
🌺 hem.. 🌺
* * *
3 tahun lalu.
seorang gadis tengah termenung di halte bus.
Waktu sudah menanjak tengah malam, namun ia tak kunjung beranjak meski berulang kali bus berhenti menghampiri.
Pukul 00.30 , sebuah sedan hitam berhenti .Seketika gadis bersweater putih itu menyambangi ketika
kaca mobil turun dengan perlahan.
Setelah pembicaraan singkat, si gadis masuk dan mobil pun melaju.
Di hotel X .
Gadis tadi dituntun ke sebuah kamar .
'' tuan sedang ada pertemuan.
Silahkan tunggu sambil persiapan saja dirimu.
Semua yang dibutuhkan sudah di sediakan ''
Si gadis lalu ditinggal sendirian .
Dialah Tatiana yang saat itu baru genap berusia 18 tahun.
Sewaktu pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, Tatiana telah berusaha bekerja apa saja.
Namun bagaimana pun ia berusaha, tetap tak mudah baginya menyisihkan setiap rupiah untuk bisa ditabung. Tatiana memiliki keinginan untuk kuliah.
Tapi ia yang kemampuan otaknya tak seberapa , sadar jika tak akan bisa memperoleh beasiswa dengan mudah .
'' ini hidupku ''
Setelah melalui banyak pertimbangan Tatiana memutuskan untuk mencoba menjadi simpanan pria untuk dijadikan pemuas birahi diranjang.
Alias sugar daddy.
Berbekal mendekati seorang pekerja **** komersial, Tatiana memberanikan diri bertanya dan berhasil memperoleh informasi bagaimana cara agar ia bisa masuk ke dunia prostitusi.
Dan disinilah ia sekarang.
Tatiana berjalan menelusuri seisi kamar dan sampai di ruang tidur.
Nampak olehnya lipatan baju dengan secarik kertas bertuliskan sebuah pesan di letakan di atas ranjang putih berukuran king size .
* bersihkan tubuhmu dan kenakan ini *
- -
30 menit kemudian.
Tatiana sudah selesai mandi dan kini tengah duduk di sofa yang ia tarik di sudut ruang tamu.
Lampu ruangan ia matikan.
Sengaja ia lakukan untuk menyamarkan diri.
Selain hujan. Ada hal yang lain yang juga ia sukai.Tatiana suka susana yang temaram.
Dua hal itu seolah menggambarkan pribadinya yang tak suka berada di keramaian dan berada di tempat yang terlalu terang. Karena alasan itu jugalah Tatiana suka menyendiri dan tak suka keluar rumah .
' clek ' suara knop pintu ditekan dan pintu terbuka.
Sosok pria berpenampilan rapi masuk.
Tubuhnya tinggi dan tegap . Rambutnya tertata rapi kebelakang, dan samar terlihat wajahnya yang dihiasi kumis dan berewok.
Pria tersebut melewati ruang tamu dimana Tatiana duduk dan memperhatikannya .
Tatiana mengukir senyum tipis.
Ada rasa menggelitik karena ia seperti tengah mengerjai orang asing.
' tap tap.tap' hentakan sepatu yang tengah menelusuri tiap inci ruangan.
' srak-srek ' suara pintu kamar mandi dan balkon di geser kasar .
Tatiana melebarkan senyum. Geli karena ia seperti bermain petak umpet dan tengah di cari.
' ck ' terdengar si pria berdecak
Sepertinya mulai kesal.
' tak.tik.tak tik' suara jarum jam terdengar mengisi keheningan.
Entah apa yang dilakukan si pria di ruang tidur yang bersebelahan dengan ruangan dimana Tatiana masih duduk menunggu.
Merasa cukup aneh sebab tak terdengar ada pergerakan sama sekali, Tatiana memutuskan untuk mengecek keadaan.
Namun, baru saja berdiri lampu ruangan tiba-tiba menyala.
Seketika cahaya menyilaukan membuat matanya reflek menyipit.
Itulah kali pertama mereka bertemu dan saling melihat satu sama lain.
Tatiana terpaku melihat pria itu telah bertelanjang dada. Tubuhnya memang tak berotot, namun terlihat sangat terawat.
Kulitnya putih dan perutnya tak buncit.
Tanpa sadar Tatiana memperhatikannya. Ekor matanya menyapu dari atas ke bawah.
Lalu berakhir lama di bagian tubuh yang terbuka.
Dadanya di penuh bulu.
Tatiana bergidik . Ia mulai membayangkan akan seperti apa rasanya saat tubuh mereka bersentuhan nanti.
__ADS_1
Lalu pandangannya ia seret semakin kebawah dimana bulu-bulu itu tumbuh hingga kebawah pusar.
Tatiana tercekat. Ia telan ludahnya dengan susah payah lalu segera menyadarkan diri.
Untuk sesaat mereka masih saling diam.
Hingga setelah merasa cukup tenang, barulah Tatiana memberanikan diri untuk menatap si pria .
Ternyata si pria pun tengah menatapnya.
'' sudah puas memperhatikanku '' ucapannya datar namun sorot matanya begitu tegas. Mengisyaratkan jika perkataannya adalah sebuah perintah.
Tatiana bergeming, melirik pria yang mengambil langkah ke arah sofa sambil membuka sabuk dan melepasnya.
Sampai di tepian sofa tunggal yang berhadapan dengan Tatiana, si pria membuka sisa pakaian yang melekat ditubuhnya dan duduk.
'' sekarang giliranmu ''
Tatiana terlihat ragu. Pasalnya dibalik kamer jas yang ia kenakan, tak ada apapun yang membalut tubuhnya lagi.
Namun akhirnya ia loloskan jua satu-satunya pakaian yang menutupi asetnya.
Si pria masih menatapnya datar. Namun bibirnya terus mengeluarkan perintah yang mau tak mau harus Tatiana turuti.
Tatiana diminta berbalik ,lalu berputar dan mendekat hingga hampir tak berjarak.
Lalu si pria menyuruh Tatiana duduk dipangkuanya, berhadapan dengan kedua kaki dibuka lebar.
Tatiana menurut.
' serrrrr... ' sebuah desiran menjalar ke seluruh penjuru indra perasaannya, saat kulitnya bersentuhan dan wajahnya begitu dekat dengan si pria.
Bola mata mereka saling bertemu, menatap dalam seolah tengah menyelami satu sama lain.
'' kau sudah baca isi perjanjiannya ? '' mulutnya bicara sementara kedua tangannya mendarat di pinggang Tatiana dan meremasnya.
Tatiana mengangguk. Di lihatnya helaian berwarna putih di rambut pria yang tangannya mulai menjalar ke bagian bawah tubuh belakangannya.
Ia perkiraan usia pria ini mungkin sekitar 50 an.
Perjanjian antara pihak A sebagai penerima jasa dan pihak B sebagai pemberi jasa.
' jika menipu dengan terbukti tak perawan, maka pihak B tak akan di bayar sepeserpun '
' keputusan terjalin atau tidaknya kontrak tergantung dari pihak A '
' jika pihak A tak berniat , maka pihak B tetap menerima bayaran sesuai kesepakatan '
'' bisa kita mulai ''
Tatiana tersentak saat merasa sesuatu mendesak masuk . Tangannya reflek memegang bahu pria yang masih menatapnya lekat.
Beberapa saat kemudian.
Tatiana terdiam.
Sakit yang menjalar di area itu membuatnya tak bergerak.
Sementara si pria telah beranjak pergi setelah mendapat telpon darurat. Pun sebelumnya ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Tatiana menatap nanar pada layar ponselnya , dimana tertera pesan yang baru beberapa detik lalu masuk.
SMS banking yang menunjukkan adanya transaksi masuk kedalam rekeningnya.
Padahal tadi rasanya begitu sakit.
Tapi ia sama sekali tak menangis.
Namun kini. Setelah melihat nominal angka yang ia terima, air mata Tatiana mulai mengalir perlahan.
Tak pernah ia merasa sehina ini . Ia sadar telah melakukan sebuah dosa besar.
Mau seperti apapun ia mencari pembenaran untuk hal baru saja ia lakukan, tetap saja hatinya tak tenang . Ia merasa begitu malu. Padahal tak ada yang tau.
Ia merasa tak punya harga diri dan rasa percaya diri lagi.
Ia menyesal. Berulang kali ia memukul kepala dan dadanya.
Menyumpahi dirinya sendiri karena telah membuat hidupnya sendiri .
Kenapa ia bisa memilih jalan terburuk dari yang paling buruk . Tatiana sesenggukan.
* * *
Seminggu setelah itu.
Tatiana yang sudah mendaftar ke salah satu universitas ternama mendapat telpon dari nomor asing.
Tatiana tak menggubrisnya. Karena ia tau siapa itu dan apa tujuan menghubunginya.
Tatiana memutuskan untuk tidak lagi terlibat dengan hal itu lagi.
Setahun kemudian.
Tatiana yang berstatus seorang mahasiswi , kini tinggal di kosan sederhana dan bekerja di sebuah rumah makan pinggir jalan.
Hidupnya berjalan biasa saja.
Tatiana membiayai kuliahnya dengan uang yang ia peroleh waktu itu. Ia irit hingga sanggup bertahan sampai saat ini.
Hingga hari tak terduga datang.
Uangnya habis untuk biaya hidup dan membayar segala kebutuhan dan biaya kuliahnya yang terbilang mahal.
Sementara uang hasil bekerja tak bisa menutup semuanya.
Setelah menimbang-nimbang , Tatiana memutuskan untuk berhenti kuliah saja.Ia akan bekerja dan mengumpulkan uang .Barulah setelah itu ia akan melanjutkan kuliahnya.
Pagi itu, Tatiana bersiap ke kampus untuk mengajukan cuti kuliahnya.
' deg ' Tatiana terpaku saat baru saja memasuki gerbang kampus.
__ADS_1
Begitu pun dengan pria yang tadinya hendak masuk kedalam mobil.
Sosok yang begitu melekat di ingatannya. Yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Perawakannya masih sama seperti saat pertama kali bertemu.
Tatiana menunduk, lalu berlalu begitu saja.
Sementara pria itu masih memandanginya.
Sama. seperti Tatiana. Diapun tak pernah bisa melupakan apa yang pernah terjadi diantara mereka.
Hari berganti.
Tatiana tengah menunggu putusan dari pengajuan cutinya yang tak kunjung ada kabar.
Dan pagi itu ia ditelpon pihak kampus.
Tatiana diminta datang dan menghadap ke
ruang kepala dosen.
Namun betapa terkejutnya ia ketika masuk keruangan kepala dosen karena sosok itu ada dan duduk bersama dengan kepala dosennya .
'' perkenalkan ini pak Lutfi.
Beliau adalah salah satu donatur sekaligus bagian penting dari berdirinya kampus ini '' pak Kepala dosen memperkenalkan pria yang kini Tatiana ketahui bernama Lutfi.
Tatiana terdiam. Ia tak tau harus apa.
Dan kenapa juga ia dipanggil.
'' beliau ini yang biasanya rutii memberikan donasi untuk beasiswa bagi siswi kurang mampu yang berprestasi ''
'' ... ''
'' Iana ''
Tatiana masih bergeming. Tak menjawab hanya membalas dengan tatapan saja.
'' kemarin pak Lutfi tak sengaja melihatmu dan bertanya tentangmu.
Bapak minta maaf jika sudah lancang mencet tentangmu dan memberitahu alasan kenapa kamu berencana cuti kuliah .
Jadi, beliau ini sudah tau apa kesulitan mu dan berniat ingin membantu ''
Tatiana tertunduk.
Malu menyeruak.
Bukan hanya telah menyia-nyiakan hal paling berharga dalam hidupmu, ia juga gagal meneruskan kuliahnya baru dua semester.
Tapi kenapa ia bisa bertemu dan bahkan keadaannya harus diketahui pria ini ?
'' eng, jadi bagaimana Iana ? ''
'' sa-saya tetap akan cuti pak ''
Pak kepala dosen mengukir senyum ramah.
'' kamu jangan salah paham, dulu.
Pak Lutfi tidak memiliki maksud apa-apa.
Seperti yang bapak bilang tadi. Beliau ini adalah donatur yang rutin memberikan bantuan beasiswa ja- jadi ''
'' tapi saya bukan mahasiswi yang berprestasi ''
'' beasiswa bukan hanya untuk yang berprestasi saja.
Mereka yang memiliki niat untuk kuliah, namun terhalang dana juga pantas di beri kesempatan yang sama.
Dan Pak Lutfi ingin memberikan kesempatan itu sama kamu ''
Tatiana bergeming.
Ia lalu minta diberi waktu berpikir dengan alasan bahwa kesulitannya bukan hanya soal biaya kuliah saja. Dengan terpaksa Tatiana membeberkan keadaannya yang saat ini bekerja hanya sanggup memenuhi kebutuhan hidupnya saja .
Sepanjang pembicaraan, Tatiana tak begitu mau bersuara. Ia lebih banyak diam, mendengarkan dan mengangguk sebagai ganti jawaban.
Demikian pula Lutfi yang hanya mendengar dan memperhatikan saja.
Tak sekalipun ia berniat untuk angkat suara.
Satu jam setelah itu.
Tatiana dengan langkah gotai keluar dari ruang kepala dosen.
Belum sempat ia melangkah keluar gerbang, seorang pria menghadang jalannya.
Pria yang Tatiana tak bisa tebak apakah dia ajudan, supir, atau pengawal Lutfi itu bicara setengah berbisik.
'' tuan ingin bertemu dan bicara denganmu.
Datanglah di hotel X kamar nomor xxx ''
Tatiana melongo sambil lehernya berputar pada pria yang berjalan meninggalkannya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berpijak.
Kaca belakang turun dengan perlahan memperlihatkan orang yang duduk di dalamnya.
Lutfi menatapnya dengan cara yang sama seperti ia menatap Tatiana dulu. Datar.
Setelah itu mobil pun berlalu.
'' hotel x ,kamar nomor xxx '' Tatiana bergumam .
Nama dan nomor kamar hotel itu adalah salah satu hal masih jelas terpahat di ingatannya.
Itu adalah hotel dan kamar yang sama. Dimana ia pertama kali bertemu dan melakukannya dengan Lutfi.
bersumbang - -
__ADS_1
Hayo, di-like ya
Di komen juga sekalian