Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 6 | Ajakan Brayan


__ADS_3


Sempat menolak, tetapi Fisya hanya bisa pasrah saat Brayan memaksa ingin mengantarkannya ke Butik lagi. Sebagai seorang pria, Brayan harus bertanggung jawab, karena tadi dia-lah yang membawa Fisya ke caffe. Padahal jarak Caffe dengan butik tidaklah jauh, hanya berjarak beberapa ruko saja.


"Makasih ya, Ray." Fisya menunduk malu.


"Aku juga. Makasih sudah meluangkan waktu yang tidak berfaedah. Sya, minggu depan rencana kami ingin mengadakan reunian bersama yang lainnya. Kamu bisa hadir kan?" tanya Brayan sebelum meninggalkan butik milik Fisya.


Fisya masih terdiam sebelum memberikan jawabannya.


"Sya!" panggil Brayan kembali.


"Ah iya, Ray. Aku tidak janji ya. Tapi akan aku usahakan."


"Oke. Aku harap kamu datang, karena aku juga sudah menghubungi Ara agar bisa menghadiri reuni itu," jelas Brayan.


"Ara?" gumam Fisya.


"Iya. Kamu masih ingat sama Ara kan? Ya udah aku jalan duluan ya. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Fisya hanya bisa menatap sendu kepergian Brayan kemudian beralih menatap kedua tangannya. Beberapa menit yang lalu tangan itu bisa menyentuh jaket yang dikenakan oleh Brayan. Fisya pun mengangkat kedua garis simpul bibirnya.


"Ray, sekarang kamu sudah dewasa. Bahkan kamu tidak mau lagi berdebat denganku. Aku akan usahakan datang ke acara reuni itu. Aku juga merindukan Ara."



Kegelisahan dan kegundahan sedang melanda seorang ibu yang sedang menunggu anaknya. Sudah 2 jam setelah pesan diterima, tetapi Brayan belum juga sampai di rumah. Padahal jarak rumah dan pondok biasanya hanya memakan waktu kurang lebih 15 menit, tetapi ini sudah 2 jam Brayan belum juga sampai.


"Duh, kemana anak itu?" Nuri hilir mudik di teras rumah menunggu kedatangan Brayan.


Nuri merasa sangat cemas saat pesan yang di kirim ke ponsel Brayan tidak mendapatkan balasan.


Tidak berapa lama sebuah mobil memasuki halaman rumah. Terlihat sang suami keluar dari mobil dengan wajah lelahnya sambil menenteng tas kerja.


"Assalamualaikum," sapa Agung. "Ada angin apa sehingga kamu mau menunggu kedatanganku di teras. Biasanya jam segini standby di depan televisi."


"Waalaikumsalam. Siapa juga yang nungguin kamu, Agung! Kepedean deh!" Nuri segera meraih tas kerja milik suaminya lalu mencium telapak tangannya.


"Jadi ngapain di sini?"

__ADS_1


"Itu loh ... nungguin anak kamu udah dua jam belum juga sampai rumah. Padahal tadi setelah Ashar dia bilang udah di jalan, tapi sampai sekarang belum sampai rumah. Aku takut dia kenapa-napa, Mas."


"Bukan anak kamu, tapi anak kita. Sudahlah, nanti juga pulang. Mungkin dia singgah sebentar untuk jalan-jalan."


Belum juga aku menutup mulutnya, sebuah motor sudah memasuki halaman rumah.


"Nah itu dia!" seru Agung sambil menunjukkan arah motor yang berhenti di depan rumah.


Setelah melepaskan helm, Brayan segera menghampiri kedua orang tua lalu menyalami tangan mereka.


"Ada apa?" tanya Brayan heran, karena wajah mamanya terlihat cemberut.


"Tanyakan saja sama mamamu!" ujar Agung.


"Ada apa, Ma?"


"Ada apa-apa? Kamu dari mana aja? Ini sudah jam berapa? Tadi kamu bilang mau pulang jam berapa?"


Seketika Brayan langsung menautkan kedua alisnya melihat mamanya yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya, padahal dia bukan anak TK lagi.


"Astaghfirullahaladzim, Mama. Oke, Rayan minta maaf sudah buat mama khawatir. Tadi Rayan tidak sengaja bertemu dengan teman lama, jadi kami singgah sebentar ke cafe," jelas Brayan


"Lagian, Rayan bukan anak TK lagi, Sayang. Sudahlah yang penting sekarang Rayan sudah pulang. Ayo masuk!" sahut Agung.


**


Brayan menatap langit-langit kamar. Matanya belum bisa terpejam meskipun hari sudah larut malam. Bayangkan Fisya dan senyum indah masih terekam jelas dalam ingatannya. Namun, rasa sesak mendadak memenuhi rongga dadanya saat mengingat pria yang bernama Alqan sedang bersama dengan wanita lain.


"Hais ... mengapa setiap malam aku selalu memikirkan Fisya, ya? Apakah aku terhukum karma karena dulu terlalu membencinya? Mungkin benar ucapan mama, jika benci dan cinta itu bedanya sangat tipis. Memang benar kata orang, benci itu benih-benih cinta."


Brayan kembali mengusap kasar wajahnya. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana akan mengungkapkan isi hatinya kepada Fisya yang telah bertunangan dengan pria lain jika ternyata ada separuh hati untuknya. Sejenak, Brayan baru mengingat jika siang tadi dia mendapatkan sebuah surat dari muridnya.


"Astaga ... ini amplop legendaris banget sih. Sepertinya dari jaman aku sekolah juga sudah ada. Jangan-jangan ini memang peninggalan kami," kekeh Brayan membolak-balik amplop berwarna pink di tangannya.


Tangan Rayan segera membuka amplop yang isinya adalah sebuah surat dengan tulisan tangan.


Brayan menahan tawanya saat membaca bait demi bait yang dia baca.


"Lebih tepatnya ini bukan surat cinta, tapi surat negoisasi." Brayan menggeleng kepalanya pelan.


__ADS_1


Sudah satu minggu Brayan menikmati hari-harinya menjadi seorang tenaga pengajar di sebuah sekolah boarding school. Meskipun baru satu minggu dia mengajar, tetapi Brayan sudah merasa sangat nyaman. Karena setiap sudut yang ada di sana penuh dengan segala kenangan. Baik kenangan buruk dan kenangan manis. Bahkan Brayan masih mengingat dengan jelas bagaimana kenakalannya saat masih menjadi seorang murid. Setiap malam dia akan menangkap tikus yang berkeliaran di sekitar pondok lalu akan melepaskan di asrama putri.


Saat ini Brayan sedang berada di lapangan basket. Selain memberi arahan yang diberikan, Brayan juga ikut untuk bermain basket bersama dengan muridnya.


Sorak-sorak menggema di pinggir lapangan, tetapi kali ini tidak ada wajah murid anak perempuan, karena Brayan sedang berada di gedung Utara.


"Ayo semangat!" ujar Brayan memberikan semangat kepada anak muridnya.


Hampir satu jam Brayan berjibaku dengan bola basket. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Sesekali Brayan mengusapnya dengan telapak tangan.


"Kalian lanjutkan dulu! 15 menit lagi kalian baru boleh beristirahat," kata Brayan kepada semua murid yang mengikuti olahraga basket.


"Siap Pak," jawab mereka serentak.



Seperti biasa, Alqan akan menjemput Fisya dan mengantarkannya ke Butik. Pertunangan yang sama sekali tidak diinginkan oleh keduanya, tetapi karena ingin menjaga nama baik keluarga mereka memilih untuk pasrah menerima pertunangan itu.


"Mas Alqan, minggu depan aku dan teman-temanku akan melakukan reuni bersama. Mas Alqan ikut ya?"


Alqan yang tengah mengemudikan mobilnya sekilas melirik ke arah Nafisya. Wanita cantik dan mandiri. Namun, sayangnya hati Alqan sudah diberikan kepada wanita lain.


"Gimana ya, Sya. Bukan nggak mau nemenin sih, tapi kamu tahu kan jadwal aku di kantor itu sangat padat. Hampir setiap hari tidak ada waktu untuk kita saling bertemu."


Saat itu juga wajah Fisya berubah menjadi murung. Meskipun dia tidak memiliki perasaan kepada Alqan, tetapi dia ingin sekali memperkenalkan calon suaminya kepada teman-temannya.


"Tapi ... aku usahakanlah," sambung Alqan lagi yang tidak ingin membuat Fisya bersedih.


Alqan tidak tega saat melihat wajah Fisya sedih. Sekalipun dia tidak mempunyai perasaan apapun kepada Fisya, tetapi dia tidak ingin mengecewakannya. Ya, meskipun pada akhirnya kenyataan akan terungkap.


"Serius Mas? Makasih ya."


Mobil yang dikendarai Alqan pun sudah tiba di depan Butik. Namun, kali ini Alqan tidak bisa mengantar Fisya sampai ke dalam. Karena dia harus segera melanjutkan perjalanan lagi.


"Sya, aku langsung berangkat ya. Udah ditunggu klien."


"Iya Mas. Makasih ya udah mau antar jemput Fisya."


Alqan mengangguk pelan sambil meninggalkan Fisya. Entah kapan drama ini akan disembunyikan oleh Alqan.


"Lama-lama aku beneran jatuh cinta sama dia. Dia memang cantik sih, tapi sayangnya nggak mau disentuh."

__ADS_1


...~~~...


...🌹Bersambung🌹...


__ADS_2