
Sayup-sayup suara Adzan menggema di telinga dan membangunkan pasangan suami-istri yang baru saja tertidur beberapa jam yang lalu karena ada sebuah pekerjaan malam yang tak bisa terlewatkan.
Bukannya langsung bangun, Brayan malah mengeratkan pelukannya kepada sang istri dan enggan untuk ditinggal pergi.
"Sya, bentar lagi. Aku masih ngantuk berat."
"Mas, ini udah subuh. Dosa lho kalau meninggalkan sholat subuh."
"Siap juga yang mau meninggalkan sholat subuh? Aku hanya ingin kamu disini sebentar aja."
Meskipun dengan mata yang masih memejam, tetapi mulut Rayan tak hentinya mengoceh.
"Kamu mau kita terlambat?"
"Tidak. Tenang saja, aku hanya ingin memelukmu sebentar saja."
Fisya yang sudah terbiasa kebiasaan Brayan saat hendak bangun subuh hanya bisa menghela napasnya pelan.
Menghadapi Brayan kadang harus penuh dengan kesabaran. Kadang Brayan akan terlihat lebih dewasa, tapi kadang juga akan terlihat layaknya seorang bocah.
"Kalau sampai telat, kamu harus tanggung jawab, ya!" ancam Fisya.
"Tenang aja, kita tidak akan terlambat. Tapi, ngomong-ngomong kenapa ada yang berbeda ya?"
Fisya segera menepiskan tangan Rayan yang sudah meraba salah satu aset berharga miliknya.
"Tangan enggak sopan!"
"Ya ampun, Sya. Gitu aja marah. Kalau aku gak boleh pegang, lalu siapa yang boleh pegang? Alqan?"
__ADS_1
"Kok malah bawa-bawa Mas Alqan, sih? Aku hanya merasa risih saat tanganmu terus meraba."
"Tapi aku suamimu Sya. Jadi istri itu harus nurut sama suami. Dosa lho, kalau enggak nurut sama suami!"
Berdebat dengan Brayan tidak akan pernah ada habisnya. Lebih baik mengalah dari pada Brayan terus mengoceh. Fisya pun pada akhirnya membiarkan saja tangan Brayan bergerilya di depan dadanya. Semakin lama dibiarkan Brayan malah minta lebih. Namun, karena sudah masuk waktu subuh, Fisya tidak ingin terbuai. Dengan cepat, Fisya memilih bangkit.
"Sya ... kok malah pergi sih?"
"Mas, ini udah subuh! Jangan jadi setan deh! Udah ayo bangun!"
Dengan terpaksa dan rasa kecewa, Brayan pun beranjak dari tempat tidurnya untuk mengikuti langkah Fisya ke kamar mandi.
***
"Mas Ray, kamu harus pulang cepat karena acara fashion show akan diadakan jam 2 siang. Pokoknya kamu harus datang!" pinta Fisya sebelum Brayan melajukan lagi kendaraannya.
"Iya ... iya. Aku akan berusaha untuk pulang cepat demi istriku tercinta."
Bukannya beranjak pergi, tetapi Brayan malah membuka helmnya "Cium dulu!"
"Apaan sih? Udah sana! Malu tau!"
"Aku gak akan pergi kalau gak dicium."
Fisya hanya bisa mendesah pelan dengan kelakuan suaminya. Satu kecupan mendarat singkat di pipi Brayan. Sebelum Rayan mengelunjak, Fisya segera berlari kedalam butik untuk menghindari suaminya yang pasti akan meminta lebih.
Brayan yang melihat kelakuan istrinya hanya tersenyum kecil sambil memegangi pipinya yang baru saja mendapatkan ciuman. "Dasar Fisya," gumamnya sambil memasang kembali helmnya.
Dalam perjalanan menuju pondok, Brayan baru teringat jika dia belum menfoto-copy tugas untuk muridnya. Akhirnya Brayan putar balik untuk mencari tempat foto-copy.
Baru saja membuka helm, Rayan melihat sebuah mobil berhenti mepet di dekatnya. Kedua alisnya pun menaut seraya merasa penasaran dengan siapa yang mengendarai mobil itu.
__ADS_1
"Oh, maaf. Aku tidak tahu jika ada yang parkir disini," ucap sang pengendara mobil saat keluar dari dalam mobilnya.
Wajah Brayan enggan untuk melihat siapa pria itu, karena Brayan sudah yakin jika itu sebuah kesengajaan.
"Hei, tunggu jangan marah!" teriaknya lagi saat Brayan sama sekali tidak mempedulikannya.
"Sial! Begitu saja belagu!" umpat pria yang tak lain adalah Alqan.
Karena merasa belum puas, akhirnya Alqan memilih untuk mengikuti Brayan masuk kedalam.
"Aku tidak menyangka jika menantunya pak Yusuf sombong seperti dirimu. Apa jadinya jika beliau tau sifat asli menantunya," cibir Alqan saat diabaikan oleh Brayan.
"Lebih baik sombong daripada ketahuan selingkuh. Terlebih langsung ditolak mentah-mentah menjadi menantunya, sungguh sangat memalukan."
Rahang Alqan mulai mengeras. Dia tidak terima dengan ucapan Brayan. Baginya Brayan tidak sebanding dengan dirinya.
"Aku tidak yakin jika Fisya bisa bahagia hidup bersama denganmu. Seorang tenaga pengajar dengan gaji tidak seberapa dan lihatlah ... bahkan kemana-mana Fisya harus naik motor. Sungguh malang sekali nasib Fisya," ejek Alqan sinis.
Brayan hanya menghela kasar napasnya. Ucapan Briyan saat itu benar adanya. Memang nama Alqan tidak sesuai dengan kepribadian pria yang saat ini mencoba untuk memancing keributan dengannya.
"Ada lagi yang ingin kamu sampaikan? Jika tidak ada, minggirlah!"
"Cih, belagu!" Lagi-lagi Alqan mencibir.
Siapa yang tidak akan terpancing jika lawan terus saja memberi umpan. Namun, Brayan masih bisa berpikir dengan sehat. Tidak ada gunanya untuk berdebat dengan orang yang sedang frustrasi. Lebih baik pergi daripada ikut menanggapi orang frustasi.
Kepergian Brayan membuat Alqan langsung mengepalkan telapak tangannya.
"Lihat saja, sampai mana kamu bisa menyombongkan diri!"
...~BERSAMBUNG~...
__ADS_1