
Semenjak kabar Briyan menghamili seorang wanita, keadaan rumah terasa hambar, karena setelah itu Nuri memilih untuk mengurungkan diri di dalam kamar. Sedangkan Fisya juga sibuk di butiknya untuk persiapan puncak acara Fashion Show. Begitu juga dengan Brayan yang sibuk di pondok, karena sebentar lagi akan ujian semester.
"Ray!" panggil papanya, saat Rayan sedang mengeluarkan motornya.
"Iya Pa, ada apa?" jawab Brayan dengan cepat.
"Sepertinya kita harus segera menyelesaikan masalah Riyan secepatnya agar tidak berlarut-larut seperti ini. Lihatlah, mama kamu semakin terpukul."
"Iya, Pa. Rayan juga mengerti akan hal itu. Tapi untuk beberapa hari ke depan Rayan masih sibuk di pondok. Papa tahu sendiri kan sebentar lagi anak-anak akan menghadapi ujian semester. Sementara itu Fisya juga sedang mempersiapkan acara puncak fashion show. Jadi bukan kami tidak peduli kepada mama, tapi kegiatan kami benar-benar sangat padat. Pa, maafkan Rayan yang tidak bisa berbuat apa-apa."
Rayan menyesal karena tidak bisa mendampingi mamanya yang saat ini sedang terpukul karena masalah Briyan.
"Kalau begitu bagaimana kalau setelah pulang kerja nanti kita menemui keluarga Nara. Tapi jangan sampai mama mengetahuinya. Gimana, Papa biasa enggak?" Brayan memberikan sebuah usulan.
"Boleh juga ide kamu, Papa setuju. Tapi Papa minta tolong agar Fisya pulang lebih awal untuk menemani mama di rumah. Gimana?"
Brayan mengangguk pelan. "Iya. Nanti Rayan beritahu Fisya."
Ulah Briyan benar-benar membuat kedamaian rumah sirna begitu saja. Bahkan juga membuat mamanya jatuh sakit.
Di dalam kamar hanya ada Nuri dan Briyan. Setelah pengakuan yang mengejutkan, Briyan dituntut untuk bertanggung jawab kepada kesehatan mamanya.
"Ma, Riyan benar-benar minta maaf. Sungguh Riyan tidak mengingat apa-apa tentang malam itu. Tolong sekarang Mama makan ya. Kalau Mama enggak mau makan nanti Mama tambah sakit," bujuk Briyan, berharap mamanya mau makan.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari mamanya, bahkan untuk menatap Briyan saja mamanya tidak mau.
"Ma, jangan seperti ini, dong! Riyan harus apa agar Mama mau memaafkan Riyan?"
Dada Nuri terasa sesak. Bagaimana bisa Briyan harus mengikuti jejak kelam papanya yang pernah salah jalan dan sampai menghamili seorang wanita.
"Mama sangat menyesal telah memberikan kepercayaan penuh kepadamu, Riy! Bukankah kamu sudah tahu bagaimana kelamnya masa lalu Papa? Tapi kenapa kamu ikuti? Kamu benar-benar melukai hati Mama, Riy!"
Briyan bersimpuh di kaki mamanya seraya menyesali perbuatannya. "Ma, Riyan minta maaf. Riyan di jebak, Ma. Riyan masih waras dan tidak akan mungkin untuk melakukan hal seperti itu. Tolong Mama percaya sama Riyan!"
"Bagaimana Mama akan percaya padamu sementara Nara mempunyai bukti jika kalian berdua telah tidur bersama. Katakan atas dasar apa Mama harus percaya kepadamu?"
Tak ada lagi yang bisa Briyan jelaskan kepada mamanya, karena semua bukti sudah jelas mengarah jika Briyan telah tidur bersama dengan Nara.
Mata Riyan membulat dengan sempurna saat mendengar permintaan mamanya.
Briyan langsung menggeleng dengan cepat. "Tidak, Ma! Riyan tidak mau ... Riyan hanya di jebak, Ma!"
Briyan menunduk tak berdaya. Dalam relung hatinya, dia berjanji akan mencari siapa sosok yang telah menjebaknya. Menikah dengan Nara bukanlah impian Briyan, karena saat ini Briyan sudah memiliki tambatan hatinya sendiri.
***
Fisya yang sedang berada di ruangan terkejut saat melihat Alqan datang sambil membawa sebuah rantang, sudah jelas isinya adalah makanan.
"Assalamualaikum, Sya. Maaf tidak memberikan kabar jika aku kesini. Aku cuma disuruh mama untuk mengantarkan makan siang untukmu. Kebetulan di rumah sedang ada acara keluarga."
__ADS_1
Fisya merasa tidak enak jika harus menolak rantang yang sedang diserahkan padanya. "Makasih ya, Mas. Tapi seharusnya enggak usah repot-repot seperti ini. Fisya juga sudah membawa bekal dari rumah, kok."
"Tapi ini dari Mama, Sya. Kamu 'kan tahu sejak awal, mama udah suka sama kamu dan berharap kamu menjadi menantunya. Tapi aku malah mengulah. Aku benar-benar minta maaf, Sya," sesal Alqan.
"Mas Alqan enggak usah merasa sangat bersalah, karena Allah-lah yang menentukan jodoh kita.
Alqan tersenyum tipis. Dan saat itu juga ponsel Alqan berbunyi. Sebuah panggilan dari mamanya yang menanyakan apakah Alqan sudah memberikan kiriman makanannya untuk untuk Fisya atau belum.
Karena merasa tidak enak, Fisya juga sempat berbicara kepada mama Alqan untuk berterimakasih.
"Jangan lupa dimakan ya, Nak. Itu Mama masak khusus untukmu, lho."
Suara yang hampir mirip dengan suara Uminya mampu menggetarkan hati Fisya. Dengan terpaksa Fisya mengiyakan saja ucapan dari mamanya Alqan, entah nanti di makan atau tidak.
"Iya, Tan. Nanti Fisya makan. Sekali lagi makasih ya. Tapi lain kali enggak usah repot-repot. Fisya juga udah bawa bekal dari rumah, kok."
Disisi lain Alqan tersenyum smirk saat melihat rencananya berjalan dengan lancar. Hanya dengan cara seperti itu dia bisa mendekati Fisya lagi.
...~...
...~...
...~...
...Bersambung...
__ADS_1