
Meskipun Brayan berusaha untuk menepis perasaannya, tetap saja hati masih kesal dengan ucapan Alqan. Jelas semua adalah salahnya sendiri, tetapi dia terima. Disini, Brayan bukanlah orang ketiga, karena Brayan menikahi Fisya saat pertunangan keduanya telah berakhir.
Tok ... tok ... tok ...
"Selamat pagi, Pak Rayan." Suara Aliya memecahkan suasana hening.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Brayan sedikit ketus.
"Saya cuma mau bilang jika teman-teman sudah menunggu Bapak di lapangan."
"Iya, saya tahu. Kalian tunggu sebentar saya akan segera kesana."
Aliya tersenyum lebar saat bisa melihat wajah tampan guru olahraganya. Jika bisa meminta, Aliya ingin jadwal olahraga diadakan dua hari sekali dalam satu Minggu, agar dia merasa puas untuk memandangi wajah gurunya.
"Pak Rayan, apakah tim kita juga bisa ikut lomba bulan depan? Secara kita baru latihan beberapa minggu saja?"
Brayan yang sedang memegang bola basket hanya menggendikan bahunya. "Jika kalian mau belajar bersungguh-sungguh, pasti tim kita bisa ikut kok."
"Gimana ceritanya Pak! kita aja latihan hanya seminggu sekali," protes Aliya dengan cepat.
Brayan menyadari akan kelemahan tim yang baru saja dia bangun. Tidak akan mungkin dia bisa membawa timnya lolos untuk mengikuti perlombaan, secara tidak ada persiapan yang matang.
"Jika Allah sudah berkehendak, apa yang tidak mungkin?"
"Tapi kita belum mempunyai persiapan apa-apa, Pak. Bagaimana kalau jadwal olahraga ditambah menjadi dua kali dalam satu Minggu biar kita mempunyai persiapan yang matang."
Sejenak Brayan terdiam untuk memikirkan saran dari Aliya. Tidak ada salahnya no untuk mencoba saran Aliya jika jadwal olahraga diadakan dua kali dalam seminggu.
"Ide bagus itu. Nanti saya akan koordinasi dengan guru kelas kalian."
Pagi ini sebisa mungkin Brayan memberikan latihan yang terbaik untuk para muridnya, berharap bisa mendapatkan hasil yang baik. Dibawah terik mentari pagi pun keringat mulai bercucuran.
Aliya yang tak sengaja melihat keringat Brayan, ingin sekali mengelap dengan sapu tangannya. Namun, semangat Aliya terpatahkan saat melihat seorang wanita sedang memanggil nama Brayan dan memberikan sebotol air mineral.
Dada Aliya juga naik turun saat melihat Fisya menyapu keringat gurunya menggunakan sapu tangan.
"Kenapa juga istrinya harus datang, sih!" gerutu Aliya sambil mencebikkan bibirnya.
"Sepertinya aku merasakan hawa panas yang hendak membakar hati," ledak Zahra.
"Ingat Al, Pak Rayan itu udah sold out, jangan jadi pelakor!" timpal Mifta.
"Tapi aku maunya sama pak Rayan!"
"Astaghfirullah Al, nyebut!"
***
__ADS_1
Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa kini sudah memasuki akhir pelajaran dan semua kegiatan sekolah formal telah usai. Selanjutnya para murid akan beristirahat sejenak sebelum mengikuti pelajaran pondok.
"Ra, sepertinya aku tidak bisa mengikuti pelajaran selanjutnya," ucap Aliya yang terbaring di tempat tidur.
"Kenapa? Kamu sakit, Al?"
"Iya. Hatiku sakit. Pak Rayan sudah menghancurkan separuh hatiku."
"Astaghfirullahaladzim Aliya. Istighfar Al!"
"Ray kita mampir ke butik sebentar ya," pinta Fisya ditengah perjalanan pulang.
"Siap."
Motor Brayan pun segera melaju ke butik milik istrinya. Memang beberapa hari ini Fisya dilarang ke butik karena alasan konyol Brayan.
"Kamu istirahat aja di ruangan. Nanti aku kesana. Aku ada sedikit urusan yang harus aku tangani."
"Urusan apa?"
"Ini menyangkut fashion show Minggu depan. Kamu enggak apa-apa 'kan menunggu sebentar saja. Atau kamu mau pulang lebih awal?"
"Tidak. Aku akan menunggumu disini. Pergilah, aku enggak gak apa-apa."
Sesampainya di tempat tujuan, Fisya dan asistennya langsung masuk kedalam cafe, dimana mereka telah membuat janji.
Mata Fisya menangkap sebuah tangan yang melambai kepada dirinya. Namun, Fisya ingin memastikan lebih jelas melalui nomer mejanya. Dan ternyata itu benar.
"Pak Asep?" tanya Fisya.
"Iya. Ini saya dan ketua penyelenggara, Bu." Pria yang dipanggil pak Asep memperkenalkan seseorang yang telah duduk bersama dirinya.
"Perkenalkan beliau adalah pak Alqan. Beliau ini adalah penyelenggaraan dari Fashion show minggu depan.
Dada Fisya langsung berdebar saat melihat Alqan yang dia kenal ternyata adalah ketua dari penyelenggaraan acara besar itu.
"Halo ... Fisya. Senang bertemu denganmu disini," ujar Alqan sambil melepaskan sebuah kacamata yang bertengger di batang hidungnya.
"Mas Alqan?"
Pertemuan tak terduga membuat suasana terasa canggung. Namun, Alqan mencoba mencari cari agar pertemuan itu tidak kaku.
"Sya, sebelumnya aku minta maaf atas perbuatanku di masa lalu. Aku minta kita buka lagi lembaran baru. Anggap saja ini adalah pertemuan awal kita, bagaimana?"
"Sebelum Mas Alqan meminta maaf, aku sudah memaafkan mas Alqan. Aku sebenarnya juga ingin berterimakasih kepada mas Alqan karena dengan berakhirnya pertunangan kita, akhirnya aku dipersatukan dengan Bayan," ucap Fisya apa adanya.
"Apakah kamu bahagia menikah dengan Rayan?" Alqan menahan rasa panas yang hendak membakar hatinya.
__ADS_1
"Jelas aku bahagia. Meskipun dulu kami saling membenci, tapi sekarang kami saling mencintai."
"Syukurlah, aku doakan semoga kamu bahagia until Jannah ya."
Tak terasa setelah selesai membahas masalah utama, Alqan masih meminta waktu Fisya untuk bercerita sebentar. Fisya dan Nana merasa tidak enak, akhirnya menuruti permintaan Alqan.
"Mas Alqan, sepertinya ini sudah sore. Kami harus segera pamit," ucap Fisya.
"Tapi, Sya ... habiskan dulu makananmu. Nanti aku antar kalian pulang," cegah Alqan.
Karena merasa tidak enak Fisya pun segera menghabiskan makanannya sebelum mereka pulang.
"Aku antar ya!" tawar Alqan.
"Tidak udah, Mas. Kami naik taksi aja." Fisya menolak.
"Sudah tidak apa-apa. Nunggu taksi kelamaan!" paksa Alqan.
Perut Brayan sudah mulai keroncong karena dia memang belum makan siang. Saat melihat jam tangan, ternyata hari sudah menunjukkan pukul 5 sore dan Fisya belum juga kembali.
"Fisya kemana sih, kok belum pulang jam segini. Pamit sebentar, nyatanya lama. Dasar perempuan!" Brayan menggerutu.
Tepat di depan butik mobil yang di kendarai oleh Alqan berhenti. Seperti biasa, Alqan akan membukakan pintu untuk Fisya, sama seperti dahulu saat mereka masih bertunangan.
"Mas Alqan, makasih ya."
"Iya. Kita 'kan satu tim."
Setelah mengucapkan kata terimakasih, Fisya segera masuk kedalam butik. Dilihatnya Brayan sudah berdiri sambil melipat kedua tangan didepan dadanya. Matanya tak berkedip saat melihat Fisya datang menghampirinya.
"Dari mana?" ketus Brayan dengan cepat.
"Aku tadi kan udah bilang kalau ada sedikit urusan untuk fashion show. Ada yang salah?"
Brayan tidak menjawab pertanyaan Fisya. Matanya masih menyorot sebuah mobil yang masih berada di depan butik.
"Apakah kamu pergi bersama dengan Alqan?"
"Iya. Aku juga baru tahu kalau ternyata Mas Alqan itu adalah ketua dari penyelenggara fashion show ini. Kenapa, kamu keberatan? Jika memang kamu keberatan aku bisa kok membatalkan acara fashion show untuk minggu depan."
Tidak ada seorang suami yang akan rela melihat istrinya bersama dengan mantan tunangannya, terlebih mantan tersebut sekarang ingin merebut istrinya. Namun, Brayan juga tidak ingin mematahkan semangat Fisya, karena ini adalah acara yang sangat dinantikan oleh Fisya.
"Sebenarnya aku memang keberatan, tetapi apa boleh buat ini semua adalah mimpimu dan aku tidak akan menghancurkan begitu saja. Tapi aku berharap kamu bisa menjaga jarak dengan pria itu. Aku tidak suka jika kamu terlalu dekat dengannya."
Fisya tersenyum kecil. Dia bersyukur meskipun dia tahu jika saat ini Brayan sedang cemburu, tetapi dia tidak memikirkan egonya sendiri.
"Makasih ya Ray, aku pasti akan menjaga sikapku dengannya."
...~BERSAMABUNG~...
__ADS_1