
๐บ hem.. ๐บ
* * *
Sepi menyelimuti.
Beberapa saat tadi, Sarman dan Anggun pamit membawa serta kedua anak mereka .
Mereka pergi mengunjungi orang tua Anggun yang tinggal dikampung sebelah.
Begitu pun dengan kedua orang tua Sarman . Beralasan lama tak bertemu dan bersilahturahmi dengan besannya, pasangan lanjut usia itu pun ikut. Mereka berangkat menggunakan kendaraan masing-masing.
Tinggallah Lala, Kira dan Harsa dirumah.
Kira tau jika mereka sengaja pergi, agar ia dan Harsa memiliki ruang untuk bicara berdua dengan lebih leluasa.
Usai mengantarkan kepergian mereka tadi, Kira tak lantas masuk. Ia memilih duduk di kursi kayu yang disandarkan di dinding teras rumah.
'' ra '' Harsa menyapa sembari mendudukkan diri di samping sang istri.
Kira bergeming. Ia dengar. Tapi tak berniat menoleh apalagi menyahut.
'' soal yang tadi.. Kamu gak serius kan ? ''
'' menurut, mas ? Apa aku terlihat bercanda waktu mengatakannya ? ''
'' ra, perceraian itu bukan perkara kecil .
Gimana bisa kamu mikir buat pisah hanya karena masalah sepele ? ''
Kira tersenyum kecut.
'' masalah sepele katamu, mas ?
Asal kamu tau ! Ini juga yang buat aku uda gak bisa bertahan sama kamu.
Kamu selalu mengabaikan perasaan ku. Menganggap apa yang kurasakan bukan sesuatu yang penting ''
Jeda sejenak. Harsa menatap Kira yang sejak tadi menatap lurus ke depan.
'' Ra, mas minta maaf. Mas tau. Mas sadar, mas salah.. ''
'' telat, mas.
Pun yang aku butuhkan bukan maafmu ''
'' terus mas harus gimana, ra ? Mas gak mau rumah tangga kita berakhir dengan perceraian ''
'' aku bilang uda telat, mas " suara Kira meninggi.
" ... "
" apa mas lupa, kalau aku uda pernah kasi tau apa mauku !
Tapi apa ? Mas mengabaikan ku. Bahkan mas dengan tega gak kasi aku uang hanya karena aku bilang mau pulang ke rumah orang tuaku.
Apalagi setiap kali teringat waktu ibu menamparku dan mas yang gak melakukan apa-apa ..
Hati ku sakit, mas.
Andai saja saat itu mas membelaku. Mungkin akan lain ceritanya.
Tapi semua uda terjadi.Uda terlambat untuk mas sesali.
Aku uda gak tahan lagi . Aku uda gak sanggup ngadepin sikap ibu dan mas... Kalian terlalu semena - mena sama aku ''
' hiks ' Kira terisak. Air matanya mengalir tanpa henti.
Harsa hendak mendekat namun Kira bergeser.
'' terus gimana dengan Lala, ra.. ''
Kira menarik nafas panjang sembari menghapus air matanya.
'' terserah !
Mas mau bawa juga gapapa.
Asal Lala mau aja.
Tapi kalau bisa jangan. Mas juga tau kalau Lala gak bisa jauh-jauh dari aku ''
Harsa memutar tubuhnya .Kini pandangannya menghadap ke depan.
Ia mendongak berusaha menahan jatuh air matanya.
Kenapa jadi seperti ini ?
Padahal kemarin ia telah berkesimpulan semuanya akan baik-baik saja.
Tapi nyatanya - - Harsa miris memikirkan nasib rumah tangannya yang sedang diujung tanduk.
'' terus yang semalam kita lakukan itu apa artinya, ra ? '' suara Harsa terdengar lirih.
Ia teringat bagaimana semalam mereka begitu bergairah bercumbu.
'' anggap aja itu salam perpisahan dariku, mas .
Aku hanya ingin memberikan yang terbaik sebelum berpisah darimu ''
Harsa berdiri. Ia tak sanggup meneruskan pembicaraan ini .
* * *
Hari berganti.
Selama empat hari Harsa berada di rumah orang tuanya, Kira tetap melayaninya sebagimana seorang istri terhadap suaminya.
Hingga tiba saatnya Harsa harus kembali.
Namun Kira tetap kekeh pada pendiriannya.
Kira tak mau ikut. Apalagi jika harus di bawa tinggal bersama orang tua Harsa lagi.
Harsa pasrah. Begi pun kedua orang tua Kira, Sarman dan Anggun .Mereka tak berdaya dan tak bisa memaksa .
'' kasi, aku kesempatan. Aku akan pulang dan mempersiapkan rumah untuk kita tinggal bertiga " janji Harsa dan setelah itu pergi meninggalkan kediaman mertuanya.
Sehari berlalu , seminggu terlewati. Dan tak terasa enam bulan sejak saat itu.
Harsa datang menepati janjinya untuk menjemput anak dan istrinya pulang.
Namun tak semudah itu Kira mau ikut bersamanya. Ia masih harus meluluhkan kerasnya pendirian Kira.
Beruntung kakak ipar dan sang mertua membantunya meyakinkan sang istri.
Hingga akhirnya Kira mau memberikannya kesempatan.
Harsa senang.
Karena bisa berkumpul bersama anak dan istrinya lagi.
Namun sesampainya di kota, Kira mendapati kenyataan bahwa Harsa telah berbohong.
__ADS_1
Harsa membawanya kembali ke rumah itu lagi.
Kira meradang.
Ia kesal. Marah dan benci karena telah dibohongi.
Dan Kira menolak keluar dari mobil.
Beruntung ia sudah mengantisipasi semuanya.
Tanpa sepengetahuan Harsa.Sesaat sebelum pergi meninggalkan rumah orang tuanya, Kira dan Sarman telah merencanakan kesepakatan.
Kira akan menuruti apa yang mereka katakan untuk pulang bersama Harsa, tapi dengan syarat sang kakak harus mengikutinya sampai tiba di kota.
Ia ingin sang kakak ada dan menjadi saksi jika Harsa benar-benar memegang janjinya.
'' kita cuma sementara disini sayang.
Ibu bilang mau ketemu kamu dulu.
Dia mau minta maaf dan berbaikan denganmu ''
Kira menggeleng.
Ia tak percaya. Ia merasa rak ada alasan lagi baginya untuk mempercayai sang suami.
Namun karena terus di desak, Kira pun terpaksa keluar dari mobil .
Belum sempat ia melangkah masuk ke dalam rumah ,sebuah motor berhenti tepat di depan rumah .
'' kak Sarman '' Harsa nampak begitu terkejut melihat Sarman yang baru saja turun dari atas motor dan kini sudah berdiri di halaman rumahnya.
Ekspresi Sarman datar.
Ia lalu berjalan melewati Harsa .
Ia raih tubuh Lala dan menggendongnya. Sedangkan tangan satunya merengkuh pundak Kira .
'' jangan takut, Kira . Ada kakak .
Ayo, kita masuk dan temui mereka '' ucap Harsa mengeratkan pegangan pada pundak Kira .
Kira tergugu. Ia benamkan wajahnya di dada Sarman dan menumpahkan tangisnya.
Setelah di rasa Kira sudah cukup tenang, barulah mereka masuk ke tempat dimana telah menunggu Rianti dan kedua orang tua Harsa .
Mereka semua terkejut dan terlihat gugup berhadapan dengan Sarman yang bertubuh tegap, lebih berisi dan lebih tinggi dari Harsa .
Apalagi Sarman menyoroti mereka dengan tatapan dingin.
Lutut mereka serasa melemas .
'' jadi, kenapa Kira dibawa kemari lagi ? '' tanya Sarman menatap satu persatu wajah yang menunjukkan kecemasan.
'' mas Harsa bilang cuma mampir buat nyapa orang tuanya, kak.
Ka-katanya ibu mau ketemu untuk minta maaf sama aku '' Kira menoleh ke Harsa.
Harsa dengan cepat meminta maaf.
Ia lalu mengatakan alasan dan mengakui jika ia terpaksa berbohong karena tak punya pilihan.
Ia memang berniat untuk membawa Kira dan hidup terpisah dari orang tuanya.
Namun karena tak ada simpanan, sebab semua uangnya dipegang oleh sang ibu, Harsa yang tak tahan jika harus berpisah lebih lama lagi dari anak dan istrinya, nekat merencanakan kebohongan ini.
Pun sang ibu juga telah berjanji akan membantunya menemukan rumah kontrak setelah Rianti menikah nanti.
Harsa mengakhiri panjang lebar penjelasannya dengan ' maaf ' lagi.
Sarman bergeming. Menatap adik iparnya dengan penuh kekecewaan.
'' Jadi yang kau bilang sudah menyiapkan rumah untuk kalian bertiga tinggal itu bohong ? ''
Harsa mengangguk samar. Tak mungkin juga ia mengelak sebab sudah terlanjur ketahuan.
'' saya kecewa sama kamu. Saya kira kamu laki-laki yang bisa bertanggung jawab sebagai kepala keluarga ''
'' ... ''
'' baiklah kalau begitu. Karena semuanya sudah jelas, sekarang saya hanya perlu menambahkan.
Kira dan Lala tidak akan pernah kembali tinggal disini lagi.
Mereka akan saya bawa pulang.
Dan... ''
Sarman sengaja menggantung kalimatnya.
Diperhatikannya mereka yang bergeming dan tak berani menatapnya.
'' dan saya tegaskan.
Kira tidak akan saya biarkan kembali ke mari dengan alasan apapun.
Hal yang sama berlaku juga pada Harsa.
Saya harap kamu tidak datang ke rumah dan menjanjikan apapun lagi pada Kira.
Mulai detik ini, hubungan kalian berakhir. Secepatnya Kira akan mengirim gugatannya padamu ''
'' kakak...'' Kira menaikan dagunya. Menatap wajah yang dipenuhi ketegasan.
Ia terharu. Bersyukur memiliki seorang saudara yang bukan hanya bijak, namun juga bersedia pasang badan untuk melindunginya.
Sarman pun membawa Kira dan Lala keluar dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
* * *
Setahun setelah resmi bercerai dari Harsa.Perlahan Kira mulai bangkit dan menata hidupnya.
Kira kini di sibukan dengan mengurus warung yang dibangun sederhana oleh Sarman dan ayahnya di depan rumah mereka.
Kemarin ia memang sempat terpuruk.
Namun ia bersyukur memiliki keluarga yang selama ada dan mendukungnya.
Apalagi sekarang, hubungan ibu dan kakak iparnya tak lagi seperti dulu.
Ibunya kini memperlakukan Anggun dengan baik dan selalu berucap lembut layaknya anak sendiri.
Kira senang akan perubahan itu. Mungkin berkaca dari yang ia alami, sang ibu sadar dan mau berubah demi kelanggengan rumah tangga anak sulungnya.
'' Hai, ra '' sapa seorang pria pada Kira yang tengah mengemasi barang dagangannya.
Kira baru saja pulang dari pasar.
'' eh, mas Ari '' sahut Kira acuh.
Daripada meladeni, ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya .
Kira sebenarnya tak begitu suka disambangi setiap hari oleh pria bernama Ari ini. Sebab ia tau maksud Ari yang tak pernah absen datang ke warungnya .
__ADS_1
' tit' suara klason mobil terdengar. Kira dan Ari serempak menoleh ke asal suara kendaraan roda empat yang telah berhenti dan parkir dihalaman rumah.
'' siapa ? '' tanya Ari.
'' biasa mantan suami aku '' masih menjawab acuh.
'' em. Ya, uda de. Lain kali aja lagi aku kesini.
Males ada saingan '' Ari pergi dengan wajah masam.
Kira tak perduli.
Dilihatnya Harsa sudah keluar dan berjalan kearahnya.
'' tumben datang gak ngabarin dulu ''
Harsa menjawabnya dengan tersenyum.
'' duduk, mas '' Kira mempersilahkan sang mantan suami untuk duduk di kursi yang melintang di teras warungnya.
'' ko, sepi ? '' Harsa celingukan dengan pandangan ke arah rumah.
'' makanya ku bilang tadi . Kok, tumben datang gak ngabarin.
Semuanya pada pergi ke kampung sebelah. Keluarganya mbak Anggun lagi ngadain hajatan ''
''Ooooo trus kamu ? ''
'' aku tadi ke pasar dulu. Barang dagangan ku uda pada habis soalnya.
Habis ini baru nyusul ke sana ''
'' emm... aku ikut bole ? ''
'' eh ? ''
'' aku kan datang pengen ketemu Lala .
Aku juga gak bisa lama-lama.
Nanti sore uda harus balik ''
'' ... '' Kira memilih tak menjawab.
Satu sisi ia tak enak menolak.
Karena memang tujuan Harsa adalah untuk bertemu Lala. Tak mungkin ia sampai hati membuat waktu perjalanan selama 8 jam Harsa sia-sia.
Kira sebenarnya kasihan. Memang setelah resmi bercerai, Harsa meminta agar diperbolehkan datang untuk menjenguk Lala.
Pun tak mungkin dan tak akan mau juga jika Kira yang harus mengantar Lala menemui Harsa ke sana.
Tapi jika nanti ia pergi bersama Harsa , apa kata orang-orang yang melihat mereka nanti ?
Kira menghela berat. Tangan dan otaknya sama-sma tengah sibuk dengan urusan masing-masing.
' tak ' Kira meletakkan secangkir kopi panas di samping duduk Harsa .
'' diminum dulu, mas. Habis itu baru kita nyusul kes ana.
Aku juga mau capek. Mau duduk bentar '' ucap Kira yang mendudukkan diri diujung kursi yang sama.
Harsa tersenyum sembari mengucapkan terima kasih. Ia senang mendengar kata ' kita ' barusan.
Seperti ada percikan harapan .
Ya, Harsa masih menaruh harapan besar jika suatu hubungan mereka bisa kembali seperti dulu lagi.
'' yang tadi itu siapa ? '' tanya Harsa yang ternyata memperhatikan pria yang menyambangi Kira sebelum dirinya tadi.
'' mas Ari '' singkat Kira.
'' em.. '' manggut-manggut ragu ingin meneruskan obrolan. Tapi karena penasaran, Harsa memberanikan diri untuk bertanya.
'' sering ke sini ? ''
'' tiap hari ''
Harsa mengulum senyum.
'' terus ? ''
'' apanya ? '' menoleh Harsa dengan kening mengkerut.
'' ya, masa kamu gak tau kalau ada pria tiap hari nemuin seorang seorang wanita, pasti ada maksudnya to ? ''
'' hah' '' Kira tergelak tak percaya.
'' dengar ni, mas ya.
Aku tau kok apa maksud mas.
Dan juga kenapa mas Ari tiap hari nemuin aku ke sini. Dia juga uda bilang niatnya buat deketin aku.
Tapi aku nolak. Aku gak mau.
Karena apa ?
Asal mas tau aja.
Aku gak minat mau menjalani hubungan sama siapapun.
Aku uda tenang dengar hidupku yang sekarang.
Lagian kalau aku sama, dia terus nikah. Aku bakalan dibawa ke rumah orang tuanya
Bakalan tinggal seatap dengan mertua lagi.
Ya, gak maulah.
Dia aja sampai di cerein sama istrinya gara-gara gak betah tinggal sama mertua.
Masa iya aku mau ngerasain hal yang sama lagi ? ''
Harsa tertunduk.
Kira ternyata masih menyimpan trauma pada penyebab berakhirnya rumah tangga mereka .
Harsa pasrah.
Ia tak akan lagi mengungkit hal itu lagi.
Tapi bukan berarti dia menyerah pada Kira.
Ia akan tetap berusaha dan terus mencoba hingga berhasil merebut hati mantan istrinya.
๐ Selesai๐
Jangan lupa like-nya ya
Komennya juga sekalian
makasi ๐ค
__ADS_1