
🌺 hem...🌺
* * *
Tak terasa. Sudah lima tahun ,Harsa dan Kira membina rumah tangga dan dikaruniai seorang anak perempuan berusia 3 tahun .Lala namanya.
Sejak awal menikah, pasangan suami istri yang kini sama-sama berusia 30 tahun itu tinggal bersama kedua orang tua Harsa.
Seperti kebanyakan kasus yang sering terjadi jika menantu perempuan seatap dengan mertuanya , Kira pun mengalaminya juga .
Kira selalu mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari mertuanya. Terutama dari sang ibu mertua.
Hampir semua hal yang ia lakukan tak luput dari perhatian dan selalu saja dikritik oleh ibu suaminya.
Namun tak pernah sekalipun Kira membantah apalagi menunjukkan sikap tak terima.
Ia selalu diam dan berusaha bersabar .
Tapi sabar juga ada batasannya.Kira sudah tak bisa menahannya lagi dan memutuskan untuk mengajak sang suami pisah rumah.
Tak apa di kontrakan kecil atau bahkan harus ngekos sekalipun. Asalkan mereka memiliki kehidupan privasi sendiri. Begitu pinta Kira saat mengutarakan keinginannya .
Sayang, Harsa tak begitu menanggapinya dan hanya mengangguk tanpa memberi kepastian.
Kira tak lantas berputus asa.
Setiap hari, ia selalu mengatakan hal yang sama . Dan terus menerus mengulangnya tanpa kenal lelah ataupun merasa bosan.
'' mas, jadi kapan kita pindah rumah ? ''
Dan Harsa tetap bergeming .
Hingga akhirnya kesabaran Kira telah terkikis habis.
Hari itu, seluruh anggota keluarga tengah berkumpul. Mereka sedang membicarakan tentang Rianti ,adik perempuan Harsa satu-satunya yang rencananya akan di lamar sang kekasih.
Di saat ada jeda waktu, Kira pun langsung mengatakan di hadapan seluruh anggota keluarga, jika ia ,Harsa dan Lala akan pindah dari rumah .
Sontak mereka semua pun terkejut.
'' terus kalau kalian pindah, siapa yang bayar cicilan rumah dan bank ? '' sang ibu mertua nampak mulai meradang.
Kira menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
" tenang, Kiraaaaa... " bisik Kira pada dirinya sendiri . Ia sebenarnya sudah menduga akan seperti apa reaksi dan menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang sudah ia perkiraan ini.
'' bu, gaji mas Harsa kan 10 juta. Jadi, kita bagi dua aja. 5 juta di ibu, 5 juta untuk kami. Adilkan ? ''
Kira mengukir senyum. Ia harap jawabannya cukup memuaskan dan bisa diterima.
Jujur ia sebenarnya tak begitu rela membagi gaji sang suami.
Namun apa daya, ia tak sampai hati meminta sang suami untuk lepas tangan terhadap orang tuanya .
Pun setiap bulan ada uang pensiun dari ayah mertua nya yang merupakan mantan PNS.
'' 5 juta kamu kira cukup ? Cicilan rumah dan bank aja sudah 3 juta !
Satu juta untuk bayar air, token listrik, wifi, iruran kebersihan, Rt.
Sisa 1 juta !!!
Mau makan apa ibu sama bapak dengan uang segitu ?! '' nada suara ibu mertuanya meninggi sebab ia mulai meradang.
Senyum Kira surut, berganti dengan mengulum bibirnya. Ia lirik suami yang duduk di sampingnya.
Harsa menggeleng samar. Sebuah isyarat agar ia tak melanjutkannya.
Kira kecewa. Tangannya mengepal.
Jangankan mendapat dukungan.Sang suami justru tak mau mendukungnya.
Tapi Kira tak mau menurut. Sebab ia sudah terlanjur dan bertekad untuk memperjuangkan keinginannya ini.
'' kan bapak masih ada gaji pensiun, bu ''
' deg ' ibu mertuanya tersentak dengan wajah pias.
__ADS_1
'' Har, sebenarnya ada apa sih ?
Kenapa kalian tiba-tiba mau pisah rumah ? '' bertanya pada Harsa yang duduk di samping Kira.
Harsa melinik sekilas sang istri yang menatapnya dengan sorot mata memelas.
'' em. . .sebenarnya Har- Harsa - '' belum sempat Harsa menyelesaikan ucapannya ibunya dengan cepat memotong.
'' tuh, suamimu aja gak mau. Jadi kenapa kamu bisa mutusin ini sendiri ? '' melemparkan tatapan sinis pada menantu perempuannya.
Kira tertunduk saat merasa air matanya sudah ingin merebak.
Harsa yang melihat itupun bermaksud untuk meraih jemari istrinya , namun Kira menolak .
'' ooo...ibu tau. Kamu pasti mau menguasai uang bonus suaminya kan ? ''
'' ... '' Kira menegakkan kepala dan melotot tak percaya .
Setahun sekali, Harsa yang merupakan karyawan sebuah perusahaan sawit akan menerima bonus.
Yang kisarannya dua tau tiga kali lipat dari gaji bulanannya.
Memang rencananya, Kira akan menggunakan uang tersebut untuk membayar sewa rumah dan membeli perabot untuk mereka memulai hidup mandiri nanti.
Bukankah ia berhak demikian sebab Harsa adalah suaminya. Yang itu berarti Harsa berkewajiban memberinya nafkah lahir dan batin padanya ?
Namun yang selama ini Kira terima adalah jatah tak seberapa dari sang mertua. Semua gaji termaksud bonus dan THR , ibu mertuanyalah yang memegang dan mengatur semuanya.
Sedangkan Kira di beri bagian seperti bocah yang di beri uang jajan . Hanya secukupnya saja.
'' asal kamu tau ,Kira !
Uang itu akan digunakan untuk persiapan lamaran Rianti nanti !"
Kira berdiri dari duduknya.
Ia tatap mertuanya dengan tajam.
" bu. Dulu saya tidak masalah jika uang mas Harsa digunakan juga untuk biaya kuliah Rianti.
Tapi sekarang ida gak bisa seperti itu lagi.
Uda seharusnya dia bertanggung jawab atas kebutuhannya sendiri.
Jadi, untuk acara lamaran dia kenapa harus bonus mas Harsa di pake semua ?
Memang saya gak berhak minta atau menggunakan uang suami saya sendiri ? ! "
Ibu mertuanya berdiri. Wajahnya merah padam. Ia balas tatapan Kira dengan tak kalah tajam.
Dan ' plak ' telapak tangannya mendarat di pipi kanan Kira.
Semua yang menyaksikan tersentak. Namun tak satupun ada yang berkutik apalagi mau berdiri dan menengahi .
Kira meraba bekas tamparan tadi. Perih. Namun lebih perih lagi yang hatinya.
Harga dirinya terasa seperti dikoyak - koyak.
Ia diperlakukan kasar dan hanya disaksikan dengan diam oleh ayah mertua, adik ipar dan yang paling ia tak habis pikir adalah sang suami.
Bagaimana mungkin Harsa tetap tak mau membelanya.
" dasar menantu kurang ajar ! "
Kira menghapus air matanya.
Ia tundukan pandangan pada Harsa.
Lagi-lagi pria itu menggeleng .
Kira tersenyum miris.
Air matanya kembali menetes.
Hatinya sakit. Benar - benar sakit.
Ia beranjak tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
Kira masuk ke kamarnya dan berdiam diri hingga malam.
Kira bahkan melewatkan makan malam meski berkali-kali Harsa membujuknya untuk keluar.
Kira semakin bertambah sedih. Jangankan menghibur, sang suami bahkan memintanya memaklumi sikap sang ibu dan melupakan kejadian tadi .
" baik kalau itu mau mas. Aku akan lupakan semuanya " ucap Kira yang sampai ke esokan harinya tak kunjung keluar kamar.
* * *
Hari berganti.Seminggu sejak hari itu.
Suasana rumah masih tak nyaman.
Kira dan ibu mertuanya masih tak berteguran dan saling menghindari kontak mata.
Hal tersebut membuat Harsa, sang ayah dan Rianti jadi serba salah.
Mereka bingung memikirkan bagaimana cara menengahi mereka.
" sayang, uda dong marahnya.
Gak baik dilihat orang kalau kamu sama ibu terus-terusan kaya gini "
Kira bergeming.
Bukan hanya mengacuhkan ibu mertuanya saja. Hal sama juga ia lakukan pada sang suami .
" ngalah, ya sayang ?
Minta maaf sama ibu.
Mas janji habis lamaran Rianti, mas akan bicara pelan - pelan sama ibu . Habis itu kita pisah rumah seperti yang kamu mau. Em ? " bujuk Harsa.
Kira tetap tak mau membuka mulutnya.
Namun air mata terlihat menetes dan mengalir di kedua pipinya.
" sayang, plis . Jangan kaya gini.
Jangan nangis lagi.
Mas harus gimana coba supaya kamu bisa kembali kaya dulu "
Jeda sejenak. Kira menenangkan diri dan mencoba mengatur nafasnya agar tenang. Lalu ia tatap Harsa.
" aku mau pulang ke rumah orang tuaku "
' deg ' Harsa terhenyak.
Malam itu, untuk pertama kalinya pasangan suami istri itu cek-cok dengan saling lempar pendapat.
Kira dengan keinginannya yang kekeh ingin pisah rumah dari mertua . Jika tidak. Ia mengancam akan pulang ke rumah orang tuanya.
Harsa jelas menolak mengabulkan permintaan sang istri yang terkesan seperti akan minggat.
Harsa yang sudah di kuasai kesal, sama sekali tak mau mendengarkan alasan dan mempertimbangkan bagaimana perasaan Kira.
" pokoknya enggak !
Kalau kamu masih bersikap kaya gini terus , maka seterusnya juga kita tetap tinggal disini !
Dan mas gak akan kasi kamu uang supaya kamu gak bisa kemana-mana ! "
Kira mengangguk.
Mengangguk bukan berarti ia pasrah ataupun akan menurut.
Ia mengangguk sebab ia sadar, tak ada alasan lagi untuk tinggal lebih lama di rumah ini.
Dan jika sang suami tak mau, maka ia hanya perlu pergi membawa anaknya saja bukan ?
* * *
Bersumbang - -.
Jangan lupa like-nya ya
__ADS_1
Komen dan kritiknya juga sekalian.
Makasih 🤗