Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 29 | Kenyataan


__ADS_3


Akhirnya setelah melewati perdebatan yang panjang, Briyan setuju untuk menikahi Nara. Dalam hitungan satu minggu Briyan sudah menghalalkan Nara sebagai istrinya.


Acara pernikahannya juga biasa saja. Hanya ada penghulu dan keluarga besar kedua belah pihak. Tidak ada tamu penting atau rekan kerja. Semua itu atas permintaan Briyan sendiri, karena Briyan tidak ingin menghamburkan uang orang tuanya untuk acara yang tidak diinginkannya.


"Sesuai dengan janji Riyan, setelah menikah Riyan akan tinggal sendiri. Tidak di rumah Mama ataupun di rumah Nara. Riyan akan bawa istri Riyan untuk mandiri," ucapan Briyan di depan keluarganya.


Semua anggota keluarga merasa tercengang atas ucapan Briyan, terutama dengan Brayan yang merasa tertampar dengan ucapan Briyan.


"Jadi maksudmu kami tidak hidup mandiri?" sindir Brayan.


"Bukan begitu Ray! Meskipun aku pengangguran, tetapi aku sudah memiliki tabungan dan rumah sendiri, meskipun itu masih seujung kuku."


Lagi-lagi pengakuan Briyan mampu membungkam kedua orang tua yang sama sekali tidak mengetahui jika Briyan sudah mempunyai rumah sendiri.


"Ma, maafkan Riyan yang tidak bisa tinggal bersama dengan Mama. Saat ini Riyan sudah mempunyai tanggung jawab sendiri, maka izinkanlah Riyan untuk tinggal sendiri."

__ADS_1


Napas yang teramat sesak. Namun, Nuri tidak bisa menahan keinginan Riyan untuk hidup mandiri. Bagaimanapun juga saat ini Briyan sudah menikah dan mempunyai tanggung jawab baru. Mungkin dengan cara seperti itu Briyan bisa lebih dewasa untuk kedepannya.


"Meskipun berat, tapi Mama tidak bisa berbuat apa-apa, Riy. Kamu sekarang sudah menikah dan mempunyai tanggung jawab sendiri. Tapi ... Mama harap kamu tidak melupakan Mama." Air mata yang berusaha dibendung, nyatanya tak bisa ditahan. Air mata bahagia mengalir begitu saja. Bahkan Nuri tidak percaya jika Briyan benar-benar telah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai anak.


Briyan segera memeluk mamanya sebelum dia meninggalkan rumah orang tuanya. "Makasih, Ma. Riyan sayang Mama. Riyan juga akan buktikan jika Riyan tidak menghamili Nara," bisik Riyan pelan.


Nuri langsung membulatkan matanya dengan lebar. Saat ingin memprotes, Riyan memberi isyarat agar mamanya tidak memprotesnya.


"Ray, aku serahkan semuanya kepadamu dan Fisya. Aku harap kamu bisa menjaga Mama dengan baik." Briyan memberikan pelukan hangat kepada saudara kembarnya.


"Tanpa kamu perintahkan, aku pasti akan menjaga mama dengan baik. Sebaliknya, kamu juga harus menjaga Nara dengan baik. Dia sedang hamil. Tapi ngomong-ngomong, aku iri kepadamu. Aku yang menikah lebih dulu, tetapi istri kamu yang hamil duluan," bisik Brayan dengan jahil.


"Aduh ... sakit, Riy!"


"Enak 'kan? Mau tambah lagi?"


Sambil memegangi perutnya Brayan menggeleng pelan. "Enggak, enggak! Sudah sana pergi jika mau pergi!"

__ADS_1


Briyan pun hanya bisa menatap satu persatu anggota keluarganya. Bahkan Briyan juga tidak mengatakan akan tinggal dimana. Sangat berat, tetapi itu sudah menjadi keputusan Briyan yang tidak bisa diganggu gugat..


"Pa, jaga mama dengan baik," pesannya sebelum pergi.


Agung mengangguk pelan sebelum akhirnya Briyan masuk kedalam mobil. "Tentu Papa akan menjaga mama dengan baik, karena Papa sangat mencintai mama. Begitu juga denganmu, jaga Nara dengan baik. Jangan kamu sakiti dia!"


Sebuah anggukan kecil sebagai isyarat jika Briyan mengiyakan pesan papanya. Dan kini mobil Briyan pun telah meninggalkan halaman rumah. Entah kapan Briyan akan kembali lagi, karena saat ini Briyan sudah memiliki rencana untuk tinggal dimana agar bisa aman dalam menjalankan misinya.


"Jangan terlalu bahagia, karena semua ini hanya sesaat. Kebahagiaan yang sesungguhnya baru saja akan kita mulai dan tidak akan ada yang bisa melihat, selain kita. Sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana kamu akan melewati hari-harimu tanpa ada yang menolong. Nara ... Nara. Kamu pikir aku bodoh. Aku menikahimu bukan berarti aku adalah ayah dari bayimu itu. Aku tahu kamu sedang menjebakku. Karena kamu yang memulainya, maka dengan senang hati aku ingin mengikuti permainanmu," ucap Riyan dengan senyum sinis.


Nara yang berada di samping Briyan tidak mengerti dengan ucapan Briyan yang begitu tajam dan menusuk hatinya.


"Maksud kamu apa, Riy?"


Briyan tersenyum smirk, melirik sinis kearah Nara yang tengah menatapnya dengan heran.


"Karena kamu telah memilihku untuk menjadi ayah dari bayi yang tidak jelas siapa bapaknya, maka nikmati apa yang akan terjadi selanjutnya."

__ADS_1


Mobil meleset cepat meninggalkan hiruk piruk ibu kota. Saat ini hanya satu tujuan Briyan, yaitu jauh dari keluarga. Baik keluarganya maupun keluarga Nara.


...~BERSAMBUNG~...


__ADS_2