Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 39 | Tak Pernah Peduli


__ADS_3


Mentari pagi telah menyingsing, membuat Nara mulai mengerjapkan matanya. Dia merasa tubuhnya sudah terasa lebih ringan dan kepalanya sudah tidak sakit lagi. Namun, dia malah merasa perutnya seperti sedang tertimpa sesuatu.


Tanpa disadari oleh sang empu, tangan itu menimpa perut Nara. Jantung Nara mulai berdebar lebih kencang lagi, terlebih dia telah meninggalkan tiga waktu sholatnya.


Dengan pelan Nara segera memindahkan Briyan agar dirinya bisa ke kamar mandi. Namun, saat hendak bangkit tangan Nara langsung dicekal oleh Briyan.


"Mau kemana?" Suara serak membuat jantung Nara langsung berdebar.


"Lepaskan, aku mau ke kamar mandi."


Briyan pun langsung melepaskan cekalan tangannya dan membiarkan Nara beranjak ke kamar mandi.


Didalam kamar mandi, Nara mencoba mengingat apa yang telah terjadi. Seingatnya setelah melakukan hubungan suami-isteri dengan Briyan, tubuhnya terasa lelah dan panas dingin. Bahkan Nara juga mengingat jika kemarin dia belum sempat mengenakan pakaian, tetapi saat ini dia telah memakai baju tidur. Apa itu artinya ....


Nara langsung menutup mulutnya. "Astaghfirullahaladzim, berarti mas Riyan yang memakaikan pakaian ini. Ya Allah ... mau diletakkan dimana wajah ini."


Nara ragu saat ingin membuka pintu kamar mandi. Namun, suara Briyan dari luar terlalu berisik.


"Ra, kamu enggak tidur kan! Cepat gantian, aku juga mau menggunakan kamar mandinya!"


Tidak menunggu lama, tangan Nara terulur untuk membuat pintu. Baru saja Nara keluar satu langkah, Briyan langsung mendorong tubuh Nara yang dianggap menghalangi jalannya. "Awas minggir!" ketusnya.


Baru saja Nara merasa ingin terbang, tetapi sayap itu telah dipatahkan kembali. Ternyata sikap Briyan masih sama, dia tidak sama sekali tidak berubah.


"Ya Allah, mengapa aku berharap lebih kepada mas Riyan?" Nara mengehela napas panjangnya.


Merasa tubuhnya sudah fit kembali, Nara segera menyiapkan susu dan roti bakar untuk dirinya sendiri. Percuma saja jika dia menyiapkan sarapan untuk suaminya, toh pada akhirnya makanan itu tidak akan pernah disentuh.


"Enak ya, makan sendiri," sindir Briyan.

__ADS_1


Nara mengabaikan Briyan dan terus menguyah rotinya tanpa mempedulikan Brian yang saat ini duduk di depannya.


Belum juga Nara menghabiskan susunya, suara motor telah berhenti didepan rumahnya dan membuat Nara bergegas untuk menghabiskan susunya. Dia ingin segera keluar, karena dia yakin jika itu adalah motor Reno. Namun, belum sempat Nara berdiri tiba-tiba saja Briyan sudah membuka pintu.


"Assalamualaikum, Mas. Nara masih di rumah kan?"


Dengan tangan melipat didepan dada dan tatapan tajam Briyan berkata, "Kamu siapa? Apakah kamu tidak tahu jika Nara itu sudah menikah? Bahkan saat ini dia sedang hamil. Dan ... kamu masih berani untuk menjemput perempuan yang berstatus sebagai istri orang?"


Reno, lelaki yang ada didepan Briyan hanya menggaruk kepalanya pelan. Dia juga sudah tahu sejak awal bertemu dengan Nara jika Nara adalah istri orang dan saat ini sedang hamil.


Reno tidak memiliki niat lain. Dia hanya merasa kasihan kepada Nara yang harus berjalan kaki sampai ke warung makan seberang jalan sana.


"Mas Reno."


Suara dari belakang Briyan langsung membuat Reno melebarkan senyumnya. Namun, tidak dengan Briyan yang sudah memasang wajah dingin.


"Ra, apakah ini adalah selingkuhan mu?"


Nara bergegas kedalam kamar untuk mengambil tas. Namun, setelah sampai di teras untuk berangkat bersama Reni ternyata dia sudah tidak menemukan keberadaan Reno lagi. Bahkan Briyan pun juga sudah duduk di sofanya.


"Mas Riyan, kemana perginya Mas Reno?"


"Aku suruh dia pergi."


"Tapi kenapa, Mas? Mas Reno cuma mau memberikan tumpangan. Kok malah diusir, sih!" gerutu Nara dengan bibir mengerucut.


Briyan segera menatap Nara dengan tatapan tajam sambil menyuruhnya untuk duduk di sofa.


"Duduk dan jelaskan mengapa kamu bekerja diluar sana tanpa sepengetahuanku? Apakah kamu bekerja sebagai wanita penghibur?"


Telinga Nara seakan jengah dengan tuduhan suaminya. Hanya karena dia hamil diluar nikah, Briyan langsung menganggap jika dirinya adalah wanita tidak bauk. Entah sampai kapan Briyan akan berhenti memandangnya hina.

__ADS_1


"Aku tahu ... jangan-jangan Reno juga sudah membelimu sehingga kamu bisa membeli semua keinginanmu. Jawab dengan jujur Ra! Kamu mendapatkan uang darimana?" sentak Riyan.


Nara hanya bisa meremas jemarinya. Ingin rasanya dia menampar mulut Briyan yang tak sedikitpun menghargai dirinya.


"Mas .... " Nara membuang napas beratnya. "Pertama, apakah kamu peduli denganku? jawaban tidak kan, Mas?Lalu untuk apa aku harus memberitahumu jika aku telah bekerja.


Kedua, selama satu minggu kamu meninggalkan aku disini, apakah pernah kamu menanyakan tentang keadaanku, bagaimana aku menjalani hari-hariku dengan uang yang kamu berikan itu? Asal kamu tahu Mas, uang yang kamu berikan untuk membeli beras, cabe, bawang dan minyak goreng saja hanya pas-pasan. Aku memang telah hamil diluar nikah, tapi aku masih punya harga diri, Mas. Jika kamu ingin tahu dari mana aku mendapatkan uang jawabannya aku MENJUAL ponselku bukan MENJUAL diriku.


Ketiga, Mas Reno itu orang yang menawarkan pekerjaan untukku. Aku masih waras, Mas. Meskipun aku hina karena telah hamil diluar nikah, tapi aku tidak sehina yang kamu pikirkan, Mas. Insyaallah keringatku halal.


Keempat, disini, ditempat ini, aku rela jika kamu mau meninggalkan aku seorang diri yang jauh dari keluargaku. Aku tidak akan pernah menyesal jika kelak aku melahirkan tanpa seorang suami. Aku sudah siap, Mas jika kamu mau pergi meninggalkan aku. Silahkan pergi jika aku hanya membebanimu. Aku tidak akan menuntut apa-apa darimu. "


Bibir Nara terasa lemas setelah mengucapkan panjang lebar kata-kata yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Semua itu mengalir begitu saja karena Nara sudah merasa lelah terus-menerus dihina oleh Briyan.


Tak bisa berkutik lagi, Briyan hanya terdiam seribu bahasa. Bibir terasa kelu, bahkan untuk menelan ludahnya saja terasa sangat sulit setelah mendengar kata-kata yang baru saja didengarnya.


Ya Allah ... apakah selama ini aku sudah sangat keterlaluan kepada Nara. Bahkan Nara sampai menjual ponsel hanya untuk memenuhi kebutuhannya selama satu minggu ini. Aku benar-benar egois tidak pernah berpikir sampai kesana. Bahkan aku merasa sangat malu tidak bisa mencukupi kebutuhannya.


"Sekarang Mas Riyan mau mendengarkan penjelasan apa lagi dariku? Jika tidak ada, aku mau pergi untuk bekerja."


"Kamu pikir aku akan membiarkanmu untuk bekerja diluar sana? Tidak! Aku tidak memberikan izin kepadamu untuk bekerja!"


"Atas dasar apa Mas Riyan tidak memberikan izin? Bahkan pernikahan ini hanya sementara. Aku sudah mencoba untuk menjadi istri yang baik dan berusaha untuk tunduk kepada suami, tapi nyatanya apa yang aku dapatkan? hanya PENGHINAAN darimu, Mas. Lalu masih pantaskah aku patuh padamu?"


Nara mencoba menepis air matanya agar terlihat tegar di mata Briyan.


"Sekali aku bilang tidak, tetap tidak. Aku akan membiayai semua kebutuhanmu, tapi kamu harus berhenti bekerja!" Suara kasar itu tiba-tiba melunak.


"Jangan berpikir macam-macam! Aku hanya tidak ingin orang tua ku mengetahui hal ini. Jika mereka tahu aku membiarkanmu berkerja diluar sana, mereka pasti akan segera menggantungku hidup-hidup dan aku belum siap untuk mati. Surga dunia saja belum aku dapatkan."


...~~~...

__ADS_1


...TBC...


__ADS_2