
๐บ hem... ๐บ
* * *
Dalam waktu kurang dari sebulan, acara lamaran dan pertunangan dilangsungkan secara sederhana di kediaman Sasa. Hanya kerabat dan keluarga inti saja yang diundang hadir.
Bahkan kedua kakak Andi saja tak bisa datang sebab terhalang pekerjaan. Sebagai gantinya, kedua kakak ipar dan para ponakan lah yang datang.
'' APA ?! Kan kesepakatannya selesai S2 baru nikah. Kok mendadak jadi bulan depan ? '' Sasa bernada tak terima.
Mami dan papinya saling menatap, lalu dengan kompak tersenyum.
'' Andi gak jadi ngambil S2 di Jerman. Katanya dia mau ke Filipina juga. Biar dekat sama kamu '' ujar sang ayah mengingat pembicaraannya kemarin dengan pak Doni.
'' la, terus apa hubungannya dengan nikah ? '' suara Sasa merendah.
'' Sasa... kalau nanti kalian di sana, kan gak ada yang ngawasin.
Kami khawatir kalian nanti ke balasan pacarannya ''
'' ke balasan gimana maksudnya ? ''
'' ya, takut aja kalian melakukan hal sebelum waktunya ''
'' Ah, mami... itu gak mungkin. Mami kaya gak kenal anak sendiri aja ''
'' semua kemungkinan itu bisa aja terjadi, Sasa sayang.
Lagi pula. Kalau nanti kalian ke sana dengan status uda suami istri, kami disini kan jadi tenang ''
'' mami.. bukannya justru kalau status uda menikah, kami nanti berbuat yang macam-macam ? ''
' pffttt ' pasangan suami istri beda ras itu melepas tawa.
'' ya, kan kalau uda nikan gak papa sayang.. '' sang mami menahan geli dengan memukul pelan pundak suaminya.
'' Hah ? '' Sasa melongo. Apa lagi maksud orang tuanya ini.
'' mami gimana, sih ? Nanti kalau aku hamil sebelum nyelesain S2 ku gimana ? '' Sasa memelas. Mencoba membujuk orang tuanya.
Ia memang menyukai Andi. Namun menikah masih jauh dari bayangannya.
Ia belum mau .Belum siap. Batinnya memberontak.
'' ya, kalau hamil gapapa dong .
Nanti anak kalian mami yang urus.
Mami sama papi juga uda pengen banget nimang cucu.. ''
Sasa frustasi.
Bagaimana pun ia membujuk agar kedua orang tuanya mau mengulur waktu pernikahannya, nyatanya semua usahanya sia-sia.
Karena sebulan kemudian, persiapan pernikahannya dan Andi sudah rampung di kerjakan.
Ia bahkan tak di libatkan sedikit pun pada persiapan hari besarnya itu.
Sang mami dan calon ibu mertuanya, kompak menyarankan agar ia mempersiapkan mental dan hatinya saja.
Kedua wanita yang seusia itu bahkan sempat menggodanya untuk lebih memperhatikan dan merawat tubuhnya untuk menghadapi malam pertama nanti.
Sasa merinding mendengarnya. Apalagi saat ia harus beberapa kali bertemu dan pergi bersama Andi.
Ia jadi canggung dan tak berani menatap sang calon suami.
* * *
'' selamat, ya bro.. belum juga apa-apaan uda jadi suami aja '' ucap Edo yang disusul kemudian oleh teman lainnya.
Mereka datang khusus untuk menghadiri pernikahan sahabat mereka yang digelar secara mewah di salah satu restoran milik ayah Sasa.
Andi tersenyum sumringah mendapati ucapan selamat dan berbagai hadiah sebagai ungkapan turut berbahagia.
Senyumnya semakin mengembangkan kala menilik perempuan yang sudah sah menjadi istrinya.
Sasa begitu cantik dalam balutan gaun putihnya.
Akhirnya, apa yang ia harapkan terkabul.
Ia berhasil membuat Sasa menjadi miliknya.
Malamnya.
Di kediaman pak Doni.
Sebuah ruangan yang sebelumnya adalah kamar Andi, telah disulap sedemikian rupa untuk sang mempelai menghabiskan malam pertama mereka sebagai suami istri.
Sasa lebih dulu masuk.
Selang 30 menit kemudian, Andi menyusul masuk ke kamar setelah tadi berbincang sesaat dengan kedua orang tua dan mertuanya.
Ia tertawa geli mengingat pesan ibu mertuanya yang mengkhawatirkan Sasa.
" jangan kasar ya, An.. Soalnya Sasa itu polos .Pacaran aja dia belum pernah.
Jadi, dia gak tau dan gak ngerti apa - apa soal begituan "
Andi kembali terkekeh .
" hai, sayang " sapa Andi pada Sasa yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Sasa yang telah berganti dengan piyama tidur menatap sekilas lalu mengacuhkannya.
Padahal dalam hati ia dilanda kegugupan yang luar biasa.
Andi tergelak.
Dengan langkah santai ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit berlalu dengan degup jantung yang berpacu tak karuan. Sasa tersentak saat pintu kamar mandi terbuka. Dan Andi muncul dengan mengenakan kamer jas.
Andi tak lantas berpakaian dan langsung naik ke tempat tidur empuknya.
" Sasa sayangaa... " panggilannya membuat bulu roman Sasa merenggang.
Andi menepuk-nepuk sisi duduknya. Isyarat agar sang istri bergabung dengannya ke atas tempat tidur.
" kamu gak pake baju, An "
" ngapain repot-repot kalau nanti juga dibuka semua.
__ADS_1
Kan melakukannya gak perlu pake baju "
" aaaaaaaaa..... mamiiiiiiiii " Sasa berteriak dalam hati.
" Sasa.. "
" ak-aku capek An.
Ma-malam ini kita tidur aja ya... "
Wajah yang tadinya menunjukkan semangat '45 perlahan menjadi datar.
Andi bergeming.
" ya, uda kalau emang kamu capek " Andi nampak kecewa karena malam ini sepertinya tak akan menjadi malam pertama bagi mereka.
Beberapa saat mereka habiskan dalam keheningan.
Hingga akhirnya Andi mematikan lampu utama kamar dan hanya menyisakan lampu tidur saja.
Suasana pun menjadi temaram.
Andi kemudian berbaring dan menyampingkan tubuhnya.
Ia coba berpura-pura tertidur.
Dan benar saja. Setelah satu jam menunggu, ia merasa tekanan dan, permukaan tempat tidur yang bergelombang. Menandakan jika ada beban yang menaikinya.
Masih memejamkan matanya, Andi terlihat mengulum senyum.
Hingga ia pun tak tahan lagi dan berbalik.
" eh ? " Andi terkejut melihat Sasa telah tertidur.
Padahal belum lima menit berlalu.
Ia tak tau jika Sasa adalah seorang yang sangat mudah tertidur. Tapi perduli di manapun, jika matanya sudah menagih untuk tertutup maka ia akan dengan cepat tertidur.
Andi bergeser hingga tubuhnya dan Sasa tak berjarak.
Baru kali ini ia menatap Sasa dengan jarak yang sangat dekat.
Tak puas sebab pencahayaan yang dirasa kurang, Andi kembali menghidupkan lampu utama.
Andi kembali ke posisi tidurnya.
Sasa bergeming.
Samar terdengar dengkurannya yang halus.
Sepertinya Sasa benar- benar lelah setelah seharian menjalani prosesi pernikahan hari ini.
' cup ' ia kecup pipi gembul sang istri.
Terasa lembut dan kenyal. Andi ketagihan .
Lalu muncul niat lainnya.
Andi menyibak selimut dan menendangnya hingga jatuh di lantai.
Sasa menggeliat. Namun tetap melanjutkan tidurnya.
Lalu tangan nakalnya kembali melanjutkan aksinya.
Satu persatu kancing piyama dibuka hingga terlepas semua.
Andi menegguk ludahnya dengan kasar ketika si kembar dengan kulit putih tanpa cela itu terpampang dihadapannya.
Andi tak berhenti. Ia lucuti pakaian yang membalut tubuh gempal sang istri hingga tak bersisa.
" apa yang harus ku lakukan? " Andi membisikkan dirinya seraya melihat ke arah tonjolan di antara kedua pahanya.
" junior ku sudah bangun ? apakah aku harus melakukannya sekarang ? "
Cukup lama Andi berkecamuk dengan batinnya. Hingga akhirnya urung ia lakukan sebab bagaimana pun ia memberi rangsangan , Sasa tak merespon.
* * *
Paginya.
' cklek ' pintu kamar pengantin baru terbuka.
Sang mama muncul lalu masuk dengan langkah hati - hati .Kedua tangannya memegang erat nampan berisi sarapan untuk anak dan menantunya.
Setelah nampan berhasil ia letakan di meja, tiba-tiba saja matanya membelala saat melihat ke arah tempat tidur . Sepasang manusia yang baru saja menjadi suami-istri masih tertidur dengan selimut yang hanya menutupi sebagian tubuh saja.
Sang mama melangkah mendekat melewati pakaian yang berserakan di sekeliling ranjang.
Sesaat di tatapannya wajah dua orang yang matanya masih tertutup rapat.
Haru menyelimuti sebab kini anak bungsunya telah menjadi pria seutuhnya.
Sang mama lalu tersadar. Ia tak boleh berlama-lama .
Jangan sampai ia ketahuan .
Bergegas ia membetulkan selimut agar dingin tak menyerang tubuh polos Andi dan Sasa .
" eng ? Mamah ? '' Andi tersadar dengan mata setengah terbuka.
Sang mama berlonjak. Apalagi saat Sasa juga terbangun dan terkejut mendapatinya.
'' ma-maaf.. mama gak maksud ganggu.. mama cuma mau antar sarapan.
Ka-kalian lanjutin aja tidurnya ''
Sasa yang menyadari jika tak ada pakaian yang melekat ditubuhnya segera duduk dengan mengapit selimut di kedua ketiaknya.
'' gak! Gak usah bangun. Gapapa, mama ngerti kok. Mama keluar sekarang.
Sekali lagi mama minta maaf " sang mama dengan langkah seribu keluar dari kamar.
Sasa nampak shock . Berbeda dengan Andi yang justru menyunggingkan seringai.
" ap-apa ki- kita.. " Sasa terbata menatap Andi yang telah duduk menunjukkan tubuh bagian atasnya .
Andi mengangguk.
" hiks.. hiks.. " Sasa tiba-tiba menangis. Membuat Andi seketika kelabakan.
" lo, lo kok nangis.. "
__ADS_1
" kamu jahat ! " memukul dada terbuka Andi dengan keras hingga Andi mengeluh sakit.
Andi menahannya. Hingga selimut yang tadi menutupi tubuh Sasa merosot.
Sasa sontak menuduk. Ia coba menarik tangan yang tengah dipegang Andi, namun tak bisa.
Tak habis akal, ia coba menggunakan tangan satunya untuk meraih selimut .
Namun kalah cepat karena Andi lebih dulu melemparnya.
Kini keduanya yang sama-sama dalam keadaan telanjang saling menatap.
'' kenapa ? '' tanya Sasa dengan air mata yang masih berlinang.
Andi menghapus air mata di wajah cantik istrinya.
'' apanya yang kenapa ? '' bertanya balik dengan suara lembut sambil mengusap pipi Sasa yang terasa lembab.
'' Kenapa kamu mau menikah denganku ? ''
'' karena aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu, Sasa sayang ''
'' ... ''
'' kamu sendiri kenapa waktu itu tiba-tiba menjauh dan menghindari ku, em ? ''
'' waktu itu, aku gak sengaja mendengar obrolan kalian di toilet.
Kalian bakal ngadain pesta di vila orang tua Edo dan akan bawa perempuan ke sana buat di ajak senang-senang kan ?
Terus aku dengar Edo memintamu membawaku.
Kalau waktu itu aku gak dengar semuanya, mungkin aku uda jadi mainan kamu yang habis dipake pasti dibuang gitu aja, kan ? ''
Andi mengangguk. Jadi itu penyebabnya.
Ia tak menampik karena bisa jadi itu terjadi , karena saat itu ia belum menyadari perasannya pada Sasa .
Ia bersyukur takdir membuatnya menjauh dari Sasa.
Hingga ia memiliki waktu untuk sadar.
'' jadi kau ragu padaku, em ? Karena itu kau menolak tidur denganku ? ''
Andi mendekat lalu mendaratkan kecupan singkat dibibir Sasa yang tebal dan kenyal.
Sasa tak menjawab karena saat ini ia merasa begitu gugup.
" semalam aku memang capek.. "
" terus.. kenapa nangis ? Sampai ngatain aku jahat ? "
" ya, gak adil aja. Masa kita melakukannya di saat aku gak sadarkan diri.. ak-akukan juga pengen tau gimana rasanya melakukan itu pertama kali "
Andi terkekeh geli.
'' Sasa,sayangku.. asal kamu tau kalau tadi malam kita gak ngapa-ngapain. Aku cuma nelanjangin kamu aja "
Sasa memejamkan mata, kala Andi kembali mengecup dan kini memijit bibirnya dengan lembut.
'' An.. '' Sasa mengeluh saat tangan Andi melepas cengkramannya, dan beralih ke dadanya.
* * *
Filipina, tiga bulan kemudian.
Andi dan Sasa kini sudah mulai menjalani study S2 dan tinggal bersama nenek. Ibu dari mami Sasa.
''mami.. '' suara Sasa terdengar serak dalam sambungan telepon.
'' ya, sayang... '' suara khas yang selalu lembut menanggapinya.
'' mami, aku hamil hiks.. hiks.. ''
'' eeeeeeee... kok nangis ? ''
'' habisnya, aku kan mau fokus nyelesain kuliah ku dulu.
Tapi Andi gak mau diajak kerja sama.
Tiap hari dia nidurin aku. Terus gak mau pake pengaman.
Ak- '' ucap Sasa terhenti sebab telponnya di sambar oleh Andi.
Andi mematikan sambungan teleponnya lalu berkecak pinggang.
'' kamu hamil ? Kenapa gak bilang sama aku ?
Kenapa harus mamimu yang jadi orang pertama tau , em ? '' menatap Sasa dengan dingin.
Sasa menunduk.
Ia bermaksud keluar namun Andi menghadangnya
'' Sasa... '' Amdi merengkuh dalam pelukannya.
" aku hamil, An..nanti gimana dengan kuliahku ?
Terus kalau habis melahirkan aku tambah gendut gimana ? " oceh Sasa yang menangis dalam dekapan suaminya.
Andi mengusap lembut punggung Sasa yang bergetar sebab isaknya.
" Sasa sayang..
Aku janji bakal selalu ada nemanin dan dukung kamu. Jadi kamu gak perlu khawatir bakal ngenalin ini semua sendirian.
Kita akan mengahadapi semuanya bersama,
Aku mencintaimu, sayang. Dan aku gak perduli sekalipun kalau nanti kamu tambah gendut.
Karena yang ku mau itu kamu.Cukup kamu.
Apapun kamu, dan seperti apapun kamu nanti, aku akan tetap cinta sama kamu "
๐Selesai๐
Jangan lupa like-nya ya
komentarnya juga sekalian
makasi ๐ค
__ADS_1