Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 19 | Ngambek


__ADS_3


Rasa bisa timbul kapan saja. Bahkan bisa pergi kapan saja. Tidak memandang seberapa rasa yang dimiliki, jika sudah waktunya pergi maka hancurlah semua mimpi indah yang pernah ada.


Hubungan tanpa restu dari orang tua terkadang menjadi hanya akan boomerang. Tidak peduli, seberapa lama kita menjaga agar semua baik-baik saja. Namun, nyatanya tetap tidak akan mengubah kenyataan.


Di sudut kamar Alqan termenung seorang diri. Dia mempunyai alasan tersendiri mengapa tidak hadir dalam acara pernikahan Fisya, meskipun dia telah diundang.


Yang pertama adalah dia tidak mempunyai wajah untuk berhadapan dengan orang tua Fisya dan yang kedua Alqan merasa sangat bersalah sangat malu, ternyata kekasihnya adalah teman dekat Fisya.


"Kamu sudah puas untuk membuat papa malu?" Alqan terkejut dengan suara bariton yang tiba-tiba memecahkan keheningan kamarnya.


"Lihatlah, seharusnya hari ini kamu yang bersanding dengan Fisya, bukan orang lain! Tapi, dengan kebodohanmu, kamu malah memilih wanita rendahan seperti dia!"


Alqan tidak menjawab. Saat ini dirinya telah sadar jika keputusannya menduakan Fisya adalah sebuah kebodohan.


"Pa, sudahlah! Semua ini adalah takdir dari Allah. Mungkin Fisya memang bukan jodoh Alqan, Pa." timpal mama Alqan yang masih berteguh pada pendiriannya.


"Kamu benar-benar sudah mencoreng nama baik keluarga kita di depan rekan kerja Papa. Apa yang akan Papa katakan kepada mereka jika mereka menanyakan mengapa pertunangan kalian bisa batal, hah?" sentak papa Alqan dengan penuh emosi.


"Sudah puas kamu membuat Papa malu?"


Braakk!


Papa Alqan keluar sambil membanting pintu kamar Alqan, membuat mamanya hanya bisa mengelus dada. Dia pun kemudian ikut berlalu dari kamar Alqan untuk mengejar suaminya.


**


Sang surya telah menyingsing di ufuk timur. kilauan keemasannya menyilaukan celah yang ditembusnya.

__ADS_1


Terlebih saat sepasang pengantin baru keluar dari kamarnya dengan wajah yang bersinar secerah mentari pagi. Hal itu tak luput dari pandangan kedua orang tua yang sudah menunggu keduanya untuk sarapan pagi.


Fisya merasa tidak enak karena dia tidak bisa membantu mama mertuanya untuk menyiapkan sarapan pagi, itu semua karena Brayan yang melarangnya.


"Pagi, semuanya," sapa Brayan dengan sumringah.


"Pagi juga, pengantin baru," balas papanya dengan senyum tipis, membuat pipi Fisya bersemu.


"Ma, maaf tidak bisa membantu Mama untuk menyiapkan sarapan," ucap Fisya dengan canggung.


"Iya, enggak apa-apa. Mama bisa mengerti kok."


Hari ini Brayan yang sengaja libur untuk mengajar, begitu juga dengan Fisya yang dilarang untuk pergi ke butik.


Brayan sengaja ingin menghabiskan waktu bersama Fisya dan keluarganya. Terlebih hari ini Brayan juga akan mengambil beberapa barang-barang milik Fisya dari rumah Abinya.


"Hati-hati ya, Mas." Pesan yang tak pernah absen dari bibir Nuri.


Sebelum berangkat, Agung menyempatkan diri untuk mengecup kening istrinya terlebih dahulu, karena itu adalah sebuah sunnah yang wajib diterapkan.


Sebelum Nuri masuk ke dalam rumah, dia melihat kearah anak dan menantunya yang sedang menikmati secangkir teh manis.


"Setelah ini kamu harus contoh bagaimana cara memperlakukan istri yang baik, Ray!"


Brayan langsung mendongak. "Lho ... kok cuma Rayan yang diingetin?" protesnya.


"Ya, karena Mama percaya kepada Fisya, karena kita sama-sama perempuan," sambung mamanya kemudian berlalu.


Hari pertama menjadi pasangan suami-istri, Brayan memilih untuk habiskan waktunya di kamar, karena saat Fisya ngotot ingin mendadani kamar Brayan yang rasanya hambar.

__ADS_1


"Sya, apakah kamu ingin jualan?" tanya Brayan heran saat semua barang online sudah sampai di rumahnya.


"Tidak! Aku hanya ingin membenahi kamarmu, Ray. Dan ini adalah perlengkapannya. Aku juga sudah memesan wallpaper Hello Kitty." Fisya memperlihatkan wallpaper dinding bergambar hello Kitty kepada Brayan.


"Kok warnanya pink, sih? Aku enggak suka warna itu Sya!"


"Tapi aku suka, Ray."


Brayan mendengkus kesal karena Fisya ngotot ingin mengganti dinding kamar dengan wallpaper yang bergambar hello Kitty berwarna pink. Melihat warnanya saja sudah membuat Brayan bergidik geli, apalagi saat melihat gambar hello kitty-nya.


"Ngambek ...! Kemarin kan kamu udah bilang katanya aku bebas untuk mendandani kamar ini. Terus kenapa sekarang malah ngambek?"


"Kamu kan tahu aku nggak suka warna itu."


"Tapi aku suka Ray."


"Ya sudah kamu aja yang tidur di kamar ini, aku tidur di kamar Riyan aja!"


Fisya hanya menggeleng dengan pelan. Ternyata sifat lama Brayan belum hilang, masih suka ngambek.


Sabar Sya.


Fisya akhirnya masukan lagi wallpaper ke dalam sebuah dus kecil lalu menyimpannya di kolong tempat tidur.


"Ray, jangan ngambek dong!"


...~~~...


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2