
🌺 hem... 🌺
Kampus.
'' ola laa aaaaa ..selamat pagi semuanyaaaa.
Uda siap belajarrrrr ???
Uda dong ,yaaa ahhhh? '' sapaan yang begitu menghebohkan dari seorang gadis berambut cepak dengan stelan kaos dibalut kemeja kotak-kotak dan jeans robek di bagian lututnya.
Lanie namanya.
Si tomboi dengan pribadinya yang super ceria, supel dan ramah .
Hampir semua anak di kelas menyukai dan berteman baik dengannya .
Tak terkecuali si cantik pake banget , Erina.
Gadis blasteran Kompeni yang menjadi teman duduknya selama dua semester ini.
'' Lanie.. '' Erina dengan suara khasanya yang manja. Sikapnya yang demikian dinilai menyebalkan oleh membuat beberapa orang di kelas maupun dilingkungan kampus .
Mereka tak suka padanya.Pun tak habis pikir kenapa Lanie mau berteman dengan perempuan yang meskipun rupanya jelita, namun gayanya yang centil terkesan suka cari perhatian.
Pun mereka menduga jika Erina berteman dengan Lanie hanya demi menaikan popularitas nya agar semakin terkenal di kalangan para mahasiswa.
Secara, Lanie adalah anak yang prestasinya sangat di akui dan di acungin jempol oleh para dosen dan seniornya.
Ia bahkan tak perlu meminta uang untuk biaya smester kuliah pada orang tuanya. Sebab beberapa aliran dana beasiswa mengalir rutin untuknya.
Hal yang jauh berbanding terbalik dengan Erina, si bungsu dari keluarga kaya ini berotak standar saja.
'' hem '' si tomboi berperawakan khas Pribumi menebar senyum pada Erina sambil merogoh tas punggung yang sudah menemaninya sejak SMA . Satu persatu alat tempur ia keluarkan.
'' tugas yang kemarin uda kamu kerjai belum ? '' tanya Erina yang ekor matanya melirik apa yang tengah Lanie kerjakan.
'' uda. Ni mau tak serahin. Biar dipuji . Mana tau dapat tambahan beasiswa lagi '' celetuk Lanie dengan senyuman membahana.
Ia lalu tergelak dengan ucapannya sendiri. Ngarep atau tamak. Masa bodoh dianggap apa. Lanie cuek.
'' besok aja ya nyerahinnya sama-sama aku ?
Plissss...''
Lanie menghela nafas lalu mengiyakan. Ia masukan lagi buku tugasnya kedalam tas.
'' O, ya nanti sore aku jemput kamu .Kita ke cafe. Bantu aku ngerjain tugas sekalian kita nongkrong . Mau, ya ? '' Erina memohon.
Kembali Lanie menyanggupi.
Ia memang tak pelit berbagai ilmu.
Ia bahkan mengandalkan kemampuan mengajarnya dengan menerima les privat dua anak SMP dan dua anak SMA.
Lanie bercita-cita ingin menjadi guru matematika.
Sebuah ambisi yang jarang dicita-citakan.
Sepulang dari kampus.
- tit - suara klakson mobil terdengar .
Di sebuah rumah sederhana, yang merupakan kontrakan yang Lanie tinggali bersama kakak perempuannya ,Tari.
Sama seperti Lanie. Sang kakak yang bernama Tari juga kuliah dengan beasiswa dan sekarang tengah gencar menyelesaikan skripsi nya.
'' Lan, ada yang nyariin tuh '' suara sang kakak dari luar kamar mandi.
'' eng--uuuhh.... bi- bilang tunggu bentar kak. Aku lagi nanggung ni '' jawab Lanie yang sedang berjuang dengan berjongkok di atas closed.
Tari menggeleng. Ia berbalik dan melangkah menuju pintu.
'' ehhhh.....'' Tari nampak terkejut. Lalu lanjut bertanya. '' siapa, ya ? ''
Seorang laki-laki berdiri di teras rumah dengan menggandeng handbag bertuliskan nama toko kue.
'' siang, kak. Saya Danu teman Lanie.
Lanie nya ada ? '' ujarnya begitu ramah memperkenalkan diri.
Tari terperangah.
__ADS_1
Bukan hanya karena parasnya yang good looking banget, tapi cara bicara laki-laki bernama Danu ini juga sangat sopan .
'' eng-anu Lanie sedang.. ''
Belum sempat Tari menyelesaikan ucapannya, Lanie muncul dengan tampilan rumah yang hanya mengenakan tanktop hitam dan celana pendek kedodoran .
Satu tali atasannya melorot , memperlihatkan tali bra berwarna putih yang menjadi penyanggah ***********.
'' katanya sore. Kok uda datang sekarang,si- kam- kamu...? '' Lanie berucap santai, berpikir jika yang datang mencarinya pastilah Erina.
Namun alangkah terkejutnya ia mendapati sosok lain di hadapannya.
Ia yang tau siapa yang ada dihadapannya ini , reflek berbalik.
Menyadari tampilan adiknya yang tak pantas, Tari lantas bergeser untuk menutupi Lanie dari pandangan Danu.
'' tunggu sebentar diluar, ya ''
' tup ' Tari menutup pintu.
Ia lalu mendorong sang adik menuju kamar dan menyuruhnya untuk mengenakan pakaian yang layak .
Sepuluh menit kemudian.
Lanie sudah duduk berhadapan dengan Danu di kursi plastik teras rumah.
'' bulan depan kan Erina ulang tahun. Aku mau nyiapin hadiah buat dia.
Tapi aku gak tau apa yang dia suka '' ujar Danu menjelaskan tujuannya datang menemui Lanie.
Lanie manggut-manggut saat Danu melanjutkan bicaranya.
Danu mengajaknya keluar untuk mencari kado ulang tahun Erina .
'' mau, ya temanin aku . Kamu kan teman dekatnya. Pasti tau dong barang yang kira - kira cocok untuk kado ulang tahunnya '' pinta Danu.
'' tap-tapi aku ada janji dengan Erina nanti sore ''
'' kan ini baru jam 2.
Aku janji kita gak akan lama ''
'' eeee... ya, uda aku ganti baju sebentar ''
Ia pun masuk kedalam sambil menenteng handbag yang Danu bawa khusus untuknya.
Tak berselang lama, ia keluar dengan stylenya.
Kaos oblong hitam dipadu dengan jeans selutut dan kets berwarna senada dengan celananya.
Danu seumuran dan juga sama seperti Tari yang
tengah di penghujung pendidikannya.
Bedanya, Danu kuliah di kampus paling bergengsi . Hanya mereka yang berasal dari kalangan atas saja yang mampu kuliah di tempat tesebut.
Dan Danu adalah salah satunya.
Namun Lanie tak tau sebab tak pernah bertanya apa pekerjaan keluarga khususnya orang tua Danu.
Namun satu hal yang pasti. Danu berasal dari keluar tajir.
Lalu, bagaimana bisa mereka kini saling kenal ?
Jadi ceritanya begini.
Sekitar dua bulan lalu, saat itu Lanie dan Erina sedang hangout di salah satu mall.
Di situ mereka tak sengaja bertemu lalu lanjut berkenalan dengan Danu yang kebetulan juga sedang nongkrong dengan teman sekampusnya.
Sebelum berpisah, Danu meminta nomor handphone Lanie dengan alasan ingin mendekati Erina.
Agak aneh, sebab kenapa tak meminta langsung saja ? Lani sempat berpikir demikian.
Namun Danu beralasan jika ia malu . Lanie pun maklum.
Sejak itulah, Lanie secara tak langsung terlibat dan selalu menjadi perantara hubungan PDKT Erina dan Danu.
Hampir setiap hari Danu mengiriminya pesan. Dan terkadang menelpon untuk sekedar menanyakan sedang apa dia.
Lanie sebenarnya merasa janggal dengan sikap Danu, lantas sering mengalihkan pembicaraan ataupun isi chat obrolan mereka dengan membahas tentang Erina .
__ADS_1
Hal yang sama juga terjadi saat ini.
Untuk pertama kalinya Danu bertandang dan mengajaknya keluar rumah.
Lanie pun semakin tak mengerti akan sikap Danu.
Meski ragu, namun Lanie mencoba menepis kecurigaan yang ia rasa tak mungkin.
Sepanjang perjalanan, Danu tak henti bicara . Beberapa kali Lanie mendapati Danu yang tengah mencuri lirikan padanya.
Lanie pun jadi tak nyaman dan canggung.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di pusat perbelanjaan.
Lanie yang tengah memperhatikan jam di pergelangan tangannya dibuat terkejut.
Danu meraih jemarinya.
Sontak Lanie pun menepis tangan Danu.
'' sori. Tadi aku kelewat semangat '' Danu beralasan.
Lanie mencoba memaklumi. Berpikir jika yang dimaksud bersemangat oleh Danu adalah mencari kado untuk Erina.
Singkat waktu keduanya sudah berada di sebuah toko baju khusus menjual aneka macam keperluan perempuan.
'' pilihlah apa aja yang kamu suka '' ucap Danu yang membuat dahi Lanie seketika mengkerut.
'' maksudnya yang Erina suka ? ''
Danu tak menjawab. Ia hanya tersenyum seraya mengangguk.
Lanie menangkap tatapan Danu nampak berbeda.
Danu secara terang - terangan memperhatikan setiap gerak geriknya.
Sorot matanya menunjukkan binar senang .
Entah karena apa. Lanie sama. sekali tak bisa menebak apa yang Danu pikirkan saat ini.
" mbak '' Danu memanggil salah satu karyawan toko yang tadi sempat meladeni Lanie.
'' ya, mas '' sahut si karyawan toko.
'' tadi cewek kaos hitam nanya apa ke mbak ?''
'' oh, cewek yang tomboi tadi ?''
'' iya ''
'' dia nanya tas dipajang etalase ada warna cream apa enggak.
Katanya untuk di hadiahin ke temannya ''
'' ooo... selain itu ? Dia ada nanya barang apa lagi gak ? ''
Si karyawan bertubuh kurus itu menggeleng.
Danu menghela nafas. Sudah ia duga , jika Lanie fokus pada apa yang menjadi tujuan mereka .
'' em.. mbak, gini.
Ini saya kasi dua ratus ribu.
Mbak samperin dan layani dia.
Kalau ada barang yang dia tanya atau ada yang dia cobain. Bungkus. Saya beli semua '' perintah Danu seraya menyelipkan empat lembar lima puluh yang langsung di terima dengan tangan terbuka oleh si karyawan toko.
Danu duduk di kursi yang sediakan khusus untuk pengunjung toko. Urusan kado untuk Erina ia serahkan pada Lanie .
Danu terlihat sama sekali tak perduli pada apa yang menjadi tujuannya datang ke toko ini.
Ia hanya menunggu dengan duduk manis sambil menyilang kaki seraya memperhatikan dari kejauhan Lanie yang mondar-mandir.
Sesekali Lanie berhenti ,melihatnya dengan sorot mata penuh keheranan.
Ia mungkin bingung kenapa Danu sama. sekali tak mau terlibat memilih barang apa yang akan di hadiahkan pada Erina dihari ulang tahun nanti.
bersumbang - -
hayo, jangan di like ya..
__ADS_1
di komennya juga sekalian