
Keputusan yang benar-benar sangat menyakitkan untuk seorang Nara saat papa mertua mengatakan jika dia akan segera mengurus perceraiannya dengan Briyan. Air matanya tumpah begitu saja, sesekali dia hanya bisa menyekanya dengan lembut.
"Tapi Pa ... mengapa Papa ingin mengurus perceraian kami secepatnya? Apa salah Nara? Nara sudah mencoba untuk menjadi istri yang baik untuk mas Riyan. Meskipun perceraian itu tetap akan terjadi, tapi setidaknya beri waktu Nara untuk menjadi istri yang berbakti, Pa."
"Ra ... maafkan jika keputusan Papa membuat kamu terluka. Tapi papa tidak mau kamu terus disakiti oleh Riyan. Papa tahu jika dalam agama, saat ini kalian tidak boleh bercerai sampai kamu melahirkan. Papa hanya ingin kalian berpisah sambil menunggu waktunya tiba. Kamu tenang saja, Mama dan Papa akan bertanggung jawab penuh padamu dan anakmu. Untuk saat ini Papa tidak akan memulangkanmu pada orang tuamu sebelum pengadilan memutuskan jika kalian telah resmi bercerai. Untuk kamu Riyan, mulai malam ini kamu sudah bebas dari ikatan pernikahan yang membelenggumu. Papa juga sudah menyiapkan tempat tinggal untuk Nara yang aman dan tentunya tidak akan pernah kamu temukan," jelas Agung panjang lebar.
Nara menatap Briyan dengan penuh harap. Berharap jika Briyan menolak keputusan papanya dan memperjuangkan nasib pernikahannya, meskipun Nara sadar jika pernikahannya hanyalah sementara. Namun, Nara harus menelan kasar kekecewaannya saat Briyan malah bersyukur dengan keputusan papanya. Tanpa rasa bersalah, Briyan meninggalkan rumah tanpa sepatah kata untuknya.
Tangis Nara pecah saat dirinya tak sedikitpun dianggap oleh Briyan. Beruntung ada Fisya dan mama mertuanya yang menenangkan dirinya.
"Ra, maafkan Riyan ya. Semua ini Papa lakukan untuk membuka hatinya Riyan dan membuatnya menyesal untuk seumur hidupnya. Kamu mau kan bantuin Papa?" Dengan belain kasih sayangnya, Nuri mengelus bahu Nara yang telah berada dalam pelukannya.
"Maksud Mama?"
Nara akhirnya menyeka jejak air matanya saat mama mertuanya menceritakan rencana mereka. Sebelumnya papa mertuanya juga meminta maaf jika rencananya sangat melukai hati Nara. Mereka berharap akan ada pelangi selepas badai.
**
Riyan yang frustasi mengemudikan mobilnya tanpa arah. Satu tujuan yang tak pernah dia kunjungi sebelumnya. Bahkan untuk menyebutkan namanya saja lidahnya terasa kelu.
Baru juga masuk, dentuman musik seakan ingin memecahkan telinganya. Aroma alkohol membuatnya hampir muntah, tapi setan dalam hati terus membujuk Briyan untuk tetap berada ditempat itu.
Langkahnya sedikit ragu dengan mata yang celingukan ke kanan dan ke kiri. Briyan hanya mendengar dari beberapa temannya jika sedang stres, tempat itu bisa membuat mereka melupakan masalahnya.
"Astaga, bisa-bisa aku masuk ke tempat seperti ini? Baunya saja sudah membuatku mual," batin Briyan.
__ADS_1
Briyan menyerah dengan keadaan sekitar. Dia tidak kuat dengan suara musik yang membuat telinganya hampir pecah. Namun, saat hendak meninggalkan tempat itu matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali bersama dengan salah satu temannya.
Briyan yang merasa penasaran diam-diam menghampiri meja itu. Karena suara mereka terlalu kencang, Briyan yang berdiri dibelakangnya bisa mendengar dengan jelas topik pembicaraan mereka.
"Dasar Riyan saja yang bodoh! Masa iya dia tidak bisa merasakan jika sudah menodai Nara."
"Siapa suruh dia merebut posisiku. Jika dia tidak mengikuti bisnisku, mana mungkin aku akan menjebaknya. Aku jadi kasihan sama Nara. Tapi sudahlah, salahkan saja Riyan yang bodoh itu."
Kedua lelaki itu bersulang sambil menertawakan kemenangan yang sudah mampu menggeser posisi Briyan selama dua bulan terakhir.
Briyan segera membabi buta menghajar kedua pria yang ada di depannya. "Kurang ajar, ternyata kamu yang sudah menjebakku. Kamu harus mati!" Briyan yang sudah di kuasai emosi dan juga setan yang ada di tubuhnya tak peduli lagi jika kedua orang yang setengah mabuk akan mati di tangannya
Karena telah membuat keributan, akhirnya Briyan diseret keluar oleh pihak scurity.
"Lepaskan aku! Mereka berdua harus membayar semuanya!" teriak Briyan sambil memberontak.
"Awas kalian berdua! Aku tidak akan pernah tinggal diam!" Briyan berlalu pergi dengan sejuta amarah yang bersarang dalam dadanya.
Kali ini ingatannya kembali pada sosok Nara yang telah dia sakiti. Selama ini Briyan menganggap jika selama ini dia adalah korban. Namun, tanpa disadari ternyata Nara-lah korban yang sesungguhnya.
Dengan kecepatan tinggi, Briyan segera meluncur ke rumahnya untuk segera meminta maaf kepada Nara dan membujuk papanya agar tidak mengurus perceraiannya.
Jika benar apa yang di katakan Alqan dan juga Yoshi itu benar, berarti anak yang dikandung oleh Nara adalah anaknya.
Briyan mengacak kasar rambutnya, berharap dia mengingat kejadian malam itu. Namun, percuma saja, karena Briyan sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang kejadian malam itu.
"Sial! Sebenarnya Yoshi memberikan minuman apa malam itu. Seingatku hanya sebuah air mineral, tetapi mengapa membuatku tidak bisa mengingat apa-apa. Sial ... sial ... sial," umpat Briyan semakin murka.
__ADS_1
Setibanya di rumah, Briyan segera berlari menuju kamar untuk menemui Nara. Namun, Briyan harus menelan kasar salivanya saat matanya tak menemukan keberadaan Nara di dalam kamar.
"Ra!" panggilnya sambil membuka pintu kamar mandi, berharap Nara ada di dalamnya.
Hening, tak ada sahutan membuat Briyan segera berlari keluar untuk mencari keberadaan Nara.
"Ra ... Nara ..." teriaknya lagi.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, tidak mungkin Nara keluar rumah. Suara Briyan mampu membangunkan kedua orang tuanya dan juga Brayan. Pasangan beda usia itu punya menghampiri Briyan dengan kekesalan mereka masing-masing. Disaat mereka ingin menunaikan ibadah malamnya tiba-tiba harus terganggu oleh teriak Briyan.
"Ada apa sih, Riy. Gak tahu udah malam, teriak-teriak," protes Brayan dengan kesal.
"Ada apa Riy?" timpal papanya.
"Pa ... Ray ... dimana Nara? Kenapa dia tidak ada di kamar?" tanya Briyan dengan kepanikan.
Sambil menguap, Brayan menggerutu, "Aku pikir ada apa ternyata cuma menanyakan Nara? Nara udah pulang." Brayan pun akhirnya balik badan meninggalkan Briyan yang masih panik. Begitu juga dengan papanya yang ikut meninggalkan Briyan.
"Pa ... Nara pulang kemana? Kenapa Papa biarkan Nara pergi tanpa seizin dari Riyan, Pa?"
"Memangnya kamu siapa? Toh kalian sebentar lagi juga akan bercerai, jadi untuk apa kamu mencari keberadaan Nara lagi. Sudahlah lupakan saja Nara! Mulai saat ini kamu sudah terbebas dari pernikahan ini. Dasar gangguan orang lagi pemanas aja." Tanpa ingin menghiraukan perasaan Briyan, Agung berlalu ke kamar untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Mendengar kabar bahwa Nara telah pergi membuat seluruh tubuh Briyan terasa lunglai tak berdaya. Dadanya berdebar hebat, tubuhnya pun luruh ke lantai. Hatinya seakan hancur, bagaimana bisa Nara benar-benar pergi meninggalkan dirinya.
...~~...
...TBC...
__ADS_1
TERIMAKASIH MASIH ADA YANG MAU MAMPIR DI NOVEL RECEH INI 🥰