Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 40 | Pulang Ke Rumah


__ADS_3


Tak terasa sudah dua bulan berlalu sejak pernikahan Briyan dan Nara. Namun, Briyan sama sekali belum berkata jujur dimana saat ini dirinya tinggal. Jika ditanya, Briyan akan mengatakan jika dia tinggal di luar kota demi pekerjaannya. Semakin lama Nuri semakin curigai jika Briyan sedang membohonginya.


Melalui sambungan telepon, Nuri mengatakan jika dia ingin berkunjung ke rumahnya. Saat itu juga Briyan merasa sangat keberatan dan mengatakan jika dia akan pulang ke rumah agar orang tuanya tidak mengetahui dimana tempat tinggalnya.


"Ra, kamu tahu 'kan apa yang harus kamu lakukan saat bertemu dengan keluargaku? Aku tidak ingin kamu melakukan sebuah kesalahan lagi. Kamu bilang saja jika selama ini kita tinggal di Bogor, mengerti!"


Nara mengangguk pelan. Menginjak usia kandungannya sudah empat bulan, kondisi tubuh Nara tidak sekuat dulu lagi. Dia mudah lelah dan morning skicnees juga belum hilang meskipun masuk bulan keempat.


"Mas, bisa berhenti sebentar? Aku mual." pintanya pada Briyan saat hitungan perjalanan


Dengan kesal Briyan segera menepikan mobilnya, beruntung saja mereka belum masuk di jalan tol sehingga masih bisa berhenti.


"Yu udah cepat jangan lama-lama!"


Nara segera turun dari mobil. Tak berapa lama dia langsung mengeluarkan isi dalam perutnya. Tubuhnya masih bergemetar, bahkan hampir saja Nara terjatuh karena oyong. Beruntung saja Briyan cepat menangkap tubuhnya.


"Kamu itu hanya merepotkan saja!" ketus, Briyan yang berusaha membawa tubuh Nara untuk masuk kedalam mobil.


Sebuah air mineral juga disodorkan kepada Nara. "Minumlah!"


Nara sudah merasa bosan duduk di dalam mobil. Padahal bisa saja mereka pulang menggunakan jalur udara, tetapi Briyan memilih untuk menempuh jalur darat yang memakan waktu lama.


"Kamu mau makan apa?" tanya Briyan disela-sela mengemudinya.


"Aku tidak berselera untuk makan, Mas. Kalau mas Riyan mau makan aku nunggu aja disini. Aku ingin tidur aja."


Briyan hanya sekilas melirik Nara yang telah memejamkan matanya. Mungkin wanita yang bergelar istrinya itu memang sedang ingin beristirahat.


"Tapi setelah ini kita akan masuk jalan tol dan pastinya tidak akan ada penjual makanan disana."


"Tapi aku memang sedang tidak berselera untuk makan, Mas."


"Sudahlah, terserah kamu aja. Kalaupun nanti lapar itu perutmu,bukan perutku!"


Nara tak menghiraukan ucapan Briyan saat menutup pintu mobil ditutup dengan kencang. Dia hanya mengelus pelan perutnya sambil berkata, "Sabar ya Nak, kita harus kuat. Abi memang seperti itu, tetapi sejatinya Abi sayang kita kok. Jangan kaget ya, Nak."


Mata Nara melihat langkah Briyan yang kembali lagi kedalam mobil dengan kantong plastik di tangannya.

__ADS_1


"Lho, katanya mau makan, kok balik lagi?" tanya Nara heran.


"Gak jadi, gak ada tempat duduk di dalam," jawab Briyan dengan ketus.


"Makanlah, selagi masih hangat!" Riyan menyodorkan sebuah kantor plastik putih kepada Nara.


"Apa ini?"


"Bisa gak sih Ra, kamu itu enggak ak usah banyak tanya! Ambil dan makan atau aku buang!" ancam Riyan.


Nara menelan kasar salivanya. Dengan patuh dia mengambil dan membuka isi didalam plastik.


"Bubur kacang ijo?" Mata Nara membulat dengan garis bibir yang ditarik lebar.


Selama dua bulan terakhir, Nara memang tidak pernah meninggalkan makanan itu. Setiap hari dia akan menunggu tukang jualan bubur kacang ijo melintas di depan kontaknya.


"Makasih ya, Mas."


"Hmm."


Nara begitu bersemangat untuk melahap bubur yang ada ditangannya. Seleranya tidak jadi hilang saat melihat bubur kesukaannya. Dalam hitungan satu menit Nara telah bersendawa karena bubur itu telah lenyap.


"Katanya enggak selera, tapi habis juga"


"Dari pada sayang untuk dibuang," balas Nara dengan cepat.


**


Nuri yang mendengar jika Briyan dan Nara akan pulang segera mempersiapkan penyambutan mereka. Dua bulan sejak pernikahan keduanya, Nuri tak bisa berkomunikasi lebih kepada Nara karena Nara mengatakan jika ponselnya hilang.


"Sya, kamu sudah bereskan kamar Riyan?" tanya Nuri saat melihat Fisya hendak ke dapur.


"Udah, Ma."


"Sudah kamu hias belum?"


Mata Fisya membulat dengan dahi mengkerut. "Dihias," cicitnya.


"Iya, Sya. Mereka itu kan pengantin baru. Kamar mereka juga harus di hias layaknya kamar pengantin baru, Sya."

__ADS_1


"Siapa bilang mereka itu pengantin baru, Ma?" sela Brayan yang baru saja menuruni anak tangga.


"Mama lah, jadi siapa lagi? Bagi Mama mereka itu masih pengantin baru yang masih anget-angetnya. Apalagi Riyan belum mencoba kamarnya untuk melakukan peluncuran bersama dengan Nara. Anggap saja kepergian Riyan kemarin itu mereka melakukan bulan madu."


"Ma, Riyan itu enggak bakalan melepaskan rudalnya malam ini karena istrinya masih hamil muda. Sama kayak Rayan yang diberikan jadwal."


Satu pukulan keras mendarat di bahu Brayan. Fisya merasa malu dengan pengakuan jujur dari suaminya.


"Itu sih masalah kamu, Ray. Buktinya saja hanya satu kali peluncuran, bibit Riyan langsung bersemi. Gak kayak kamu, butuh satu bulan baru bisa bersemi."


Bak tanpa rasa bersalah, Nuri melenggang pergi meninggalkan pasangan suami-istri, dimana sang suami sedang mendapatkan tatapan tajam seolah ingin membunuhnya.


"Lihat aja, aku kurangi lagi jadwal ronda kamu ya!" ancam Fisya yang kemudian juga meninggalkan Brayan.


"Sya ... enggak bisa gitu, dong! Dosa kamu lho!" Brayan sedikit berteriak, tetapi Fisya sama sekali tidak menghiraukannya.


Tepat pukul tujuh malam, Briyan dan Nara sudah tiba. Saat ini tangan Briyan menggandeng erat tangan Nara, seolah keduanya adalah pasangan yang romantis dan bahagia. Bahkan senyum lebar Nara menandakan bawa dia sedang bahagia.


Setelah mengucapkan salam, keduanya langsung saling bersalaman. Kedatangan Nara benar-benar disambut antusias oleh Nuri.


"Wah ... perutnya sudah kelihatan besar ya, Ra. Mama senang sebentar lagi rumah Mama akan ramai dengan tangisan anak kecil." Nuri mengelus perut Nara.


Nara tersenyum tipis. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika mama mertuanya tahu jika setelah melahirkan nanti, dia dan Briyan akan segera berpisah. Pasti mama mertuanya akan sangat kecewa. Namun, Nara masih memiliki harapan saat mendengar jika Fisya juga sedang hamil. Mungkin dengan kehadiran anak Fisya akan mengobati kekecewaan mama mertuanya kelak.


"Bagaimana kabar kamu, Ra? Apakah kamu diperlukan baik oleh Riyan? Jangan-jangan kamu selalu diabaikan oleh pria itu, lihatlah badanmu yang terlihat kurus." Brayan bertanya sambil melirik Briyan.


"Kamu jangan sembarang menuduh ya, Ray! Meskipun Nara terlihat kurus, tetapi dia itu sangat rakus. Bahkan porsi makannya saja dua kali lipat dari porsi makananku," bantah Briyan.


Semua anggota keluarga menertawakan Briyan yang tiba-tiba ngegas begitu saja.


"Ya wajar dong kalau Nara makannya banyak, berarti anak kamu yang rakus," sela Nuri.


Anakku? Ma, haruskah aku mengatakan jika itu bukan anakku? Jika bukan karena nama baik keluarga ini aku tidak akan pernah mau untuk menikah dengan Nara. Ma, tolong jangan banyak berharap dari Nara dan anaknya, karena setelah Nara melahirkan, Riyan akan bercerai Nara.


Sebuah isi hatinya yang tak bisa tersampaikan. Bahkan Briyan harus berpura-pura bahagia di depan keluarganya agar tidak ada yang mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


...~~~...


...TBC...

__ADS_1


__ADS_2