
Senja telah tenggelam, dalam balutan malam yang telah ditaburi bintang di angkasa mengubah suasana menjadi sedikit sunyi. Jangkrik mengerik saling menyahut, membuai keheningan malam. Lantunan Adzan juga telah menggema, pertanda waktu shalat telah masuk.
Jarum dinding kini telah menunjuk angka 7, berarti sudah masuk waktunya sholat Isya'. Namun, Nuri merasa heran saat kedua lelaki yang sangat dia cintai belum juga menunjukkan batang hidungnya. Rasa gundah menyelimuti hati terlebih tanpa sebuah kabar.
"Sya!" panggil mama mertuanya.
Fisya yang hendak sholat langsung menoleh kearah mama mertuanya. "Iya Ma, ada apa?" tanyanya.
"Apakah Rayan sudah pulang?"
Fisya menggeleng dengan pelan. "Belum Ma. Tadi mas Rayan bilang akan pulang terlambat karena ada sesuatu yang harus diselesaikan malam ini juga. Ada apa, Ma?"
"Tidak ada. Mama hanya heran saja kenapa Papa dan Rayan belum pulang. Mama takut terjadi sesuatu dengan mereka berdua, Sya."
"Mama tidak boleh suudzon seperti itu. Mungkin saja saat ini papa sedang ada pekerjaan lain. Kita tunggu aja, nanti juga pulang. Kita sholat dulu ya!" ajak Fisya, untuk menenangkan hati mama mertuanya.
Nuri langsung menghembuskan napas beratnya. Tidak seperti biasanya sang suami mengabaikan pesan dan panggilannya. Mungkinkah apa yang dikatakan oleh Fisya ada benarnya, jika saat ini suaminya sedang ada pekerjaan lain.
"Tunggu ya, Mama panggil Riyan dulu untuk sholat juga."
Saat mertuanya berlalu, Fisya segera menghubungi suaminya dan menanyakan apakah mereka masih lama lagi atau tidak.
"Lho, bukanya siap-siap malah main hape," ucap Nuri yang mengejutkan Fisya.
__ADS_1
"Oh ini, Ma ... Fisya lagi membalas pesan dari Mas Rayan." Fisya berkilah.
Beruntung saja mertuanya langsung percaya akan ucapan Fisya.
"Ya Allah maafkan Fisya yang sudah membohongi mama. Itu semua atas perintah mas Rayan. Jika engkau ingin meminta pertanggungjawaban, maka mas Rayan yang harus bertanggung jawab," batin Fisya
***
Di dalam sebuah rumah, Agung dan Brayan meminta maaf atas apa yang telah dilakukan Briyan kepada Nara. Mereka hanya bisa pasrah saat menerima cacian dari ayah Nara yang tidak terima jika putrinya telah dihamili oleh Briyan. Dan menurut pengakuan dari putrinya, Briyan tidak mau bertanggung jawab atas janin yang sedang tumbuh di rahim putrinya
Hening, tanpa suara untuk beberapa saat membuat suasana seperti di kuburan. Namun, detik kemudian ayah Nara meluapkan emosinya lagi.
Agung dan Brayan hanya terdiam saat ayah Nara masih meluapkan amarahnya. Wajar jika seorang ayah akan murka saat satu-satunya anak yang sangat disayanginya ternyata telah ternoda, kesucian yang selama ini di jaga, terenggut begitu saja.
"Maafkan atas kelakuan adik saya, Pak. Kedatangan kami kesini tak lain hanya untuk untuk menyelesaikan masalah ini," jeda sejenak. Namun, nyatanya ayah Nara malah mengambil sebuah keputusan yang tak sejalan.
"Jadi apakah benar jika kedatangan kalian hanya untuk menyuruh Nara untuk menggugurkan kandungannya? Tidak, meskipun perbuatannya sudah salah, tetapi saya tidak akan memberikan izin Nara untuk menggugurkan kandungannya," potong ayah Nara.
"Tenang saja, Pak. Kedatangan kami kesini benar-benar ingin menyelesaikan masalah kedua anak ini agar segera selesai. Kami tidak meminta Nara untuk menggugurkan kandungannya, tapi kami ingin bertanggung jawab atas kehamilan Nara dengan cara menikahkan Briyan dengan Nara," jelas Brayan.
Butuh waktu satu jam untuk menemukan hasil rembukan yang sempat membuat ayah Nara meluapkan amarahnya hingga berapi-api, karena sempat mendengar jika Briyan tidak ingin bergabung jawab. Namun, saat Briyan mengatakan jika adiknya akan bertanggung jawab, amarah itu sedikit memudar.
"Baiklah, tapi saya ingin Riyan segera bertanggung jawab agar masalah ini tidak berlarut dan membuat saya semakin malu dengan aib ini," ujar ayah Nara.
"Bapak tenang saja, Nara tidak akan masalah ini tidak akan berlarut, karena Riyan akan segera bertanggung jawab secepatnya. Jika perlu mereka bisa langsung menikah malam ini juga."
__ADS_1
"Baiklah saya setuju jika Riyan akan menikahi Nara secepatnya."
Setelah mendapatkan kesepakatan dari ayah Nara, Agung dan Brayan segera undur diri. Meskipun selema rembukan Agung diam, bukan berarti dia tidak setuju. Agung memilih diam karena merasa malu karena telah gagal untuk mendidik anaknya dengan baik.
"Papa tidak tahu mengapa Riyan bisa terjerumus kedalam pergaulan bebas. Papa menyesal tidak bisa mendidik Riyan dengan baik." Agung masih terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Papa tidak usah menyalahkan diri Papa. Ini semua murni kesalahan Riyan. Seharusnya dia bisa berpikir dengan baik dan bisa membedakan mana yang harus diikuti dan mana yang dijauhi, karena dia bukan anak kecil lagi."
Agung menatap Brayan dengan penuh kebanggaan. Ternyata Brayan yang dulu dianggap sebagai anak paling nakal bisa berpikir lebih dewasa.
"Ray, makasih ya. Jika tidak ada kamu, Papa tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini.
***
Kedatangan Agung dan Brayan telah disambut oleh istri mereka masing-masing.
"Kalian darimana, mengapa bisa barengan seperti ini sampai rumahnya?" cecar Nuri sesegera mungkin saat melihat dua lelaki masuk secara bersamaan.
"Ya ampun, Ma. Baru juga sampai sudah di cecar pertanyaan," protes Brayan yang tengah salim pada mamanya.
"Sya, ayo kita ke kamar. Sepertinya akan ada perang ketiga," ajak Brayan pada istrinya.
Dengan anggukan kecil, Fisya pun mengikuti langkah Brayan untuk menuju ke kamar.
...~BERSAMBUNG~...
__ADS_1