Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Dia bukan Janda


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Karang bunga bertuliskan '' selamat dan sukses '' berbaris rapi didepan sebuah bangunan berlantai dua .


Grand opening diadakan malam ini.


Karena itu, sejak pagi banyak orang sibuk keluar masuk ke dalam tempat yang sudah mulai besok resmi dibuka sebagai cafe.


'' selamat, bro atas cabang barunya '' seorang pria menepuk pundakku. Kuputar leherku kebelakang.


Senyum ku merekah, mendapati si ganteng dengan stelan necis melebarkan senyum terbaiknya , membuat pesona rupawannya kian terpancar.


'' thank's '' singkatku sembari mengulurkan tangan.


Kamipun berjabat tangan.


Namanya Aldi, teman seperjuangan ku saat masih merantau di negri yang terkenal kaya akan minyak bumi.


Oh, ya. Sebelumnya perkenalkan dulu namaku Eldric.


Dulu saat lulus SMA, aku dan Aldi adalah sahabat karib.


Kami tergolong remaja yang adem , tak banyak berulah , meski juga tak mempunyai prestasi apa-apa.


Tapi kami memiliki harapan dan cita-cita yang sama.


Kami ingin menjadi pengusaha sukses agar dapat mengangkat derajat keluarga dan juga untuk masa depan kami sendiri.


Hanya saja cita-cita itu sulit tercapai karena kami berasal dari keluarga yang kurang mampu.


Saat itu, Aku dan Aldi sepakat . Begitu lulus SMA nanti , kami akan pergi ke luar negeri untuk bekerja demi mencari modal dan juga pengalaman kerja.


Dan Dubai adalah tujuan kami.


Selama enam bulan kami mengikuti kursus bahasa Inggris sembari kerja serabutan dan juga mengurus surat menyurat yang diperlukan.


Singkatnya kami pun berhasil menginjakkan kaki di negara konglomerat itu.


Selama lima tahun, kami memanfaatkan setiap waktu dan tenaga muda kami dengan melakoni beberapa pekerjaan agar bisa mengumpulkan lebih banyak dirham.


Semua usaha itu tak sia-sia.


Kami pulang dengan mengantongi banyak pengalaman kerja .


Dan yang paling utama adalah,kami berhasil mengumpulkan modal untuk memulai usaha.


Kami pun bersiap untuk pertempuran yang sesungguhnya.


Namun kali ini kami lakukan dengan terpisah dan berjanji akan bertemu jika sudah sukses nanti.


Selang tiga tahun kemudian, Aldi menghubungiku dan mengabarkan jika saat ini ia telah berhasil dengan usaha otomotifnya dan tengah mengembangkannya ke beberapa kota besar .


Sedangkan aku , baru saja membuka cafe perdanaku.


Walau demikian, aku merasa cukup puas karena bangunan tiga lantai yang menjadi tempat usahaku ini adalah milikku pribadi.


Jadi aku tak perlu memikirkan uang sewa dan memanfaatkan lantai teratas untuk tempat tinggal agar mempermudah mengawasi usahaku.


Usahaku pun berjalan lancar hingga akhirnya aku mampu membuka cabang berikutnya meski masih di kota yang sama.


Kusudahi cerita lalu kami, dan kita kembali ke saat ini.


'' Em.. jadi ini cabang yang keberapa ?'' tanya Aldi yang hingga kini masih betah melajang. Padahal usia kami tahun ini menginjak 34 tahun.


'' ke empat '' jawabku bangga. Meski usahaku tak sebanding dengan Aldi yang jauh lebih sukses dalam meraup keuntungan .


Aku salut dan juga kagum saat tau jika usaha yang Aldi lakoni benar-benar sukses .


Iapun kini hidup bergelimang harta.


Ia bahkan berhasil membawa kedua orang tuanya berkeliling Eropa tahun kemarin.


'' selamat, dan semoga semakin sukses '' Aldi meneguk habis wine yang sejak tadi menggantung ditangan kanannya.


Sesaat kami terlibat obrolan ringan , membahas dan mengenang hal lalu yang penuh peluh pengorbanan.

__ADS_1


Hingga kulihat perhatian Aldi tertuju ke satu titik.


'' liatin apa, sih ?'' tanyaku yang penasaran.


'' liat, de perempuan yang pake gaun biru itu ?'' ucapnya menunjuk dengan ujung bibirnya.


Seorang perempuan bergaun biru yang tengah sibuk memandori para pelayan yang keluar masuk kedalam ruangan.


Dia berdiri di mulut pintu penghubung antara lorong dapur dan ruang utama cafe.


Ditengah banyaknya para tamu yang terus berdatangan, ia terlihat begitu cekatan dengan terus mengembangkan senyuman.


Tampilannya begitu sederhana. Bukan hanya gaun yang ia kenakan saja, namun hiasan dan tatan rambutnya pun begitu simpel.


Sesuai dengan pembawaannya yang terlihat begitu ramah pada siapa saja yang datang menghampiri.


Bahkan ketika beberapa karyawan kedapatan melakukan kesalahanpun, ia masih tersenyum dan hanya mengangguk. Jangan kan memarahi atau sekedar menegur, ia terlihat sama sekali tak mau mempermasalahkannya.


Dan itu membuat Aldi tertegun. Ia tampak takjub mendapati jika masih ada sosok perempuan yang memiliki sikap demikian .


'' siapa dia ? Karyawan mu ? ''


'' dia manager disini. Lebih tepatnya orang kepercayaan ku ''


Aldi melihatku dengan senyum penuh makna.


'' mau ku kenalin ?''


Aldi tersenyum sumringah.


Pukul 11 malam acara berakhir . Satu persatu tamu undangan, kerabat, teman dan keluarga yang datang untuk memberi doa dan dukungan mulai berpulangan.


Hanya Aldi masih setia menungguku selesai mengucapkan terima kasih dan mengantar mereka semua ke pintu keluar .


'' sorry, uda buat kamu lama nunggu '' ucapku yang langsung mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengannya.


Aldi tersenyum menggeleng. '' tak masalah '' begitu maksudnya.


Ya, maklum. Dia masih bebas karena tak ada yang menunggunya dirumah selain para asisten rumah tangga.


'' masih penasaran dengan dia ? ''


Aldi mengangguk tegas. Ia sepertinya benar-benar tertarik pada perempuan yang kini sedang duduk di sudut ruangan setelah seorang karyawan membawakannya minuman dingin.


Dia pasti lelah karena sejak dimulainya acara terus berdiri dan tak berhenti memperhatikan sekitarnya. Memastikan acara pembukaan tadi berjalan dengan lancar.


'' namanya Grace '' ucapku yang tanpa sadar ikut melihat ke arah perempuan yang sedang menyeruput minumannya.


Grace begitu ia kupanggil . Seorang perempuan bersahaja yang murah hati dan juga selalu tersenyum pada setiap situasi.


'' mamaaaaaa... '' seorang anak laki-laki berteriak kencang dan berlari ke arah Grace.


Grace yang tadinya terlihat lelah seketika berdiri dan bersiap menyambut bocah laki-laki yang langsung naik ke gendongannya.


Grace tersenyum begitu lebar. Ia tampak begitu senang akan kedatangan bocah laki-laki itu dengan menghujani ciuman bertubi-tubi dikedua pipi gembulnya.


'' mama ?'' Aldi menatapku penuh hanya.


Tampaknya ia kecewa. Begitu yang kutangkap dari sorot mata yang ia tunjukkan.


'' anaknya ?'' tanyanya lagi.


Ku pikir dulu sejenak. Harus ku mulai dari mana menceritakannya.


'' bisa - bisanya kamu mau ngenalin aku ke perempuan yang sudah menikah . Udah punya anak lagi '' Aldi berdecak kesal. Kali ini ia memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


'' hei, hei, jangan asal nebak dulu. Dia belum nikah kok ''


'' maksudmu ? Jangan bilang dia janda ?


Ah, kacau kamu ! ! ! '' Aldi bertambah kesal.


'' dia juga bukan janda '' ucapku sambil menggeleng.


'' trus ? ''


Aku tertawa kecil.

__ADS_1


'' ah, gak jelas emang anak ini '' telunjuknya mengarah padaku.


Kembali ku lanjutkan tawa kecilku sembari menggeleng. Wajar saja jika ia pilih - pilih soal perempuan. Karena usia yang bukan lagi saatnya untuk coba-coba.


Apalagi ia pernah bercerita tentang orang tuanya yang selalu mendesaknya agar segera menikah.


'' kamu dengar gak aku bilang dia belum menikah ?''


Aldi mengerutkan dahinya heran.


'' belum menikah ? Bukan juga janda ? Tapi sudah punya anak ?....


Sampai hati kamu mau kenalin aku ke perempuan kaya gitu.


Aku emang pengen nikah, tapi aku juga punya standar ku sendiri '' Aldi sudah hendak beranjak saking kesal dan kecewanya.


Ya, itu respon yang wajar. Hanya saja ia belum tau fakta lengkap dan cerita sebenarnya tentang Grace.


'' itu juga bukan anaknya '' ucapku membuatnya tak jadi pergi.


Aldi menatapku intens, seakan menagih penjelasan dariku.


Membuatku semakin yakin jika dia telah terpikat pada Grace.


'' papa.. '' suara yang langsung membuat kami berdua menoleh ke asalnya.


'' jagoannya papa '' kusambut bocah kesayanganku itu dan langsung kududukan dipangkuanku.


Aldi terlihat semakin heran. Ia pasti penasaran.


Bagaimana mungkin anak yang tadinya memanggil Grace dengan sebutan mama, kini memanggilku papa.


Feeling ku dia pasti mulai menerka-nerka ada apa sebenarnya.


'' Hai, kak '' sapa Grace yang menghampiri kami.


Perempuan berparas sederhana layaknya tampilannya itu tersenyum menyapaku dan juga Aldi .


Senyuman yang mencerminkan kepribadian pemiliknya yang sangat ramah dan juga sopan.


Grace berhenti melangkah dan berdiri tiga langkah disisi dudukku.


'' Grace kenalin ini Aldi teman seperjuangan ku dari SMA '' ucapku membuat mereka mengulurkan tangan lalu menyebutkan nama masing-masing.


'' Edo sama mama dulu, ya.. papa mau ngobrol sebentar sama om Aldi .


Habis tu baru kita pulang '' ucapku pada Edo. Buah hati semata wayangku.


Edo menurut. Ia turun dari pangkuan ku setelah memberi salam dan pamit pada Aldi.


Bangga menyelimuti hatiku melihat sikap anakku barusan. Dan itu semua berkat didikan Grace .


'' kok kamu gak pernah cerita soal Grace ? ''


Aku mengangguk mengiyakan.


Selama lima tahun terakhir, aku dan Aldi memang jarang berkomunikasi .


Aldi saat itu tengah memperdalam ilmu otomotifnya dengan mengunjungi beberapa negara yang menjadi pusat modifikasi dunia.


Amerika, Jerman, Jepang, dan beberapa negara lainnnya dimana bengkel-bengkel otomotif kelas dunia ada di sana menjadi tempat tujuannya untuk mempelajari hal tersebut.


Sejak masih di bangku SMA, Aldi memang sudah tertarik pada dunia otomotif. Bahkan saat bekerja di Dubai pun ia memilih menjadi seorang montir disalah satu showroom yang para pelanggannya adalah pemilik mobil mewah.


'' sory, Al. Aku gak bermaksud merahasiakannya dari mu. Tapi waktunya aja belum pas buat aku ceritaiin apa yang sudah terjadi di kehidupanku kemarin '' ucapku lirih.


Aku sebenarnya tak mau mengingatnya lagi. Tapi untuk Aldi, aku harus buat pengecualian. Dan kuharap ini bisa jadi sesuatu yang berakhir baik untuk kami semua.


Ya, aku harap Aldi akan menjadi jawaban atas doa-doaku selama ini.


Semoga saja kedatangannya ini memang ditakdirkan untuk memberi jalan keluar bagiku, demi kebaikan Edo, dan terutama untuk Grace. Adik iparku.


bersumbang - -


hayo, di-like ya


di komen juga sekalian 🤗

__ADS_1


__ADS_2