Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 53 | Untuk Pertama Kalinya


__ADS_3


Tak pernah terbayangkan sedikitpun oleh Nara jika Briyan benar-benar akan tulus meminta maaf kepada dirinya. Terlebih saat ini Briyan telah mengakui jika anak yang ada di dalam perutnya adalah anaknya.


"Ra, makasih ya kamu udah mau maafin aku dengan segala kebodohanku. Aku sungguh sangat menyesal telah menyia-nyiakanmu. Berjanjilah kepadaku jika kamu tidak akan pernah pergi lagi."


Nara terpaku, dirinya belum percaya Briyan akan memperlakukan dirinya dengan baik. Bahkan saat ini Nara telah dibawa kesebuah rumah yang lumayan besar.


"Ra, untuk saat ini kita tinggal ditempat ini. Kamu mau kan?"


Nara mengangguk pelan. Dia tidak tahu rumah siapa yang sedang disewa oleh Briyan saat ini. Namun, dia tidak ingin memikirkan hal itu. Yang terpenting baginya saat ini adalah Briyan mengakui jika anak yang ada di rahimnya adalah anaknya.


"Ra, mengapa kamu pergi tanpa berpamitan kepadaku? Aku sangat mengkhawatirkanmu, Ra."


Nara menatap Briyan penuh arti. Dalam hati dia bertanya-tanya apa yang telah terjadi dengan suaminya, mungkinkah dia telah mengalami kecelakaan sehingga membuat otaknya sedikit bergeser? Karena selama Nara hidup bersama dengannya, tak pernah sedikitpun Nara diperlakukan dengan lembut, tapi kali ini dia seperti tidak melihat sosok Briyan yang sesungguhnya.


"Mas Riyan, apa yang telah terjadi kepadamu?" tanya Nara dengan heran.


"Kenapa?"


"Aku hanya merasa aneh dengan sikapmu."


Briyan membuang napas beratnya kemudian mendekat untuk menggenggam erat tangan Nara. Bibirnya terasa kelu saat dia ingin menjelaskan apa yang telah terjadi.


"Ra, bisakah kamu melupakan apa yang telah terjadi dan kita memulainya lagi dari awal? Aku mohon jangan kamu ingat yang telah berlalu, karena itu hanya akan menambah rasa bersalahku padamu."


"Mas, tapi aku ingin tahu apa yang telah terjadi kepadamu sehingga kamu bisa seperti ini. Apakah kamu baru saja mengalami kecelakaan?"


"Nanti akan aku jelaskan. Sekarang kamu enggak usah berpikir yang macam-macam. Aku baik-baik saja."


Nara yang masih tidak mengerti dengan maksud Briyan hanya mengangguk pelan. Meskipun ada luka, tetapi Nara tetap menerima Briyan apa adanya. Mungkin ini adalah jawaban atas doanya selama ini.

__ADS_1


"Ra, kira-kira sudah berapa bulan usia anak kita disini?" Tiba-tiba saja Briyan mempertanyakan usia kandungan Nara sambil mengelus perutnya.


Lagi-lagi Nara harus dibuat terkejut dengan perlakuan Briyan yang tidak seperti biasanya. Dan ini adalah kali pertama Briyan benar-benar peduli dengan kandungan.


"Udah hampir lima bulan, Mas," jawab Nara apa adanya.


Briyan semakin merasa bersalah karena selama ini dia sama sekali tidak peduli anaknya sendiri, bahkan sempat membenci dan tidak mengakui jika itu adalah darah dagingnya.


"Ra."


Mata Briyan membulat sambil terus mengelus perut Nara. "Dia gerak, Ra!" serunya


Didalam sebuah kamar, Nara merasa canggung saat harus tidur berdua dengan Briyan. Karena selama dua bulan mereka tinggal bersama, belum pernah sekalipun keduanya tidur dalam satu ranjang. Bahkan untuk berbicara lembut saja Briyan tidak pernah.


Sepanjang malam, tak hentinya Briyan menggenggam erat tangan Nara. Rasanya tidak rela untuk melepaskan genggamannya.


"Mas, sebenarnya apa yang membuatmu berubah seperti ini?" tanya Nara dengan penuh keraguan.


"Aku salah, Aku minta maaf. Meskipun aku belum bisa mengingat kejadian malam itu, tapi sekarang aku yakin jika malam itu aku telah menodaimu. Sekali lagi aku minta maaf."


"Atas dasar apa kamu yakin jika kamu yang menodaiku? Bisa saja orang lain yang telah menodaiku dan menumbalkan kamu untuk bertanggung jawab."


"Ra ... tolong jangan katakan seperti itu lagi. Aku sudah menemukan siapa yang menjebak kita malam itu," jelas Briyan.


Nara tersentak dengan penuh keterkejutan. "Siapa pelakunya, Mas?"


"Kamu enggak perlu tahu siapa pelakunya, karena aku sudah memberi mereka pelajari."


Nara merasa sangat bersyukur, karena Allah telah menjawab doa-doanya selama ini. Buah kesabarannya tidaklah sia-sia, karena semua kebenaran telah terungkap. Dia dan Briyan benar-benar di jebak oleh seseorang yang ingin menjatuhkan.


Malam panjang berlalu begitu saja. Briyan tidur dengan nyenyak sambil meluk tubuh Nara yang sedikit menggemuk. Padahal hanya hitungan Nara meninggalkan Briyan.

__ADS_1


Untuk kali pertamanya juga, pagi ini Nara melewati waktu subuh berjamaah dengan suaminya. Tak bisa di gambarkan lagi bagaimana rasa bahagia itu hadir, setelah dua bulan merasakan sakit yang sangat mendalam.


Bersimpuh di hadapan sang pencipta, Briyan memohon ampunan atas apa yang telah dia lakukan kepada sang istri dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Briyan juga memohon agar pernikahan mereka menjadi pernikahan yang sakinah mawadah warahmah, until Jannah, meskipun ada luka yang pernah dia goreskan.


"Ra, hari kamu mau masak apa, biar aku belanja ke supermarket dulu."


Dengan senyum tipis Nara menjawab, "Di supermarket harganya mahal-mahal Mas. Mending ke pasar aja, bisa di tawar lagi," saran Nara.


"Pasar," cicit Briyan.


"Kenapa? Jangan bilang mas Riyan enggak pernah ke pasar ya? Sama, Nara dulu juga enggak pernah ke pasar, tapi setelah menikah Nara tahu seperti apa pasar itu. Awalnya Nara mengira jika sayuran yang ada di pasar itu enggak bagus, tapi nyatanya Nara salah. Sayuran di pasar malam lebih fresh. Jadi kita ke pasar aja ya!"


Briyan memilih untuk mengangguk dengan pelan. Mungkin dengan cara seperti itu hubungannya dengan Nara bisa semakin lebih dekat dan semakin lebih baik lagi.


Briyan merasa bahagia, tetapi dia tidak bisa menutupi luka yang menganga saat mengingat kilas balik perbuatannya kepada Nara. Seharusnya Briyan tidak pantas mendapatkan kata maaf dari Nara, tetapi wanita memilih berlapang dada memberinya maaf begitu saja dan melupakan apa yang telah terjadi.


"Sini aku yang bawa," kata Briyan yang langsung merebut keranjang belanja dari tangan Nara.


Nara tersenyum tipis. Luka di hati itu masih ada, tetapi dia mencoba untuk membalut dengan kebahagiaan kecil yang telah Briyan berikan kepadanya.


"Mas, berapa lama akan tinggal disini? Biar aku tahu stok sayur yang harus dibeli."


"Aku tidak tahu. Tapi jika kamu setuju, aku ingin berada di kota ini selamanya bersamamu hingga sampai maut menjemputku."


Wajah Nara memerah, terasa panas. Ini adalah pertama kalinya seorang pria menggoda dirinya.


"Dimanapun mas Riyan tinggal, Nara pasti akan setuju, karena saat ini Mas Riyan adalah panutan Nara."


Layaknya pasangan muda pada umumnya, Briyan terus menggandeng tangan Nara dan tidak membiarkan Nara berjalan dengan cepat.


"Ra, kamu harus beli sayuran yang bergizi untuk anak kita. Jangan sampai anak kita kekurangan gizi dan pada akhirnya bodoh seperti ayahnya!" celetuk Briyan sambil terus berjalan.

__ADS_1


...~To Be Continue~...


__ADS_2