
Suasana rumah yang biasanya sepi kini mendadak terasa sangat ramai. Siang ini Nuri sengaja menghubungi keluarga Nara dan mengatakan jika Nara sedang berkunjung ke rumahnya. Tanpa pikir panjang, kedua orang tua Nara segera meluncur ke rumah sang besannya.
Terlahir sebagai anak tunggal, Nara selalu berikan kasih sayang yang melimpahkan ruah. Apalagi ayah Nara adalah salah satu pengusaha Mebel terkenal. Tak heran jika Nara selalu berlimpahan dengan kemewahan.
Melihat kedatangan ayah dan ibunya, Nara tak bisa membendung air matanya lagi. Menumpahkan dalam dekapan sang ibu, seolah dia sedang mengadu bagaimana Briyan memperlakukan dirinya selama menikah. Ingin sekali kata-kata itu terucap, tetapi bibirnya terasa kelu.
Tidak baik jika seorang istri menjelekkan suaminya di depan sang ibu. Aib suami adalah aibnya juga dan sebisa mungkin Nara harus menjaga aib suaminya.
"Masha Allah, Nak. Baru dua bulan tidak bertemu kamu kok semakin kurus? Apakah suami kamu tidak memperlakukanmu dengan baik?" cecar ibunya.
"Bu." Ayah Nara memberi isyarat agar istrinya tidak berlebihan.
"Maaf, bukan maksud ibu mau menyudutkan suami kamu. Ibu hanya shock dengan perubahan tubuhmu. Jadi bagaimana keadaanmu selama ini? Ibu sangat merindukanmu. Kamu bilang ponsel kamu hilang, bagaimana bisa hilang? Mengapa suami kamu tidak segera menggantikannya?" cecer ibu Nara lebih panjang lagi dan membuat Briyan merasa tersudutkan.
"Ibu ... tenang dulu dan jangan menyalahkan mas Riyan. Nara memang sengaja tidak ingin memegang ponsel karena Nara ingin fokus menjalani ibu rumah tangga, Bu."
"Masha Allah, Nara. Mama bangga dengan pemikiranmu, Nak," sela Nuri.
Lama kedua keluarga itu bercengkrama dengan hangat. Bahkan Nara sangat pandai untuk terus berakting dan membual. Semua ucapan dari bibirnya sangat dipercayai oleh keluarga. Namun, tidak dengan Brayan yang tidak mudah untuk dikelabui.
Semenjak kedatangan Briyan dan Nara ke rumah, Brayan sudah bisa mencium aroma tidak sedap. Ditambah lagi malam pertama keduanya di kamar yang telah di hias indah oleh sang mama malah di hancurkan oleh Briyan. Hal itu membuat Brayan bertanya dalam hati mungkinkah Briyan masih membenci Nara?
Sebelum pulang, ibu Nara memberikan sebuah ponsel baru dan sebuah kartu penggesek uang kepada Nara. Namun, dengan lembut Nara menolak pemberian itu. Dia menghargai Briyan agar tidak merasa malu di depan keluarganya.
Bisa saja Nara mengambil dan menggunakan uang di dalam kartu itu untuk bersenang-senang dan menyewa rumah kontrakan yang lebih besar lagi, tetapi itu sama saja hanya akan menjatuhkan Briyan sebagai suaminya.
Bagaimanapun perlakuan Briyan kepadanya, Nara akan tetap menganggap Briyan sebagai suaminya.
"Maafkan Nara, Bu. Tapi Nara tidak bisa menerima pemberian ayah dan ibu. Bukan mas Riyan tidak bisa membelikan ponsel baru untuk Nara, tetapi Nara memang sedang tidak ingin memegang ponsel. Saat ini Nara hanya ingin fokus pada kandungan Nara saja."
Meskipun merasa sangat kecewa, tetapi kedua orang tua Nara tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menghargai keputusan anaknya.
__ADS_1
"Nak Riy, ayah titip Nara. Dimanapun kalian tinggal, tolong sayangi dia seperti kami menyayanginya. Kamu tahu kan jika Nara itu anak tunggal dan selalu hidup dalam berkecukupan. Ayah harap kamu bisa memberikan kebahagiaan untuk Nara, meskipun tidak berupa materi. Kamu tahu 'kan maksud ayah?"
"Riyan tahu, Yah." Sebisa mungkin Briyan menyakinkan kedua orang tua Nara untuk percaya padanya.
"Kemarin nolak-nolak saat disuruh tanggung jawab, eh enggak taunya sekarang udah hem .. hem," ledek Agung, ayah Briyan.
Gelak tawa mengakhiri perbincangan mereka, karena kedua orang tua Nara sudah ingin pulang.
Sebelum meninggalkan rumah besannya, Ibu Nara memeluk erat tubuh sang putri. Memberikan sebuah wajenang kepada anak dan menantunya agar kedua selalu hidup rukun bagaimanapun keadaannya mereka saat ini.
"Ra, ayah dan ibu pulang ya. Kamu harus nurut sama suami. Ingat surganya seorang istri ada di kaki suaminya."
Apakah dengan status pernikahan sementara dan perlakuan Briyan yang tidak baik, Briyan masih memiliki surga seperti apa yang dikatakan oleh ibunya?
Tapi itu tidak berlaku untuk Mas Riyan, Bu. Andaikan saja ibu tahu yang sebenarnya, Nara yakin ayah dan ibu tidak akan menyerahkan Nara pada mas Riya. Tapi Nara yakin jika suatu saat nanti Mas Riyan akan berubah
Lagi-lagi keluh kesah itu hanya tertahan dalam hatinya.
"Iya, Nara akan selalu mengingat pesan ibu."
Setelah kepergian orang tuanya, Nara memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan alasan ingin beristirahat.
Semua anggota keluarga percaya saja dan tidak ingin mengganggu Nara. Terlebih Briyan juga telah pergi ke studio.
Di dalam kamar, Bryan melihat Fisya yang baru saja siap mandi dan belum mengenakan hijabnya. Brayan menatap Fisya tanpa jengah membuat Fisya segera memprotes tatapan suaminya.
"Mas Rayan kok liatin aku kayak gitu sih? Ada yang salah ya?"
"Gak ada. Cuma bayangin aja sih beberapa bulan ke depan pasti tubuh kamu akan seperti Nara," kekeh Brayan geli.
"Mas Rayan!" sentak Fisya. "Ini semua juga gara-gara Mas Rayan. Coba aja kalau mas Rayan gak membudidayakan telur katak di rahimku, pasti perutku gak bahkan buncit."
"Ya gimana ya ... namanya juga suami istri Sya. Dan suami kamu itu norma lho."
__ADS_1
Fisya memilih mengabaikan ucapan suaminya, karena dia tahu kemana arah dan tujuan dari pembicaraannya.
"Mas, aku mau lihat Nara dulu ya."
"Tunggu Sya!" cegah Brayan dengan cepat.
"Ada apa, Mas."
Kepada Fisya, Brayan menceritakan kegundahan dan kegelisahan hatinya mengenai hubungan Briyan dan Nara.
Brayan merasa jika ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh pasangan muda itu, karena Brayan melihat sempat melihat Briyan memarahi Nara.
"Mas Rayan jangan asal menebak ya! Suudzon, dosa lho."
"Terserah kamu aja. Tapi lihatlah, Nara memilih mengurung diri di dalam kamar sementara Riyan pergi begitu saja tanpa ingin menemani istrinya," jelas Brayan lagi.
Fisya mulai mencerna ucapan suaminya dan memang ada benarnya. Ditambah lagi Fisya juga melihat jika Briyan terlalu cuek kepada Nara saat di belakang mereka.
"Ya udah, aku coba ke kamar Nara dulu ya."
Jika saat ini Nara lebih memilih untuk mengurung dirinya di dalam kamar, berbeda dengan Riyan yang sangat bahagia saat bertemu dengan seseorang. Bahkan keduanya terlihat sangat mesra.
"Riy, aku kangen banget." Wanita bertubuh mungil segera berlari dan memeluk Riyan dengan sangat bahagia.
"Stop Mey! Malu!"
Wanita yang di panggil Mey itu segera melepaskan pelukannya.
"Namanya juga kangen, Riy. Gimana kabar kalian disini? Aku dengar kamu dan Rayan juga sudah menikah."
"Perempuan memang tukang gosip ya."
Riyan segera mengambil alih koper yang ada di tangan Mey. Dengan mesra, Mey menggandeng lengan Briyan dengan sangat bahagia. Sesekali Mey juga menempelkan kepala di lengan Briyan. Tak ada protesan dari bibir Briyan, meskipun banyak pasang mata yang sedang melihat mereka.
__ADS_1
...~~~...
...TBC...