Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Pura-pura Bangkrut


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Malam ini malam minggu. Malam yang paling dinantikan para kaum muda. Terutama yang memiliki kekasih.


Biasanya para gadis akan bersiap sejak sore . Ritual di mulai dengan mandi, berdandan hingga mengenakan pakaian terbaik. Berharap tampilannya akan sukses membuat sang kekasih terpesona.


Sama seperti Arlita. Anak tunggal dari keluarga yang cukup terpandang ini sedang duduk di kursi panjang teras rumahnya.


Sesaat tadi ia menerima pesan dari Damar, lelaki yang sudah setahun ini menjalin hubungan istimewa dengannya. Dalam pesannya, Damar mengatakan tak akan mengajaknya keluar dan hanya akan bertandang saja.


Lita, begitu ia biasa dipanggil - memang sempat kecewa. Lantaran ia sebenarnya ingin sekali menghabiskan waktu di tempat yang lebih privasi berdua saja dengan Damar. Namun ia tak bisa mengutarakannya . Toh baru kali ini juga Damar tak mengajaknya berkencan.


Mengenakan kaos hitam dipadu dengan celana seperempat, Lita dengan sabar menunggu sambil terus menyungguingkan senyum.


Pukul 18.40, deru mesin mobil terdengar berhenti di depan rumahnya.


Lita segera beranjak dan membuka pagar.


Senyumnya kian merekah saat sosok yang ditunggu keluar dari Pajero sport berwarna hitam yang merupakan keluaran terbaru .


Lita mendekat dan langsung bergelayut di lengan kekar sang kekasih. Berkali-kali ia terlihat mendongak hanya untuk menatap wajah tampan Damar. Ia terlihat begitu senang. Berbeda dengan ekspresi wajah Damar yang hanya membalasnya dengan senyuman tipis.


Lebih dulu Damar dan Lita masuk ke rumah dan menyapa orang tua Lita. Barulah setelah itu, mereka ke teras dan duduk di sana.


'' Aku bangkrut '' ucap Damar tanpa basa basi seraya menghempaskan punggung di sandaran kursi.


' deg ' siapapun yang mendengarnya pasti terkejut. Sama halnya dengan Lita. Gadis berpipi chubby ini termangu usai mendengar kalimat yang pria 26 tahun ini lontarkan.


Senyumnya perlahan surut.


Lita menghela nafas, memutar tubuh yang tadi menyamping - ke depan dan perlahan ikut menyadarkan punggungnya.


Lita menoleh ke samping.


Pria yang sudah ia gadang-gadang pada semua orang akan menjadi suaminya ini tengah mendongak dengan mata terpejam.


Selang beberapa detik, Damar menegakkan duduk dan menoleh pada Lita. Tatapannya lekat namun ekspresinya datar. Dan tak ada senyum.


Sepertinya Damar memang tengah menghadapi masalah yang serius.


Lita mencoba memahami. Kembali ia teringat kenangan lama.


Satu setengah tahun lalu, Lita dan Damar bertemu untuk pertama kalinya ketika sama-sama menghadiri pesta ulang tahun teman sekantor Lita. Dan ternyata Damar merupakan sepupu temannya. Disitulah awal muka perkenalan mereka.


Kala itu Lita masih terikat hubungan dengan seorang pria yang bekerja sebagai manager di salah satu supermarket.


Tapi takdir seolah memang telah menentukan dan mengatur segalanya. Sejak pertama kali bertemu, nyatanya Damar telah jatuh hati pada gadis yang tingginya hanya sebatas bahunya dan bertubuh berisi.


Lita memang memiliki tubuh yang tergolong montok. Namun justru hal itu lah yang menjadi daya tariknya. Apalagi Lita kerap berpakaian ****.


Maka tak heran, jika tak sedikit lelaki tertarik pada gadis berkulit putih dan senang menggunakan hotpants ini.


Sebab itu pula, Lita hampir tak pernah berstatus jomblo. Jika putus , maka Lita dengan cepat akan mendapatkan penggantinya.


Bahkan pernah hanya dalam hitungan detik, ia sudah berganti kekasih.


Mungkin karena Lita belum pernah merasakan apa itu cinta dan jatuh cinta yang sebenarnya.


Pun dengan kriteria lelakinya. Ia hanya memasang standar dari segi materi saja.


Jika lelaki tersebut berstatus lajang dan memiliki pekerjaan yang mapan, maka Lita tanpa ragu akan menjadikannya pacar.


Selain playgirl, Lita juga dicap sebagai perempuan matrealistis.


Sama halnya dengan Damar. Saat mengetahui Damar adalah seorang pengusaha yang baru memulai dan merintis bisnis batu bara, Lita tanpa pikir panjang langsung menerima saat Damar menyatakan cinta padanya. Pun dengan pacarnya yang saat itu ia putuskan secara sepihak. Ia lakukan semata-mata karena menilai masa depan bersama Damar jauh lebih menjanjikan dari pada pacarnya yang sebenarnya terbilang memiliki pekerjaan dan karir yang cukup menjanjikan.


Dan bersama Damar pula, untuk pertama kalinya Lita merasa nyaman dalam menjalani hubungan.


Meski posesif, namun Damar sangat perhatian dan loyal padanya.


Terhitung sudah beberapa benda berharga fantastis yang Damar belikan untuknya.


Waktu terus berjalan. Semakin lama, Lita pun semakin yakin jika sekarang ia benar-benar telah jatuh hati pada Damar. Ia mencintai Damar dan ingin sekali menikah dengan lelaki berkulit gelap itu.


Tapi setelah Damar datang dan membawa kabar yang begitu mengejutkan, yakni tentang usahanya bangkrut dan sekarang sedang dalam keadaan terlilit hutang, Lita pun mulai bimbang.


Lita bingung. Dulu ia pernah sekali menghadapi situasi serupa. Dan ketika itu, ia dengan mudahnya memutuskan hubungan dengan kekasih yang tengah dilanda kesulitan. Dengan alasan realistis, Lita meninggalkan lelaki yang mencintainya begitu saja .

__ADS_1


Tapi kali ini berbeda.


Hatinya telah terpikat dan terikat erat pada Damar. Perasaannyapun terlanjur kuat.


Malam minggu ini berakhir dengan saling diam dan tak banyak bicara. Hanya tiga puluh menit, dan Damar beranjak pamit.


Sepulangnya Damar, Lita lantas masuk kedalam rumah . Ia menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk diruang keluarga.


'' Lo, Damar mana ? '' tanya mamanya menatap heran pada Lita.


'' Uda pulang '' Lita menjawab lesu.


Tanpa perduli, ia menjatuhkan bokongnya diantara duduk orang tuanya.


Memaksa kedua orang tuanya bergeser untuk memberi tempat.


''Mah- Pah '' Lita memutar leher ke kanan pada sang papa, dan ke kiri pada mamanya.


Pasangan suami istri yang telah berusia 60 an itu terlihat sama-sama menaikan sekali dagu.


'' Kalau misalnya Lita nikah sama laki-laki yang gak mapan gimana ? ''


Kembali, suami istri terlihat saling menatap. Lewat tatapan itu, mereka seolah bertanya . Lalu serempak mengangkat bahu sekali .


Diam beberapa saat. Kedua orang tua Lita nampak berpikir atas hal yang baru saja anak semata wayang mereka ucapkan .


'' Em... itu semuanya tergantung kamu, Ta.


Kan kamu yang ngenajalaninya.


Asal kamu dan pasanganmu nanti bisa komitmen, papa dan mama pasti support dan kasi dukungan '' ujar papanya penuh wibawa.


Lita mengangguk. Ya, orang tuanya memang tak pernah ikut campur apalagi menuntut hal apapun padanya. Segala keputusan tentangnya, sepenuhnya ada di tangannya. Orang tuanya bukan tak perduli, namun lebih kepada menghargai.


Pun soal jodoh. Meski mereka dulu sangat khawatir karena Lita sering gonta-ganti pacar, namun hal tersebut tak lagi menjadi momok yang menyita pikiran setelah Lita menjalani hubungan dengan Damar.


Tak seperti hubungan yang sebelum-sebelumnya, di mana Lita terkesan hanya bermain-main saja .


Damar adalah lelaki pertama yang di perkenalkan secara resmi sebagai pacar dan sering Lita ajak ke rumah . Bahkan Lita telah beberapa kali membawa Damar ke acara keluarga dan memperkenalkannya dengan bangga.


'' Memangnya ada apa ? Damar lagi ada masalah ?'' kini giliran sang mama yang bertanya.


'' Katanya dia bangkrut '' Lita tertunduk. Wajahnya semakin muram.


'' Terus ? Kamu mau putus gitu ? ''


Lita menegakkan kepalanya, menatap sang mama dan menggeleng .


'' Aku cinta banget sama Damar, ma ''


Kedua orang tuanya sama-sama menghela nafas.


'' Padahal aku pengen resign dari kerjaan aku. Trus nikah sama dia. Tapiiii... '' Lita menggantung kalimatnya.


Sang papa tergelak, menggeleng dengan tatapan gemas pada anak gadisnya.


Sama seperti berpacaran, dalam pekerjaan pun Lita tak pernah betah. Terhitung sejak dua tahun usai menamatkan S1 nya, Lita sudah empat kali berganti pekerjaan .


'' Ih, papaaaa.. '' Lita mengerucutkan bibir. Kesal.


'' Ya, habisnya kamu ini lucu ''


Lita merajuk. Ia palingkan wajahnya pada sang mama. Namun ternyata sang mama juga tengah tertawa tanpa bersuara.


'' Aaaa..... '' Lita bertambah kesal.


Tawa sepasang suami-istri itupun pecah. Padahal sudah berusia 23 tahun, tapi anak mereka ini masih saja berprilaku seperti remaja. Lita memang manja.


'' Em... Gimana kalau rencana nikahnya ditunda tahun depan aja '' saran mamanya.


Lita terdiam. Memikirkan ucapan sang mama.


'' Nah, kalau emang kamu cinta sama Damar. Coba deh tunjukan kepedulian mu dengan membantunya ''


Lita mendeliki. Ia tak mengerti.


'' Kan Damar pernah beliin kamu, tas , handphone, sama jam tangan tu.


Coba deh kamu jual, trus nanti uangnya kasi Damar. Mana tau bisa bantu bayar utang atau modal usaha lagi.

__ADS_1


Kan itu belinya pake uang dia juga ''


Lita menggeleng samar. Sayang. Ia sayang pada benda berharga puluhan juta yang ia anggap sebagai bukti cinta Damar padanya itu.


'' Atau gini aja. Kalau kami sayang, kamu gadaikan aja sama Tante Arni .


Siapa tau itu bisa jadi jalan keluar dan Damar bisa kembali bangkit.


Kan kamu juga yang senang ''


Seketika raut wajah muramnya berubah senyum. Lita mengangguk setuju dengan saran mamanya.


Ia pun beranjak dengan penuh semangat menuju kamarnya.


Keesokan harinya.


Hari minggu, adalah hari yang hampir semua orang memiliki waktu lenggang.


Sama seperti Tante Arni. Janda kembang yang terkenal sebagai sosialita di kalangan kelas kakap. Wanita yang telah menikah 4 kali dan 4 kali pula menjanda sebab ditinggal selamanya oleh suami-suaminya itu hidup bergelimang harta tanpa perlu bekerja keras. Sebab peninggalan harta warisan para almarhum suaminya yang merupakan para konglomerat . Terlepas dari apapun predikat yang disematkan padanya, Tante Arni dikenal suka membantu . Bukan meminjamkan uang, tapi mau membeli ataupun menerima jika ada yang mau menggadaikan barang berharganya.


Mama Lita adalah salah satu teman baik Tante Arni.


Dan sekarang disinilah Lita berada.


Ia baru saja turun dari taksi dan telah dipersilahkan masuk kedalam rumah mewah berlantai tiga milik Tante Arni .


'' Tunggu disini aja dulu, Non. Ibu masih ada tamu. Mungkin sebentar lagi tamunya pulang. Soalnya tamunya uda dari tadi datang '' ucap si pembantu yang menuntunnya ke ruang tengah.


Lita mengangguk.


Tak masalah harus menunggu demi bertemu Tante Arni agar ia bisa segera membantu Damar dari kesulitannya.


Lima belas menit berlalu. Lita merasa desakan di bawah sana. Ia pun bergegas ke toilet yang tadi sempat di beritahu si pembantu tadi.


'' Haahhh.. Leganya '' Lita tersenyum .Ia merasa begitu plong dan puas setelah menyelesaikan panggilan alamnya.


Tepat disaat ia akan kembali ke ruangan tadi, langkahnya tiba-tiba saja berhenti ketika terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga.


'' Oh, jadi Damar anakmu itu pacaran sama Lita ? '' tanya suara yang Lita kenal baik. Tante Arni, teman sang mama yang cukup sering berkunjung ke cafe milik mamanya.


'' Huk-um. Uda setahun. Terus Damar bilang mau melamarnya. Tapi yaaa... Aku bukannya apa sih... Hanya saja kamu sendiri taukan Lita itu gadis kaya apa ?


Dia dulu sebelum sama Damar suka gonta-ganti pacar.


Aku jadi rada ragu aja sama Lita. Apa dia itu perempuan baik-baik atau gimana '' Suara satunya yang juga Lita kenal meski tak begitu sering.


Itu adalah ibu Damar. Bu Ani yang hampir setiap minggu Damar ajak untuk ia temui . Mereka bahkan sudah sering makan bersama diluar.


Lita terkesiap.


Apa seperti itu Bu Ani menilainya ? Jadi, sikap baik dan hangat yang selama ini ditunjukkan hanya sebatas sandiwara saja ?


'' Tapi Damar gak mau. Dia kekeh mau nikah sama Lita. Sekalipun dia tau kalau Lita itu matre.. ''


'' La, terus gimana dong ? ''


'' Jadi, ya aku ngajuin syarat. Kalau mau restu ku, Damar harus melakukan satu hal.


Dia harus mau berpura-pura bangkrut untuk melihat bagaimana respon si Lita itu.


Aku harap si Lita itu nunjukin siapa dirinya yang sebenarnya. Trus tinggalin Damar ''


'' Kasihan, dong jeng.. ''


'' Cuma dengan cara itu, kita bisa tau. Apa si Lita itu tulus aoa enggak sama Damar ''


Lita terhenyak.


Ia terpaku ditempatnya berpijak.


Apa yang ia dengar benar-benar di luar perkiraan. Sungguh ia tak menyangka. Damar ternyata tengah mengujinya. Atau mungkin sedang membodohinya.


Dan yang lebih tak bisa ia mengerti adalah, Bu Ani yang ternyata berwajah dua. Selama ini, wanita itu bersikap ramah di depannya. Namun kenyataannya. Dibelakangnya justru menjelekan dan secara terang-terangan mengatakan tak menyukainya.


Lita tertunduk. Suara dua permpuan itu masih terdengar dan berlanjut membicarakan tentang semua kejelekannya.


Lita tak tahan lagi.


Dengan perlahan, ia pun menyeret langkah meninggalkan kediaman Tante Arni.

__ADS_1


__ADS_2