Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Memilih dicintai


__ADS_3

🌺 hem.... 🌺


* * *


" Ren, kiriman dari Ara belum kamu buka ?''


Zean menunjuk dengan ekor matanya pada kotak berukuran 18 x 18 yang ada di atas meja rekan kerjanya.


Rendi yang baru saja pulang setelah satu bulan tugas dari luar kota hanya menatap lalu pemberian sang pacar. Padahal itu diberikan sebelum ia pergi.


Zean menepuk pundak Rendi yang tengah menunggu air berwarna hitam memenuhi gelas dari mesin pembuat kopi otomatis.


Gelas sudah terisi penuh . Ia lalu berjalan bersama rekan sekantornya itu menuju meja bulat yang biasa digunakan para karyawan untuk duduk sekedar rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan.


Dua pria sepantaran itu duduk .


'' kok kamu bisa sih, selama satu bulan saling diam-diaman kaya gini ?''


'' paling nanti dia capek sendiri '' ucap Rendi penuh percaya diri.


Karena memang seperti itulah hubungan yang ia jalin sejak masih mengeyam pendidikan di kampus.


Zean menatap Rendi yang dikenal sebagai sosok ambisius .


Padahal mereka masuk berbarengan sebagai anak magang. Namun Rendi yang gigih berhasil mengunggulinya dan kini sudah naik hingga dipercaya menjadi asisten mager dibagian pemasaran.


'' ku dengar kamu ngajuin resign , ya ?'' Rendi menegakkan duduk , melihat kedua tangan Zean yang ada diatas meja.


Dilihatnya ujung jempol dan telunjuk kanan sedang memainkan cincin yang melingkar di jemari manis kiri Zean.


Ia merasa sedikit heran. Sebelumnya ia tak melihat ada cincin di jemari itu.


'' iya , aku sama istriku mau pindah ke kota tempat tinggal orang tuaku. Mau coba peruntungan disana '' menjawab dengan raut wajah berseri .


'' istri ? kamu uda nikah ? Kok, gak ngabarin ?'' terkejut dengan kedua bola mata seakan ingin meloncat keluar.


Ia tak percaya, karena setahunya pria yang sudah menjadi teman akrab dikantornya itu tak memiliki kekasih.


Zean tersenyum, mengangguk seraya mengiyakan.


'' wah, selamat ya bro. Semoga sakinah mawadah warohmah ''


Lalu keduanya serempak mengucapkan ' amin '.


* * *


Jam pulang kantor tiba.


Rendi sempat mengajak Zean ke salah satu cafe untuk bersantai sebagai salam perpisahan sebelum Zean benar-benar berhenti kerja.


Namun pria berambut cepak itu menolak halus dengan alasan sudah ditunggu sang istri di rumah.


Rendi pun tak bisa memaksa.


Ia masuk kedalam mobil yang baru sebulan lalu ia beli dan mulai menjalankannya , membelah padatnya jalan utama kota.


Tepat di perempat lampu lalu lintas, ia terjebak macet yang sepertinya akan menyita banyak waktunya.


Rendi lalu teringat Ara.


Bukan. Ia memang selalu teringat Ara.


Satu-satunya perempuan yang pernah singgah dan kini menetap dihatinya.


Hanya saja ia terlalu gengsi untuk mengatakannya, meski mereka sudah hampir empat tahun bersama.


* * *


Flashback tiga tahun lalu.


Saat itu Ara adalah mahasiswi baru yang sedang dalam masa ospek. Sedangkan Rendi adalah mahasiswa tingkat akhir.


Mereka tak saling kenal ataupun pernah bertemu sama sekali.


Semua berawal saat Ara tengah menjalani hukuman dari seniornya karena ia terlambat datang.


Ara disuruh membersihkan toilet pria .


Meski sudah diatur agar toilet dalam keadaan kosong, namun secara tak sengaja Rendi memasuki ruang tandas itu dan mendapati sosok gadis bertubuh mungil sedang sesenggukan sambil menyikat lantai.


Rendi yang dikenal sebagai pria acuh hanya menatapnya sesaat lalu segera berbalik tak perduli.


Sejak saat itu, kebetulan demi kebetulan mempertemukan mereka.


Dan Aralah yang lebih dulu menyadari perasaannya.


Entah sejak kapan ia tertarik pada Rendi.


Ia pun mulai mencari kesempatan dan alasan agar bisa mendekati Rendi.


Tak perduli jika ia harus jadi bahan gunjingan sekalipun, karena Rendi selalu menolaknya.


Dan perlahan Rendi yang pada dasarnya suka menyendiri itupun menyerah.


Ia biarkan saja Ara mendekatinya .


Tanpa ia sadari, ia pun mulai dihampiri rasa yang sana.


Dimulai entah sejak kapan ,hingga disisa akhir semesternya Rendi tak pernah lagi terlihat sendiri.


Selalu ada Ara si manis yang selalu ada di setiap langkah dan menemani kesehariannya di kampus.


Meski tak begitu mendapat tanggapan dari Rendi, namun cinta Ara yang begitu besar dan tulus mampu menerima semua perlakuan Rendi yang selalu mengacuhkannya.


Hubungan ambigu itu berjalan hingga Rendi selesai dengan pendidikannya.


Usai diwisuda, Rendi yang merupakan anak perantauan mencoba peruntungan dengan melamar disalah satu perusahaan ternama.


Rendi memiliki satu tujuan. Yaitu sukses dan tak akan pulang ke kampung halamannya jika belum berhasil. Begitu tekatnya.


Rendi berhasil diterima sebagai karyawan kontrak. Tahun pertama ia jalani dengan penuh perjuangan .


Ia sering dicaci-maki oleh atasan dan disuruh melakukan banyak pekerjaan oleh seniornya.


Ditengah semua kemelut pekerjaan dan juga himpitan ekonomi, ia bersyukur karena Ara selalu ada dan tetap setia menemaninya.


Gadis itu tanpa kenal lelah selalu menyambangi kosan sederhananya hanya untuk bertemu dan tak jarang membawakannya makanan.

__ADS_1


Ara seolah tau bagaimana keadaannya yang harus berhemat. Karena gaji yang Rendi peroleh bukan hanya untuk kebutuhan hidupnya saja, namun sebagian ia kirim untuk orang tuanya dikampung.


Rendi berasal dari keluarga yang tergolong tidak mampu. Karena itu ia tak bisa mementingkan dirinya sendiri, sementara kedua orang tuanya yang sudah berusia lebih dari enam puluh tahun hidup apa adanya.


Dari yang neneknya pernah ceritakan, dulu kedua orang tuanya sangat mendambakan anak dan berjuang bertahun-tahun untuk mendapatkan keturunan


Setelah 15 tahun penantian, akhirnya anak yang didambakan hadir.


Karena itu Rendi tumbuh menjadi sangat ambisius agar dapat sukses dan membahagiakan orang tuanya.


'' sayang '' panggilan yang hanya Ara saja mengucapkannya.


Saat itu ia datang ketika hari sudah malam ditambah lagi hujan sedang turun dengan derasnya.


Rendi memarahinya habis-habisan, menunjuk, bahkan sampai mengatakan ia gadis yang bodoh.


Bukannya marah, Ara justru senang dan menganggap hal itu sebagai bentuk kekhawatiran Rendi padanya.


Cinta benar-benar sudah membutakannya.


Melihat Ara yang basah kuyup, Rendi pun menyuruhnya untuk berganti pakaian.


Diberikannya handuk, baju dan celana miliknya.


Saat keluar dari kamar mandi, Ara yang keluar dengan mengenakkan pakaiannya yang kedodoran membuat Rendi terpana.


Sebab bagian atas yang ada dibalik tubuh yang belum pernah ia sentuh itu terjiplak samar.


Malam itu, ditengah cuaca yang begitu dingin.


Rendi yang tersulut sesuatu yang panas dari dalam tubuhnya, rak dapat lagi menahan hasratnya.


Pertama kali ia mengecap bibir ranum Ara, dan berlanjut dengan merasakan nikmatnya seluruh tubuh indah pemiliknya.


Tak ada penolakan, Ara pasrah dan sepertinya juga menginginkannya.


Saat itu perasaan Rendi campur aduk. Takut, cemas, namun tak ia pungkiri ia juga senang.


Ia takut jika Ara hamil sedangkan dirinya belumlah mapan. Satu sisi ia juga cemas jika setelah ini, perasaan Ara akan berubah . Ia takut Ara berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


Dan disaat bersamaan, ia pun senang karena ini membuktikan jika ternyata ia memiliki rasa yang sama.


Hanya saja ia tak tau bagaimana cara mengungkapkannya. Ia terlalu kaku.


Setelah kejadian itu, ia menambah sesuatu dalam daftar tujuan hidupnya .


Bukan hanya ingin membahagiakan kedua orang tuanya saja. Rendi pun gencar dan lebih bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya.


Ia ingin bisa segera mapan lalu melamar Ara dan hidup bahagia bersama pujaan hatinya.


Tahun berat terlewati. Rendi kini diangkat menjadi pegawai tetap perusahaan dan ditempatkan di bagian pemasaran dimana ia bertemu Zean untuk pertama kalinya.


Berbeda dengan Zean yang sudah 3 tahun berada di bagian tersebut . Hanya dalam jangka waktu dua tahun dan Rendi berhasil meningkatkan kualitas kerjanya hingga menjadi salah satu kandidat calon asisten manager.


Rendi yang sibuk mengejar karirnya membuat intensitas pertemuannya dengan Ara semakin jarang.


Apalagi ketika ia resmi menjadi dua diantara calon yang tersisa.


Ia yang sudah tak lagi tinggal di kosan kumuh dan pindah ke rumah kontrak yang lebih layak , tak pernah sekalipun meluangkan waktu untuk berkencan apalagi mau datang berkunjung ke rumah Ara lagi.


Namun Ara masih mentolerirnya.


Tak banyak hal yang bisa mereka lakukan.


Hanya bicara seadanya, makan, dan biasanya berakhir diranjang. Sudah tak terhitung berapa kali mereka sudah melakukannya.


Mereka seakan tak perduli akan tanggapan dan mata orang yang memperhatikan dan juga mulai mencibir apa yang telah mereka lakukan.


Pernah sekali waktu, Ara meminta putus karena merasa Rendi sudah bersikap keterlaluan.


Bagaimana tidak, ia yang selalu ingat dan akan sibuk menyiapkan hari anniversary mereka, namun Rendi justru memilih lembur dan memarahinya hingga mengatakan hal seperti itu tidak lah penting untuk dipermasalahkan.


Ara sakit hati mendengar dan diperlakukan demikian.


Ia mencoba melupakan Rendi dengan memutuskan hubungan mereka.


Namun lagi-lagi ia kalah oleh cinta . Apalagi saat ia teringat jika ia sudah terlalu jauh dan banyak melakukan hal yang ia tau tidak sepantasnya untuk di lakukan.


Selang satu bulan kemudian, pria itu tetap bergeming. Rendi dengan keegoisannya yang membuat Ara memutuskan untuk mengalah .


Ara datang menghampirinya.


Ia meminta maaf dan merekapun kembali lagi merajut hubungan yang sebenarnya Ara ragu.


Entah dianggap apa ia sebenarnya oleh Rendi .


Masalah diantara mereka tak berhenti sampai disitu saja.


Kesibukan Rendi, sikap acuhnya dan ditambah lagi ia yang tak pernah memberi pernyataan apapun pada Ara membuat hubungan mereka pasang surut.


Puncaknya adalah dua bulan lalu. Ketika Rendi resmi menjabat sebagai asisten manager dan harus menerima pelatihan selama sebulan di kota X.


Beberapa hari sebelum kepergiannya, ia dan Ara sempat menghabiskan waktu dengan pergi liburan berdua dan tentu saja mereka habiskan dengan bercumbu.


Di situ Ara meminta Rendi untuk bertemu sang ayah yang merupakan orang tua satu-satunya. Ia ingin Rendi melamarnya sebelum pergi.


Ara bahkan menyarankan agar mereka melangsungkan pernikahan secara agama terlebih dahulu.


Cukup yang sederhana saja. Ara bernada memelas saat mengatakannya.


Ara tak menjelaskan apa penyebab ia terkesan begitu mendesak.


Namun, Rendi menolak dengan alasan ia belum memberitahu kedua orang tuanya tentang hubungan mereka.


Ara marah. Ia jelas kecewa dan mengatakan jika kali ini Rendi tak mengabulkan apa yang ia pinta, maka hubungan mereka akan benar-benar berakhir.


Rendi yang terlalu percaya diri tak menggubrisnya .


Tepat sehari sebelum kepergiannya, ia menerima bingkisan dari Ara sebagai hadiah anniversary mereka yang kelima.


Rendi pun memilih untuk tidak membuka dan pergi begitu saja untuk pelatihannya.


Waktu terus berjalan.Selama sebulan di sana, Ara sama sekali tak menghubunginya. No handphone nya pun tak bisa dihubungi.


Perasaan Rendi mulai tak nyaman.


Ia bahkan tak bisa memantau Ara diakun media sosial milik wanitanya itu karena ternyata ia sudah diblacklist.

__ADS_1


Tak cukup sampai disitu, Rendi pun mencoba mencari cara lain dengan menghubungi teman sekantor Ara .


Ia terkejut karena Ara ternyata telah resign dua bulan lalu.


Untuk pertama kalinya ia merasa was-was.


Ia takut terjadi sesuatu pada Ara.


Karena bisanya Ara selalu terbuka dan menceritakan apa saja tentang keseharian dan apa yang terjadi padanya.


* * *


Saat ini.


Rendi bernafas lega.


Karena akhirnya ia terbebas dari antrian kendaraan setelah lebih dari tiga puluh menit terjebak macet .


Ia pun segera membelokkan arah kendaraannya untuk memasuki gang dimana tempat tinggal Ara yang sudah lama tak ia datangi.


Sebelum keluar dari mobil Rendi sempat membenahi penampilannya, dengan melihat diri dari pantulan kaca yang menggantung diatasnya.


Rendi tersenyum. Ia sudah tak sabar ingin bertemu Ara. Ia rindu.


Kali ini ia akan membuang semua ego, dan akan melakukan seperti apa yang Ara inginkan.


Rendi merogoh saku depan celana hitamnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna navy dimana terdapat cincin di dalamnya.


Ia berencana melamar Ara dihadapan ayah sang pujaan hatinya itu.


Kini ia siap menghadapinya. Karena kini ia bukan lagi anak perantauan yang dulu sering dipandang sebelah mata.


Sudah saatnya ia menyongsong masa depan bersama wanita yang ia cintai.


Ia kini sudah mapan. Ia memiliki pekerjaan dan karir yang cukup memuaskan.


Bukan hanya mobil yang sudah sanggup ia beli, gajinya pun dapat ia sisihkan untuk mencicil rumah sederhana yang rencananya akan ia tinggali jika sudah menikah nanti.


Dengan langkah penuh percaya diri Rendi yang sudah berada didepan rumah sederhana Ara itupun mengetuk sembari mengucapkan salam.


'' eh, nak Rendi '' sambut pria paruh baya yang membukakannya pintu. Dialah ayah Ara.


Setelah menyalami dan mencium punggung tangan pria bertubuh jangkung itu, Rendi lalu dipersilahkan masuk.


Keduanya duduk diruang tengah dengan saling berhadapan.


'' sudah lama sejak terakhir kali kamu kemari..


Katanya sekarang uda jadi asisten manajer, ya ''


Rendi mengangguk dan dengan sopan mengiyakan.


'' selamat, ya ''


'' makasih, yah. Oh, iya ayah apa kabarnya ? ''


Pria yang ia anggap sebagai calon mertuanya itu terlihat mengekerutkan kening dan menatapnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.


'' sa- saya baik '' ucapnya terlihat ragu.


Hening sesaat. Rendi tampak mengedarkan pandang ke sekeliling rumah yang di dominasi dengan perabotan kayu .


'' enggh... Ara mana yah ?''


Ayah Ara kembali menatapnya seperti tadi.


Rendi pun heran.


Hatinya menjadi tak tenang .


Belum mendapat jawaban, suara motor terdengar berhenti didepan rumah .


Seketika rasa tak nyaman tadi pun hilang ketika mendengar salam dari luar sana yang ia tau adalah suara Ara.


Ara yang baru saja membuka pintu rumah terdiam.


Ekspresinya menunjukkan keterkejutan mendapati sosok yang tengah duduk berhadapan dengan ayahnya.


'' kam-kamu ? '' Ara berbata.


Senyum yang sejak tadi merekah seketika sirna saat mendengar sebutan ' kamu ' yang Ara ucapkan untuknya.


'' ra '' Rendi beranjak dari duduknya dan mencoba menepis segala prasangka yang mulai menghampirinya.


'' ngapain kamu kesini ?'' tanya Ara seakan menunjukkan jika kehadirannya sama sekali tak diharapkan.


'' ak- aku '' belum sempat Rendi berucap seorang pria muncul dari balik tubuh Ara.


Sama seperti Ara. Pria itu pun nampak terkejut melihatnya.


Keduanya pun saling beradu tatap.


Wajah Rendi seketika menjadi pias, rahangnya terlihat mulai mengeras ketika Ara merapatkan tubuh dan memegang lengan pria tersebut.


'' sayang , bisa kamu kasi aku waktu untuk bicara berdua dengannya ''


" apa ? sayang "


Rendi mengepalkan kedua tangannya.


Panggilan sayang yang selama ini hanya di ucapkan untuknya telah berpindah untuk pria lain.


Sakit. Rendi merasa sakit yang luar biasa menusuk relung hatinya.


Ingin rasanya ia mendekat dan menghajar pria tersebut tak perduli apa yang akan terjadi setelahnya.


Ia tak terima ada pria lain didekat apalagi sampai menyentuh wanitanya.


" sebaiknya kita bicara diluar, Ren " tegas Ara .


Ara berbalik keluar, begitupun dengan Rendi yang mengikutinya setelah melewati ayah Ara dan pria yang masih berdiri di mulut pintu.


'' kenapa dan kapan semuanya menjadi seperti ini ?


bersumbang - -


Hayo, di-like ya

__ADS_1


Di komen juga sekalian


__ADS_2