
Habis gelap terbitlah terang, begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan pasangan suami istri yang sedang dilanda kebahagiaan.
Menjalani pernikahan secara terpaksa karena menganggap jika dirinya hanya di jebak. Namun, ternyata pemikirannya tidaklah sesuai dengan kenyataan, karena nyatanya Briyan-lah sang pemilik bibit yang sedang berkembang di rahim Nara.
Hidup bersama selama dua bulan yang selalu mengabaikan sang istri, hingga rasa penyesalan tiba saat kebenaran telah terungkap dengan jelas.
Saat ini Briyan sudah berjanji tidak akan menyakiti Nara lagi. Selain ada bibit yang telah berkembang di rahim Nara, ternyata ada bibit-bibit cinta yang sudah mulai bermekaran di hati Briyan.
Melewati hari paling sulit dan melelahkan, kini Briyan bisa bernapas lega, karena telah bersanding dengan Nara, meskipun masih merasa sedikit canggung.
"Ra, besok kita ke rumah sakit ya. Aku ingin melihat bagaimana anakku berkembang didalam sana. Apakah baik-baik saja atau qda masalah, karena selama ini aku telah mengabaikannya," ucap Briyan saat Nara hendak beranjak ke tempat tidur.
"Kamu tidak perlu khawatir karena aku sudah menjaganya dengan baik. Bahkan nutrisi dan vitaminnya juga telah terpenuhi," balas Nara dengan santai.
Briyan berjalan mendekat sambil menenteng sebuah papar bag. Sebuah hadiah kecil yang akan membuat Nara tersenyum bahagia lagi.
"Apa ini, Mas?" tanya Nara setelah paper bag berpindah ke tangannya.
"Ambil saja, semoga kamu suka."
Seulas senyum mengembang luas di bibir Nara ketika melihat isi dari papar bag itu. Sebuah benda yang telah direlakan untuk beberapa bulan terakhir kini kembali lagi kapada dirinya.
"Mas ini kan ...."
"Iya. Aku sengaja langsung membelinya setelah mendengar penjelasanmu. Saat itu aku merasa sangat tidak berguna sebagai seorang suami yang tidak memberikanmu uang yang cukup. Untung saja belum ada yang membeli ponselmu, Ra."
"Terimakasih ya, Mas," ucap Nara penuh ketulusan.
Briyan mengangguk pelan dengan senyum tipis. "Apakah hanya ucapan terima kasih saja yang aku dapatkan? Tidak ada imbalan lainnya?" Briyan menautkan kedua alisnya.
"Jadi mas Riyan gak ikhlas?"
"Bukan. Bukan gitu Ra! Aku ikhlas kok. Aku hanya ingin ...." Briyan menggantungkan ucapannya. Dia sadar jika saat ini Nara pasti belum siap untuk memberikan apa yang dia inginkan.
Briyan tidak akan pernah memaksakan kehendaknya, karena dia sudah berjanji tidak akan menyakitinya lagi.
"Udahlah, enggak usah kamu pikirkan. Sekarang tidur aja, karena besok pagi kita akan pergi ke rumah sakit."
Briyan memilih mengalihkan pembicaraan agar Nara tidak menyadari jika saat ini dirinya sedang ingin menghabiskan malam panjangnya.
"Baiklah."
Malam panjang berlalu begitu saja. Kesunyian malam pun mampu menjaga pasangan halal sampai waktu subuh datang. Keduanya sama-sama bangun saat adzan di masjid telah menggema.
"Ra," panggil Briyan saat melihat Nara yang keluar dari kamar mandi.
Rambut hitam legamnya terurai indah. Jenjang leher yang tak pernah terekspos terlihat sangat putih, membuat Nara terlihat sangat cantik.
"Ya Mas, ada apa?"
__ADS_1
"Tidak. Tidak ada! Aku hanya ingin mengingatkan jika nanti kita akan ke rumah sakit. Kali aja kamu lupa," kilah Briyan. Tidak mungkin dia mengatakan jika sedang terpesona dengan kecantikannya.
"Aku tidak akan lupa, Mas. Lagian ini masih subuh. Dokter rumah sakit jam juga masih tidur dan akan buka jam sembilan nanti. Jadi tenanglah, kita masih punya banyak waktu," jelas Nara.
"Punya banyak waktu?" Briyan membeo.
"Iya. Ada yang salah?"
"Tidak ada yang salah, Ra. Aku saja yang terlalu banyak berharap kepadamu. Aku malu jika aku mengakuinya. Aku merasa tak pantas untuk mendapatkan cinta darimu."
Kata-kata yang tertahan di tenggorokan. Rasa gengsi yang amat tinggi membuat Briyan tidak bisa berterus terang tentang keinginannya. Mungkin saat ini Briyan harus lebih bersabar untuk mendapatkan hatinya Nara.
Saat ini Briyan sudah tidak sabar menunggu waktu untuk bisa melihat detak jantung calon buah hatinya. Apalagi dia ingin melihat sudah sebesar apa anaknya, mengapa perut Nara sudah terlihat sangat besar.
Lagi-lagi Briyan harus bersabar ketika harus mengantri di depan ruang poli kandungan. Beruntung saat itu tidak banyak pasiennya, sehingga Briyan tidak perlu merasa malu kepada orang yang sedang mengantri.
"Ra, lama sekali sih?" gerutunya dengan rasa tidak sabar.
"Sabar, Mas. Bentar lagi giliran kita, kok."
Ya, tidak ada kata lain selain kata sabar. Karena orang sabar akan di sayang pasangan.
Tak berselang lama, nomer antrian Nara pun tiba. Dengan jantung yang berdebar, Briyan mengikuti langkah sang istri untuk masuk ke dalam ruang periksa. Beruntung saja dokter yang menangani Nara adalah perempuan. Jika laki-laki, maka Briyan akan meminta ganti dokter.
Setelah menjalani pemeriksaan dan hasilnya cukup baik, dokter segera melakukan USG untuk melihat bayi yang ada di dalam perut Nara.
Dokter masih memutar-mutarkan sebuah alat di perut Nara.
"Mereka," cicit Briyan.
"Iya, Pak. Selamat ternyata ada dua bayi di dalam perut istri anda."
Nara tersentak dengan penuh keterkejutan. Dia membulat mata sambil melihat layar monitor. Begitu juga dengan Briyan yang masih belum percaya dengan ucapan sang dokter.
"Jadi anak saya kembar, Dok?" tanya Briyan masih tidak percaya.
"Iya, Pak. Lihat ini!" Dokter itu menunjukkan jika ada dua nyawa di dalam perut Nara.
"Ya Allah, Alhamdulillah," seru Nara dengan mata berbinar, sambil menahan air matanya.
"Ra, anak kita dua sekaligus, Ra." Briyan juga tak kalah heboh saat telah yakin jika ada dua nyawa di dalam perut istrinya.
Kebahagiaan jelas sangat terlihat di wajah kedua pasangan muda yang sebentar lagi akan menjadi orang tua untuk kedua anaknya.
Rasa bahagia yang tak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Nara tak hentinya mengucapkan kata syukur atas sebuah kepercayaan yang telah diberikan kepadanya dengan meniupkan dua nyawa di dalam rahimnya.
"Ra, aku berjanji akan menjadi suami yang siaga untuk mu dan menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk anak-anak kita."
Nara merasa jantungnya ingin melompat saat Riyan membawanya kedalam pelukan. Terasa hangat dan sangat nyaman. Nara juga bisa mendengarkan degup jantung Riyan yang sama seperti dirinya.
"Ra, berjanjilah untuk setia sampai ajal memisahkan kita, ya. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa ada kamu," lirih Nara.
__ADS_1
"Mas Riyan, terima kasih sudah mau menerimaku dan anak-anak ku," balas Riyan.
"Bukan anak kamu Ra, tapi anakku. Kerena sudah pasti tidak akan jadi jika tidak ada benihku," kekeh Riyan.
Malam ini layaknya malam yang lalui suami-istri pada umumnya. Dengan rasa ikhlas, Nara menyerahkan hak dan kewajibannya sebagai seorang istri saat Riyan telah memintanya. Kali ini Riyan melakukan dengan kelembutan dan penuh cinta. Hasrat yang selama ini terpendam, akhirnya bisa disalurkan dengan suka cita. Karena mereka melakukan dengan penuh perasaan.
...**THE END...
Maaf jika masih banyak typo yang bertebaran dan terima kasih telah stay disini 🙏 Jangan lupa baca novel othor yang judulnya KISAH YANG TERTINGGAL dijamin seru ceritanya
Hanya cuplikan Bab!
Baru saja kaki Bunga hendak melangkah ke dalam ruangan, tiba-tiba sesosok dari belakang menerobos diantara Bunga dan Candra yang hendak masuk.
"Aduh .... " Bunga mengaduh karena bahunya terasa sedikit sakit akibat ditabrak begitu saja.
Tak ada kata maaf, seorang pria yang menabrak Bunga langsung nyelonong untuk duduk ditempatnya.
"Bunga, kamu gak papa kan?" Candra memastikan.
Bunga menggeleng dengan pela sambil mengelus bahunya. "Aku enggak apa-apa, kok. Siapa sih, dia? Kayak aku gak pernah liat dia di kelas ini deh," gumam Bunga.
"Dia anak baru, tapi songong," celetuk Candra. Karena kesal tak ada permintamaafan dari mahasiswa baru, Candra langsung berteriak, "Hei ... anak baru, jangan sok belagu! Minta maaf enggak sama Bunga!"
"Udahlah, Can! Aku enggak apa-apa." Bunga berjalan pelan untuk menuju ke bangkunya.
Sejenak, mata Bunga langsung terperanjat saat melihat sosok yang dikatakan mahasiswa baru oleh Candra. Sosok yang begitu familiar untuknya. Dari bentuk wajah, bola mata hingga bibir, Bunga masih bisa mengenalinya, meksipun telah lima belas tahun berlalu. Kali ini Bunga tidak salah untuk mengenali, karena tak banyak yang berubah dari pria itu.
Seketika jantungnya berdetak lebih kencang saat menyadari jika mahasiswa baru itu tak lain adalah teman semasa kecilnya dulu. Bibirnya terasa kelu untuk menyebut nama Alvaro.
"Ngapain kamu lihatin aku?" ketusnya pada Bunga.
Bunga hanya bisa menelan kasar salivanya. Belum sempat Bunga bersuara, dosen pengajar sudah masuk kedalam ruangan. Ingin sekali Bunga menyapa Alvaro dan menanyakan bagaiman kabarnya. Dengan siapa dan dimana dia tinggal saat ini. Sungguh segudang pertanyaan memenuhi kepalanya.
"Bunga kamu baik-baik aja kan?" tanya Chandra yang merasakan kegelisahan Bunga.
"Aku enggak apa-apa kok, Can," jawab Bunga dengan gugup.
Bersamaan dengan itu mahasiswa yang tak lain adalah Alvaro hanya melirik sekilas kearah Bunga yang kebetulan duduk di sampingnya.
Alvaro yang ternyata juga masih mengingat wajah Bunga, tak sedikitpun ingin menanyakan kabar Bunga. Bahkan Alvaro terlihat seperti orang yang tak mengenali Bunga.
Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi. Jika aku tau dia kuliah disini, aku tidak akan pindah ke universitas ini.
Hampir 45 menit Bunga menahan diri dan ketika materi telah usai, dia pun segera menghadap kearah Alvaro yang sedang mengemasi perlengkapannya.
"Kamu Alvaro kan? Masih ingat sama aku enggak? Aku Bunga, teman sewaktu kita sekolah di TK." Bunga berusaha menyapa Alvaro lebih awal karena kepalanya sudah tak sanggup untuk menampung berbagai pertanyaan yang dipikirkan.
Dengan ketus, Alvaro menjawab, "Maaf, aku enggak ingat." Kemudian dia pun beranjak pergi meninggalkan Bunga.
Dada Bunga kembali berdenyut. Rasanya sangat nyeri hingga ulu hati. "Mengapa Varo tidak mengingatku? Apakah aku telah banyak berubah hingga dia sama sekali tak mengenaliku?" pikir Bunga dengan heran**.
__ADS_1