Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Sesal ( selesai )


__ADS_3

๐ŸŒบ hem... ๐ŸŒบ


* * *


Santi duduk termenung didepan meja rias, manatap pantulan diri di cermin.


Wajahnya sembab sebab air mata yang terus mengalir tanpa jeda.


'' Heru punya perempuan lain ''


Santi mengepalkan tangan yang ia letakan diatas meja.


Matanya ia pejamkan kuat-kuat.


Hatinya perih, mengingat apa yang dikatakan oleh mertuanya tadi siang.


" aku sebenarnya ragu untuk memeberitahumu.


Tapi mereka bilang , kau berhak tau dan kau jugalah yang paling berhak memutuskan.


Jadi, akupun tak akan ikut campur.


Dan aku juga akan menerima dan menghormati apapun yang menjadi keputusan mu nanti ''


Ucap sang mertua diujung pembicaraan .


Tangis Santi pecah. Ia terbungkuk, dengan kedua telapak menangkup wajahnya. Tubuhnya bergetar seiring dengan suara tangisnya yang terdengar hingga keluar kamar.


Rasanya sangat sulit untuk dicerna oleh akal sehatnya.


Sakitnya benar-benar sakit. Tak pernah ia merasa sesakit ini seumur hidupnya. Bahkan bernafas pun terasa sulit. Rasanya ia ingin menutup mata saja.


Dan kalau bisa tak pernah membuatnya lagi.


' kreeettt ' suara pintu seiring dengan suara yang ia hapal terdengar mengucapkan salam .


Santi menegakkan tubuh sambil menghapus air matanya. Ia merasa gugup saat langkah kaki itu terdengar semakin dekat.


'' mah '' sosok itu muncul dan berhenti dimulut pintu.


Santi memutar tubuhnya, menatap sang suami dengan air mata yang masih saja mengalir meski sudah berusaha ia tahan.


"Bukankah s**eharusnya dia sekarang berada diluar kota ? Tapi kenapa dia pulang ?


Dan lagi, kemana anak-anak jam segini belum pulang** ? "


Saat ini, batin dan nuraninya tengah berkecamuk didalam sana. Sejuta tanyapun tengah menghampiri dan memenuhi isi kepalanya.


'' padahal aku tak ingin mempercayai apa yang kudengar tadi.


Apa ini bearti, semua perkataan ibu itu benar ?


Tapi kenapa, pah ? Kenapa papah bisa setega ini sama mamah ? ''


Santi menatap Heru. Begitupun sebaliknya.


Keduanya bergeming di posisi masing-masing.


Tatapan Heru terlihat sendu, mendapati wajah sang istri sembab dengan kedua mata merah.


Entah sudah berapa lama istrinya menangis.


Heru hendak mendekat, tapi Santi memintanya untuk tetap ditempatnya.


Hatinya hancur . Bukan hanya karena melihat keadaan Santi yang berantakan tapi juga karena penolakan sang istri barusan.


" mah '' lagi Heru mencoba mengutarakan apa yang ingin ia katakan. Tapi lidahnya kelu ketika melihat sorot mata Santi yang hampa.


Padahal ia biasanya di sambut sang istri dengan senyum sumringah setiap kali ia pulang kerumah.


Tapi yang ia dapatkan sekarang adalah sebuah keheningan yang mencekam.


Tak ada binar terang yang bisa terpancar dimata itu.Bahkan bibir polosnya tertutup rapat .


Santi masih menatapnya lekat, seakan menunggu ia melanjutkan apakah akan bicara atau tidak.


'' an-anak-anak hari ini nginap ke rumah ibu ''


Heru memberanikan diri melangkah. Tak ada pencegahan seperti tadi, ia pun semakin dekat dan berhenti didepan Santi.


Heru menekuk kedua lututnya didepan duduk sang istri. Kedua tangannya meraih tangan yang ada diatas pangkuan Santi.


Wanita yang telah menemaninya selama 20 tahun itu tertunduk sesenggukan. Ini pertama kalinya ia melihat Santi menangis seperti itu.


Santi terluka olehnya. Karena perbuatannya. Dan saat ini ia pasti tengah merasakan sakit yang luar biasa.


'' mah ''


Santi menegakkan kepala ,menarik tangannya untuk menghapus air mata yang telah membasahi seluruh pemukan wajahnya.


'' aku gak akan minta penjelasan. Karena sepertinya memang benar kalau kam-kamu sudah ... '' kalimat Santi tertahan. Ia tak sanggup tuk melanjutkannya.Dipalingkanya wajahnya ke samping.


Hatinya terlalu sakit karena ternyata memang benar, Heru telah menghianatinya.


Santi memejamkan mata, enggan melihat wajah yang telah menemani tidurnya selama ini.


Apalagi membayangkan jika suaminya telah berbagi kasih dengan wanita lain.


'' apa kita harus bercerai ? '' tanya Santi masih dengan mata terpejam.


Padahal kalimat itu ia sendiri yang mengucapkannya. Namun justru ia yang merasa seperti jatuh dari ketinggian. Seluruh indra perasannya terasa ngilu dan menjadi sakit yang teramat sangat.


'' gak-gak, jangan. Papa gak mau kita bercerai.


Papa ngaku salah. Papa minta maaf , mah..'' Heru menggeleng tegas. Ia mencoba meraih tangan Santi, tapi Santi menepisnya.


'' lalu ? kamu mau kita bagaimana ?'' Santi masih enggan menatapnya.


Heru tak tahan lagi dan mulai menitikkan air mata.


Santi tak menyebut dengan panggilan mereka seperti biasa.


Ia sudah hapal pada sikap Santi yang jika menggunakan ' aku dan kamu ' , itu berarti sang istri sedang dalam suasana hati buruk alias kesal padanya.


Tapi ia tau, situasinya saat ini lebih dari itu. Santi pasti sangat marah padanya.


'' padahal baru tadi malam kita melakukannya..hiks...


Tap-tapi bagaimana bisa kamu justru telah berencana untuk melakukannya lagi dengan wanita lain ? ''


Heru mendongak, dilihatnya air mata yang jatuh mengalir hingga ke ujung dagu Santi dan jatuh tepat dipunggung tangannya.


'' apa yang kita lakukan semalam hanya sekedar menjalankan kewajibanmu saja ? Supaya aku tak mencurigaimu, begitu ? '' air matanya lolos lagi dan lagi.


Heru tertegun. Ia pun baru sadar jika semalam ia dan Santi melakukannya setelah ia berbalas chat dengan Belinda yang membahas prihal rencana panas mereka.


Membayangkan akan seperti apa ia berhubungan intim dengan Belinda , membuat hasrat Heru naik yang kemudian ia lampiaskan pada istrinya.


'' papa akan lakukan apapun asal mama mau memaafin papa '' Heru kehabisan kata-kata.


'' apapun '' Santi meliriknya sesaat .


Heru mengangguk cepat.


'' kalau begitu jawab dengan jujur pertanyaanku ''


' glek ' seketika ketakutan menyelimuti seluruh isi kepalanya.


'' sudah berapa lama kalian berhubungan ? ''


'' du-dua bulan ''


'' apa kalian melakukannya ?''


Heru tak berani menjawab dan hanya bisa mengangguk saja.

__ADS_1


Santi histeris tertahan sembari meremas ujung dasternya.


Air matanya kembali mengalir lebih deras dari sebelumnya.


'' be-berapa kali ?'' Santi disela-sela sesenggukannya.


Heru menggeleng. Ia tak tau, karena memang tak pernah menghitungnya.


Diam seperkian detik.


'' katakan aku harus bagaimana denganmu sekarang ? ''


'' ... ''


'' jika kukatakan aku memaafkanmu apa kau akan percaya begitu saja ? ''


'' ... ''


'' lalu ? Jika kubilang aku tak bisa memaafkanmu apa kau akan setuju jika aku minta berpisah ?''


'' ... ''


'' aku gak bisa melanjutkan pembicaraan sekarang.


Aku butuh ketenangan.


Dan aku waktu untuk memikirkannya ''


'' ap-apa maksud mama ? ''


'' aku akan menyusul anak-anak kerumah ibumu.


Dan untuk sementara aku akan tinggal di sana ''


'' la-lau bagaimana denganku ?''


'' jadi, kau mau aku tetap disini ? '' Santi menatapnya dengan sorot mata penuh penekanan.


Heru gelagapan, ia terlihat serba salah.


Ingin Santi tetap disini tali juga tak ingin jika situasi diantara mereka seperti ini.


Ia tak tau harus bagaimana.


'' hanya dengan melihatmu saja , aku langsung memikirkannya dan tak bisa berhenti.


Aku terus membayangkan bagaimana kalian bermesraan ..


Bagaimana cara kalian berciuman atau bahkan saat kalian sedang melakukannya.


Lalu aku akan membandingkannya denganku.


Dan itu terlalu menyakitkan bagiku.


Aku tak bisa... "


" ... "


" apa kau mau melihat ku seperti itu ? ''


'' ... ''


'' kau sudah mengakui kesalahanmu, dan saat ini kau mungkin merasa sangat berdosa dan sangat menyesalinya.


Tapi apa kau tau bagaimana perasaanku saat ini ? ''


' hiks ' Santi meremas dadanya. Sakit benar-benar sakit harus mengatakannya.


'' sekarang aku merasa jika ini semua karenaku. Karena ternyata selama ini aku gak cukup baik untukmu. Makanya kau berpaling dengan dia yang pasti lebih baik diriku ''


'' gak.. itu gak benar.. mama adalah yang terbaik yang pernah ada di kehidupan papa.


Papa khilaf ma, semua salah papa. .maafin papa.


Papa mohon jangan menyalahkan diri.


Ini semua karena papa ..


Ja-jadi papa mohon, jangan seperti ini, mah '' Heru menahan tangan Santi yang semakin kuat meremas kerah dasternya.


'' kau tau apa yang kurasakan saat ini ? ''


'' ... ''


'' aku merasa sebagai seorang istri, aku telah gagal dan sudah tak ada artinya lagi.


Aku uda kehilangan nilai sebagai seorang wanita.


Aku uda gak bisa percaya diri lagi.


Dan yang lebih buruknya lagi, aku mungkin gak akan bisa menjalankan kewajibanku selayaknya seorang istri.


Entah bagaimana jika kita tetap mempertahankan rumah tangga ini nantinya ?


Karena aku gak akan pernah bisa mempercayaimu lagi. Aku uda gak yakin lagi kalau cuma aku wanita yang kau cintai.


Apa kamu pikir aku bisa melayanimu seperti tak penah terjadi apa - apa ?


Itu gak mungkin.


Karena sekarang pun aku sudah takut. Aku malu.


Aku sepertinya gak akan pernah sanggup menunjukkan tubuhku lagi padamu. Apalagi untuk bisa saling memberi dan menerima kenikmatan seperti dulu ''


'' ma, tolong jangan tinggalin papa.


Papa gak akan bisa hidup tanpa mama.


Semua salah papa. Mama gak salah apa-apa.


Papalah yang gak bisa menjaga diri ''


'' kenapa ? Kenapa kau ingin bersamaku tapi kau masih bisa melakukan itu dengan perempuan lain ?


Jika kau jenuh dan bosan denganku, bukankah lebih baik jika kita bercerai ?


Jadi kita tak perlu saling menyakiti seperti ini ?''


'' apapun akan papa lakukan, tapi tidak bercerai.


Sampai kapanpun papa gak mau kita bercerai ''


'' jadi kau ingin menahanku dan melihatku menderita seperti ini ? Sampai kapan ?''


Heru menggeleng.


'' beri papa waktu, dan akan papa buktikan kalau papa gak akan mengulanginya lagi. Papa akan berusaha memperbaiki semuanya.


Percayalah ''


Malam itu pembicaraan mereka menggantung ,tak menemukan titik penyelesaiannya.


Ke esok kan harinya. Heru bangun dengan mata yang hampir tak bisa ia buka. Kedua matanya bengkak.


Heru masih mengenakan pakaiannya kemarin.


Ia mendudukkan diri lalu menoleh ke sisi ranjang yang kosong, dimana biasanya terbaring tubuh Santi.


Kenangan selama 20 tahun kini berputar dikepalanya. Tanpa terasa air matanya mengalir.


Sama sekali tak ada Belinda dipikirannya.Wanita singgahanya itu seperti menguap tak berbekas.


Padahal baru beberapa jam yang lalu Santi pergi, namun ia sudah sangat merindukannya.


Semalam, setelah tarik ulur pembicaraan mereka, Santi pergi dengan dijemput oleh Tatiana adiknya .

__ADS_1


Puluhan menit ia habiskan untuk merutuki diri.


Hingga akhirnya ia bangkit berdiri dan keluar kamar.


Suasana rumah sepi. Heru terpaku menatap pintu kamar yang tertutup rapat.


Tak ada teriakan Santi yang biasanya terdengar saat membangunkan anak-anak mereka.


Ia lalu melangkah kedapur. Ruang memasak itu pun tak kalah sunyi. Padahal biasanya akan ada Santi yang berdiri di sana, sibuk membuat sesuatu untuk mengisi dan memuaskan perut anggota keluarganya.


Tak ada aroma khas masakan sang istri yang biasa menyeruak setiap kali menjelang waktu makan.


Cukup lama Heru berdiam diri, mengingat bagaimana Santi selama ini melayaninya dan anak-anak mereka dengan sepenuh hati dan tanpa kenal lelah .


Hati berganti.


Santi dan ketiga anaknya kini tinggal dirumah Retno . Karena sanak saudara Santi semuanya berada diluar kota. Sedangkan kedua orang tuanya telah lama meninggal.


Meski hubungan Santi dan Retno tak bisa dibilang akrab, namun nyatanya Retno mengerti bagaimana kondisi sang menantu.


Selama Santi tinggal dirumahnya, tak pernah sekalipun ia menyinggung apalagi mau ikut campur urusan rumah tangga mereka.


Ia memposisikan diri untuk bersikap netral.


Sebagai ibu, tentu ia ingin Heru dimaafkan agar keluarga anaknya itu bisa kembali seperti semula.


Namun sebagai wanita, ia juga tau bagaimana rasanya menjadi seorang istri. Wanita manapun pasti sulit menerima kenyataan demikian.


Karena itu ia tak mau memaksa Santi dan menyerahkan semua keputusan pada sang menantu. Meski Santi memutuskan untuk bercerai sekalipun.


Ia bahkan akan menyanggupi dan bersedia untuk merawat dan menghidupi Santi dan ketiga cucunya jika hal tersebut sampai terjadi.


Sore itu, setelah berbulan-bulan berlalu dengan penuh perjuangan ,Heru yang hampir setiap hari mengunjungi anak dan istrinya memutuskan untuk membahas lagi masalah rumah tangganya yang menggantung tanpa ada kepastian.


Dan seperti biasa, Heru datang saat waktu menjelang makan malam.


Hanya Retno dan Tantiana yang menyambutnya dengan begitu senang.


Sedangkan ketiga anak dan istrinya masih dingin dan datar. Hanya sebuah salam dan jawaban bertanya kabar saja yang ditanggapi oleh Santi dan ketiga anaknya.


Setelah makan malam, Tatiana yang hingga kini masih berstatus lajang mengajak ketiga keponakannya untuk keluar mencari cemilan atas permintaan Retno.


Kesempatan itupun digunakan Heru untuk mengajak Santi bicara .


Keduanya memilih duduk dibangku taman depan rumah sebagai tempat untuk berbicara.


'' mama kurusan '' Heru menatap wajah Santi yang terlihat tirus.


Santi menatapnya sesaat lalu menunduk .


Heru bahkan jauh terlihat lebih kurus. Kondisi pria yang masih berstatus suaminya itu terlihat begitu memprihatinkan.


Rasa kasihan menghampiri.


Apakah ia harus luluh ?


Tapi rasa sakitnya masih belum berkurang sama sekali.


Meski telah beberapa bulan berlalu, namun rasa sakit itu masih begitu terasa.


'' apakah kau sudah memutuskannya ?''


Heru mencoba meraih tangan Santi, namun sang istri enggan dan meletakkan kedua tangannya ke dua sisi duduknya.


'' kurasa sebaiknya kita bercerai ''


' deh ' Heru terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.


Semua usahanya sia-sia.


'' apakah itu berarti mama gak bisa memaafkan papa ?''


Santi menggeleng.


'' inilah caraku memaafkanmu ''


'' lalu bagaimana dengan anak-anak ?''


'' kau pun tau jika mereka lah yang lebih dulu mengetahui semuanya.


Mereka juga bukan anak kecil lagi.


Aku sendiri pun hampir tak percaya jika mereka bisa menghadapi semua ini.


Mereka telah terluka, dan kurasa akan semakin terluka jika melihat kita tetap bersama namun tak bisa seperti dulu lagi ''


'' tapi papa masih sangat mencintai mama .


Papa gak bisa hidup tanpa mama.


Papa mohon , ma. Jangan lakukan ini .


Lakukan apapun yang mama mau.


Marahlah, makilah, pukullah, apapun.. apapun, asal jangan tinggalin papa ''


'' tapi aku uda gak bisa percaya sama kamu lagi.. hiks.. hiks.. ''


Heru tertunduk. Ia sesenggukan. Ia tak pernah menyangka jika rumah tangga yang ia bangun dengan harapan utuh sampai maut memisahkan akan berakhir seperti ini.


Semua karena ia yang tak bisa mengontrol nafsunya.


'' apakah sama sekali tak ada kesempatan bagi kita untuk memulainya lagi dari awal ? Apa mama uda gak mencintai papa lagi ?''


'' maaf, tapi harus ku katakan kalau sekarang aku bahkan tak ingin melihat wajahmu.


Tubuhku pun seperti mati rasa saat didekatmu ''


Santi menggeleng.


Ia pun sama sesenggukannya. Karena tak mudah baginya memutuskan untuk bercerai.


Namun ia pun tak akan sanggup kembali menjalani rumah tangga apalagi harus bersikap seperti tak terjadi apa-apa.


Ia tak bisa. Sekeras apapun ia mencoba untuk melupakan dan berlapang dada menerima, tetap saja rasa sakit telah menguasai dan mengalahkan segalanya.


Bukannya tak bisa memaafkan, tapi ia yang tak sanggup kembali menjalaninya .


Heru memeluk Santi, tak perduli wanita itu berkali-kali minta dilepaskan. Karena meski mulutnya bicara demikian, nyatanya Santi memegang lengannya dan membenamkan wajah didadanya.


Tanpa mereka sadari, Retno berdiri diteras menyaksikan semuanya.


Air mata mengalir deras dari kedua matanya.


Tubuhnya sampai bergetar mendapati pemandangan memilukan disana.


Dua insan yang masih saling mencintai namun kini harus bisa menerima kenyataan jika hubungan mereka harus diakhiri.


Retno teringat saat Santi mengutarakan niatnya untuk bercerai.


Saat itu ia berusaha meyakinkan dan membujuk agar Santi memikirkannya lagi.


Tapi ia tak berdaya karena ternyata keputusan tersebut adalah atas permintaan ketiga cucunya.


Mia, Hani dan Doni tak mau sang mama hidup dalam bayang-bayang kesalahan sang papa.


Mereka berpikir akan lebih baik jika keduanya berpisah agar bisa memiliki lebih banyak waktu untuk memenangkan diri.


Selebihnya biarkan waktu yang akan menjawab nantinya.


Jika memang Santi dan Heru masih berjodoh, mereka pasti akan kembali lagi.


๐Ÿ“selesai ๐Ÿ“


Hayo, di-like ya

__ADS_1


Di komen juga sekalian


__ADS_2