Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Pura-pura Bangkrut ( selesai )


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Sudah seminggu, sejak Damar mengatakan usahanya bangkrut. Dan selama tujuh hari itu , Damar dan Lita lewati dengan tak saling banyak bicara.


Jangankan bertemu, menelpon dan berkirim pesan pun hanya beberapa kali saja.


Damar sebenarnya tak tahan. Ia rindu dan sangat ingin melihat wajah cantik Lita.


Namun karena sudah terlanjur berjanji akan menuruti apa yang ibunya sarankan, maka ia pun urung tuk menemui Lita.


Hari berganti dan berganti lagi.


Tak seperti sebelumnya , Lita hampir tak pernah absen sehari pun menghubunginya dan selalu ingin bertemu. Tapi kini sikap Lita berubah. Ia perlahan seperti menjauh.


Seminggu lagi terlewati .Dengan sengaja Damar sama sekali tak menghubungi ataupun menyambangi sang kekasih.


Dan selama itu pula, ia harus menahan rasa nyeri karena Lita tak sekalipun mau menghubunginya .


Damar jelas kecewa. Mengira jika apa yang dikatakan ibunya tentang Lita sepertinya memang benar adanya. Lita hanya menyukainya karena ia seorang yang sukses secara finansial. Dan karena ia menyatakan diri bangkrut, mungkin saja saat ini Lita tengah mencari pengganti dan bersiap mencampakannya.


Satu bulan kemudian.


Sungguh, Damar tak bisa menahan diri lagi. Bukan hanya rindu.Tapi ia ingin kejelasan hubungannya . Maka ia putuskan ke rumah Lita .


'' Sayang ,aku kangen. Aku pengen ketemu kamu. Keluar, dong.


Aku sekarang ada di depan rumahmu '' ucap Damar dalam sambungan telepon.


'' Tapi aku gak dirumah . Aku lagi di luar. Besok aja ketemuannya '' jawab Lita .


'' Di luar ? Di mana ? Sama siapa ? Kok kamu gak ngabarin aku ? '' Damar mulai menunjukan posesifnya yan. Ia memang tak suka Lita pergi tanpa meminta ijin apalagi tanpa sepengetahuannya.


'' Aku lagi ada acara sama teman-teman kantor.


Mungkin pulangnya agak lewat tengah malam ''


Damar mengangkat tangan, melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam.


'' Lewat tengah malam ? Gak. Gak boleh. Kamu harus pulang sekarang juga ! Aku akan tunggu disini sampai kamu datang ! "


Diam beberapa saat . Sambung telpon akhirnya diputus oleh Lita.


Damar kesal. Namun ia coba untuk memahami. Ini adalah malam minggu. Mungkin Lita sedang bosan dan ingin mencari hiburan. Hal yang selama sebulan ini tak mereka lakukan .


Damar pun teringat selama setahun menjalani hubungan dengan Lita .


Gadis itu tak pernah sekalipun pergi tanpa meminta ijin lebih dulu. Lita pasti akan memberitahu jika akan berpergian. Dan lebih sering, Lita selalu minta untuk ia temani .


Sedangkan selama sebulan ini, jangankan pergi berkencan - bertemu pun mereka tidak.


Jika pun menelpon hanya sekedar basa basi menanyakan kabar. Itupun hanya beberapa detik saja.


Pun setiap kali mengirim pesan pada Lita, Damar selalu mengatakan sedang sibuk mengurusi prihal masalah kebangkrutannya.


Puluhan menit berlalu, Damar yang gusar akhirnya tersenyum melihat sosok yang ditunggu keluar dari sebuah taksi.


Damar menurunkan kaca mobilnya dan menyuruh Lita untuk masuk ke dalam mobil.


Tanpa sepatah katapun Lita menurut. Gadis yang mengenakan terusan selutut berlengan panjang itupun masuk dan duduk disebelahnya.


Diam mendominasi beberapa saat. Damar menyamping tubuhnya, menatap Lita yang seketika menoleh ke samping jendela.


" Sayang "


" Em " suara Lita terdengar seperti tak berniat untuk menyahut.


Damar menghela nafas.


'' Kita jalan, yuk. Kamu mau kemana ? ''


Lita mengernyit. Ia putar lehernya.


'' Bukannya kamu lagi sibuk banget, ya ? Kok tiba-tiba bisa punya waktu mau ketemuan. Pake acara ngajakin aku jalan lagi ? '' tanya Lita menatap sanksi .

__ADS_1


Damar menghela nafas. Ia sungguh tak bisa marah dan justru sebaliknya. Ia takut Lita marah padanya.


'' Maaf.. Kalah selama ini aku uda buat kamu ngerasa diacuhkan . Tapi percayalah, aku gak bermaksud begitu, sayang '' Damar mencoba membujuknya.


''... '' Lita kembali memalingkan wajahnya ke jendela.


Tangannya mengepal kuat. Ia kesal dan juga geram. Karena sepertinya Damar tak berniat mengakhiri kebohongannya.


'' Em..Gimana kalau sebagai permintaan maafku.. Kita pergi ketempat yang kamu mau. Kemanapun kamu mau, aku akan turuti. Mau, ya ? ''


'' Gak usah. Aku lagi gak pengen kemana-mana''


'' Atau kamu mau belanja ? Ayo, aku akan beliin apa aja yang kamu mau ''


Lita memutar tubuhnya, menatap Damar tak percaya. Kebohongan apa lagi yang akan Damar lakukan untuk bisa membodohinya . Tak cukup dengan berpura-pura bangkrut , apa mungkin sekarang Damar berniat mengetes dengan cara lain ? Apa mungkin setelah pura-pura bangkrut, lelaki ini akan berpura-pura mendadak kaya ?


Lita sudah diambang sabarnya.


'' Kamu bilang kamu bangkrut. Trus ? Uang dari mana mau belanjain aku ? ''


" ... '' Damar terhenyak. Ia keceplosan. Lupa jika ia sedang pura-pura bangkrut.


Lita menghempaskan nafasnya. Jujur, ia pun sebenarnya rindu dan berharap pertemuan ini akan menjadi manis .


Namun ia terlanjur kecewa dan juga kesal pada kebohongan Damar.


Ia menilai, apa yang Damar lakukan adalah bukti bahwa lelaki ini ragu dan mungkin saja tak benar-benar mencintainya. Itu berarti cintanya bertepuk sebelah tangan, bukan ?


'' Aku sebenarnya.. '' belum selesai Damar menyelesaikan kalimatnya, Lita dengan cepat memotong.


'' Aku uda tau semuanya ''


''.. ? ''


'' Aku uda tau kalau kamu cuma pura-pura bangkrut ''


' Deg ' Damar jelas terkejut. Pantas saja sikap Lita tiba-tiba berubah drastis.


Tak penting dari mana Lita tau akan kebohongannya. Sebab yang ia khawatir adalah bagaimana kelanjutan hubungan mereka.


' Klek ' Lita membuka pintu mobil. Kakinya sudah terjulur keluar dan menggantung. Namun ia tak lantas keluar.


Ia kembali menaikan kakinya , menyamping tubuh untuk berhadapan dengan Damar.


'' Aku tau dan sangat sadar aku perempuan seperti apa.


Aku matrealistis.


Aku akui itu.


Aku seperti itu karena aku hanya mencoba untuk realistis. Tapi , apakah salah jika seseorang berpikir lebih mengunakan logika ketimbang perasaan ?


Coba aja kamu tanya ke semua perempuan, mereka pasti memilih dan mencari laki-laki yang mapan dan bisa memberi jaminan masa depan yang baik - ketimbang harus menunggu dan mengharapkan sesuatu yang belum pasti "


" Sayang.."


Damar mencoba menyentuh, namun Lita menepisnya dengan kasar.


" Kurasa dari awal pun kamu sudah tau aku ini seperti apa. Dan jujur , mungkin awalnya pun aku gak perduli. Tapi setelah setahun ngenalin hubungan ini, aku jadi beneran suka sama kamu dan mulai bertanya-tanya.


Sebenarnya, apa alasanmu mau pacaran sama perempuan matre kaya aku ? "


'' Ya, karena aku juga suka ! Aku cinta dama kamu "


Lita terhenyak.Cinta katanya ?


Haruskah ia senang ? Tapi kenapa hatinya justru merasa sakit.


" Terus apa maksudnya dengan kamu berpura-pura bangkrut ? Apa kamu mau nguji aku ? Untuk apa ?


Untuk melihat seberapa matre nya aku, gitu ? "


" Lita.. Gak gitu sayang. Aku bisa jelasin semuanya..


Oke. Oke. Aku ngaku , aku salah . Aku minta maaf . Ak- aku.. ''

__ADS_1


'' Gak. Kamu gak salah..


Karena kalau dipikir-pikir, yang kamu lakukan itu wajar kok "


" Lita.. Sayang.. "


" Makasih, Mar. Kamu uda kasi aku tamparan yang buat aku sadar kalau sikapku selama ini emang gak pantas.


Jujur, aja. Sekarang ini aku malu banget ketemu sama kamu.Apalagi sama mamamu. Karena beliau juga tau aku perempuan seperti apa, kan ? ''


'' Lita .. Sayang.. Aku minta maaf. Aku bener-bener nyesel sayang . Aku janji gak akan gini lagi..''


'' Aku gak tau sebenarnya apa yang mendasari kamu mau berhubungan dengan aku.


Tapi yang pasti, kamu kayanya gak yakin buat serius sama aku. Karena kalau kamu memang ada niat mau serius sama aku, kamu gak akan pake cara kaya gini buat nguji aku ''


'' ... ''


'' Ini udah cukup buat aku yakin. Kalau aku gak bisa atau mungkin gak akan pernah pantas jadi psangan kamu. Kamu terlalu baik buat aku.


Jadi, sebaiknya hubungan kita cukup sampai disini ''


Lita mendorong pintu mobil yang memang sengaja tak ia tutup rapat. Lita keluar dari mobil dan langsung melangkahkan masuk kedalam rumah.


Hari berlalu.


Sejak hari dimana Lita memutuskannya, Damar tanpa kenal bosan dan lelah terus-terusan menelpon dan mengiriminya pesan.


Hingga akhirnya, Lita memutuskan untuk mengganti nomor ponselnya.


Namun hal tersebut tak berlangsung lama.


Entah bagaimana , Damar selalu muncul dan ada di setiap kali ia keluar rumah . Damar selalu muncul ketika ia tengah bersama teman-temannya. Mungkinkah Damar menguntitnya ? Atau memang sebuah kebetulan ? Mengingat Damar selalu datang bersama teman yang juga kenalan Lita.


Lita lelah dan memilih tak menghindar.


Ia biarkan saja sampai di mana takdir mempermainkan mereka.


Ia hanya perlu tegar dan bersikap acuh.


Sebab ia sudah bulat bertekat untuk tidak goyah apalagi sampai kembali ke pelukan Damar.


Belajar dari kejadian kemarin, ia trauma dan tak bisa lagi mempercayai cinta .


Berbeda dengan Lita yang bersikap seperti orang asing, Damar justru tak patah semangat mengejar dan memanfaatkan kesempatan hanya untuk bisa dekat dengan Lita. Besar harapannya agar mereka bisa kembali bersama lagi. Dan jika hal itu terjadi, maka ia tak akan ragu lagi untuk langsung meminangnya.


Lalu, akankah Damar berhasil meluluhkan dan meyakinkan Lita untuk percaya jika ia benar-benar mencintainya ?


Jawabannya adalah di dua tahun kemudian.


Damar yang memang telah sukses, kini semakin bersinar dan tengah berada di puncak kesuksesannya.


Pun dengan kegigihannya untuk melunakkan kerasanya pendirian Lita.


Selama dua tahun, ia dan Lita sama-sama tak pernah sekalipun dekat apalagi menjalin hubungan dengan seseorang.


Sebab hati mereka masih terpaut satu sama lain.


Namun sayang Lita tetap pada pendiriannya. Ia acuh padahal Damar selalu setia menjaga dan mengejar cintanya.


Kembali pada sikapnya yang realistis. Lita memang tak lagi memandang sesuatu dan mengukurnya dengan materi. Namun ia tak mungkin mengabaikan hal yang tak kalah pentingnya.


Katakanlah ia dan Damar balikan. Lalu bagaimana dengan Bu Ani ? Lita tak bisa begitu saja tutup mata dan melupakan apa yang ia dengar waktu itu.


Ia sudah terlanjur tau, jika wanita yang telah melahirkan Damar itu tak menyukainya dan mengecapnya sebagai perempuan matre.


Bukannya ia tak terima. Hanya saja sulit rasanya menjalani sebuah hubungan jika, ada pihak terkait yang tak menyukai . Atau lebih tepatnya tak menginginkannya.


Lita tak mau jika nanti hidupnya akan dipenuhi drama seperti yang sering terjadi di sinetron ataupun novel-novel yang tengah populer saat ini.


Hubungan tak akur antara mertua dan menantu perempuan.


Tidak. Lita tak mau. Biarlah ia lepaskan cintanya. Sakit sekarang lebih baik. Daripada nanti harus menghadapi sindiran dan tatapan syarat ketidak sukaan dari Bu Ani, jika ia dan Damar kembali bersama lagi.


Dan seperti itulah hubungan mereka.Tak bisa ditebak dan sama sekali tak terlihat ujungnya.

__ADS_1


__ADS_2