
🌺 hem... 🌺
Setahun lalu.
Ara berdiri di selasar dengan bersandar di salah satu tiang penyanggah.
Pandangannya lurus ke depan ,ke arah pintu diujung sana.
Setelah kemarin Rendi mengatakan ia lulus seleksi kandidat calon manager, Ara pun berinisiatif menyemangati hari pertama Rendi di kantor barunya .
Selama masa kompetensi Rendi dan beberapa kandidat lainnya di tempatkan dalam satu kantor untuk bekerja sama menyelesaikan suatu proyek.
Dan disinilah Ara. Menunggu di salah satu pintu keluar di bagian belakang bangun yang begitu tinggi menjulang.
Saat memarkirkan kendaraannya tadi ia sempat mendongak, mencoba menatap ujung bangun tersebut.
Ada rasa bangga bisa memiliki kekasih dan dapat menemaninya hingga kini karirnya semakin melejit.
Tentu saja Ara menaruh harapan banyak akan masa depannya bersama Rendi.
Sekali lagi Ara merasa beruntung dan tak salah memilih mencintai seorang Rendi.
30 menit kemudian, yang ditunggu pun muncul dan berjalan menghampirinya.
Ara langsung memasang senyum terbaiknya.
'' sayang, aku bawaiin makan '' menunjukkan rantang berisi makanan hasil masakannya.
Ara bahkan meminta ijin tidak masuk kerja demi membuatkan masakan istimewa itu.
Rendi menghela nafas kasar.
Ia kesal. Di tengah kesibukannya, Ara memanggilnya hanya untuk hal ini ?
Ia menggeleng tak percaya.
Diambilnya sembari mengucapkan terima kasih ,lalu berlalu begitu saja.
Ara yang sedikit kecewa akan respon kekasihnya itu, mencoba menahan dengan meyakinkan diri bahwa mungkin saja Rendi memang sedang sangat sibuk.
Ara berbalik dengan kepala tertunduk , dan ' bruk ' ia tak sengaja menabrak seseorang .
'' ma-ma-maaf mas.. '' Ara menegakkan kepala. Ia tersentak saat melihat jika yang ia tabrak adalah seorang pria .
'' gak papa '' suara itu terdengar begitu ramah.
Pria dengan name tag ' Zean ' itu tersenyum padanya.
Sesaat keduanya saling menatap.
'' eng, sa-saya '' Ara gelagapan dan bingung, tak tahu harus apa.
Selain dengan Rendi ia hampir tak pernah berinteraksi dengan pria lain.
Ia pun jadi canggung menghadapi situasinya saat ini.
'' tadi itu Rendi, ya ?'' ucap Zean membuat Ara kembali menatapnya.
Pria itupun membalas tatapannya sembari tersenyum lebar.
'' i-iya ''
'' pacarnya ?''
'' i-iya ''
'' aku Zean. Teman sekantor dan juga satu bagian dengannya ''
Zean mengulurkan tangannya yang disambut ragu-ragu oleh Ara.
Ara merasa gugup luar biasa, saat telapak tangannya bersentuhan dengan pria asing di hadapannya.
Pertemuan tak sengaja itu bukan hanya terjadi sekali.
Sejak saat itu, entah kebetulan ataupun sudah bagian dari takdir mereka, setiap kali Ara datang untuk mengunjungi Rendi , disaat bersamaan ia pasti bertemu Zean.
Tanpa mereka sadari, sesuatu mulai terjalin diantara mereka.
Pertemanan yang hanya mereka berdua saja yang mengetahuinya.
Dan demi menjaga hubungan yang hanya sebatas teman itu , merekapun sepakat untuk tidak terlalu dekat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman nantinya.
Ara yang awalnya kaku, perlahan mulai merasa nyaman pada kepribadian Zean yang supel.
Zean juga pria yang sangat sopan dan bertutur kata lembut.
Hingga ia pun mulai terbuka tentang hubungannya dan Rendi.
Ia bahkan menjadikan Zean tempat curhat dan mulai mengeluhkan sikap dingin Rendi padanya.
Satu hal lagi yang Ara sukai dari Zean , pria itu tak pernah sekalipun memihaknya maupun Rendi.
Zean menganggap diri sebatas pendengar yang tak pernah angkat bicara, apalagi bertindak untuk mengeluarkan pendapat.
Hingga hal tak terduga datang menghampiri Ara.
Zean dan kedua orang tuanya datang ke rumah Ara untuk melamar.
Ara terkejut.
Namun karena ia masih terikat hubungan dengan Rendi , ia pun meminta waktu untuk memberi jawaban.
'' sejak pertama kali bertemu denganmu, aku uda suka sama kamu , Ara.
Selama setahun ini aku sudah berusaha untuk menahan diri.
Dan ternyata aku gak cukup kuat mengontrol hati dan perasaan ku.
Aku mencintaimu, Ara.
Mungkin ini terdengar tak tau malu karena kau masih berstatus kekasih Rendi dan Rendi sendiri adalah teman dekat ku.
Tapi aku benar-benar gak bisa ngendaliin perasaanku '' ucap Zean saat Ara mengajaknya bicara berdua di lapangan yang berada tepat di samping rumahnya.
Ara terdiam. Ungkapan cinta Zean terdengar begitu tulus.
'' tap-tapi ak- aku.. ''
'' Ara...
semua orang punya dan pernah membuat kesalahan dimasa lalu .
Kamu tau kalau aku bukan tipe orang yang suka menghakimi.
Aku gak peduli sama apa yang pernah kamu lakukan.
Aku janji, jika kamu mau memberi kesempatan dengan menerima larmaranku, aku gak akan pernah mengungkitnya apalagi mempermasalahkannya.
Jadi, maukah kau percaya padaku ?''
Ara terdiam.
Setelah malam itu, semua ucapan Zean selalu terngiang dan memenuhi isi kepalanya.
Ara pun mulai ragu, bimbang dan juga perlahan pesimis pada kelanjutan hubungannya dan Rendi.
Hingga saat itu tiba. Rendi memberi kabar bahwa ia berhasil mendapatkan jabatan sebagai asisten manajer dan akan menerima pelatihan selama satu bulan di luar kota.
Ara senang mendengarnya.
Apalagi saat Rendi mengajaknya makan malam sekaligus memberikannya kejutan berupa tiket pesawat ke Bali.
Rendi mengajaknya liburan .
Ara yang tadinya mulai ragu seketika harapannya muncul kembali.
Ia berpikir mungkin Rendi akan melamarnya disana.
* * *
Hari itupun tiba.
Mereka sudah berada di bali dan mulai menikmati setiap hal indah yang ada di sana. Berjalan ria sambil bergandengan tangan layaknya pasangan yang tengah bulan madu.
" andai saja kami sudah menikah "
__ADS_1
Namun semua tak seperti yang dibayangkan. Malam itu, setelah percintaan mereka yang begitu menggairahkan..
Ara terdiam setelah Rendi menolak mentah-mentah ajakannya untuk menikah.
Semua harapan dan angan-angannya pupus.
Ia bahkan sudah beberapa kali mencoba untuk merayu dan membujuk Rendi . Namun semua usahanya itu sia-sia saja.
Pria itu justru memilih tidur dan membelakanginya.
Hatinya sakit. Ia merasa tak ada harga dirinya lagi.
Ara menangis dalam diam. Air matanya keluar tanpa henti.
Hingga akhirnya ia pun sesenggukan.
Ternyata semuanya sia-sia . Apa yang sudah ia berikan dan yang telah ia lakukan untuk pria yang sangat dicintainya itu tak dianggap sama sekali.
Untuk pertama kalinya ia merasa jika semua yang ia lakukan selama ini adalah salah.
Cinta tak seharusnya seperti ini.
Dosa akan semua yang sudah ia lakukan karena dibutakan oleh perasaannya pada pria ini sudah terlalu besar.
Ara ingin mengakhirinya. Tapi ia terlalu takut.
Takut akan masa depannya sebagai seorang wanita yang tak bisa menjaga harga diri dan kehormatannya.
Bagaimana jika nanti ia diremehkan ?
Dipandang sebelah mata atau bahkan tak akan ada lagi pria yang mau menerimanya ?
Tangisnya kian deras. Membuat Rendi berbalik dan melihatnya.
Ara segera menghapus air matanya. Ia berbalik dan berganti kini ia yang membelakanginya.
'' jangan berlebihan, ra.
Aku bukan gak mau nikahin kamu.
Tapi aku sama sekali belum memberitahu orang tuaku tentangmu ''
' deg ' tangis Ara berhenti seketika.
Ia mendudukkan diri sembari memegang selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Ditatapnya Rendi dengan rasa tak percaya.
'' kamu belum cerita apa-apa tentang ku ?''
' ck ' Rendi berdecak kesal lalu ikut mendudukkan diri.
''sebenarnya, kamu anggap apa aku selama ini ?''
''jangan mulai berdrama lagi, deh ra ''
'' benar. Kamu benar. Kalau yang selama ini kita jalani hanyalah sebuah drama.
Dan sepertinya peran ku gak lebih dari sekedar pemuas nafsumu saja ''
'' ra, aku gak suka kamu ngomong kaya gitu.
Kalau kamu gak suka , kenapa juga kamu gak nolak tiap kali kita melakukannya ?
Kau bahkan gak pernah keberatan dan selalu datang ketika ku suruh ''
Ara mengangguk.
Ia kini benar-benar tersadar.
Ia bodoh dan sangat bodoh karena terjerat cinta dengan pria tak berperasaan.
'' ini terakhir kalinya.
Ini akan jadi yang terakhir kalinya aku minta ke kamu ''
'' ... ''
'' plis, ren. Sebelum pergi, lamarlah aku ke ayah ''
Sekali lagi , sekali lagi Ara meyakinkan diri dengan membuang harga dirinya untuk mengemis pada Rendi.
Tunggu sampai aku memberitahu kedua orang tuaku dan datang bersama mereka .
Baru kita menikah ''
'' aku gak minta langsung nikah .
Tapi paling tidak lamarlah dulu aku ke ayah ''
'' kamu kenapa sih, kok maksa ?
Kamu hamil ?''
Ara menggeleng. Karena memang bukan itu alasannya mendesak Rendi untuk melamarnya.
'' lalu ?''
Ara beranjak berdiri, memungut pakaian yang berserakan dilantai dan dengan cepat mengenakannya.
'' aku gak akan minta dan mendesakmu lagi.
Kamu punya waktu seminggu sebelum pergi untuk mempertimbangkannya.
Sampai saat itu, aku juga gak akan menghubungimu.
Dan jika gak ada kabar sama sekali, aku akan anggap hubungan kita benar-benar berakhir ''
Ucap Ara sebelum akhirnya keluar dari kamar hotel yang sudah menjadi saksi apa saja yang mereka lakukan selama seminggu liburan di Bali.
Saat ini Ara merasa seperti dunianya hancur.
Ia sempat menoleh kebelakang. Air matanya pun kembali tumpah.
Jangan kan membujuk, menyusulnya saja pria itu tidak.
Ara kembali merutuki diri.
Entah apa yang membuatnya begitu buta hingga mencintai dan menyerahkan segalanya pada Rendi.
Sepanjang meninggalkan hotel - dalam perjalanan ke bandara hingga akhirnya ia naik ke pesawat air mata Ara tak berhenti mengalir.
Berulang kali ia merutuki diri. Menyalahkan kebodohan dan juga sikap tak punya harga dirinya.
Masih jelas di ingatannya bagaimana pertama kali ia menyerahkan mahkota kesuciannya pada Rendi. Ia ingin mengikat Rendi dengan sebuah tanggung jawab, berharapan sikap pria itu akan melunak padanya.
Ia bahkan mempersiapkan diri dengan berbekal pil kontrasepsi yang ia telan setiap kali mereka selesai berhubungan.
Ia juga tak ingin hamil jika dirasa Rendi masih setengah hati padanya.
Tapi setelah kejadian tadi, kini ia yakin. Jika tak pernah ada cinta untuknya di hati itu.
Tanpa pikir panjang, tak lama setelah pulang, Ara menerima lamaran Zean .
Dan sehari sebelum pernikahan ,Ara mengirim Rendi sebuah handbag menggunakan jasa kurir.
Namun hal itu di salah tanggapi oleh Rendi.
Ia berpikir marah Ara sudah reda dan isi dari handbag kiriman Ara itu adalah bukti untuk membujuknya.
Rendi terlalu percaya diri. Jangankan berpikir untuk meminta maaf terlebih dahulu, ia bahkan dengan angkuhnya tak mau menghubungi dan yakin jika Ara pasti akan menghubunginya terlebih dahulu.
Seminggu berlalu, Ara tak kunjung menghubungi.
Hingga masa pelatihan berakhir, barulah pikiran buruk mulai menghampiri Rendi.
Rendi mulai gelagapan. Nomor ponsel Ara tak aktif. Bahkan teman sekantor tempat Ara bekerja mengatakan jika Ara sudah berhenti sejak bulan lalu.
Perlahan Rendi pun menyadari, jika ia memang sudah keterlaluan.
Ia lalu berencana untuk melamar Ara sepulangnya nanti. Dan dengan semangatnya ia juga menyiapkan sebuah cincin yang akan ia gunakan untuk mempersunting Ara.
Hatinya berbunga sekaligus gugup. Tak sabar rasanya walau hanya dengan memikirkannya saja.
Ia semakin bersemangat dan sudah memutuskan jika nanti ia pun akan mengatakan pada Ara bahwa ia mencintai dan ingin Ara menjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1
Tapi yang terjadi justru begitu mengejutkan.
Ia dihadapan dengan kenyataan jika Ara sudah menikah. Dan yang lebih ia tak habis pikir adalah, bagaimana bisa yang menjadi suami Ara adalah Zean ?
Dan disinilah mereka.
Berdiri saling berhadapan ditengah lapangan yang ada dihalaman tepat di samping Ara.
'' kamu selingkuh ?'' tanya Rendi menatap Ara tajam.
Ia kesal dan juga sangat marah karena merasa dikhianati.
'' selingkuh ? Kurasa yang namanya selingkuh itu kalau kita masih memiliki hubungan.
Kamu lupa dengan ucapanku terakhir kali ?''
Rendi berpikir sejenak. Menggali ingatan akan kejadian yang dimaksud Ara.
'' kamu masih Rendi yang sama. Yang tidak pernah menganggap ucapanku ada artinya ''
'' tap- tapi bagaimana bisa kamu menikah tan-''
'' kamu juga masih saja gak pernah menghargai pemberianku.
Handbag yang kukirim, pasti belum kamu buka, kan ?''
Rendi tercekat. Memang apa isinya ?
'' didalamnya ada kartu ucapan salam perpisahan dan juga undangan pernikahan ku ''
Tatapan tajam Rendi surut dan perlahan berubah sendu.
Apakah wanita yang ada didepannya kini sudah bukan miliknya lagi ?
Benarkah Ara sudah bersuami ?
'' aku rasa cukup sampai disini.
Ke depannya aku pastikan kita tidak akan pernah bertemu lagi.
Besok aku dan Zean akan pergi .
Kami akan memulai dan menjalani hidup kami yang baru '' Ara berbalik hendak melangkah namun tak jadi karena Rendi menyebutkan namanya.
'' Ara...aku mencintaimu ''
Ara tersenyum kecut. Ia mendongak, menahan jatuh air matanya. Setelah sekian tahun dengan melewati ribuan hari bersama ,lalu kenapa baru sekarang pria ini mengatakan hal yang ia nanti sejak dulu ?
Ara berbalik, kembali menghadapnya.
'' maaf, kamu telat Ren. Karena sekarang aku sudah berhenti mencintaimu ''
'' tapi gak mungkin bisa secepat itu kan ?''
'' tidak masalah. Selama ada orang yang setia mencintaiku dan menerimaku apa adanya.
Aku yakin , rasa itu pasti bisa hilang.
Sama seperti yang aku lakukan padamu.
Sekian tahun berharap dengan segala upaya , akhirnya aku bisa juga membuatmu mencintaiku, kan ? ''
' gruduk-gruduk-gruduk ' suara gemuruh saling bersahut-sahutan bersamaan dengan petir yang membelah langit malam tak berbintang.
'' ceraikan dia. Dan aku akan langsung menikahimu ''
Ara tergelak, menatap sinis pada lawan bicaranya.
'' kau masih saja percaya diri. Apa kau pikir, hanya karena pernyataan cinta yang terlambat tadi akan membuatku kembali luluh padamu ? ''
'' aku mencintaimu. Dan aku tak perduli meski dia sudah menidurmu ''
'' kau ingin mengklaim ku karena itu ? Kau merasa berhak karena aku pernah tidur denganmu ?
Sadarlah Ren. Buka matamu lebar-lebar.
Dia itu suamiku.
Wajar jika dia meniduriku. Jadi jelas,dia yang lebih berhak dan lebih pantas atas tubuhku ''
'' Ara '''
'' aku hamil ''
'' ap- apa ? Kam-kamu hamil ?''
Ara mengangguk tegas.
'' tidak mungkin itu anaknya.. It-itu pasti anakku kan ?''
'' kau masih saja tidak sadar.
Aku sudah sebulan menikah dengannya .
Dan tadi kami baru saja dari dokter kandungan.
Dokter bilang kehamilanku baru menginjakkan 3 minggu . Itu jelas bukan anakmu ''
'' ... ''
'' kenapa ? Apa kau heran kenapa selama melakukannya denganmu, aku tidak hamil ?''
'' ... ''
'' karena sejak pertama kali aku menyerahkan diri padamu, aku sudah mengantisipasinya.
Aku selalu minum pil KB setiap kali kita selesai melakukannya ''
Rendi terdiam. Ia tak lagi bisa bicara apa-apa.
Tatapannya masih lekat pada Ara. Ia tak rela, tak rela, sangat-sangat tak rela wanitanya dimiliki orang lain. Berkali-kali kalimat itu memenuhi isi kepalanya.
'' ternyata dicintai itu lebih menyenangkan dari pada mencintai tanpa pernah dibalas.
Sama seperti yang kulakukan dulu padamu.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku pasti bisa membuka hati dan membalas cinta Zean ''
'' Ara '' Rendi merosot, kedua lututnya terasa lemas dan tertekuk menyentuh tanah.
'' jangan seperti ini, Ren.
Kita sudah selesai.
Dan gak akan ada yang bisa mengubahnya.
Maaf, jika aku sudah menyakitimu.
Jadi kumohon, pergilah. Lupakan apa yang pernah terjadi diantara kita ''
Ara berlalu meninggalkan Rendi yang tengah berusaha untuk kembali tegak berdiri.
Ditatapnya punggung wanita yang pernah puas ia cumbu. Wanita pertama dan selalu ia harap akan menjadi yang terakhir.
Dan yang ia kira akan menjadi satu-satunya dalam hidupnya.
Menyesal pun tak ada gunanya.
Tak ada lagi Ara yang penurut dan yang dengan setia akan selalu mencintainya .
Titik hujan mulai turun dengan perlahan , lalu semakin deras ketika Rendi sudah berada di dalam mobil.
Ia sempat melihat bagaimana tangan Zean melingkar di pinggang Ara dan menuntunnya masuk kedalam rumah.
Dan pintu pun ditutup.
Ara, maaf. Semua karena ambisi dan juga keegoisanku.
Andai aku tak terlambat mengatakannya. Mungkin saat ini yang ada didalam perutmu adalah anakku. Anak kita.
Rendi tak mampu lagi menahan sakit hatinya dan menangis sejadi-jadinya.
Mengutuk kebodohan yang telah menyebabkan ia kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya.
📍 selesai 📍
__ADS_1
Hayo, di-like ya
Di komen juga sekalian