Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Entah dimana


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


Meri menatap pantulan diri di cermin.


Ia masih tak mengerti apa yang sebenernya terjadi.


Berulang kali ia mencoba mengorek memori, mengingat hal apa yang terakhir kali ia lakukan.


Pagi itu hujan turun dengan sangat deras.


Ia yang seharusnya ada jadwal latihan ,mendapat pesan dari pelatihnya jika hari ini latihan diliburkan.


Padahal ia sedang sangat bersemangat mengingat jadwal pertandingan yang tinggal sebulan lagi.


Meri adalah seorang atlet voli profesional yang akan mengikuti ajang pertandingan bergengsi tingkat internasional di Argentina.


Gadis berusia 19 tahun yang memiliki tinggi dan bentuk tubuh layaknya seorang atlet , kemudian memilih kembali tidur.


Namun saat terbangun, ia mendapati dirinya telah berada di tempat asing.


Berkali-kali Meri menampar pipinya bahkan sampai membenturkan kepalanya, meski tak ia lakukan dengan keras.


" augh, sakit " pekiknya menahan pedas di pipi dan 'nyut-nyut ' di jidatnya . Jika ini mimpi maka ini terlalu nyata baginya.


" nona " sapa Colin pelayan pribadinya.


Meri menoleh ke asal suara. Colin perempuan berusia tiga tahun lebih tua darinya itu masuk bersama dua pelayanan lain berseragam khusus.


Tak terasa sudah sebulan ia berada di dunia yang entah dimana. Namun satu hal yang ia tau pasti, bahwa ia tengah berada di wilayah barat.


Seperti di abad pertengahan, dimana era kerjaan dan bangsawan masih begitu kental mendominasi.


Dan selama itu pula ia terus memperhatikan lingkungan sekitarnya, sambil berusaha beradaptasi di tempat tinggal barunya itu.


Ternyata ia menempati tubuh putri tunggal seorang Duke yang memimpin salah satu wilayah utama kerjaan. Duke merupakan gelar tertinggi dari tingkat kebangsawanan.


Yang itu berarti ia terjebak di keluarga yang tak sembarangan.


Ayahnya adalah mantan jendral perang yang dimasa kejayaannya telah memberi banyak jasa bagi kerjaan.


Sedangkan ibunya adalah wanita yang terkenal dan sangat disegani dikalangan kelas atas.


Dan yang paling membuatnya terkejut adalah, ia merupakan tunangan dari pangeran Leo, putra mahkota alias calon raja selanjutnya.


" ahahaha.. bercanda.. "


Meri terkekeh dalam hati. Sekali lagi ia meyakinkan diri, jika ini cuma bunga tidur.


Dan ia pasti akan terbangun , ketika mendengar sang ibu memanggil namanya dengan lantang seperti pagi-pagi kemarin.


Tapi apa yang terjadi ? Meri bangun dan tetap tak kembali.


Tak mau cepat berputus asa, ia berharap sambil berdoa akan keajaiban di keesokan harinya.


" Arghhhhhhh" teriak Meri yang frustasi saat terbangun dan mendapati dirinya masih berada di tempat tersebut.


Dan itu terus berlanjut di keesokannya lagi, dan lagi.


Meri mulai lelah .Ia mau menyerah karena hampir gila memikirkannya.


Tak ada yang berubah. Ia tetap berada di dunia lain dengan fisik yang jauh berbeda dengan rupa sebenarnya yang khas asia.


Ia putus asa.


Mau tak mau, Meri kini harus bisa dan belajar menerima kenyataan jika hidupnya tak lagi sama seperti kemarin.


Ia mulai dengan memantapkan hati.


Menjalani setiap hari yang terasa panjang, berat dan sangat membosankan.


Banyak hal tak masuk akal yang dituntut agar dapat ia lakukan.


Kelas etika adalah salah satunya.


Dimana ia harus memperhatikan setiap hal yang ia lakukan. Bahkan hal sekecil apapun itu.


Ia harus selalu terlihat anggun . Setiap gerak tubuh dan sorot matanya harus bisa memancar pesona khas seorang Lady dari bangsawan terhormat.


Apalagi ia akan segera menikah dan akan menjadi anggota keluarga kerjaan.


Rasa lelah dan frustasinya pun kian hari kian bertambah.


Belum selesai dengan itu, hal yang paling sulit ia terima adalah pembatasan makan.


Tak cukup mengenakan korset yang super ketat hingga membuatnya kesulitan bernafas, pola makannya pun juga diatur sedemikian rupa untuk menjaga bentuk tubuhnya agar tetap ramping .


'' ini gak masuk akal ''


Kali ini ia sudah tak tahan lagi.


Ia merasa miris setiap kali melihat tubuh polosnya lewat pantul cermin.


Tubuh yang ia tempati ini memiliki ukuran pinggang yang sangat kecil.


Entah dimulai dari kapan tubuh ini dililit korset . Meri sesak membayangkannya.


Perutnya serata papan, dan yang paling sulit ia terima adalah *********** yang rata.


Hanya ujung putingnya saja yang terlihat menyembul.


" pria mana yang akan tertarik dengan tubuh kaya gini "


Meri memutuskan untuk memberontak. Meski ia hidup di dunia yang memiliki aturan dan tradisi jauh berbeda dengan kehidupan sebelumnya, tapi ini tetaplah hidupnya.


Ialah yang nanti akan menjalaninya.


Hal pertama kali yang akan ia lakukan adalah ia harus memikirkan bagaimana cara agar pernikahannya dengan putra mahkota batal dilaksanakan.


Saat makan malam, Meri mencoba menyampaikan hal tersebut kepada orang tuanya .


Sesuai dugaan, kedua orang tuanya terkejut .


Tapi ia justru dibuat lebih terkejut lagi, saat kedua orang tuanya mengatakan tak keberatan dan menyerahkan semua keputusan itu padanya.


Dan disaat itu jugalah ia mengetahui jika Meri terdahulu mencalonkan diri untuk menjadi istri putra mahkota dan berhasil setelah melalui banyak tahap seleksi dan juga kompetensi.


Itulah bagaimana status sebagai tunangan sekaligus bakal calon ratu masa depan disandangnya.


"kau yang memulai, maka kau pula lah yang harus bertanggung jawab jika ingin mengakhirinya "


Meri senang akan tanggapan tersebut.


Kedua orang tuanya tak menuntut, bahkan mereka mengatakan jika kebahagiaannya lah yang utama.


Mereka pun tak perduli dan tak akan mempermasalahkan apa pendapat bangsawan lain jika sampai pernikahan itu benar-benar tak jadi dilangsungkan.


Satu masalah selesai. Meri sudah mendapat ijin untuk membatalkan pernikahannya. Sekarang hal selanjutnya adalah bicara dengan pangeran Leo.


Tapi masalahnya adalah, ia belum pernah sekalipun bertemu dengan calon suaminya itu.


Setelah mencari tau , ia akhirnya mengetahui jika saat ini pangeran Leo sedang menjalankan tugas untuk memantau dan tengah berada diluar wilayah untuk jangka waktu tiga bulan.


" ada yang aneh " Meri bergumam setelah keras berpikir.


Jika mereka memang akan segera menikah, kenapa tak pernah sekalipun ada utusan yang datang menyampaikan kabar ? Kenapa tunangannya itu tak pernah mengiriminya surat ?


" ini pasti ada yang salah " Meri berasumsi dengan hubungan yang sama sekali tak ada di ingatannya.


Hingga suatu malam, ia bermimpi tentang kilas balik bagaimana kehidupan yang Meri terdahulu jalani.


Ternyata pangeran Leo tak menyukainya .


Pangeran Leo terpaksa menerimanya sebagian calon istri karena ialah yang keluar sebagai pemenang kompetisi.

__ADS_1


Setelah itu, hubungan yang mereka jalani pun jauh dari kata wajar.


Pangeran Leo jarang menghiraukannya dan selalu bersikap dingin terhadapnya.


Pria itupun lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja .


" aku tak punya waktu untuk bermain-main denganmu !


Ada segudang hal yang harus kupelajari.


Dan ada banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku saat ini.


Karena aku ingin dinilai lebih pantas dan layak lagi jika nanti aku naik tahta .


Jadi lakukan saja apa yang main kau lakukan, tapi jangan menggangguku !"


Begitu yang pernah dikatakan pria yang wajahnya tak pernah jelas terlihat dalam mimpi Meri.


Hanya sesekali saja pria bertubuh tinggi itu mau pergi menemaninya ke pesta pergaulan atas . Selebihnya pria itu bahkan tak pernah mau bicara jika bukan sekedar sapa dan membalas salam saja.


Hari berganti. Satu persatu ingatan akan Meri terdahulu ia ketahui lewat mimpi. Dan itu masih tentang pangeran Leo.


Setelah mengetahui semua ingatan Meri terdahulu, ia pun senang. Karena jika hubungan mereka tak baik, maka akan semakin mudah baginya untuk memutuskan pertunangan .


Dua bulan berlalu.


Di suatu hari yang cerah, Meri kedatangan tamu seorang pria . Delikh, putra bangsawan yang setingkat dibawah gelar keluarganya.


Delikh adalah teman semasa kecil Meri terdahulu.


Ia baru kembali usai menjalankan kewajibannya sebagai prajurit khusus yang menjaga perbatasan wilayah kerajaan.


Bisa dikatakan hal itu semacam wajib militer .


Menurut penuturannya perintah tersebut diturunkan setelah kerjaan tersebut bersitegang dengan kerjaan tetangga beberapa tahun silam.


Dimana dalam perintahnya, diwajibkan pada setiap anak laki-laki yang ada di wilayahnya , bangsawan ataupun rakyat biasa, wajib mengikuti latihan bertempur.


Hal tersebut dilakukannya udah berjaga-jaga jika suatu saat nanti perang kembali pecah, maka kerjaan memiliki pasukan yang cukup baik segi jumlah maupun keterampilannya.


Meri senang.


Delikh pria yang supel, ramah dan yang juga memiliki paras yang rupawan .


Terbesit angan jika nanti pertunangannya telah dibatalkan, ia berharap Delikh lah yang akan menjadi pasangannya.


Apalagi saat Delikh menyinggung prihal lamarannya yang ditolak oleh Meri terdahulu .


Hari kembali berganti.


Kedekatan yang terjalin diantara mereka kian erat.


Meri tak perduli pada gosip yang mulai tersebar dikalangan bangsawan. Yang mengatakan jika ia tengah asik berselingkuh sementara sang tunangan sibuk menjalankan tugas kerjaan.


Karena ia benar-benar ingin terlepas dari pria yang tak jelas itu.


Ia bahkan tak membaca surat yang datang dari utusan istana , yang isinya adalah pemberitahuan bahwa pangeran Leo telah pulang dan akan berkunjung ke kediamannya dalam waktu dekat.


" Mer " ucap Delikh.


Nama dalam kehidupannya saat ini adalah Merdian.


Mereka saat ini tengah menikmati senja di halaman belakang rumah Meri. Keduanya duduk beralaskan kain yang digelar diatas rumput , menghadap danau yang membentang luas didepan mereka.


Meri yang sedang menikmati pie daging yang dibawa Delikh , menoleh.


Sudah menjadi kewajiban bagi Delikh . Setiap kali bertemu, entah itu Delikh yang datang berkunjung ataupun ketika mereka janjian ke suatu tempat, ia selalu membawa banyak makan enak untuk Meri.


Alhasil , hanya dalam waktu satu bulan , tubuh Meri kini lebih berisi.


Meski hal tersebut tak berdampak besar bagi dadanya, tapi ini bisa dikatakan perubahan yang lumayan.


" apa kamu tidak khawatir jika nanti bertemu tunanganmu dengan keadaan yang berbeda dari sebelumnya ?"


" eng ? memangnya ada yang salah denganku ?


Meri terkekeh. Ia tak perduli.


Karena meskipun berat badannya bertambah , namun ia tetap menjaganya agar terlihat ideal dengan rutin olahraga.


Ia lakukan hal tersebut tanpa diketahui banyak orang di rumahnya.


Selain rutin maraton pagi dengan mengitari halaman rumahnya, ia juga selalu melakukan sit up dan olahraga ringan lainnya.


Sebagai seorang atlet, ia tau bagaimana melakukan semuanya dan ia cukup puas melihat hasilnya.


Kini tubuhnya terasa lebih bugar dan nyaman.


Ia pun berhasil memperoleh tubuh yang ia inginkan.


Ia bahkan memiliki otot berbentuk kotak-kotak di perutnya.


Ditambah lagi terkadang ia meminta agar Delikh mengajarinya cara bertarung dan menggunakan pedang.


Meski awalnya Delikh sempat menolak, namun pria itu akhirnya luluh dan mau menuruti permintaan tersebut.


Delikh mengajarinya bagaimana cara menunggang kuda dan juga menggunakan pedang ala kesatria.


Kembali pada sepasang manusia yang telah saling tertarik satu sama lain.


Delikh tersenyum. Baginya mau seperti apapun Meri ia tetap suka .


Dan obrolan mereka terus berlanjut .


Hingga tanpa mereka ketahui, jika sebuah kereta kuda berlambang kerjaan baru saja memasuki dan kini sudah berhenti tepat didepan rumah Meri.


" no- nona... " Colin dengan nafas tersengal-sengal menghampiri dua orang yang langsung beranjak berdiri.


Seorang pria setinggi 190 cm dengan bentuk tubuh kekarnya yang tegap terlihat berjalan dibelakang.


Semakin dekat dan wajah itu semakin terlihat jelas.


Delikh dan Colin langsung membungkuk, memberi hormat dan salam pada pria yang mereka sebut dengan " yang mulai putra mahkota ".


Mendengar itu, kedua mata Meri reflek membesar.


Jadi pria bertubuh gagah nan rupawan ini adalah pangeran Leo, tunangannya ?


Pantas saja banyak gadis bangsawan tergila-gila padanya, termaksud Meri terdahulu .


" sa-saya memberi hormat pada yang mulia putra mahkota " Meri yang tersadar pun membungkuk .


" apa yang kau lakukan disini bersama seorang pria , hah ? " tanyanya penuh penekanan.


Karena belum mendapat ijin, mereka pun masih tetap membungkuk.


Hening. Tak ada yang bersuara.


Meri pun mulai merasa jengkel. Ia lupakan pesona yang tadi sempat menghipnotisnya.


Betapa arogan dan kasarnya pria yang dihormati sebagai penerus tahta dinegri ini. Sampai tega membiarkan mereka membungkuk seperti ini.


Bahkan ia yang notabene nya adalah tunangan sekalipun sama sekali tak diberi toleransi.


" Siapa juga yang mau nikah sama orang yang kasar begini " ogah Meri dalam hati.


" sebaiknya kau masuk sekarang juga ! Aku ingin bicara dengan kau dan juga kedua orang tuamu !" perintahnya tegas.


Seketika semua orang menenggak tubuh saat Pangeran Leo berbalik dan mengambil langkah pergi lebih dulu.


"maaf, Delikh " ucap Meri yang merasa tak nyaman pada Delikh karena sudah melibatkannya dalam situasi yang tak nyaman .


Pria itu tersenyum sembari pamit pulang.

__ADS_1


Tak mereka sadari jika Pangeran Leo rupanya berbalik lagi dan tengah memperhatikan bagaimana keduanya yang tampak begitu akrab.


Pangeran Leo terlihat kesal. Ia pacu langkahnya semakin cepat kearah mereka.


" Nona " Coliin berusaha menyadarkan keduanya yang sudah dipenghujung obrolan.


Meri dan Delikh sedang berbalas salam perpisahan.


" beraninya kau mengabaikan perintah ku !" eram Pangeran Leo yang mencekal lengan Meri lalu menariknya .


Meri tak berdaya , karena tenaganya kalah jauh. Ia pun terpaksa mengikuti langkah kaki sang tunangan .


Ia bahkan sempat tersandung dan hampir saja terjatuh. Namun pria itu bergeming .


Ia hanya menahan tubuh Meri kemudian kembali menyeretnya.


* * *


Dan disinilah mereka semua berkumpul. Di ruang utama rumah yang miliki luas 1000 meter persegi.


Pangeran Leo duduk berhadapan dengan Meri dan pasangan suami istri Duke , calon mertuanya.


" lihat bagaimana dirimu selama ku tinggal pergi ?!" pangeran Leo menatap Meri yang duduk diantara kedua orang tuanya.


Ia tampak begitu memperhatikan Meri dari atas kebawah dan sudah pasti ia menyadari perubahan tunangannya itu.


" besok akan kukirimkan orang yang akan melatihmu agar kau terlihat pantas sebelum kau menerima gelar sebagai Putri Mahkota "


Masih tak ada yang mau menyahuti.


Pasangan suami istri Duke terlihat sedikit menundukkan kepala , mencoba menghindari tatapan menusuk dari calon menantu mereka.


Sedangkan Meri yang masih tetap bungkam terlihat tenang dan menegakkan kepala.


Diperhatikannya pria yang sejak tadi menatapnya dengan begitu lekat.


" apa kau tak menerima surat ku ? "


Meri menghela nafas. Belum saatnya ia bicara meski ia merasa sudah diujung batas kesabarannya.


Pria ini benar-benar menyebalkan.


Karena tak mendapat jawaban, pangeran Leo kemudian memerintahkan pengawalnya untuk mencari surat yang kemarin ia kirimkan.


Selang beberapa saat kemudian, surat yang hanya dibiarkan tergeletak di atas meja kamar Meri itupun dibawa dan serahkan pada pangeran Leo.


Melihat surat yang masih utuh, yang itu berarti belum dibuka apalagi dibaca, membuat pangeran Leo seketika meradang.


" selama tiga bulan aku pergi, sekalipun kau tak pernah mengirimiku surat.


Dan sekarang kau bahkan tidak membaca surat yang kukirimkan padamu ?! " pangeran Leo berdiri, mendekat lalu menarik Meri untuk untuk berhadapan dengannya.


" apa yang sebenarnya ada dipikiranmu, hah ? Kenapa kau sampai berani melakukan hal seperti ini pada tunanganmu ?! Dimana rasa hormatmu !! " Pangeran Leo semakin mendekat hingga hembus nafasnya terasa menyapu permukaan wajah Meri.


" yang mulia, bagaimana kalau kita akhiri semuanya " Meri berucap dengan ekspresi santai.


Keputusannya kian bulat. Ia tak mau dan jangan sampai terjebak lebih lama dengan pria seperti ini.


Ia tak sudi.


Sesaat keduanya saling beradu tatap.


Dari raut wajahnya, jelas sekali jika pangeran Leo marah. Rahangnya mengeras dengan tatapan yang semakin ia pertajam, berharap calon istrinya akan terintimidasi.


Entah mengapa ia tak suka mendengar kata ' akhiri ' yang keluar dengan begitu mulus dari bibir Meri.


" ha-hahahahha " tiba-tiba saja ia tertawa sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.


Tawa yang membuat atmosfer di ruangan tersebut terasa mencekam.


Kedua orang tua Meri ,para pelayan rumah, dan pengawal merinding dibuatnya.


" kau pasti bercanda " menghentikan tawa dan kembali menatap gadisnya.


Meri bergeming. Masih dengan ekspresi yang sama. Tenang , seolah tak takut sedikitpun padanya.


Padahal Meri sadar betul, jika dengan kuasanya , pangeran Leo bisa saja melakukan sesuatu padanya dan juga keluarganya.


Namun ia sudah memutuskan untuk tidak takut pada pria yang mulai mengendurkan pegangan di lengannya.


Ia akan hadapi dengan berani, apapun kondisinya nanti.


Pegangan itupun lepas sepenuhnya.


Meri langsung mengelus lengannya yang terasa nyeri .


" apa kau berselingkuh ? Dengan pria tadi ?"


" apa sih, maunya? Jelas - jelas tak menyukaiku tapi nanya ini itu ..mana ngotot lagi !


Tapi, baiklah. Akan ku kaui seperti tuduhanmu.


Dan mari kita lihat bersama, akan seperti apa reaksimu nanti ?"


Meri manarik nafas panjang, merubah air mukanya menjadi sendu .Bersiap untuk bersandiwara.


" maafkan , saya yang mulia "


' deg ' pangeran Leo tersentak dalam hati. Wajah yang tadinya dingin kini berubah datar. Ada kecemasan di sorot mata yang terpancar dikedua bola mata hijaunya.


" yang mulia tau sendiri jika hubungan ini dimulai dari kompetisi.


Dan siapapun tau, jika anda tak menyukai saya.


Anda bahkan tak pernah sekalipun memperlakukan saya layaknya seorang lady apalagi sebagai tunangan anda "


" tapi, bukankah kau bilang kalau kau tak masalah karena kau sangat menyukai dan juga mencintaiku ?" suara bass itu terdengar datar. Tak menekan apalagi bernada tinggi seperti tadi.


" anda benar. Tapi itu dulu, saat saya belum mengenal bagaimana rasanya cinta yang sebenarnya.


Saya merasa jika hubungan yang hanya sepihak ini tak akan pernah memberi kebahagiaan.


Saya hanya seorang perempuan yang inginkan hal yang sama dengan perempuan lainnya.


Apalagi melihat kedua orang tua saya yang hidup dengan saling mencintai. Saya ingin seperti mereka.


Karena itu, saya mohon anda mau membatalkan pertunangan ini "


" .... "


" dan saya juga akan jujur.


Maaf karena saya tidak bisa menjaga hati.


Saya memang telah jatuh hati pada pria lain.


Dan untuk itu, saya siap menerima hukuman dan konsekuensi nya " Meri membungkuk dan mempertahankannya.


Hening melanda lagi untuk beberapa saat.


" baiklah, jika itu maumu.


Besok akan ada pesta penyambutan atas kepulangan ku di istana.


Dan kurasa itu saat yang tepat untuk kita mengumumkannya.


Aku akan menjemputmu dan kita akan ke sana bersama " ucap Pangeran Leo yang setelah pergi tanpa mengucapkan apapun lagi.


" yes ! " Meri bersorak girang.


Meski ia juga khawatir . Akan seperti apa reaksi keluarga kerjaan jika mengetahui hal ini nantinya.


bersumbang - -

__ADS_1


Hayo, di-like ya


Di komen juga sekalian


__ADS_2