
🌺 hem.. 🌺
* * *
'' dinda Saraswati '' seru Sang Prabu .
Ia panik mendapati sang istri duduk di lantai dengan posisi kedua kaki terbuka lebar.
Segera ia menghampiri dan membantu wanita yang sebut namanya tadi untuk bangun.
Setelah berhasil mendudukkan Saraswati di kursi kayu yang tak jauh dari jangkauan, Sang Prabu lalu menyapu pandangan. Mencari sosok kacung yang tadi ia perintahkan menemani sekaligus menjaga istrinya.
Mata Sang Prabu membelalak seperti akan meloncat keluar saat mendapati si kacung tergantung .Bagian dadanya tertembus sebuah batang kayu dan menancap di dinding rumah. Darah segar terlihat menetes dari ujung kayu.
Tubuhnya terkulai. Kepalanya tertunduk lemas. Menandakan jika raganya telah tak lagi bernyawa .
Siapa dan bagaimana bisa seseorang melakukannya ? Sang Prabu bertanya tanpa bisa menebak situasi apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini.
'' kanda ... ''
Sang Prabu kembali menoleh ke Saraswati.
Seketika itu pula matanya kembali melebar, melihat sesuatu berwarna merah mengalir di sela kaki istrinya.
'' hamba tak apa... tap-tapi... ''
'' apa yang sebenarnya terjadi , dinda ? Bagaimana mungkin baru sesaat ku tinggal si kacung bisa seperti itu.. dan kau - - ''
'' kanda..hamba mohon...jangan bertanya apapun lagi.
Pergilah sekarang ! Jangan buang - buang waktu.
Hamba mohon...pergilah sebelum terlambat...
hiks.. hiks... Pergilah yang mulia...'' permaisuri terisak. Ia tertunduk dengan kedua tangan memegang pundak sang suami, meremas pakaian berbahan sutra itu dengan kuat.
Kecurigaan yang ia tepis kini kembali menghampiri.
Sang Prabu yakin, jika semua hal ganjil ini ada hubungannya dengan Saraswati.
Sejenak sang Prabu bergulat dengan pikiran yang dipenuhi banyak pertanyaan.
'' aku tak mengerti, dinda. Apa yang sebenarnya terjadi ? Dan kenapa aku harus pergi ?''
'' hamba mohon yang mulia...pergi saja dan jangan pernah kembali kemari..''
Prabu mengambil nafas panjang dengan sekali tarikan.
'' baiklah kalau itu maumu, dinda.
Mari kita semua pergi dari sini ''
Sang Prabu hendak melangkah untuk memanggil para prajurit yang tadi ia tugaskan menjaga di luar . Namun tertahan sebab Saraswati memegang tangannya .
Saraswati menggeleng.
'' suk-sudah terlambat ... khan-kanda se-bhaiknya pergi saja shen- dhiri... '' suara Saraswati terputus-putus . Ia seperti tengah menahan sesuatu.
Matanya merah. Air matanya tak berhenti mengalir.
Begitupun dengan wajah putihnya yang berubah merah padam.
Lalu pegangan tangannya terlepas.
Dan ' bruk ' Saraswati jatuh dari kursi dengan posisi kedua kaki menekuk lantai.
Ia berusaha melindungi perutnya, agar tak mencium lantai kayu rumah tersebut.
'' dinda.. '' Sang Prabu reflek berlutut, ia pegang kedua bahu istrinya bermaksud untuk membantu Saraswati kembali bangun.
Namun Saraswati menolak dengan menipisnya.
'' PERGILAH KANDA !!! PERGI !!! "
Sang Prabu tersentak. Ia adalah seorang pemimpin yang begitu di seggani dan belum pernah sekalipun seseorang berani membentaknya seperti ini.
Namun bukan itu yang membuatnya terkejut.
Ia hanya tak habis pikir apa yang membuat Saraswati kekeh menyuruhnya pergi sejak tadi.
" kau tunggulah disini sebentar.
Aku akan keluar dan memerintahkan para prajurit untuk bersiap pulang "
Di tengah rasa sakit yang melandanya, Saraswati berusaha hingga akhirnya berhasil menegakkan tubuh .
Ia pegang lengan suaminya dan menatapnya lekat-lekat.
" hiks.. hiks... percuma kanda.. sudah terlambat.." ucap Saraswati dengan air mata bercucuran.
" ap - apa maksud mu ? "
" hamba mohon sekali lagi... Selagi masih ada waktu, selamatkanlah diri kanda sendri.. Pergilah sekarang... aku akan tetap disini menahannya "
" kau akan menahannya ? Bicara apa kau sebenarnya dinda Saraswati ? Aku sama sekali tak mengerti "
__ADS_1
" me-mereka semua sudah mati, kanda.
Para prajurit ...mereka semua...
Su-sudah tak ada lagi yang tersisa di luar sana "
Setengah tak percaya, Prabu bangkit berdiri dan melangkah mendekati pintu. Ia ingin memastikan apakah benar yang istrinya katakan barusan.
' krettttt ' pintu kayu tersebut ia buka perlahan.
Sang Prabu terpaku di tempat berpijak.
Lehernya bergerak secara perlahan .Begitupun dengan kedua bola matanya yang menyapu sekitarnya .
Seluruh indera perasanya menegang .
Bulu-bulu romannya merenggang.
Lututnya serasa lemas.
Apa ini ? Belum berapa lama ia tinggal ke dalam , bagaimana mungkin keadaan sudah berubah 180 derajat dari keadaan sebelumnya ?
Sang Prabu tak mampu berkedip.
Belum pernah ia melihat hal semengerikan ini.
Apa yang ada dihadapannya adalah sesuatu yang sulit diterima akal sehat.
Hamparan mayat manusia dengan bagian-bagian tubuh termutilasi berserakan di mana-mana, terpampang di hadapannya.
Organ tubuh berhamburan, begitupun dengan darah yang menggenang dan terciprat di sekitar .
Kepala prajurit dan sepuluh anak buahnya tewas dengan cara mengenaskan.
Bahkan ia tak bisa mengenali jasadnya sebab kepala mereka saja tak tau terlempar ke mana.
'' Sharaswatiiiii.... '' suara serak nan khas itu menggema.
Lalu munculah sosok si nenek yang entah dari mana.
Seluruh tubuhnya berlumuran darah dengan menampilkan senyum penuh kengerian .
Sang Prabu mundur selangkah saat melihat si nenek mendekat , namun kaki rapuhnya tak jejak ke tanah. Seperti tengah melayang.
Mungkinkah ini perbuatannya ? Terka Sang Prabu.
Tapi bagaimana mungkin ?
Ini bukanlah hal yang bisa di perbuat oleh manusia.
Siapapun pasti tak akan percaya. Kecuali jika nenek ini bukanlah manusia.
Sesaat sebelum si nenek mendekat, tiba-tiba saja Sang Prabu di tarik masuk dan pintu langsung ditutup.
Saraswati lah yang melakukannya .
Wanita itu melepas pegangan lalu bersandar di pintu.
'' si-siapa dia.. dan ken-kenapa ? '' Sang Prabu terbata karena masih tak bisa mempercayai apa yang baru saja ia saksikan di luar tadi.
Saraswati memegang bahunya, membuat Sang Prabu menatapnya dengan sorot mata seperti orang linglung.
'' namanya Nyi Sukma.
Dia adalah seorang ahli ilmu hitam ''
'' ... ''
'' untuk sementara kita akan aman jika tetap berada disini. Hamba sudah membuat segel dengan menggunakan darah kacung ''
Sang Prabu shock mendengar penuturan istrinya.
'' kau-kau yang membunuh kacung yang kuberi tugas menjagamu ? ''
Saraswati mengangguk.
Ia lirik laki-laki matur tergantung sebab perbuatannya.
Padahal si kacung baru saja genap berusia 17 tahun namun harus mati sebagai tumbal ditangannya.
Masih jelas diingatkannya, saat ia memilih dan melantik laki-laki itu sebagai kacung pribadinya.
Ia memilihnya sebab tau jika laki-laki tersebut belum mengenal pernah mengenal perempuan secara intim alias masih perjaka.
Sama seperti perawan. Perjaka pun memiliki kelebihan tersendiri dalam dunia mistik.
Dan kacungnya itu memang telah ia rencanakan akan menjadi tumbal untuk hari ini.
Hari dimana ia harus menepati janjinya pada sang guru, Nyi Sukma.
'' tap-tapi bagaimana bisa ? ''
''sebab hamba juga seorang ahli ilmu Hitam. Hamba adalah murid Nyi sukma ''
' srek ' Sang Prabu mengambil beberapa langkah menjauh.
__ADS_1
'' saat ini Nyi sukma dalam keadaan lemah.
Raganya sudah diambang batas.
Ia tak akan bisa masuk ke mari sampai tujuh hari ke depan ''
Tujuh hari ?
Apa itu berarti mereka harus bertahan dan terkurung selama tujuh hari di tempat seperti ini ?
Lalu apa jaminannya Jika segel yang dibuat Saraswati akan bertahan ? Nengingat ia hanya lah seorang murid.Sedangkan makhluk di luar sana adalah guru yang ilmunya tentu jauh lebih tinggi.
Jika dalam keadaan lemah saja Nyi Sukma bisa membunuh seluruh prajuritnya hingga tubuh mereka tak bisa disatukan lagi ?
Entah kengerian seperti bisa di ciptakan seorang Nyi Sukma jika ia dalam keadaan sebaliknya.
Sang Prabu bergidik.Ia menggeleng , enggan membayangkannya .
'' SARASWATI !!!!
BUKA PINTU NYA !
UNTUK APA KAU MEMASANG SEGEL ?
APA KAU INGIN MENGHINDAR KU ?
APA KAU LUPA JANJIMU PADAKU, HAH ?!
AKU BUTUH RAGA BARU !
AKU BUTUH SATU PAGI TUMBAL UNTUK MELENGKAPI RITUAL KU ! "
JADI, SERAHKAN BAYI DAN PRIA ITU PADAKU SEKARANG JUGA ! '' suara Nyi Sukma memekikkan telinga.
Sang Prabu terdiam.
Tak tau harus apa dan bagaimana.
Ia tatap Saraswati yang tubuhnya perlahan merosot hingga terduduk di lantai .
Wajah Saraswati kian pucat. Bibirnya gemetaran.
Keringat dingin nampak telah membanjiri seluruh permukaan kulitnya.
Satu tangannya memegang perut, sedang tangan lainnya menyibak kain jariknya, lalu ia buka lebar ke dua kakinya.
" arrrggghhh......" teriakan memilukan seolah saling bersahutan dengan suara Nyi sukma yang tiada henti menggema dengan melontarkan kalimat yang sama.
Nti sukma terus - terusan mengulangi kalimatnya yang menagih janji Sawasrati dan inginkan segel dibuka agar ia bisa masuk.
Sementara sang Prabu masih tak mengerti.Ia butuh penjelasan . Namun tak mungkin,sebab Saraswati sepertinya sedang berjuang untuk melahirkan.
Sang Prabu yang tadinya takut saat Saraswati memberitahu siapa dirinya yang sebenarnya, lantas terenyuh melihat wajah wanita itu meringis menahan sakit.
Berulang kali Saraswati berteriak untuk melampiaskan rasa sakit yang teramat sangat .
Kemudian, dari jalan lahir darah segar mengucur semakin deras . Melihat itu, sang Prabu bergegas mendekat.
" berjuanglah, dinda Saraswati...berusahalah. Aku tau kau pasti bisa melakukannya " ucap sang Prabu mendekap tubuh Saraswati dan memegang tangannya.
Saraswati menoleh, menatap dengan air mata yang mengalir semakin deras.
Ia tak menyangka jika pria ini masih mau mendekat bahkan memberi dukungan padanya setelah tau siapa dirinya.
" eughhhhhhhhhh.... arrrggghhh " Saraswati berhasil mendorongnya hingga keluar.
Suasana mendadak sunyi. Suara Nyi Sukma tak terdengar lagi.
Pun dengan Saraswati yang sudah berhasil melahirkan anaknya.
Namun sama sekali tak ada suara tangis seperti yang seharusnya terjadi saat bayi baru lahir.
Saraswati terisak di sisa-sisa tenaganya.
Hingga sesaat kemudian, ia merasakan nafasnya seperti digunting. Putus-putus dan sesak.
Rasanya sudah rak ada lagi yang tersisa.Tenaganya telah habis terkuras.
Lalu ia hempaskan tubuhnya dan bersandar ditubuh Sang Prabu.
Perlahan nafasnya melambat seiring dengan kedua mata yang sayup-sayup tertutup.
Sang Prabu mencoba menyadarkan Saraswati dengan menggoyang tubuhnya.
Namun wanita tak merespon.
* * *
Bersumbang
Jangan lupa di like-ya
Dikomentarin juga sekalian.
Makasi 🤗
__ADS_1