Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 45 | Sebuah Pengakuan


__ADS_3

...Buatlah istrimu bahagia jika ingin melihat hangatnya keluarga. Utamakan kepentingan istri jika ingin merasakan surga dunia....


...~Brayan~...



Hari ini Brayan sengaja meminta izin libur karena ingin membawa Fisya cek up ke dokter. Padahal bisa saja Fisya pergi bersama dengan mamanya, tetapi Brayan ngotot ingin menemani istrinya. Dia ingin melihat tumbuh kembang janin yang ada di dalam perut sang istri.


Setelah selesai diperiksa, keduanya pun segera meninggalkan rumah sakit. Brayan mengira jika janin yang ada di perut sang istri sudah berbentuk bayi, nyatanya masih seperti telur katak.


"Sya, mumpung hari ini aku libur, bagaimana kalau kita quality time? Lama enggak pernah punya waktu berdua," celetuk Brayan tiba-tiba.


Fisya yang merasa tidak keberatan langsung mengiyakan saja keinginan suaminya. Mengingat beberapa hari terakhir pikiran tegang karena masalah Briyan.


"Kita ke tempat biasa ya, Mas. Sekalian makan batagor sama cilok," timpal Fisya.


"Kok batagor sama cilok sih, Syah? Sekali-kali kita makan steak kenapa?" protes Brayan.


"Lidah Fisya sudah terbiasa makan makanan produk asli buatan orang Indonesia, jadi enggak bisa mencerna makanan luar negeri, Mas," sahut Fisya.


Brayan hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan sang istri. Karena baginya kebahagiaan istri adalah hal yang paling penting. Brayan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membahagiakan Fisya semampunya, sekalipun Brayan harus menggapai bintang di langit.


Sampai saat ini Brayan masih nyaman dengan sepeda motornya. Terlebih jika sedang pergi bersama dengan Fisya.


Brayan bisa merasakan kehangatan yang menempel pada tubuhnya. Apalagi saat kedua tangan memeluk erat pinggangnya. Brayan sangat bersyukur, Fisya tidak pernah mengeluh meskipun merasakan terik panas yang menyengat di kulitnya.


Setelah memarkirkan motornya, Brayan menggenggam erat tangan Fisya untuk menuju abang cilok yang sudah membuka tendanya di pinggir jalan.


Sambil menunggu pesanan, mata Fisya berkeliaran untuk melihat keadaan sekitar yang terasa teduh, meskipun berada di pinggir jalan. Itu karena pohon besar yang menjadi atap.


"Mas, sebentar ya." Fisya berpamit untuk menuju obyek yang membuatnya penasaran.

__ADS_1


Dengan langkah tergesa, Fisya berusaha untuk menyeberangi jalan, berharap dia tidak kehilangan jejak.


Dengan napas yang masih memburu, Fisya menghentikan langkah seseorang. Seseorang yang selalu mengganjal di dalam pikirannya


"Zulfa," panggil Fisya.


Zulfa yang merasa namanya di panggil segera menoleh. Dengan mulut yang ternganga, Zulfa tercengang saat melihat Fisya sudah ada di depan matanya.


"Fisya," gumamnya.


Fisya segera mengajak Zulfa untuk berbicara sebentar saja. Mungkin terlihat lancang, tetapi Fisya harus menanyakan apa yang sudah terjadi kepada Zulfa dan apakah memang dia saat ini sedang hamil.


"Maaf jika pertanyaanku sangat lancang, tapi jika kamu tidak jujur, kami akan selalu suudzon kepada mu, Zul."


Zulfa membuang napas beratnya sambil memejamkan mata. Sebuah aib yang tidak bisa dia tutupi, karena semakin lama akan semakin terlihat dengan jelas.


"Aku tidak peduli dengan pandangan kalian, Sya. Karena aku sudah hancur. Mas Alqan sudah mencampakkanku dan keluargaku juga telah membuangku, lalu apa lagi yang harus aku jelaskan, Sya?"


"Kamu masih ada aku, Zul. Bukankah kita adalah sahabat?"


Zulfa tersenyum sinis. Dia ingin menertawakan kata sahabat yang baru saja didengarnya. Sahabat macam apa saat zulfa sama sekali tidak tahu apa-apa tentang pertunangan Fisya dengan Alqan kala itu Masih pantaskah disebut sahabat?


"Kamu terlalu percaya diri, Sya! Sahabat macam apa aku ini saat aku tidak tahu jika kekasihku adalah tunanganmu? Aku merasa tidak pantas kamu sebut sebagai sahabat. Apalagi aku adalah salah satu orang yang membuat hidup Nara menderita." Zulfa langsung terisak. Dia tidak kuat lagi untuk menanggung perasaan bersalah kepada Nara yang tak semestinya menanggung penderitaan akibat ulahnya.


"Maksud kamu apa?" Suara Brayan sangat mengejutkan Zulfa. Wajahnya hampir mirip dengan wajah Briyan membuat Zulfa sedikit tersentak. Dadanya naik turun karena suara Brayan juga hampir menyerupai suara Briyan.


"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Nara dan juga Riyan? Apakah kamu adalah dalang atas insiden malam itu? Apakah kamu yang telah merencanakan semuanya?" bentak Brayan penuh emosi.


Fisya yang berada di dekat Brayan belum pernah melihatnya sangat emosi seperti ini. Sebagai seorang istri, Fisya berusaha untuk menenangkan hati suaminya.


"Mas, tenang dulu."

__ADS_1


"Sya, katakan kepada dia, apa yang sudah diperbuatnya sehingga Riyan dan Nara bisa dalam satu ranjang!"


Situasi terasa semakin tegang, membuat Fisya harus mencarikan suasana. Tidak bagus jika membuat Zulfa semakin merasa bersalah dan tidak bagus juga jika Brayan terbakar oleh emosinya.


Dengan kepala dingin, Fisya mengajak Zulfa dan suaminya untuk duduk sebentar. Beruntung saja ditempat sekitar ada bangku panjang, sehingga ketiganya bisa duduk untuk memecahkan misteri malam itu yang membuat Nara dan Riyan tidak bisa saling mengingat dengan kejadian yang telah mereka lakukan.


"Jadi, katakan sekarang juga dengan jelas!" sentak Brayan.


Zulfa yang selalu dihantui rasa bersalahnya kepada Nara dan Briyan segera meminta maaf kepada saudara kembarnya Briyan dengan cucuran air mata penyesalan.


"Sebelumnya aku minta maaf. Semua ini adalah salahku. Aku yang telah membawa Nara ke hotel malam itu. Semua itu kami lakukan untuk menjatuhkan Riyan. Mas Alqan yang masih memiliki dendam kepada Riyan menjadi kompor agar Yoshi bisa menjatuhkannya. Dengan bodohnya aku juga mengikuti permainan mas Alqan untuk menjebak Nara. Nara adalah sepupuku sendiri. Aku sangat menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan." Air mata Zulfa mengalir begitu saja.


Jika saat ini yang sedang berhadapan dengan Brayan adalah Alqan dan Yoshi, mungkin saat ini Brayan akan menghajar habis-habisan mereka. Namun, ini adalah seorang wanita lemah yang tak berdaya. Tidak akan mungkin Brayan mau melakukan penganiayaan kepada Zulfa.


Fisya hanya bisa menangkup bibirnya dengan keduanya tangannya. Dia benar-benar tidak percaya jika Zulfa bisa melakukan hal seperti itu kepada Nara.


"Zul .... " Ucapan itu terhenti.


"Aku tahu sekarang kalian pasti akan membenciku, kan? Dan juga ingin menertawakan atas karma yang sudah aku perbuat kan?" teriak Zulfa penuh emosi.


"Zul, tenangkan dirimu." Sebisa mungkin Fisya merangkul Zulfa agar merasa lebih tenang. Terlebih saat ini Zulfa tengah hamil.


"Siapa bilang kami akan menertawakanmu. Kamu adalah sahabatku, mana mungkin aku akan menertawakanmu, Zul. Tapi ... aku mohon, kamu harus jelaskan kepada Briyan jika anak yang ada di dalam rahim Nara itu adalah anaknya agar Riyan mau menerima anak itu, Zul!"


Zulfa hanya bisa mengangguk pelan. Meskipun sebenarnya Zulfa merasa takut untuk berharapan langsung dengan Briyan.


"Apapun yang terjadi aku siap menerimanya agar aku tidak larut dalam penyesalan ini," ucap Zulfa dengan pelan.


...~~~...


...TBC...

__ADS_1


Moon maap belum sempat edit, sinyal ngadat 🙏


__ADS_2