Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 42 | Eksekusi


__ADS_3


"Riy, antarkan aku ke rumah mama dan papa dulu ya, aku sangat merindukan mereka!" pinta Mey kepada Briyan.


Dengan patuh, Briyan segera mengantarkan Mey kesebuah tempat dimana kedua orang tuanya berada.


"Assalamualaikum, Mama, Papa. Mey-Mey pulang."


Air mata lolos begitu saja membasahi pipinya. Make up yang dikenakan pun juga luntur. Dengan cepat Briyan segera menyeka air matanya yang membasahi pipi Mey.


"Mey, udah jangan nangis! Make up kamu luntur."


Sambil memasukkan lagi ingusnya kedalam hidung, Mey segera menepuk bahu Briyan.


"Ma, Pa ... lihatlah Riyan masih jahat kepadaku," adu Mey pada sebuah batu nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuanya.


"Ma, Pa ... hari ini Mey sudah kembali dan siap untuk melanjutkan bisnis mama dan papa yang sekarang berada di tangan orang tuanya Riyan. Doakan Mey agar diberikan kelancaran dan kemudahan dalam mengemban amanah kalian."


Setelah puas mengutarakan keluh kesahnya Briyan segera mengajak Mey untuk pulang. Namun, saat menyadari jalan yang di tempuh Briyan bukan jalan ke rumahnya, Mey segera memprotes.


"Riy, siapa yang menyuruhmu membawaku pulang ke rumahmu? Aku belum siap untuk bertemu dengan ayahmu. Bawa aku pulang ke rumahku sendiri!" perintah Mey dengan rasa tidak suka.


"Mereka pasti juga sangat merindukanmu, Mey. Sudahlah, lupakan saja yang telah berlalu. Kakek dan nenekku juga sudah tenang di alam sana. Semua itu sudah menjadi suratan takdir, apakah kamu ingin membuat kakek dan nenekku bersedih di alam sana?"


Mey yang belum bisa berdamai dengan masa lalunya menolak keras untuk bertemu dengan orang tuanya Briyan, meskipun jauh di relung hati terdalamnya sebenarnya dia sangat merindukan orang tuanya Briyan.


"Pokoknya aku mau pulang ke Jogja, karena disanalah aku dibesarkan."


"Tapi Mey, ini sudah mampir malam. Aku juga harus pulang kalau tidak, aku bisa gantung Rayan, mengingat saat ini ada Nara di rumah. Kamu tahu kan bagaimana sifat Rayan. Meskipun terlihat diam, tetapi jika sudah marah dia bisa berubah menjadi setan."


Baru saja bertemu tetapi keduanya sudah bertengkar hanya karena masalah kecil. Karena tidak ingin membuat mood Mey-Mey berantakan, akhirnya Briyan mengalah dan mengantarkan Mey ke hotel untuk tempatnya bermalam.


"Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Tapi, sebelum kamu pulang ke Jogja, tolong bertemu dulu dengan mama dan papa, mereka sangat merindukanmu, Mey," pesan Briyan sebelum meninggalkan hotel tempat Mey bermalam.


"Riy ... aku butuh waktu untuk bertemu dengan mereka. Tapi aku akan usahakan untuk menemui mereka. Untuk saat ini tolong jangan beritahu mereka jika aku sudah berada di Indonesia, terutama kepada Rayan. Jika dia tahu aku pasti akan mendapatkan tausyiahnya, kamu mengerti kan?"

__ADS_1


Briyan mengangguk pelan sebelum meninggalkan Mey. Wanita yang usianya tidak jauh beda dengan dirinya.


"Ya sudah aku pulang dulu ya."


Sesampainya di rumah, Briyan langsung mendapatkan sambutan tajam dari saudara kembarnya dan juga sang ayah yang sudah menunggunya di teras.


Briyan menautkan kedua alisnya saat kedua lelaki beda usia itu sama-sama melipatkan keduanya tangannya sambil mencegah Briyan untuk masuk kedalam.


"Stop!" cegah Brayan.


"Ada apa ini?" tanya Briyan dengan heran.


"Duduk!" Brayan mendudukkan kasar tubuh Briyan ke sebuah tempat duduk yang ada di sampingnya.


"Ada apa, Ray?" Briyan semakin bingung.


"Pa, lihat dulu jika mereka benar-benar sibuk dan tidak menyadari jika Riyan sudah pulang!" perintah Brayan kepada papanya.


"Oke!" Agung mengikuti instruksi dari Brayan dan memastikan kedalam jika para penghuninya rumah sedang benar-benar sedang sibuk.


"Disini saja, Pa," kata Brayan.


Briyan hanya bisa menatap kedua lelaki yang sudah memancarkan aura membunuh, terlebih mata Brayan yang sudah menyala seperti hendak membakar apa yang dia lihatnya.


"Kalian mau apa?" gugup Briyan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang diinginkan oleh dua lelaki didepannya saat ini.


"Diam kamu Riy! Aku benar-benar kecewa denganmu, sungguh kecewa!" bentak Brayan dengan mata yang sudah memerah.


"Ray ... tenangkan dirimu," saran papanya.


"Rayan benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Riyan yang dangkal seperti ini, Pa. Meskipun pernikahan mereka adalah sebuah kecelakaan, setidaknya Riyan bisa menghargai Nara sebagai istrinya, bukan malah menyakitinya, Pa. Jika Rayan tahu pada akhirnya Riyan hanya akan menyia-nyiakan Nara, Rayan tidak akan pernah memaksa Riyan untuk bertanggung jawab dan membiarkan nama baik keluarga kita tercoreng, daripada harus menyakiti seorang perempuan." Dada Brayan naik turun. Selama ini Brayan belum pernah meluapkan emosi yang berlebihan seperti ini.


Melalui Fisya, Brayan mengetahui jika selama ini Briyan tak pernah menghargai perasan Nara dan selalu menyakiti wanita yang sedang mengandung benihnya.


"Aku sudah tahu semuanya, Riy! Selama ini kamu memperlakukan Nara dengan tidak baik kan? Bahkan ponsel Nara tidak hilang melainkan dijual untuk membeli kebutuhannya, karena kamu sebagai suami tidak memberi nafkah yang sepantasnya kepada Nara. Kamu pikir dengan uang yang kamu berikan itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya? Kamu harus bisa mikir Riy! Saat ini Nara sedang hamil anak kamu."

__ADS_1


"Stop Ray! Jangan pernah mengatakan jika itu adalah anakku, karena itu bukan anakku!"


PLAKKK


Satu tamparan keras mendarat di pipi Riyan. Terasa panas dan ngilu. Bahkan sudut bibirnya telah mengeluarkan sedikit darah segar. Bahkan Brayan yang emosinya sudah memuncak hanya bisa terbelalak lebar saat melihat papanya menampar Briyan.


"Papa menyesal telah memaksamu untuk bertanggung jawab. Semua itu karena kesalahan papa yang menginginkan kamu bertanggung jawab. Tapi sepertinya keputusan papa salah besar. Baiklah jika kamu memang terbebani dengan pernikahan ini, lebih baik kalian berdua bercerai secepatnya daripada Nara terus menderita."


"Bagus dong Pa jika Riyan bercerai secepatnya dengan Nara. Riyan tidak perlu lama lebih lama lagi," jawab Briyan tanpa sedikitpun rasa bersalah.


Agung sudah mengepalkan tangannya dan sudah siap untuk membogem bibir Briyan. Namun, dengan cepat Brayan mencegahnya.


"Pa, tenang dulu. Ingat jantung, Papa."


"Baik, jika itu yang kamu mau. Papa akan segera mengurus perceraian kalian, tetapi jangan pernah sedikitpun kamu menyesal jika itu memang adalah anak kamu!" Dengan sisa amarah, Agung memilih meninggalkan Briyan begitu saja. Dia tidak habis pikir mengapa anaknya harus mengikuti jejak kelam masa lalunya.


Sesampainya di dalam, tak sengaja Nuri melihat Brayan sedang memapah suaminya.


"Lho ... lho ... kenapa ini?" panik Nuri.


"Mungkin jantungnya kumat, Ma. Bawa saja ke kamar," kata Brayan.


"Papa tidak apa-apa. Selepas shalat Isya' papa ingin berbicara penting dengan kalian semua, termasuk juga dengan Nara. Ada yang ingin papa sampaikan," ucap Agung yang segera dipapah untuk menuju ke kamarnya.


"Ada masalah apa, Mas? Apakah Riyan sudah melakukan kesalahan lagi?" tanya Nuri ingin tahu.


"Anak itu memang tidak pernah habisnya untuk tidak membuat masalah. Aku sudah gagal dalam mendidiknya," lirih Agung.


"Tidak, Mas. Kamu tidak gagal. Memang dasar anaknya saja yang bandel."


...~~~...


...TBC...


Makasih ya vote dan taburan bunganya 🥰

__ADS_1


Lope2 sekobon jagung


__ADS_2