Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 49 | Rasa Yang Tertinggal


__ADS_3


Kali ini pikiran Briyan hanya tertuju paada Nara. Bahkan dia siap untuk bersimpuh di kaki istrinya untuk memintaaaf atas apa yang telah lakukan selama ini. Dan sesampainya di tempat tujuan, Briyan menuju ke sebuah kabupaten di bagian selatan kota Jogja. Menurut informasi saat ini Nara sedang berada di daerah Gunung Kidul.


"Gunungkidul," gumam Briyan saat membaca pesan dari Husna.


"Gunungkidul itu luas. Lalu aku akan mencari disebelah mana. Mengapa Husna tidak memberitahu dengan jelas dimana alamatnya. Awas saja jika wanita itu bukan Nara! Akan aku putus kerjasama kita!"


Briyan berusaha mencari informasi tentang alamat Nara. Bahkan beberapa orang telah disebar untuk menemukan keberadaan Nara yang saat ini ada di Gunung Kidul.


Ternyata untuk menemukan satu wanita saja tidaklah mudah. Butuh waktu dua hari untuk menemukan posisi Nara saat ini. Dan setelah mendapatkan alamat lengkap Briyan tidak membuang waktunya lagi. Dia segera meluncur ke pesisir selatan kota Jogja, karena saat ini Nara sedang berada ditempat itu.


Untuk sampai ke tempat yang dituju, Briyan memilih jalan alternatif agar cepat sampai. Apalagi jalanan ini masih baru yang rasanya masih mulus layaknya jalan tol.


Jalan lintas selatan yang menghubungkan dari Jawa barat ke Jawa timur sudah dibuka. Sepanjang jalan akan di suguhi dengan pegunungan kapur yang gersang dan pantai yang membentang luas sepanjang jalan.


Sesampainya disebuah pemukiman warga, Briyan segera menanyakan desa sesuai dengan alamat yang ditujunya. Mereka mengira jika Briyan adalah wisatawan yang hendak mencari sebuah penginapan di pinggir pantai.


"Mas, kalau mau cari penginapan disini masih ada yang kosong," ujar seseorang yang dia tanyai.


"Maaf Pak, saya sedang mencari seseorang di alamat tersebut," balasnya.


"Oh maaf, saya tidak tahu. Kalau begitu Mas lurus saja terus, nanti di pinggiran jalan ada papan bertuliskan nama pantai Indrayanti."


Briyan mengangguk pelan, kemudian melajukan kembali mobilnya. Beberapa panggilan masuk dari sang mama dia abaikan. Mungkin saat ini mamanya sudah tahu sedang mencari Nara di kota Jogja.


"Jika benar semua ini adalah rencana mama dan papa, aku tidak akan memaafkan mereka dan aku akan membawa Nara pergi jauh dari mereka."


Lelah itu sudah pasti, tetapi Briyan berusaha kuat agar bisa segera sampai ditempat tujuan untuk bertemu dengan Nara.


Berbeda dengan Briyan yang sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan Nara, kedua orang tuanya sangat panik dengan kabar jika Briyan menuju tempat persembunyian Nara. Terlebih saat ini kedua orang tuanya baru saja tiba di Jakarta.


Terlambat sudah, karena sebentar lagi Briyan benar-benar akan menemukan Nara. Entah darimana Briyan mengetahui keberadaan Nara. Padahal, saat itu Nuri sudah mengatakan jika Nara telah pergi ke Jerman dan Briyan pun mempercayainya.

__ADS_1


"Mas, gimana ini?" panik Nuri.


Agung tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pasrah. Mungkin itulah yang dikatakan dengan takdir. Kemanapun pergi pasti akan ditemukan.


"Sudahlah, mungkin sudah menjadi ketetapan Allah untuk mereka berdua. Mungkin dengan begitu, Nara tidak akan larut dalam kesedihannya lagi."


"Mungkin saja. Semoga saja Riyan menyesali perbuatannya dan tidak menyia-nyiakan Nara lagi.


Pada saat ini Agung dan Nuri juga sudah berhasil membawa Mey pulang bersama dengan mereka, sekalipun penuh drama untuk menjinakkan Mey yang masih marah dengan Agung.


Namun, saat mereka hendak masuk kedalam rumah, mereka dikejutkan oleh seseorang yang membuka pintu.


Seorang wanita yang sedang berbadan dua tanpa balutan hijab yang membungkus kepala. Sedikit heran, tetapi ketegangan itu segera mencair saat Mey yang ada di belakang mereka mengenali wanita tersebut.


"Zulfa," ucapannya dengan terkejut.


Zulfa terperanga saat melihat siapa yang sedang memanggilnya. "Mey," gumamnya.


Agung dan Nuri hanya saling bersitatap saat melihat kedua wanita itu saling berpelukan, seolah mereka saling mengenal.


"Mey, kamu kenal dengan dia?" tanya Nuri penasaran.


"Ah, maaf Tante, aku temennya Fisya," ucap Zulfa yang merasa tidak enak kepada orang orang tuanya Riyan sungguh merasa canggung.


Tidak ingin membiarkan tuan rumah terus berdiri di depan rumah, Zulfa segera menyuruh mereka untuk masuk.


Sesampainya di dalam Zulfa menjelaskan jika Fisya yang mengajaknya untuk menginap selama beberapa hari ini sebelum Zulfa menemukan tempat tinggal baru.


"Oh, temennya Fisya. Ya udah kamu sama Mey dulu, ya. Tante sama Om mau beristirahat. Capek."


"Iya Tante."


Mey yang mengira Zulfa adalah istrinya Briyan merasa sangat bahagia. Karena saat berada di luar Negeri, Briyan sering melakukan video call dengan menunjukkan Zulfa yang saat itu masih sebagai kekasihnya.

__ADS_1


"Aku benar-benar enggak nyangka jika ternyata benih Riyan top cer juga ya. Padahal kalian baru saja menikah selama dua bulan dan lihatlah saat ini perutmu sudah menonjol," celoteh Mey.


Zulfa hanya bisa menelan kasar salivanya. Bagaimana cara menjelaskan kepada Mey jika ternyata dirinya belum menikah dan ayah dari anaknya bukanlah Briyan.


"Mey, sebenarnya ...."


"Sudahlah, enggak usah malu. Yang penting kalian sekarang sudah menikah. Eh, katanya kamu pergi dari rumah? Kenapa? Atau ... Riyan hanya memang mencari alasan untuk tidak mau menemuiku? Dasar anak itu minta digiling!"


Zulfa semakin merasa tidak enak karena Mey menganggap jika dirinya adalah istrinya Briyan.


"Mey ... kamu salah paham. Aku bukanlah istrinya Riyan."


Mey langsung menautkan kedua aslinya. Dia terheran dengan pengakuan Zulfa. "Maksud kamu apa?"


"Aku memanglah bukan istrinya Riyan, Mey. Riyan menikah dengan wanita lain dan itu karena kesalahanku," sesal Zulfa.


Detik itu juga Zulfa langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa sedikitpun yang ditutupi lagi, karena Zulfa tidak ingin membuat dirinya merasa semakin bersalah.


"Astaga, Zulfa! Kamu sangat kelewatan! Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu kepada sepupumu sendiri?"


"Aku minta maaf, Mey. Saat itu aku benar-benar sedang dibutukan oleh cintanya Alqan."


"Aku kecewa kepadamu, Zul. Sangat kecewa! Sudahlah aku ingin istirahat lebih dahulu. Nanti kita sambung lagi," pungkas Mey yang kemudian berlalu meninggalkan Zulfa seorang diri di ruang tamu.


Kini tak ada lagi yang peduli dengannya. Percuma saja jika dia bertahan, nyatanya semua orang mengabaikan dirinya.


"Sya, maafkan aku. Aku harus segera pergi dari sini. Terimakasih sudah memberikanku kesempatan untuk berterus terang kepada Riyan. Terimakasih juga karena kamu adalah satu-satunya orang yang tulus kepadaku, tapi maaf, aku harus pergi."


Zulfa menuliskan kata-kata itu diatas kertas putih, agar saat Fisya Kembali dia tidak terkejut.


Tanpa berpamitan kepada sang pemilik rumah, Zulfa diam-diam pergi begitu saja. Selain merasa tidak enak, Zulfa juga sudah lelah untuk berjuang. Tak ada lagi tempat untuk dirinya bernaung, karena semua orang hanya akan menganggap dirinya adalah sampah.


Rasa yang dulu ada juga sudah lenyap. Semua hilang begitu saja terbawa lara. Hati yang pernah terluka tidak akan pernah mungkin bisa menerimanya untuk kembali, meskipun separuh hati masih tersimpan didalam hati.

__ADS_1


...~~~...


...TBC...


__ADS_2