Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 33 | Positif


__ADS_3


Heningnya malam menjadi saksi dimana seorang Nara yang tidak pernah menitihkan air matanya, kini terisak dibalik selimut tebal seorang diri. Berserah kepada sang pencipta agar diberikan kekuatan untuk menjalani kehidupan barunya bersama dengan Briyan yang merasa telah dijebak olehnya.


Sudah hampir sepertiga malam, tetapi Nara tak kunjung bisa memejamkan matanya.


"Ayah ... jika tahu menikah dengan Riyan akan seperti ini, lebih baik Nara tidak menikah dan melahirkan anak ini tanpa seorang suami. Mungkin akan lebih baik," isak Nara sambil memegangi perutnya.


Nara tahu jika Briyan sangat membencinya, karena tragedi satu malam yang mengakibatkan ada janin yang sedang berkembang di rahimnya.


"Ya Allah ... berikan kekuatan untukku demi calon bayi yang tidak berdosa ini. Aku bersimpuh di depan-Mu. Memohon ampunan-Mu atas dosa dan khilafahku. Ya Allah ... selama ini aku senantiasa untuk selalu menjaga diri, tetapi semua telah Engkau gariskan untukku. Aku ikhlas untuk menjalani takdir yang Engkau berikan, tetapi aku mohon berilah aku kekuatan dan tolong dinginkan hati Riyan, Ya Allah."


Sebuah doa yang Nara panjatkan setelah melakukan sholat malam. Sepanjang malam Nara selalu berdoa agar tetap diberikan kekuatan. Pernah terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri hidup yang dianggap telah hina. Namun, saat itu juga Allah mengirimkan seseorang untuk menggagalkan rencana buruk Nara dan menasehatinya hingga dia menyesali perbuatannya.


Saat membuka pintu untuk ke dapur dapur, mata Nara menangkap Briyan yang tidur di sebuah sofa. Sedikit lega karena Nara sempat mengira jika Briyan telah meninggalkan dirinya.


"Riy, kenapa tidak tidur di kamar?" Tangan Nara mengguncangkan lengan Riyan.


Mata Riyan sedikit mengerjap, gambar wajah Nara terlihat samar-samar. Namun, setelah Briyan membuka mata dengan sempurna wajah Nara begitu nyata di depannya.


"Kamu mau ngapain?" sentak Briyan.


"Aku hanya bertanya mengapa kamu tidur disini? Disini dingin, pindahlah ke kamar!"


"Cih ... kamu pikir aku mau satu ranjang dengan wanita murahan sepertimu? Jangan berharap bisa tidur bersama denganku, karena aku tidak akan pernah sudi!" ketus Briyan dengan wajah kantuknya.


"Tapi, Riy .... "


"Sudahlah sana! Kamu hanya mengganggu tidurku saja!"


Nara hanya bisa mengelus dadanya. Sifat yang dimiliki Briyan sangat berbeda dari yang dia kenal sebelumnya. Briyan yang ada di depannya saat ini bukanlah Briyan yang dia kenal dahulu.


"Satu lagi ... tidak usah kamu pedulikan tentang hidupku, karena pernikahan ini hanyalah sementara. Setelah anak itu lahir dan mendapatkan pengakuan ayah dariku, maka saat itu juga kita akan berpisah. Untuk masalah berkas, besok siang akan aku siapkan."

__ADS_1


Dengan langkah gontai Nara kembali masuk ke dalam kamar. Sebisa mungkin dia menahan air matanya yang hendak menetes.


"Ya Allah pernikahan seperti apa ini? Jika Riyan tidak ikhlas untuk bertanggung jawab, mengapa dia mau menikahiku? Lebih baik aku hina dimata orang lain dari pada aku harus hina di depan suamiku sendiri."


Sepanjang hidupnya tak pernah terpikirkan oleh Nara jika dirinya akan melakukan perbuatan zina hingga membuahkan sebuah janin yang sedang hidup di dalam rahimnya. Nara selalu merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengingat apa-apa saat Riyan merenggut kesuciannya.


***


Sudah dua hari Fisya meriang. Saat hendak dibawa ke rumah sakit, Fisya selalu menolak. Dan anehnya meriang itu akan hilang saat dipeluk lama oleh Brayan.


"Ma, mangga kemarin kok habis ya? Seingat Fisya kemarin banyak lho." Fisya melihat mangga di kulkas sudah tidak ada lagi.


Nuri yang sedang menata sayuran segera menautkan alisnya. "Gimana gak habis, kalau tiap menit kamu makan."


"Ma, minta lagi dong," pinta Fisya.


"Apanya yang mau diminta, Sya. Daunnya? Itu kemaren Mama leles ya. Mbok ya ngidamnya diganti gitu yang gampang dicari."


"Ya ampun Fisya ... kamu itu gak sadar apa gimana sih? Sekarang Mama tanya kapan terakhir kamu datang bulan?"


Sejenak Fisya terdiam sambil untuk mengingat kembali kapan terakhir kalinya dia mengalami datang bulan.


"Sepertinya Fisya belum telat deh, Ma. Bulan kemarin Fisya masih dapat," jelas Fisya.


"Masa sih, Sya? Tapi kamu itu udah kayak orang ngidam lho, mual tiap pagi. Apalagi yang tiba-tiba pengen sesuatu dalam waktu saat itu juga."


"Eh ... tunggu. Kayaknya Fisya udah telat dua minggu, deh Ma. Tapi itu udah biasa, karena tamu bulanan Fisya enggak teratur. Masa sih, Fisya hamil?"


Untuk memastikan lebih jelas, Nuri memutuskan untuk membawa Fisya cek ke rumah sakit. Sebenarnya Fisya tidak yakin jika dirinya hamil, karena bagi Fisya telah dua Minggu itu sudah biasa.


Sesampainya di rumah sakit, Fisya langsung melakukan tes. Matanya langsung membulat dengan lebar saat melihat hasil tesnya. Meskipun masih samar-samar tetapi alat yang dia pegang telah menunjukkan dua garis merah.


Di dalam kamar mandi Fisya menangkup bibirnya, dia tidak percaya jika Allah begitu cepat menitipkan amanah-Nya kepada dirinya. Tak hentinya Fisya mengucapkan kata syukur.

__ADS_1


"Gimana, Sya?" tanya Nuri tak sabar.


Fisya tersenyum malu sambil menunjukkan alat yang berada ditangannya lalu berkata, "Positif, Ma."


"Tuh kan feeling Mama gak salah. Selamat ya, Nak. Akhirnya Mama akan menerima dua cucu sekaligus." Nuri segera memeluk tubuh Fisya. Saat itu juga Nuri langsung mengingat sosok Nara, istri Briyan yang juga sedang hamil.


"Ma, Mama kenapa nangis?"


"Mama hanya merasa sangat haru. Terlebih Mama juga merindukan Riyan dan Nara."


Sampai saat ini Nuri tidak tahu dimana keberadaan Briyan. Setiap ditanya Briyan pasti akan mengalihkan pertanyaan.


"Mama tenang aja, nanti Fisya suruh Mas Rayan untuk mencaritahu dimana keberadaan Riyan. Sekarang kita pulang ya. Fisya mau memberi kejutan untuk mas Rayan."


Saat hendak keluar dari gedung rumah sakit, mata elang Fisya menangkap sosok yang begitu familiar untuknya. Sahabat sekaligus wanita yang dicintai oleh Alqan dengan perut sedikit membuncit masuk kedalam sebuah mobil.


"Ma ... sepertinya itu Zulfa, deh." Telunjuk Fisya menunjuk sebuah mobil yang baru saja meninggalkan halaman rumah sakit.


"Mana, Sya?"


Fisya terdiam. Pikiran melayang, saling menyerang untuk menduga-duga apakah Zulfa sedang hamil atau hanya perasaannya saja, karena sampai saat ini Fisya belum mendengar jika Zulfa telah menikah.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Fisya.


"Kamu kenapa, Sya. Dimana Zulfa?"


"Lupakan saja, Ma. Mungkin Fisya hanya salah mengenali orang." Fisya terpaksa harus berbohong agar mama mertuanya tidak bertanya lagi.


"Ya sudah, ayo pulang! Kamu butuh istirahat. Mama gak akan biarkan kamu kelelahan di butik maupun diatas ranjang!"


...~~~...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2