Nuri menghela napas beratnya. Ternyata Brayan tidak mengerti dengan maksud ucapannya. "Dasar suami gak peka! Dengarkan Mama! Kalau istri tiba-tiba minta yang aneh-aneh terus mual, itu tandanya dia sedang ... Ah, sudahlah! Mama mau telepon temen Mama dulu. Kali aja ada yang punya mangga muda. Udah sana urus dulu istrimu! Kasihan dia!"
Nuri pun langsung berlalu meninggalkan Brayan yang masih penuh dengan tanya dengan ucapan mamanya yang tidak dilanjutkan.
"Mama gimana, sih! Gak jelas banget!" Brayan pun langsung menyusul Fisya yang saat ini telah masuk kedalam kamar.
"Sya, kamu kenapa?" tanya Brayan saat hendak menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Fisya seutuhnya. Namun, dengan cepat Fisya mencegahnya.
"Jangan dibuka, Mas! Dingin," serunya.
Brayan langsung menautkan kedua alisnya merasa heran. "Kamu sakit?" tanyanya.
"Gak tahu, Mas. Tiba-tiba badanku rasanya panas dingin. Mungkin masuk angin, deh."
__ADS_1
Brayan langsung mencari termometer untuk mengecek suhu tubuh sang istri. Tidak ada tanda-tanda jika saat ini Fisya sedang dalam keadaan demam, karena suhu tubuhnya sangat normal. Namun, anehnya Fisya seperti sedang menggigil karena kedinginan.
"Kamu tunggu sebentar ya, aku mandi dul. Abis ini kita ke rumah sakit."
Jika menikah adalah menyatukan dua hati yang saling mencintai, tetapi itu tidak berlaku untuk seorang Briyan. Pernikahan yang dilakukan dengan penuh keterpaksaan membuatnya memiliki dendam tersendiri pada Nara yang saat ini telah menjadi istrinya.
Setelah pergi menjauh dari kedua besarnya, kini Briyan memilih tempat kecil sebagai tempat bernaungnya bersama dengan Nara.
Pemilik nama lengkap Asyifa Inara yang saat ini telah menjadi istrinya Briyan tidak tahu mengapa saat itu dia bisa berada dalam satu ranjang dengan Briyan. Terlebih selama ini Nara selalu berusaha menjaga dirinya dengan baik dan tidak bergaul bebas. Namun, pada kenyataannya dia dan Briyan telah melewatkan satu malam disebuah hotel.
"Riy, kamu yakin kita akan tinggal di kontrakan kecil ini?" tanya Nara ragu-ragu, sebelum masuk kesebuah rumah kecil yang ada di depannya.
"Iya. Kita akan tinggal disini, karena aku ada sedang ada proyek di kota ini. Apakah kamu tidak mau? Jika iya, maka pulanglah ke rumah orang tuamu! Aku tidak akan melarangmu!" ketus Briyan.
Saat ini Briyan telah membawa Nara ke kota Jogyakarta yang jauh dari hiruk-piruk napas ibu kota. Kota yang terlihat kecil, tetapi jika ditelusuri jauh lebih besar daripada ibu kota. Terlebih banyak keistimewaan yang masih tersembunyi di kota itu.
"Bagus. Sudah sepantasnya jika seorang istri itu harus mengikuti kemanapun suaminya pergi." Briyan tersenyum smirk, saat melihat Nara mengikuti langkahnya untuk masuk kedalam sebuah rumah kontrakan yang sangat kecil.
Sebenarnya bukan tidak memiliki uang untuk menyewa rumah besar di kota tersebut, tetapi Briyan sengaja ingin memberikan pelajaran kepada Nara yang dianggap sudah menjebak dirinya.
Dengan tinggal di rumah kecil dan fasilitas yang seadanya pasti akan membuat hidup Nara jauh terasa menderita mengingat selama ini Nara selalu hidup berkecukupan tidak pernah kekurangan suatu apapun.
"Apakah kita akan lama tinggal di tempat ini?"
"Mungkin. Karena ditempat ini aku bisa puas untuk menyiksamu."
"Riy, aku serius!"
Briyan segera meletakkan ponselnya diatas lalu menatap tajam ke arah Nara yang sudah berada di atas tempat tidur.
__ADS_1
Tatapan Briyan sangat menusuk hingga membuat Nara sedikit ketakutan. Perlahan Briyan mulai mendekat, membuat Nara merasa semakin gugup dan menarik tubuhnya ke belakang.
"Kamu mau apa Riy!"
Briyan tersenyum sinis. "Bukankah aku ini suamimu dan berhak atas kamu sepenuhnya? Apakah kita bisa mengulang kejadian malam itu?"
Nara benar-benar sangat takut saat tubuh Briyan semakin mendekat. Bahkan aroma tubuh Briyan mampu dihirupnya. Dengan cepat Nara mencegah agar tubuh Briyan tidak mendekat lagi.
"Kenapa kamu terlihat seperti orang ketakutan. Bukankah ini yang kamu inginkan?Selamat kamu sudah berhasil mendapatkanku. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, aku tidak akan pernah mengakui jika itu adalah anakku. Kamu hanya menjebakku untuk bertanggung jawab atas apa yang sama sekali tidak pernah aku lakukan."
PLAKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Briyan hingga menimbulkan bekas memerah dan rasa memar. Tangan Nara pun mulai gemetar saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan
"Maaf Riy, aku tidak bermaksud—"
Briyan tersenyum sinis sambil menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.
"Kamu!" tunjuk Briyan. Namun, saat tangannya sudah melayang di udara hendak membalas, tiba-tiba ponselnya berdering. "Lihat pembalasanku!" lanjutnya sebelum mengangkat panggilan teleponnya.
Nara Hanya bisa meringkuk memegangi lututnya. Tubuhnya pun masih bergemetar mengingat keberaniannya menampar Briyan dengan kuat.
"Iya Ma. Riyan dan Nara baik-baik aja. Nara juga sudah tidur. Riyan pasti akan berbuat baik kepada Nara, Ma." Meski sedang berbicara lewat sambungan telepon, tetapi mata Riyan terus melirik kearah Nara yang sat ini sedang ketakutan diatas tempat tidurnya.
"Besok Riyan telepon lagi ya, Ma. Riyan masih ada kerjaan." Terpaksa Briyan harus berdusta kepada mamanya untuk menjalankan misinya.
"Ra, permainan baru akan dimulai. Persiapan dirimu dengan baik." Setelah mengucapkan kata tersebut, Briyan segera meninggalkan Nara di dalam kamar diiringi dengan suara pintu yang di banting dengan keras.
...~~~...
...TBC...
__ADS_1
...Doain ya moga othor bisa konsisten untuk menamatkan cerita gak jelas ini.🙏 Butuh suntikan imun, setelah down berminggu-minggu. Terimakasih yang masih hadir untuk memberikan like dan komentarnya 🙏🥰...