Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 37 | Menitipkan Benih


__ADS_3


Briyan sudah berusaha untuk mencari keberadaan Nara kesetiap sudut. Namun, hasilnya tak ada tanda-tanda dia menemukan Nara. Karena merasa lelah Briyan memutuskan untuk pulang. Mungkin setelah dia beristirahat dia akan meminta bantuan polisi untuk menemukan keberadaan Nara.


"Jika sampai Nara benar-benar diculik, aku pasti akan mati di tangan papa dan Rayan." Briyan mengacak kasar rambutnya.


Setelah menitipkan mobil di halaman sang pemilik kontrakan, Briyan segera berjalan kaki menuju rumah kecil yang saat ini sebagai tempat tinggalnya.


Terpaksa Briyan harus meminta kunci cadangan kepada sang pemilik kontrakan untuk bisa masuk kedalam rumah.


Tubuhnya yang masih lelah segera terhempas di atas sofa. Dengan perasaan frustasi, Briyan memijat pangkal hidungnya.


Seketika bayangan Nara terus terlintas. Bagaimana saat Nara menyambut kedatangan, menyiapkan minum dan menawarkan makan untuknya. Namun, itu hanya bayangan saja, karena saat ini tak ada sosok Nara di dalam rumah itu.


Selama hampir 2 minggu, sama sekali Briyan belum pernah masuk kedalam dapur yang ternyata sangat sempit. Namun, tempatnya tetap rapi dan bersih, karena Nara sangat rajin untuk membersihkan rumah. Saat hendak mengambil gelas, mata elang Riyan melihat sebuah kotak susu yang berada di atas meja. Tangannya terulur untuk mengambil kotak tersebut.


"Sejak kapan dia mengkonsumsi susu hamil? Perasaan aku gak pernah kasih uang lebih, deh." Briyan meletakkan kembali kotak tersebut dan langsung membuka kulkas.


Lagi-lagi matanya terpana dengan isi yang ada di dalam kulkas, dimana banyak buah dan sayur segar. Terlihat juga ada sisa roti bakar di dalamnya.


"Sepertinya ini masih baru."


Seketika Briyan yakin jika Nara tidaklah diculik. Lalu kemana dia pergi?


"Ternyata disaat aku tidak ada, dia bisa hidup dengan baik. Darimana dia mendapatkan uang untuk membeli semua ini, sementara aku uang yang kuberikan padanya saja tidak akan cukup untuk membeli semua ini. Apakah diam-diam Nara membawa ATMnya?"


Namun, saat Briyan sedang berpikir keras tentang darimana Nara mendapatkan uang, tiba-tiba suara motor berhenti tepat di depan rumahnya. Dengan cepat Briyan segera mengintip dari jendela.


Dadanya naik turan terasa panas. Giginya menggeretak saat melihat siapa yang baru saja turun dari motor. Terlebih keduanya saling melemparkan senyuman.


"Makasih ya Mas, udah repot-repot nganterin Nara sampai rumah."


"Iya, gak papa. Lagian kita juga satu arah. Besok pagi aku jemput ya."


Terlihat kepala Nara hanya mengangguk pelan. "Boleh kalau memang tidak merepotkan."

__ADS_1


"Ya sudah aku pulang ya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsallam."


Setelah motor tak terlihat, Nara segera masuk kedalam rumah. Namun, keningnya mengerut saat dia merasakan ada yang berbeda.


"Perasaan tadi pagi aku kunci, deh."


Dengan rasa penasaran, Nara segera masuk untuk memastikan apakah rumahnya telah dibobol maling. Jikapun iya itu hanya percuma saja karena tidak ada barang berharga didalamnya.


"Astaghfirullahaladzim." Nara tersentak saat melihat Briyan sudah berdiri tepat di depan pintu dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Mas Ri-Riyan," gugup Nara.


Entah sejak kapan Nara menyematkan embel-embel mas untuk memanggil Briyan. Mungkin karena saat kepergian Briyan dia banyak belajar dari tetangga kanan kirinya saat memanggil suaminya.


"Bagus ya. Sudah tahu hamil, tapi masih keluyuran dengan pria lain. Aku rasa kamu merasa sangat bahagia saat aku tidak ada di rumah. Kamu bisa dengan leluasa menjual tubuhmu dengan pria lain."


PLAK


Satu tamparan keras mendarat di pipi Briyan. Puncak kesabaran Nara tak bisa dibendung lagi, karena Briyan sudah sangat keterlaluan dengan mengatakan jika Nara telah menjual tubuhnya.


Meskipun dengan dada naik turun dan tubuhnya bergemetar, Nara mencoba untuk tenang.


Sekuat apapun Nara mencoba untuk bersabar, tetapi siapa yang akan sanggup jika setiap hari dirinya akan direndahkan begitu saja oleh pria yang saat ini berstatus sebagai suaminya.


Dengan emosi yang masih menguasai hatinya, Nara memilih untuk meninggalkan Briyan begitu saja.


"Ra!" teriak Briyan, berharap Nara berhenti. Namun, terlambat sudah, karena Nara langsung menutup pintu kamar. Dengan air mata yang sudah tumpah, tubuh Nara menyandar pada daun pintu.


"Maafkan aku, Mas. Bukan maksudku ingin durhaka, tapi kali ini kamu benar-benar sudah sangat keterlaluan."


"Ra! Buka pintunya!" Briyan menggedor dengan kuat.


"Kamu jangan kurang ajar ya! Buka pintunya sekarang atau aku dobrak!"

__ADS_1


Karena merasa takut, Nara segera membuka pintu. Sebisa mungkin dia mencoba untuk tenang.


Briyan mengedar, melihat isi kamar. Selama tinggal di rumah itu Briyan hanya satu kali masuk kedalam kamar tersebut.


"Katakan, berapa kamu menjual tubuhmu untuk pria lain saat aku tidak ada." Mata Briyan menatap tajam kearah Nara. Langkahnya terus maju, hingga membuat Nara perlahan mundur dan terjatuh diatas tempat tidur.


"Jawab, Ra! Aku tahu jika kamu tidak bisa hidup tanpa uang karena kamu sudah terbiasa dengan kemewahan. Katakan sekarang juga berapa kamu menjual tubuhmu, aku akan membelinya sekarang juga." Briyan segera mengambil dompetnya lalu membuang beberapa lembar uang berwarna merah ke wajah Nara.


"Berapa, satu juta, dua juta atau sepuluh juta!"


Nara hanya bisa memejamkan mata. Dia hanya bisa menahan rasa sakit yang sangat menusuk. Ucapan Briyan benar-benar sangat melukai dirinya.


"Mas Ri-Riyan ... kamu mau apa?"


Entah setan apa yang sedang merasuki tubuh Briyan sehingga dia tidak bisa mengendalikan diri lagi. Hanya karena Nara pulang bersama dengan pria lain, setan dalam tubuhnya langsung mengeluarkan dua tanduknya.


"Aku sudah membelimu, maka kamu harus melayaniku seperti kamu melayani pria hidung belang itu. Kenapa masih kurang? Nanti aku tambah lagi."


"Mas Riyan, dengarkan aku dulu. Mas Riyan hanya salah paham. Mas ....!"


Nara sudah tidak bisa memberontak saat Briyan sudah mulai menggila diatas tubuhnya.


Tidak ada yang bisa Nara lakukan, hanya air mata yang terus berderai saat Briyan sudah berhasil membobol dirinya lagi. Tidak ada yang salah dengan tindakan Briyan, karena memang sudah sepantasnya Nara memberikan hak dan kewajibannya untuk melayani Briyan sebagai suaminya. Namun, cara Briyan yang salah. Seolah Briyan menganggap jika Nara adalah wanita bayaran.


Nara hanya bisa menutup mulutnya ketika Briyan melakukannya dengan sedikit kasar. Setan yang telah merasukinya tak peduli lagi dengan rasa sakit yang Nara rasakan.


Lenguhan panjang membuat Briyan merasa sangat puas. Hal yang tak pernah dia rasakan selama ini dan kali ini dia benar-benar bisa merasakan dengan nyata penyatuan dua tubuh.


"Tidak usah menangis, bukankah kamu juga sudah sering melakukan dengan pria lain? Seharusnya kamu bersyukur bisa melakukan denganku, karena aku masih perjaka asli."


Briyan merebahkan tubuhnya disamping Nara sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan dunia yang baru saja dia rasakan tanpa memikirkan bagaimana keadaan Nara saat ini.


Nara hanya terisak dalam balutan selimut. Bahkan saat ini Nara marasa dirinya sangat hina, sekalipun dia melakukan bersama dengan suaminya. Bukan tidak ikhlas untuk melayani Briyan, hanya saja cara Briyan sangat salah.


"Aku tidak tahu siapa ayah dari bayi yang sedang berada didalam perutmu. Tapi hari ini aku telah menyumbangkan sedikit benih. Jadi tidak ada ruginya jika aku juga menjadi ayahnya. Tapi alangkah baiknya lagi jika aku terus menyemai benih yang banyak agar aku tidak merasa rugi memberikan pengakuan ayah untuknya. Ah, benar sekali kan Ra?"

__ADS_1


...~~~...


...TBC...


__ADS_2