
Sesuai dengan janjinya kepada sang istri, Brayan meminta izin untuk pulang lebih awal dari biasanya. Dia tidak bisa memberikan pelajaran tambahan ekstrakurikuler kepada muridnya, karena dia harus hadir dalam acara fashion show. Meskipun para murid merasa sangat kecewa, tetapi keputusan Brayan tidak bisa diganggu gugat.
"Yah ... gagal dog diajarin main basket sama Pak Rayan," keluh Aliyah.
"Ya mau gimana lagi," sahut Mifta dengan lesu.
"Sudahlah, persiapkan saja tasmi' untuk nanti malam bersama dengan ustad Adzam," sahut Zahra.
"Nah itu dia masalah. Aku belum hafal. Gimana dong?"
"Cari alasan datang bulan aja, Al."
"Baru juga seminggu yang lalu. Masa iya tiap minggu datang bulan."
Larut dalam perbincangan membuat ketiga sahabat itu melupakan rasa kesal karena gagal mendapatkan ekstrakurikuler bersama dengan guru idola mereka.
***
Terkadang seseorang harus melakukan segala cara untuk bisa mengambil hati orang yang dicintainya. Terlebih saat dia baru menyadari jika orang itu sangat berarti dalam hidupnya.
Sepertinya menyia-nyiakan Fisya saat itu ada sebuah kesalahan terbesar bagi seorang Alqan. Dia baru menyadari saat Fisya telah menjadi milik orang lain. Kini hati Alqan seolah gelap ditutup dengan awan hitam yang menyelimuti hatinya.
Fashion show diadakan disalah satu hotel besar. Para tamu yang hadir juga bukanlah orang sembarang. Fisya merasa sangat bersyukur karena salah satu desain busananya bisa tampil dalam acara tersebut.
Dengan ditemani Brayan, Fisya duduk dibarisan paling pertama. Itu adalah sebuah kebanggaan tersendiri untuk seorang Nafisya. Namun, siapa yang menyangka jika disamping Fisya telah duduk seorang yang ingin ditenggelamkan ke dasar lautan. Siapa lagi jika bukan Alqan.
"Mas Alqan." Fisya terkejut saat suara deheman membuyarkan pandangan Fisya pada anggota fashion show.
"Selamat ya, akhirnya desain kamu bisa tampil disini. Oh iya, nanti malam juga akan ada dinner bersama. Kamu ikut ya?"
"Maaf Mas, sepertinya aku gak bisa ikut, deh! Aku sama masa Rayan nanti malam ada rencana," tolak Fisya.
Dalam hati Brayan bersorak ria, karena Fisya telah memberikan penolakan pada ajakan Alqan.
"Ah, sayang banget. Padahal ini adalah dinner langka lho, banyak para pengusaha terkenal. Siapa tahu mereka akan tertarik dengan desain mu, Sya."
"Bisa tampil dalam acara dalam acara seperti ini saja aku sudah bersyukur, Mas. Aku tidak akan berharap lebih karena pada dasarnya aku hanya menyalurkan hobiku saja."
Lagi-lagi Alqan kalah telak. Dengan napas kasar dia menyandarkan kepala di kursinya. Hatinya benar-benar tidak terima saat Fisya sama sekali tidak tertarik dengan tawarannya. Apalagi saat melihat tangan Fisya dan Brayan saling menggenggam dan sesekali dicium oleh Brayan.
"Rasain, siapa suruh mau jadi pembinor. Untung Fisya tak terbuai dengan mulut manismu." Brayan melirik Alqan yang sedang frustasi.
__ADS_1
"Sya, sini!" bisik Brayan.
"Iya, Mas? Ada apa!" Fisya nurut dengan mendekatkan wajahnya kearah Brayan.
"Sini."
Brayan memberi isyarat agar Fisya menyenderkan kepalanya di bahu.
"Udah nurut aja!" bisiknya pelan.
Fisya tersenyum tipis. Dia tahu jika saat ini suaminya sedang ingin membuat panas hati seseorang.
"Jangan bilang kamu mau buat mas Alqan tambah kesal ya?"
"Sttt, jangan keras-keras!"
Sepanjang acara keduanya terpukau saat melihat para model memamerkan busana yang dikenakannya. Berbagai model busana dari desainer ternama membuat Fisya merasa sangat takjub luar biasa.
"Selamat ya, Sya. Semoga ini adalah awal yang baik untuk karir kamu," ucap Brayan penuh bangga saat seorang model berlenggak-lenggok diatas panggung dengan memperagakan busana yang dibuat oleh Fisya.
"Semoga saja ya," timpal Fisya.
"Seharusnya kamu berterimakasih kepadaku, Sya. Jika bukan karena aku yang merekomendasikan desain milikmu, mungkin busana kamu tidak bisa tampil disini," sahut Alqan segera.
"Harus ya?" timpal Brayan.
"Ya harus! Bukankah selama ini aku yang menangani masalah fashion show ini? Jika bukan karena aku, brand dari Nafisya Fashion tak akan bisa tampil disini."
Fisya hanya bisa menarik napas panjangnya sebelum di hembuskan secara kasar.
"Makasih ya mas Alqan udah mau bantuin Fisya. Oh ya, berhubungan acara udah selesai, Fisya duluan ya, Mas." Fisya segera menarik lengan Brayan dengan mesra untuk meninggalkan tempat duduknya.
"Daa ... mas Alqan." Brayan melambaikan tangannya kepada Alqan sebagai tanda perpisahan.
Udara segar masuk ke rongga paru-paru, membuat Brayan bisa bernapas dengan lega. Tak disangka jika Alqan benar-benar akan menjadi masalah baru dalam hidupnya.
"Sya, aku harap kamu bisa lebih berhati-hati dengan Alqan! Dia bukan pria yang baik. Berani sekali dia merebut mau kamu setelah menyia-nyiakan kamu begitu saja. Aku enggak mau kamu berhubungan lagi dengan Alqan, alasan apapun!" tegas Brayan sedikit kesal.
"Iya Mas, Fisya tahu itu. Fisya bisa jaga diri agar tidak tergoda dengan mas Alqan. Ya, meskipun sebenarnya mas Alqan itu sangat tampan."
Brayan langsung melotot. Bola matanya seperti akan keluar. "Kamu ngomong apa, Sya?"
"Mas Alqan sangat tampan, tetapi lebih tampan suami aku, sih." Fisya langsung nyengir karena telah mendapatkan tatapan membunuh dari mata suaminya.
__ADS_1
"Udah enggak usah pasang wajah menakutkan seperti itu. Ayo pulang!" bujuk Fisya kemudian.
Selama perjalanan Fisya mengeratkan pelukannya di pinggang Brayan dengan kepala yang menempel di punggungnya. Inilah alasan mengapa Brayan enggan untuk memakai mobil saat pergi bersama dengan Fisya. Brayan bisa memanfaatkan suasana agar terasa lebih romantis.
"Mas kita beli mangga dulu ya! Panas-panas seperti ini pengen makan yang segar-segar."
"Oke. Kita cari di pasar atas ya. Disana banyak yang jual buah segar."
Motor Brayan segera melesat menuju pasar atas tempat yang sangat terkenal dengan buah-buahan segarnya. Namun, nyatanya setelah sampai Fisya malah mual ketika mencium aroma buah mangga yang sudah masak. Hal itu membuat Brayan semakin panik.
"Sya, kamu gak papa 'kan?"
Fisya menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku gak papa. Cuma eneg aja sama aromanya, Mas," ungkap Fisya.
"Lha ... bukannya tadi kamu pengen makan buah mangga. Ya seperti ini aroma, Sya."
"Tapi bukan yang udah masak, Mas.Aku maunya yang masih muda."
Brayan kembali membawa Fisya ke parkiran karena dia tidak tahan dengan aroma buah-buahan yang ada di pasar atas.
"Mas Ray, cari mangga muda dulu baru pulang ya!" rengek Fisya dengan wajah mengiba.
"Tapi kemana kita akan cari mangga muda, Sya. Mana ada orang yang jual mangga muda."
"Tapi aku maunya mau makan mangga muda, Mas." Lagi-lagi Fisya merengek.
"Ya sudah, ayo kita cari!"
Demi keinginan sang istri, Brayan pun berusaha dengan keras untuk mencari mangga muda. Ya, meskipun dia tahu jika tidak akan pernah menemukan penjual mangga muda.
Sepanjang perjalanan Fisya terus saja mendumel ketika tak kunjung mendapatkan apa yang diinginkannya. Yang ada hanya buah melon, semangka dan rambutan.
"Sya, kita pulang dulu ya."
"Tapi gimana mangga mudanya, Mas?"
"Nanti kita minta bantuan mama aja. Dia kan banyak komunitasnya. Kali aja salah satu temannya punya mangga muda."
Fisya mengangguk pelan kemudian menempelkan kembali tubuhnya ke punggung saat Brayan mulai menancapkan gas motornya.
...~~~...
__ADS_1
...TBC...