Sepenggal Cerita

Sepenggal Cerita
Saudara Tiri


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Suasana hikmat memenuhi seisi rumah sederhana yang berada di pemukim padat penduduk.


Sesaat tadi, prosesi pernikahan yang dilakukan secara agama dilangsungkan.


Soraya, wanita 30 tahun merupakan anak sulung keluarga pak Komang yang sudah lima tahun ditinggal pergi selamanya sang suami ,akhirnya resmi melepas status jandanya.


Soraya memiliki anak berusia 8 tahun bernama Ririn.


Enam bulan lalu, seorang kerabat jauh mendatangi kediaman pak Komang untuk menawarkan perjodohan .


Dan hal tersebut disambut baik oleh pak Komang dan istri. Mereka berharap jika inilah jodoh bagi anak mereka yang telah cukup lama hidup sebagai single parent.


Setelah tiga kali lelaki itu bertandang ke rumah pak Komang, lelaki tersebut lantas mengutarakan niat untuk menikahi Soraya.


Dan tentu saja ke dua belah pihak keluarga merestui karena menilai mereka berdua cocok.


Herman . Pria mapan berusia 40 tahun berstatus duda dengan seorang anak perempuan yang telah remaja. Erna namanya , dan tahun ini ia genap berusia 14 tahun. Sama seperti Soraya, Herman juga ditinggal meninggal sang istri tiga tahun lalu.


Herman bekerja sebagai manager di salah satu bank swasta.


Pernikahan antara janda dan duda itu berlangsung sederhana . Sebab keduanya memang telah sepakat untuk tidak mengadakan resepsi .Hanya Ijab kabul saja.


Setelah dinyatakan sah sebagai suami istri, acara dilanjutkan dengan makan - makan keluarga.


Kemudian, pasangan pengantin baru itu meninggalkan kediaman pak Komang dan diantar ke sebuah hotel yang memang sudah dipersiapkan untuk menghabiskan malam pertama mereka sebagai suami istri.


* * *


Setahun kemudian.


Pagi itu, Soraya terlihat beraktivitas seperti biasa.


Ia tengah menyiapkan sarapan untuk suami dan kedua anaknya.


Tak berselang lama, seluruh anggota keluarganya berkumpul dan duduk mengitari meja makan.


'' ya , nanti sore kamu gak usah masak '' ucap Herman pada sang istri .


Erna yang mengenakan seragam SMP dari sebuah sekolah swasta itu, melirik Soraya.


Ibu sambungnya itu juga kedapatan meliriknya.


Erna lalu beralih pada sang papa.


'' asik.. kita mau makan diluar ya pa ?


Kebetulan uda bosan sama masakan rumah '' seru Erna bernada sindiran sebab selama ini Soraya lah yang memasak makanan yang mereka makan.


Soraya mengulum bibir, lalu menoleh pada Ririn yang mengenakan seragam SD dari sekolah negri biasa.


Ririn bergeming.


Bahkan sarapannya saja tak jadi ia sentuh setelah mendengar ucapan saudara tirinya barusan.


Soraya kemudian mengalihkan pandangan pada suaminya.


Herman hanya menggeleng menanggapi sikap Erna.


Soraya pun hanya bisa menghela nafas.


Padahal ini bukan kali pertama Erna menunjukkan ketidak sukaan terhadapnya didepan Herman .


Entah memang Herman yang tak pernah peka. Atau mungkin tak pernah perduli pada sikap Erna yang demikian.


'' papa sama mama ada urusan, Erna. Jadi kamu sama Ririn di rumah aja ''


'' ah, papa pilih kasih '' Erna mengerucut kan bibirnya sambil melemparkan tatapan sinis pada Soraya.


'' Erna. Papa sama mama pergi karena memang ada keperluan. Bukan pergi jalan-jalan ! "


Diam beberapa saat . Herman memulai mengisi perutnya, begitupun dengan Erna.


Pun dengan Soraya yang sebelumnya menatap Ririn seraya mengangguk sekali. Isyarat agar Ririn juga harus memulai sarapannya .


'' Ririn boleh ikut, ya mas '' ucap Soraya setelah melihat Herman telah menyelesaikan sarapannya.


Herman menggeleng.


'' kalau Ririn gak mau ditinggal dirumah, nanti kita antar ke rumah orang tuamu saja.


Sudah lama juga kita gak berkunjung ke sana ?


Ririn kangen gak sama nenek - kakek ? '' Herman menatap anak tirinya sambil tersenyum ramah.


Ririn mengangguk samar. Apalah dayanya yang hanya bisa menurut. Sebab ia tak pernah punya pilihan selain diam dan mengikuti semua peraturan rumah ini.


Dulu, ia berpikir dengan sang ibu menikah, maka kehidupan mereka bisa membaik.


Sang ibu tak perlu capek kerja di pabrik konveksi lagi.


Tapi nyatanya.


Ayah tirinya memang baik . Tak pernah kasar dan selalu memperlakukannya dan sang ibu dengan baik.

__ADS_1


Tapi tidak oleh Erna, saudara tirinya.


Sejak pertama kali ia dan sang ibu menginjakkan kaki di rumah ini, Erna secara terang - terangan memperlihatkan sikap tak bersahabat.


Erna mengatur apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan di rumah yang ia claim sebagai miliknya.


Erna bahkan mengatakan jika, ia dan sang ibu tak lebih dari sekedar benalu yang numpang hidup dari kerja keras ayahnya.


Erna juga menambahkan , tak boleh ada yang mengadukan apapun yang ia lakukan dan yang ia katakan.


Ia bahkan sampai mengancam , jika berani memberitahu bagaimana ia selama ini memperlakukan mereka pada sang ayah , maka ia akan membuat mereka menyesalinya.


Entah dengan cara apa , tapi yang pasti Soraya dan Ririn memilih bungkam sebab tak ingin ada masalah.


Pagi berganti, siang terlewati, maka sorepun datang.


Herman pulang dari kantor dan langsung bergegas bersiap untuk hal yang sudah ia katakan tadi pagi.


" mas " Soraya mendekati suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Herman menatapnya.


" sebenarnya kita mau kemana, sih ? Sampai anak anak gak bole ikut ? "


Herman tersenyum .


" ke dokter kandungan " ucap Herman berlalu dari hadapan istrinya dan berjalan ke arah ranjang.


Ia raih dan ia kenakan pakaian yang telah Soraya siapkan di atas tempat tidur.


" kamu ingat , aku pernah cerita kalau minggu kemarin gak sengaja ketemu teman lama ku ? " bertanya sambil mengancingkan bajunya.


Soraya kembali mendekat. Ia tatap Herman yang nampak begitu bersemangat.


" kita sudah setahun menikah. Tapi belum juga ada tanda-tanda kamu hamil. Jadi, aku pikir gak ada salahnya kita coba periksakan diri dan konsultasi.


Nah kebetulan, temen aku itu dokter kandungan ''


Soraya menunduk, sambil menghela nafas perlahan.


Ia teringat dimalam setelah mereka berhubungan untuk pertama kalinya , Herman mengatakan jika ia harap Soraya bisa langsung hamil.


Sebab ia sangat ingin memiliki anak lagi.


Namun, bukannya Soraya tak mau.


Hanya saja ia sudah terlanjur berjanji pada Erna untuk tidak hamil sampai Erna menyatakan sudah bisa menerimanya sebagai ibu sambungnya.


Dan hal tersebut hanya ia ,Ririn dan Erna saja yang tau.


" mas " Soraya menegakkan kepalanya.


'' ada apa ? ''


'' kalau tentang itu, kita gak perlu ke dokter untuk tau apa masalahnya ''


Herman mengernyit.


'' sebenarnya selama ini aku minum pil KB ''


'' ... ''


'' ak- aku bukan tak mau punya anak tapi - '' Soraya terlihat ragu. Di lihatnya wajah Herman yang tadi berseri perlahan menjadi datar.


'' Erna bilang dia belum punya adik. Jadi.. '' Soraya terpaksa harus mengatakannya.


'' seharusnya kau bicarakan hal itu padaku. Bukan main memutuskan sendiri seperti ini !


Lagipula kenapa kau harus menurutinya ? "


" .. ba-bagaimanapun dia anak mas. Aku tak bisa mengabaikan jika memang dia tak menginginkan kita punya anak "


' ck ' Heru berdecak kesal.


" kita tetap ke dokter.


Soal Erna , aku yang akan bicara dengannya nanti "


" tap-tapi Ririn jadikan di titipin ke - "


" Tidak.


Ririn tetap disini saja.


Aku tak mau bertemu orang tuamu dengan susana hati seperti ini "


Soraya tak punya pilihan lain selain menurut. Ia terpaksa pergi meninggalkan Ririn di rumah berdua dengan Erna.


Ia sebenarnya khawatir. Tak tega namun tak berani membantah ucapan sang suami.


Sepeninggalnya kedua orang tua mereka, Erna terlihat menghampiri Ririn.


Seperti biasa. Erna memang selalu mengintimidasi Ririn dan tak jarang membuat gadis kecil itu menangis sebab tak berdaya melawan.


Disaat bersamaan.


Mobil yang dikendarai Herman berbalik kembali ke rumah . Herman lupa membawa dompetnya.

__ADS_1


Beruntung belum jauh. Gumamnya lega.


Begitu sampai didepan rumah, Herman bergegas keluar. Soraya yang sejak tadi perasaannya tak tenang pun ikut keluar dan masuk ke dalam rumah.


Erna yang mendengar suara mobil berhenti , di susul kemudian suara pagar dan pintu terbuka, segera menyuruh Ririn masuk ke kamarnya.


Namun Ririn menggeleng . Kali ini tak akan menuruti perintah Erna.


Ia merasa cukup sampai disini Erna menyiksanya.


Ia ingin menunjukkan pada dua orang yang langkahnya terdengar sudah semakin dekat , apa yang telah Erna lakukan padanya.


Erna yang meradang lantas menarik paksa Ririn. Ia berniat menyeret dan akan menguncinya didalam kamar.


Namun Ririn tetap bertahan.


Erna menarik tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang pegangan tangga.


Karena tenaga Erna jauh lebih kuat darinya, maka pegangan itu pun terlepas.


Dan tepat bersamaan dengan itu pula Herman dan Soraya muncul dari balik dinding pemisahan ruangan.


Sontak Erna pun melepas tangan Ririn, membuat Ririn terhuyung karena tak siap.


Alhasil iapun jatuh.


Soraya yang melihat itupun segera berlari . Ia bantu putri semata wayangnya berdiri .


Hati Soraya berdenyut nyeri, melihat air mata yang membanjiri wajah polos Ririn.


" kamu apakan lagi Ririn , Er ? '' tanya Soraya menatap tajam pada anak tirinya.


Sama seperti Ririn. Kali inipun Soraya tak akan tinggal diam . Cukup baginya bersabar menghadapi kelakuan bengis anak sambungnya ini.


'' gak diapa-apain kok. Kita tadi mau naik ke atas.


Eh, dia nyerobot mau duluan.


Gak sengaja kesenggol , ya jatuh deh '' ucap Erna tanpa merasakan bersalah.


Soraya menatap sang suami.


Herman bergeming sambil menatap mereka silih berganti.


'' mas ''


'' nanti saja ini dibahas.


kita selesaikan dulu urusan kita ''


Herman sudah akan beranjak namun tak jadi sebab Soraya kembali menyebut panggilannya.


'' aku mau kita selesaikan ini dulu ''


Herman menatap sang istri. Untuk pertama kalinya ia melihat ekspresi Soraya yang serius syarat akan ketegasan ucapannya.


'' tap- tapi kita uda terlanjur buat janji sama dokter , ya ''


Soraya mendengus kesal.


Ia alihkan pandangannya pada Erna .


'' dokter ? '' Erna berucap dengan ekspresi heran.


'' iya dokter.


Kami berencana ke dokter kandungan. Karena papamu pengen punya anak lagi '' Soraya menjelaskan .


'' ka-kalian mau punya anak lagi ? Kenapa gak bicarain dulu sama aku ? '' Erna menatap Herman yang juga menatapnya dengan cara yang sama.


Herman heran sekaligus tak percaya. Kenapa soal menambah anggota keluarga seperti harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari Erna ?


Ialah kepala keluarga, jadi sudah sewajarnya ia yang memutuskan apa yang terbaik untuk keluarga ini.


'' ok . Cukup !


Ya, ayo kita pergi. K ita selesaikan dulu urusan kita ke dokter.


Baru setelah itu kita semua bicara ''


'' gak. Aku gak mau.


Aku mau kita bicara sekarang. Bukan nanti ''


'' ... ''


Semua bergeming.


Baik Erna maupun Herman sama-sama memilih bungkam.


Soraya menghempaskan nafasnya dengan kasar.


Ia lalu mempererat pegangan di bahu Ririn dan membantunya berjalan meninggalkan dua orang yang masih tak bergerak dari tempat mereka berpijak.


bersumbang - -


Hayo, di-like ya

__ADS_1


Di komen juga sekalian


__ADS_2