
🌺 hem.. 🌺
* * *
Titik-titik embun di dedaunan mengalir hingga ke ujungnya dan jatuh ke tanah.
Suasana sejuk dan lembab begitu terasa di pagi buta ini.
Nampak seorang perempuan berdiri di balkon rumah megah berlantai dua.
Ia menatap dengan teliti. Menyapu setiap hal yang ada di sekitarnya dengan kening mengkerut.
Sejauh mata memandang, hamparan dari berbagai macam tanaman hias mengelilingi tempat yang ia pijak saat ini.
Pohon rindang juga terlihat di beberapa titik sudutnya hingga menyamarkan apa yang ada di depan sana.
Dimana ini ?
Ia lalu menunduk. Seketika kedua matanya melebar.
Ada apa denganku ?
Bergegas ia berbalik dan masuk ke dalam ruangan.
Alangkah kagetnya ia mendapati pantulan diri pada sebuah kaca seukuran dinding ruangan yang menampilkan sosok perempuan bertubuh bak super model . Tinggi semampai , berkulit coklat eksotik dengan rambut pendek dicat berwarna pirang.
" Non Risa " panggil seseorang dari luar .
Ia tersentak ketika pintu terbuka dan masuklah tiga orang wanita berseragam hitam dengan kain putih yang melingkar di bagian pinggang.
Mereka menunduk ,menyapanya , lalu mendekat .
'' sebentar lagi manager anda datang bersama penata rias .
Jadi sebaiknya anda bersiap sekarang juga. Kami akan membantu anda mandi '' ujar wanita yang berdiri paling depan.
'' tung-tunggu ! "
" maaf nona. Tapi anda tidak bisa mengulur waktu.
Pernikahan anda akan di langsungkan jam 9 "
" a-apa ? Pernikahan ? " matanya membelala.
Ia lirik jam dinding yang menunjukkan pukul 5.
Belum sempat berpikir apa yang sebenarnya sedang terjadi, ketiga wanita yang sepertinya adalah pelayan rumah, menariknya masuk ke kamar mandi.
Tepat disaat mereka akan melucuti pakaiannya, ia dengan cepat menyelinap keluar lalu dengan gesitnya mengunci ketiga pelayan tadi dari luar.
'' Non ! Non Risa ! Non, buka Non.
Kita tidak ada waktu untuk main-main '' seruan dengan gedoran keras pada permukaan pintu .
Ia tak perduli.
Kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu. Dan begitu ia menemukannya, iapun segera mengambil langkah menuju lemari.
Ia buka . Kemudian ia ambil beberapa helai pakai dan segera ia kenakan.
Setelah itu, ia pun keluar.
" eeeehh ??? " kembali ia di buat terkejut saat melihat beberapa orang dengan seragam yang sama seperti mereka yang ia kunci dikamar mandi tadi, sedang mondar-mandir di lantai bawah .
Ia lalu memutar langkah dan mulai memeriksa satu persatu ruangan . Namun tak kunjung ia temukan jalan keluar.
Ia lantas kembali ke ruang yang pertama kali ia tersadar dan langsung menuju balkon.
Terlihat semburat senyum tipis diwajahnya ketika menemukan sebuah tangga yang menempel di dinding menjuntai hingga ke bawah.
Ia turun menggunakan tangga tersebut.
'' apa-apaan rumah ini ? '' ia mengeluhkan halaman yang begitu luas hingga membuatnya kesulitan menemukan jalan keluar dari rumah mewah itu.
Kembali ia harus memutar arah kakinya, ketika melihat empat pria berdiri di gerbang dengan pagar setinggi lima meter .
" ftuhhhhh " menghela lega setelah berhasil menemukan pintu darurat yang ada di bagian rumah paling belakang.
Kaos putih berlengan pendek dan celana seperempat, ia berjalan ditepian tanpa mengenakan alas kaki.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba ' tit ' suara klakson mobil mengagetkannya.
Ia pun reflek menepikan tubuhnya, berpikir mungkin teguran sebab ia berada ditengah jalan.
Namun mobil sedan yang ia tak tau merek ataupun model apa , berhenti .
'' Risa ''
Ia tersentak.Nama itu lagi .
Entah sudah ke berapa kalinya jantungnya pagi ini dikejutkan.
Merasa jika ialah yang dimaksud, segera ia mengambil langkah seribu .
Belum jauh ia berlari, ia terlihat menoleh ke belakang.
Seorang yang menyebut nama 'Risa ' tadi ternyata keluar dari mobil. Dan sekarang sedang mengejarnya.
Sontak ia pun memutar leher, melihat ke depan untuk fokus mempercepat laju larinya.
Hingga ia sampai di batas kemampuannya.
Ia berhenti ketika melihat sebuah pos jaga di gerbang masuk komplek.
Tanpa pikir panjang,ia masuk dan bersembunyi di dalamnya.
Nafasnya terputus-putus sebab berlari begitu kencang.
Dadanya naik turun seiring dengan degup jantung yang berdetak tak karuan.
'' Risa.. '' lagi. Suara itu menyerukan nama yang ditujukan padanya.
Ia tak mengerti.
Siapa Risa ? Dan kenapa pula mereka memanggilnya dengan nama itu ?
Apakah ada hubungannya dengan perubahannya ini ?
Beberapa saat ia berdiam diri di pos yang tengah kosong karena ditinggal petugasnya untuk menjalankan kewajiban beribadah .
Beberapa saat berlalu.
Sempat ia melihat sendal jepit yang kemungkinan milik si petugas pos ini.
Ia kenakan sebab kakinya terasa panas setelah berlarian dijalan aspal tanpa alas kaki.
Hari semakin terang.
Tak terasa ia sudah berjalan semakin jauh meninggalkan komplek perumahan elit tadi.
Kini ia sudah berada di jalan utama yang ramai dilalui berbagai macam kendaraan.
Ia mulai terasa lemas sebab tenaganya terkuras setelah maraton tadi. Lapar pun melanda.
Ditengah langkahnya yang lunglai, pikirannya pun mulai terasa melayang - melayang.
Dan ' bruk ' . Ia ambruk.
* * *
Lisa Purnawati.
Adalah seorang gadis miskin yang minim pendidikan .
Begitu tamat SMP , ia paksa menikah dengan seorang yang usianya terpaut 20 tahun lebih tua darinya.
Orang tuanya memanfaatkannya untuk memperoleh mahar dan menggunakan uang tersebut untuk membayar hutang yang tak kunjung terlunaskan.
Diketahui jika selain miskin, orang tua Lisa juga berprilaku sangat kasar pada anak-anak mereka.
Dan Lisa menjadi korban orang tuanya yang tak berperasaan.
Diusianya yang baru menginjak 16 tahun Lisa mau tak mau menerima nasibnya yang sudah menjadi seorang istri.
Tapi belum genap setahun menikah, Lisa sudah menyandang status sebagai janda .
Tapi itu pun tak berlangsung lama.
Orang tuanya kembali menikahkan Lisa dengan seorang pria yang usianya jauh lebih tua dari yang sebelum.
__ADS_1
Di pernikahannya yang kedua, tak berselang lama Lisa mendapati dirinya hamil .
Tapi tetap saja. Kehidupannya bersama suaminya yang sekarang tak jauh berbeda dengan pernikahannya yang pertama.
Lisa yang malang sering mendapat kekerasan dari sang suami yang bekerja sebagai tukang pukul di sebuah club malam .
Bahkan ketika kandungannya telah memasuki trimester tiga, sang suami tak sedikit pun berubah dan tetap berlaku kasar.
Dengan kondisinya yang tengah hamil tua, Lisa sering dipaksa melayani sang suami hingga berujung dengan pendarahan. Lisa pun terpaksa melahirkan sebelum waktunya.
Bayi berjenis kelamin laki-laki itu lahir secara Caesar dengan berat 2 kilogram.
Lisa sempat frustasi .
Ia yang waktu itu tak siap menikah, kini harus di hadapan dengan tanggung jawab sebagai seorang ibu.
Beruntung Tuhan masih berbaik hati dengan menghadiahkannya bayi yang sehat dan tak rewel.
Kiko, nama kesayangan untuk sang jagoan yang menjadi penyemangat hidupnya.
Tapi sayang. Baru sesaat menemukan dan merasakan kebahagianya , Lisa harus menerima nasibnya yang berakhir tragis.
Hari itu, sang suami datang dalam keadaan mabuk.
Dan seperti biasa, pria yang telah empat kali menikah dan di tinggal pergi semua mantan istrinya itu memaksa Lisa melayaninya dengan cara yang tak biasa.
Jika Lisa menolak, ia mengancam akan menyakiti Kiko.
Lisa pun berusaha untuk meladeni demi mencegah sang suami menyentuh Kiko.
Ia takut dan tak ingin Kiko turut menjadi pelampiasan suaminya yang sering hilang kendali.
Naasnya, setelah malam penuh penyiksaan itu. Lisa tak bisa membuka matanya lagi.
* * *
Lisa tersadar dari gelapnya.
Ia dapati ruangan berdinding putih yang terang .
'' oughh.. '' Lisa berusaha dengan perlahan untuk bangun .
'' sebenarnya ada denganmu ? ! ''
Lisa berlonjak dan langsung kembali terbaring. Beruntung tempat tidur ini begitu empuk hingga tubuhnya tak merasakan sakit.
Pria yang tadi mengejarnya ternyata ada diruangan tersebut .Ia duduk dengan kaki disilangkan.
Lisa dan si pria berwajah maskulin saling tatap.
Namun hanya sesaat. Lisa perlahan memalingkan wajahnya. Ia terlalu malu sebab ini pertama kalinya ia bertatapan dengan seorang pria setampan itu.
'' apa kau sadar jika telah merusak semua persiapan pernikahan kita ?!
Jika kau tidak berulah, seharusnya sekarang kita tengah melangsungkan pernikahan dan sudah menjadi suami istri '' pria itu beranjak berdiri.
Suara derap sepatu pan hotelnya terdengar mendekat.
Lisa bergeming dan menutup matanya rapat-rapat .
'' Kau dengar aku, Risa ? ! '' suara itu meninggi seiring dengan langka kakinya yang berhenti tepat di sisi ranjang.
Pria yang tak kalah tingginya itu membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Lisa. Hingga Lisa dapat merasakan nafas yang menyapu permukiman wajahnya.
'' ha-hampun Om '' suara Lisa terdengar bergetar.
'' Om ? ? ? '' pria itu nampak bingung . Ia tarik tubuhnya hingga kembali tegak.
Ia tatap calon istrinya yang terbaring dengan mata terpejam. Tubuhnya bergetar dengan kedua tangan meremas erat selimut .
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa like-nya ya
Komentarnya juga sekalian.
Maksi 🤗
__ADS_1