Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Jodohku ternyata mesum ( selesai )


__ADS_3

🌺hem.. 🌺


* * *


'' Maaf.. '' Aska melepas tautan bibir kami.


Aku tersadar dan langsung menekan tubuhnya agar menjauh.


Dada kami sama-sama naik turun . Nafas kamipun juga terengah-engah.


Ku tatap Aska dan ia langsung memalingkan wajahnya.


Aku lalu menunduk, memperhatikan baju yang berantakan karena kenakalan tangannya. Aku tanpa sadar mundur sambil memperbaiki tampilannku.


Ku lihat lagi Aska. Masih berpaling tak mau menatapku. Wajahnya merah padam.


'' Kam-kamu pulanglah.. '' ucapku pelan.


Aska memutar leher ke depan, menatapku dengan menunjukan ekspresi penyesalan. Wajahnya murung.


'' Aku akan mengantarmu pulang '' tawarnya yang langsung ku jawab '' tidak '' sambil menggeleng


Tubuh Aksa melemas. Entahlah. Aku tak tau pasti apa arti bahasa tubuhnya itu. Apakah ia benar-benar menyesal atau apa.


'' Ir.. Aku benar-benar minta maaf '' lirihnya memohon.


'' Bukan kamu yang salah. Tapi aku yang sepertinya gak siap . Aku gak tau kalau akan sampai seperti ini ''


Aksa tak menanggapi.Ia menyerah ketika diam beberapa saat diantara kami. Lalu, tanpa sepatah kata, ia pun pergi.


* * *


Setelah hari itu, aku dan Aksa tak lagi bertemu . Komunikasi kami pun berhenti begitu saja. Sering aku termenung memikirkan hubungan yang menggantung tak pasti ini.


Jujur saja.Aku kesal. Tapi aku juga rindu. Apalagi ketika mengingat dia mengatakan suka dan cinta padaku. Harus aku akui, aku juga sama.


Namun, berkali-kali aku menyakinkan diri, jika hubungan ini bisa saja menjerumuskan ku ke hal yang salah jika diteruskan. Karena apapun bisa menjadi kemungkinannya.


Aku takut. Karena ternyata dia mesum .


Hari berganti , berganti dan berganti lagi tanpa ku mau tau sudah berapa lama aku dan Aksa masih tak saling menghubungi .


Aku menyerah dan bertekat untuk membiasakan diri tanpanya. Meski kadang rindu hadir dan menghimpit dada. Jika sudah begitu, aku pasti meringkuk, menangis sambil memandangi foto yang sempat kami ambil ketika menghadiri pesta pernikahan sepupuku.


'' Bodohnya aku..Bisa-bisanya terjebak dengan pria mesum ?? '' makiku pada diri sendiri.


Hari ini, aku putuskan untuk istirahat. Aku butuh refreshing untuk menyegarkan otakku. Jadi ku tutup minimarket ku .


Sepertinya melakukan perawatan adalah pilihan yang terbaik. Aku ingin dimanja. Tubuhku ingin dipijat, begitu pun dengan kepalaku yang belakangan ini telah berpikir ekstra.


Penat. Aku ingin merilekskan seluruh anggota tubuhku.


Namun aku tak ingin pergi sendiri. Aku pun mengajak Dina turut serta ke tempat langgananku . Tempat yang merupakan salah satu pusat perawatan kecantikan yang lumayan terkenal.


Berjam-jam, aku dan Dina menghabiskan waktu di tempat ini.


Begitu selesai aku dan Dina yang sudah sangat kelaparan berniat untuk mencari tempat makan. Tapi begitu keluar , kami malah disambut cuaca yang ternyata sedang turun hujan dengan derasnya.


Hem..Aku nelangsa.. Cuaca ini membuat kembali teringat pada Aksa dan.. Aku rindu...


Beberapa saat menunggu, akhirnya hujan reda juga. Aku dan Dina bergegas ke parkiran .


'' Karena kamu uda traktir aku perawatan, sekarang gantian aku yang traktir kamu makan. Jadi, sini kunci motor mu. Biar aku yang bawa '' ucap Dina .


Dengan senang hati akupun menyerahkannya kunci Mio merah ku padanya.


Gerimis menemani disepanjang perjalanan. Awalnya aku sama sekali tak curiga. Namun setelah Dina membanting stir dan berbelok masuk ke sebuah area restoran ,akupun seketika menjadi gugup. Ini adalah restoran tempat suaminya bekerja. Yang itu berarti tempat dimana Aksa juga bekerja.


Dina tersenyum padaku dan menyuruhku untuk masuk.


Saat masuk kedalam, susana begitu sepi. Dina mengatakan jika hari ini restoran libur .Dina juga menjelaskan jika sebenarnya ini sudah ia dan suaminya rencanakan. Mempertemukan aku dan Aksa untuk menyelesaikan masalah di antara kami.


Dina juga bercerita singkat tentang Aksa. Sejak hari dimana kami tak lagi bertemu dan juga tak lagi saling menghubungi, Aksa jadi murung dan tak konsentrasi dalam bekerja. Hal itu membuat suami Dina khawatir. Pun dengan Dina yang juga mengkhawatirkan hal yang sama padaku.


Dina menuntun ku ke bagian samping restoran. Dimana ada sebuah meja dengan dua kursi saling berhadapan . Aku dan Dina duduk.

__ADS_1


'' Kamu tau, dua bulan lalu Aksa datang kerumahku .Dia bilang mau melamarmu. Jadi, minta kami untuk menjadi walinya dan menemaninya ke rumah mu '' ucap Dina seraya jatuhkan tangannya dipunggung tanganku yang tergeletak di atas meja.


'' Kamu pasti uda tau, kan. Kalau dia itu yatim piatu. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Sedangkan dia itu anak tunggal. Keluarga yang lain ada diluar kota. Jadi, dia disini sendirian ''


Jeda sejenak dan Dina kembali melanjutkannya.


'' Tapi tiba-tiba dia bilang gak jadi. Terus dia minta untuk yang tolong untuk hal lain. Dia minta agar suami ku bicara padaku , memintaku membantunya bertemu dengan mu ''


'' ... '' Aku sedikit tertunduk. Menatap jemari Dina yang mengelus lembut punggung tanganku.


'' Ir, aku gak tau apa masalah kalian. Tapi karena aku dan suamiku yang mengenalkan kalian, jadi kami merasa ikut bertanggung jawab .


Aku harap kamu mau bertemu dengannya dan selesaikanlah masalah kalian .


Jadi kam- '' belum selesai Dina menyelesaikan ucapan, aku sudah dengan cepat memotong.


'' Ga papa, Din. Sebenarnya aku memang berencana bertemu dengannya.


Kami berkenalan dengan cara yang baik. Jadi sudah seharusnya juga kami menyelesaikan masalah yang ada diantara kami dengan baik juga ''


Dina tersenyum, ia tepuk punggung tanganku beberapa kali seraya berdiri.


Dina pergi meninggalkan ku. Dan tak berselang lama, sosok yang telah lama tak kulihat muncul .


'' Hai, Ir. Apa kabar ? '' sapanya setelah mendudukkan diri di depanku.


Aku tersenyum tipis menanggapinya.


Lalu entah bagaimana, tiba-tiba saja rasa kesal ku menguap. Hilang begitu saja.


Aksa dan aku sama-sama terdiam dengan saling menatap.Netra ku menyapu dengan teliti setiap sudut wajahnya.Tak ada satupun yang terlewatkan.


Sungguh aku rindu.


Aku pun teringat ciuman pertama kami waktu itu. Seketika ada respon aneh pada tubuhku. Rasa panas seiring dengan munculnya sebuah dorongan yang sulit diartikan. Ciuman itu, ak-aku ingin mengulanginya . Aku tersentak dalam diam.


Apa yang sedang ku pikirkan ? Kenapa justru aku yang sekarang berpikiran mesum ?


'' Aku tau, mungkin kamu uda muak dengar apa yang mau ku katakan ini.


Tapi Aku benar-benar ingin minta maaf, Ir '' ucapnya dengan mimik serius.


'' Ak.. Aku pengen tau dan pengen kamu jujur. Apa kamu menyesal dengan apa yang kamu lakukan waktu itu ke aku ? '' tanyaku dengan rasa dag-dig-dug serrrrr.


Untuk beberapa saat Aksa terdiam . Ia sepertinya tengah berpikir. Lalu ia menggeleng pelan.


Aku memejamkan mata sesaat. Padahal aku harap dia akan bilang menyesal. Tapi kenapa justru sebaliknya. Apakah dia memang orang yang sejujur ini atau..Aku menghela nafas.


Aku putuskan untuk bertanya lagi. Demi menuntaskan rasa penasaran dan greget ku.


'' Apa kamu juga selalu seperti ini tiap dekat dengan perempuan ? ''


Kali ini Aksa tak butuh waktu untuk berpikir. Ia dengan cepat menjawab ' tidak ' sambil menggeleng tegas.


'' Kalau boleh jujur..Kamu adalah perempuan kedua yang jadi pacar aku. Sebelumnya aku pernah pacaran. Saat itu aku benar suka dia dan juga tergila dengannya.


Mungkin karena dia pacar dan cinta pertama ku.


Sepertinya yang ku lakukan padamu. Jika di dekatnya aku selalu terpancing untuk menyentuhnya. Jika sudah berpegang tangan, maka aku pasti ingin mencium. Dan jika sudah berciuman, aku pasti ingin memeluk dan melakukan lebih lagi.


Aku pun gak mengerti kenapa dan apa yang menyebabkanku seperti ini.


Padahal aku orang yang paling bisa mengontrol diri.


Karena hal itu, aku diputuskan dan aku pun jadi trauma untuk dekat dengan perempuan. aku takut dibilang mesum atau cabuk atau.. apalah..


Tapi denganmu beda.


Saking sukanya aku sama kamu, aku jadi takut buat benar-benar dekat sama kamu.


Aku takut gak bisa nahan diri. Dan ternyata benar..


Aku hilang kendali begitu menyentuh mu.. ''


" Argghhh.. Aku bisa gila. Kenapa dia blak-blakan banget si... Dan yang lebih gila lagi, kok aku senang mendengarnya...

__ADS_1


Terus aku harus gimana sekarang ? " Aku gusar dalam hati.


" Ir "


" Ya. Ya " Aku tergagap lalu menatapnya lekat.


Aku menghela nafas lalu tersenyum.


Aku kalah. Aku kalah oleh perasaanku. Aku tak bisa dan tak mau kehilangannya.


Namun senyum ku di salah artikan olehnya.


Aksa berdiri, pamit setelah itu mengulum senyum dan hendak beranjak dari hadapanku.


" Aksa " panggil ku membuatnya tak jadi melangkah.


" Katanya kamu beneran suka sama aku ? Terus uda gini aja usaha kamu ke aku ? " aku menyetak nafas. Kesal karena dia segitu mudahnya menyerah setelah menyatakan perasaannya .


" .. ? '' Aksa menatapku heran.


' Srak ' Aku reflek berdiri hingga kursi yang ku duduki terdorong. Lalu dengan cepat aku melangkah menghampirinya.


Langkahku berhenti hampir tanpa jarak dihadapannya.


Aku tak perduli lagi. Ku tarik kerah kemeja hijaunya, tubuhnya tertarik dan mendekat.


' Cup ' ku kecup sekali bibirnya. Ah.... aku ingin berteriak rasanya. Sungguh lembut dan membuatku ingin mengulanginya lagi.


Maka ku daratkan lagi bibirku. Aku gemas. Ku ***** , ku gigit hingga ku tarik bibirnya. Tapi kenapa tak ada respon ? Akupun melepaskannya.


Kutatap dia yang nampak shock.


'' Kenapa ? Gak suka ? '' tanyaku heran.


Ku lihat ekor matanya bergerak, dan ku ikut kemana arah pergerakannya.


Ups. Aku lupa kalau ada Dina dan suaminya juga disini.


Pasangan suami istri itu menatap pada ku dengan ekspresi melongo.


Aku nyengir melihat Dina berjalan ke arahku. Ia langsung menyambar tanganku dan menarik ku.


'' Urusan kalian kayanya uda selesai. Ayo kita pulang sekarang . Sebelum kalian melakukan hal yang lebih jauh lagi '' titah Dina yang tak bisa ku sanggah.


Ku lihat Aksa yang tengah dihampiri suami Dina. Sepertinya ia mendapat teguran .


Namun ia masih sempat melemparkan senyum lebar padaku.


Aaa..... Aku gemas.


Setelah hari itu, aku dan Aksa kembali berpacaran.


Tapi hubungan kali ini berbeda dari yang kemarin. Aku dan Aksa tak lagi canggung mengekspresikan perasaan kami satu sama lain.


Setiap bertemu dan jika ada kesempatan, kami pasti berciuman daaaann... Mau tau aja atau mau tau banget.


Ehehe..


Percaya atau tidak, tapi hanya sebatas itu saja.


Nah, pasti uda mikir kemana-manakan ? Ya, terserah kalian mau berpikir ataupun berpendapat apa tentang ku, Aksa dan hubungan yang kami jalani.


Yang pasti, meski kami kerap bermesraan - tapi hingga kini kami masih memegang komitmen untuk tidak melakukan hubungan *** sebelum menjadi suami istri. Yang mana hari itu tinggal menghitung hari.


Yup, benar. Satu minggu setelah kami berbaikan, Aksa datang menggandeng Dina dan suaminya kerumah ku. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah melamar ku.


Eeeaaa.. Senang tak terkira .


Tak terasa, waktu telah berlalu dan sekarang aku sudah duduk diranjang pengantin bersamanya yang telah sah menjadi pendamping hidupku.


Aaa..Sungguh malam yg penuh dengan sejuta kejutan. Aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa aku jatuh di pelukan seseorang yang begitu mesum.


Aksa selalu saja dan seolah tak pernah ada puasnya mengerjai ku.


Meski terkadang aku merasa lelah dan ingin menyerah sebab tak sanggup melayaninya. Tapi aku senang. Karena dia mesumnya cuma sama aku.

__ADS_1


Kenapa aku bisa bilang begitu ? Karena kalau diluar , Aksa pasti pasang tampang minim ekspresi. Apalagi kalau berhadapan dengan perempuan. Ia akan bersikap acuh dan menjadi dua kali lipat lebih dingin ketimbang berhadapan dengan laki-laki.


Ah, gemasnya aku...


__ADS_2