Separuh Hati Yang Hilang

Separuh Hati Yang Hilang
SHYH 47 | Menghajar Alqan


__ADS_3


Karena tidak ada jawaban dari pak Saleh maka Agung memilih masuk begitu saja untuk memastikan apakah adiknya ada didalam atau tidak.


Tempat pertama yang dituju oleh Agung adalah kamar Mey sendiri. Karena Agung yakin jika sang adik sudah berada didalam kamarnya.


Benar saja saat pintu kamar Mey dibuka, terlihat gadis itu tengah berada diatas tempat tidurnya.


Sama-sama terkejut, keduanya terpaku untuk beberapa saat. Agung melihat miris keadaan sang adik yang hanya mengenakan pakaian seperti kurang bahan. Bahkan Agung juga tidak bisa mengenali bahwa dia benar-benar adiknya.


"Mey," sapa Agung.


Meisha menelan kasar salivanya. Bola matanya hampir keluar saat melihat sang kakak sudah berada masuk kedalam kamarnya bersama dengan sang istri.


"Mas Agung kenapa ada disini?" ketusnya dengan penuh keterkejutan.


"Mey, sampai kapan kamu akan seperti ini? Apakah kamu memang sudah tidak menganggapku sebagai keluargamu lagi?"


Mey yang masih kesal dengan Agung sengaja mengabaikannya dan memilih membungkus tubuhnya dalam balutan selimut. Saat Agung hendak mendekat, Nuri mencegah dan memberi isyarat agar Agung keluar.


"Biar aku bicara sebentar dengannya, Mas," bisik Nuri.


Agung mengangguk pelan. Dia menyerahkan semuanya kepada sang istri, berharap setelah ini kesalahpahaman akan segera berakhir.


Nuri melangkah pelan menuju ranjang lalu membelai rambut Mey dengan pelan. Dulu hubungan Mey dan Nuri sangat dekat sebelum kedua orang tuanya meninggal. Namun, setelah kedua orang tuanya meninggal, Mey memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya di luar negeri.


"Mey ...," ucap Nuri dengan lembut.


"Kapan kamu pulang? Mengapa kamu tidak langsung menemui kami. Kami disini sangat merindukanmu. Terutama mas Agung, Mey," lanjut Nuri lagi.


Meskipun percuma berbicara dengan orang yang sedang kesal, tetapi Nuri tetap bersabar. Jangankan menjinakkan Mey yang keras kepala, menjinakkan suaminya yang lebih keras dari Mey saja dia bisa.

__ADS_1


"Semua yang sudah terjadi adalah takdir dari Allah. Lalu apakah kita hamba-Nya bisa mengelak dari takdir? Tidak, Mey! Semua yang Allah ciptakan akan kembali kepada-Nya, tak terkecuali dengan mama dan papa. Allah sudah menggariskan takdir mereka, Mey."


"Tapi jika bukan karena ulah Mas Agung, papa enggak akan terkena serangan jantung dan mama juga sakit kan, Kak? Semua itu gara-gara Mas Agung!" Isak dari bawah selimut mulai terdengar.


Nuri kembali mengelus pelan rambut Mey. "Semua sudah takdir, Mey. Sekarang kamu sudah dewasa, bahwa mungkin sebentar lagi juga akan menikah. Sama dengan Riyan dan Rayan yang saat sudah menikah. Apakah kamu masih ingin seperti ini? Untuk masalah perusahaan, bukan mas Agung tidak ingin memberikan kepadamu, tapi apakah kamu yakin bisa mengemban perusahaan dengan baik? Jika kamu sudah yakin dan siap, mas Agung bisa saja memberikan perusahaan itu saat kamu minta. Tapi dengan catatan kamu sudah siap," terang Nuri lagi.


Tubuh yang awalnya ditutupi selimut tebal perlahan memunculkan wajahnya saat mendengar penjelasan dari kakak iparnya.


"Mbak ... apakah Mey sudah sangat keterlaluan?"


Nuri segera memeluk tubuh Mey yang telah duduk diatas tempat tidurnya. Menyalurkan rasa rindu yang teramat dalam karena selama 5 tahun tanpa kabar.


"Maafkan mas Agung ya. Bukan maksud hati ingin serakah, tapi mas Agung hanya ingin menjaga sampai kamu benar-benar siap. Kamu mau kan memaafkan mas Agung?"


Mey mengangguk pelan. Bujukan Nuri mampu membuka pintu hatinya yang selama ini membeku. Bahkan Mey mencoba ikhlas atas kepergian kedua orang tuanya, berharap di kemudian hari Mey bisa menunjukkan kepada kakaknya jika dia bisa mengelola perusahaan dengan baik.


**


Mobil Briyan melaju sangat kencang tanpa arah. Ingin menyusul Nara ke Jerman, tetapi dia tidak tahu Nara berada disebelah mana. Jerman itu luas. Tidak akan mungkin bisa menemukan Nara dengan mudah.


"Lihat saja, aku akan memberikan pelajaran kepada kalian yang telah menghancurkan masa depan kami."


Mata Briyan menatap tajam ke depan. Pikirannya satu, yaitu menemui Alqan dan menghajarnya lagi.


"Laki-laki bajinngan! Lihat aku akan mematahkan tangan dan kakimu!"


Karena Briyan sudah mencari tahu dimana Alqan berada, dirinya pun segera menuju tempat persinggahan Alqan.


Sesampainya di depan sebuah gedung besar, Briyan langsung masuk kedalamnya setelah menunjukkan sebuah kartu kepada penjaga.


Kartu yang dia dapat dari salah satu temannya yang menjadi member eksklusif di tempat itu.

__ADS_1


Menurut sebuah informasi yang Briyan dapatkan, saat ini Alqan sedang berada di tempat itu bersama dengan wanitanya.


Tepat di depan kamar 303 Briyan berdiri sambil memasukkan card look untuk membuka pintu tersebut.


Braakkk


Pintu dibuka dengan kasar. Pemandangan tanpa sensor, dimana Alqan sedang dinaiki oleh sosok perempuan yang dengan lihai menggoyangkan tubuhnya naik turun.


Karena merasa sangat terkejut, wanita tanpa busana itu langsung menjatuhkan dirinya kesamping kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Alqan yang melihat Briyan sudah berada diambang pintu merasa sangat geram. Berani sekali dia mengganggu puncak kenikmatannya. Dengan gigi yang menggeretak, Alqan segera memakai celananya. Namun, sayangnya dengan cepat Briyan telah menghampiri Alqan dan menerkamnya tanpa ampun.


Wanita yang berada di samping Alqan tidak berani berkutik. Dia hanya bisa melihat tubuh Alqan dihajar dengan membabi buta.


"Ini belum seberapa dengan apa yang sudah kamu lakukan kepadaku dan juga Nara! Bahkan aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan damai sebelum kamu bersujud di kaki Nara! Dasar laki-laki sampah! Aku sudah merelakan Zulfa untuk bersama denganmu, tapi yang kamu lakukan? Kamu mencampakkan dia setelah kamu bosan dengannya! Dasar bajinngan!"


Tubuh Alqan yang sudah tergeletak di lantai dengan wajah yang babak belur hanya bisa pasrah dengan keadaan. Bukan tidak bisa untuk menepis pukulan yang membabi buta, tetapi Alqan belum siap untuk bertarung. Nyawanya baru saja dibawa terbang melayang oleh kenikmatan dan tiba-tiba Briyan melayangkan pukulan secara terus-menerus membuat dirinya tidak bisa melawan.


"Cih ... kamu juga! Sebagai perempuan tidak bisa menjaga harga diri dan kehormatan sebagai perempuan. Ingat apa yang kamu lakukan akan kamu pertanggung jawabkan kelak di kemudian hari!" sinis Briyan pada perempuan yang ada di samping Alqan.


"Dan untuk kamu Alqan. Aku sudah mengetahui semuanya dan aku tidak akan tinggal diam atas apa yang telah kamu perbuatan. Kamu harus bertanggung jawab!"


Setelah puas menghajar Alqan dan mengganggu kenikmatan surga dunianya, tanpa rasa bersalah Briyan segera membanting pintu meninggalkan kamar tersebut.


Meskipun rasanya belum puas untuk menghajar Alqan, tetapi Briyan harus mengontrol dirinya. Jangan sampai Alqan mati sebuah bersujud di kaki Nara.


"Tinggal mencari keberadaan Yoshi. Aku tidak tahu dia ada di kamar nomer berapa."


Briyan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang dan untuk menanyakan keberadaan Yoshi. Tangannya sudah tidak sabar untuk menghajar Yoshi sepuasnya.


"Ternyata kelemahan pria hidung belang itu ada pada jalangnya," ucap Briyan setelah mendapatkan informasi lebih lanjut.

__ADS_1


...~~~...


...TBC...


__ADS_2