
🌺 hem... 🌺
* * *
Kira yang sama sekali tak berniat terlibat hanya menatap lalu pada persiapan acara yang akan dilaksanakan dua hari lagi.
Mereka semua hanyut dalam kesibukan dan sama sekali tak memperdulikannya yang bergeming tanpa melakukan apapun.
Kira menelan ke kecewannya.
Satu-satunya orang yang paling ia harapkan akan mengerti dirinya justru lebih memprioritaskan keluarganya.
Harsa bahkan mengambil cuti selama seminggu demi acara tersebut.
'' sayang, ayo.
Kita harus ke butik buat fitting baju sekali lagi '' ajak Harsa pada Kira yang tengah menyuapi Lala makan.
Kira menggeleng. Dengan alasan jika minggu lalu ia sudah fitting baju yang akan dikenakan saat acara nanti, iapun menolak ikut.
Toh tak akan ada juga bedanya sebab tak ada yang berubah dari tubuhnya. Jelasnya.
Harsa menghela nafas.
Sejak hari pertengkaran mereka waktu itu dan juga ia yang telah dengan tegas menolak permintaan sang istri, sikap Kira berubah.
Jika sebelumnya Kira sangat ceria dan lincah bekerja dirumah, sekarang Kira lebih banyak diam dan jarang keluar kamar.
Harsa menyesal . Dan meskipun sudah berulang kali meminta maaf, Kira tetap saja bergeming dan tak mau menanggapinya.
'' ya, uda. Mas gak akan maksa. Lala ikut papa, yuk ? '' ajak Harsa pada putrinya yang lucu.
Lala menatap sang papa, tangannya terulur dan langsung disambut Harsa .
'' mamaaaa... '' teriak Lala saat menyadari jika sang mama tak beranjak ikut.
'' mama gak ikut, sayang..Kan ada nenek sama kakek juga '' ucap Kira mencoba menenangkan Lala.
Bocah polos itu menatap secara bergantian pada papa dan mamanya.
Ia lalu merengek dan mengulurkan tangannya pada Kira.
Harsa pun menyerahkan Lala pada Kira setelah itu pamit dengan perasaan hampa.
Sebelum berangkat pergi, Harsa sempat melihat kebelakang. Rasanya ia sudah tak tahan jika di acuhkan lebih lama lagi oleh sang istri.
Jangankan mau melayaninya, menatapnya saja Kira tak mau.
Entah sampai kapan Kira akan bersikap seperti itu padanya. Harsa nelangsa.
Pukul 10 Harsa dan kedua orang tuanya meninggalkan rumah. Dan lewat tengah hari, mereka baru kembali.
Harsa lebih dulu keluar dari kendaraan roda empatnya. Tak lupa Harsa mengucapkan salam saat kakinya baru saja menyentuh teras rumah.
Tak ada sahutan.
Harsa bermaksud membuka pintu, namun di kunci.
Perasaannya mulai tak enak. Segera ia membuka pintu dengan kunci yang selalu ia bawa kemana-mana dan segera melangkah masuk kedalam rumah .
'' Ra ?'' Harsa mengerutkan dahi, ketika mendapati kamarnya kosong.
'' Lalaaaa .. '' panggilnya seraya menelusuri tiap sudut rumah.
Kedua orang tuanya pun turut mengekor dan mencari keberadaan menantu dan cucu perempuan mereka.
Hingga akhirnya suara tetangga depan terdengar memanggil.
Si tetangga menyerahkan kunci rumah yang Kira titipkan padanya sekaligus memberitahu, jika tak lama setelah Harsa dan kedua orang tuanya pergi tadi, Kira dan Lala juga pergi dengan sebuah taksi online.
'' istrimu benar-benar uda kelewatan !
Dia sengaja ya mau bikin malu keluarga kita ?! '' sang ibu meradang, memikirkan jika sebentar lagi keluarganya pasti menjadi bahan gunjingan di lingkungan tempat tinggalnya.
Harsa tak menggubris ocehan sang ibu.
Sebab ia tengah sibuk menghubungi istrinya.
Tak kunjung diangkat, Harsa segera meraih kunci mobil . Namun sang ibu menghadang langkahnya di mulut pintu.
'' kamu mau nyusul dia ? Kemana ? ''
'' dia pasti ke rumah orang tuanya, bu ''
'' kamu yakin ?! Kalau ternyata kamu udah cape-cape nyusul ke rumah mertuamu terus dia gak ada gimana ? ''
'' gak mungkin, bu. Kira pasti ke sana. Mau kemana lagi memangnya dia ''
'' HAR !!! ''
Harsa tersentak.
'' besok acara lamaran adikmu.
Kalau kamu nyusul sekarang, kamu gak mungkin bisa langsung balik ke sini ! ''
Harsa terdiam .Yang ibunya katakan memang benar. Jarak antara kota dan tempat tinggal orang tua Kira memakan waktu kurang lebih 8 jam.
Harsa bingung.
Satu sisi ia ingin mengejar sang istri. Namun di sisi lain bagaimana dengan acara lamaran adiknya besok ?
Keluarga calon adik iparnya pasti bertanya tanya jika ia ,istri dan anaknya tak ada dalam acara tersebut.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Harsa menurut setelah sang ibu memberi solusi.
Nanti jika ada yang bertanya kemana Kira, mereka harus kompak menjawab jika Kira mendadak pulang kampung karena ada keluarganya meninggal.
Sang ibu juga mengatakan jika ia boleh menyusul setelah acara lamaran selesai.
Harsa frustasi.
Bagaimana bisa ia menyusul jika cutinya sisa lima hari ?
Pun ia tak bisa mengajukan cuti dalam kurun waktu berdekatan.
Sedangkan saat masuk nanti, ia mungkin harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda karena ia tinggal cuti selama seminggu.
Sementara itu.
Sayang kamu dimana ? Plis , angkat telponku.
Sayang aku gak bisa nyusul kamu sekarang.
Tapi aku janji bakal secepatnya jemput kamu pulang.
Sayang balas dong. Jangan cuma di baca aja.
Kira menatap nanar pada layar ponselnya.
Ia yang sudah berada dalam bus menuju ke kampung halamannya, sudah bulat memutuskan. Ia tak mau dan tak akan kembali ke sana lagi.
Karena itu, iapun telah memantapkan hati, jika ia tak akan meladeni pesan atau telpon Harsa .
* * *
Bus berhenti di sebuah gerbang masuk sebuah desa yang lokasinya cukup jauh dari jalan utama.
Kira dan Lala turun beserta satu buah tas besar bawaan mereka.
'' Ra.. '' panggil seorang pria yang turun dari motor matic hitamnya.
'' kak '' Kira tersenyum lebar melihat Sarman, kakak laki-lakinya.
Kira tadi menghubungi Sarman saat bus berhenti untuk rehat sejenak.
Pria 40 tahun itu, menyambut uluran tangan Kira . Ia mengusap kepala Kira, saat sang adik mengecup punggung tangannya .
Singkat waktu, mereka telah tiba di rumah.
Meski malam sudah begitu larut, namun kedua orang tua Kira rela menunggu demi menyambut kedatangan anak dan cucu perempuan mereka.
'' kok, sendirian ? Mana Harsa ? '' tanya sang ibu yang sempat celingukan mencari sosok lain.
Kira hanya menjawab dengan senyuman. Karena lelah, Kira pun minta agar ia diijinkan istirahat dan mereka akan bicara besok.
Meski kedua orang tuanya penasaran kenapa Kira datang tanpa mengabarkan terlebih dahulu, namun mereka berusaha untuk tidak mendesak dan memaklumi.
Suara kok - kan ayam terdengar riuh menyambut munculnya fajar.
Jarum jam baru saja berhenti di angka lima, waktu yang terbilang masih sangat pagi.
Tapi kesibukan telah terdengar di dapur.
Suara piring ,gelas, sendok dan peralatan masak lainnya sedang beradu di pelataran belakang . Menandakan jika tengah ada aktifitas mencuci.
'' pst. pst. "
Yang sedang berjongkok memutar lehernya ke belakang.
" kamu kalau kerja mbok ya pelan - pelan, napa ?
Jangan berisik.
Kira sama Lala tu masih tidur . Kasihan mereka kalau sampai keganggu ''
'' i-iya bu maaf.. '' mengangguk dengan nada suara yang pelan. Kemudian ia pun meneruskan pekerjaan tangannya.
Selesai mencuci piring , perempuan berhijab putih itu lantas mencuci beras dan mulai bersiap untuk membuat sarapan.
Anggun. Dia adalah istri Saraman .
Sama seperti Kira. Anggun pun sejak menikah tinggal bersama orang tua suaminya.
'' Gun '' panggil Ibu mertuanya.
'' ya, bu ''
'' Ibu mau ke pasar.
Kamu siapin sarapan buat semuanya ya.
Habis tu beres-beres.
Ingat pelan-pelan ! Jangan sampai terlalu berisik ''
'' iya, bu. Hati-hati dijalan ''
'' em ''
Sepeninggalnya Ibu mertuanya, Anggun terlihat menghela nafas.
Lalu melanjutkan lagi pekerjaannya.
Namun baru saja nasi ia masukkan ke magic com, terdengar suara tangisan bayi .
Anggun bergegas ke kamarnya.
__ADS_1
Di lihatnya sang suami telah duduk dan menggendong anak kedua mereka.
'' uda gak papa. Dika biar aku yang urus.
Kamu pasti lagi repot di dapaurkan ? '' Samar tersenyum sambil mengangguk. Meyakinkan jika ia bisa mengurus putra mereka agar Anggun dapat meneruskan pekerjaannya di dapur.
Anggun terenyuh.
Meski kerap mendapat perlakuan tak enak dari mertuanya, terutama sang ibu mertua.
Tapi ia sangat bersyukur karena Sarman sangat memahami perasaannya dan juga begitu perhatian padanya.
Tak hanya mau membantunya mengurus kedua buah hati mereka, Sarman juga selalu bersikap tegas dan tak ragu menegur ibunya jika di rasa sudah bersikap tak semestinya terhadap Anggun.
'' makasih, ya mas '' ucap Anggun yang kemudian berbalik dan keluar dari ruang tidur itu
'' eh, Kira.. kok uda bangun '' Anggun sontak panik mendapati adik iparnya yang baru saja sampai tadi malam sudah berdiri di depan meja kompor.
Kira menebar senyum.
'' aduh, kamu pasti keganggu tidurnya gara-gara suara berisik di dapur ya ?
Maaf, Kira..Mbak gak maksud.
Uda kamu balik ke kamar gih. Tidur lagi.. ''
Kira terkekeh kecil mendapati raut ke khawatiran di wajah cantik kakak iparnya.
'' gak papa, mbak ku.
Aku uda terbiasa bangun pagi juga kok .
Uda mbak aja yang ke kamar.
Tadi aku dengar suara Dika nangis.
Mungkin dia mau nyusu '' Kira mendekat, lalu memberi sedikit dorongan di lengan Anggun.
Dengan langkah berat, Anggun berjalan ke kamarnya. Namun hanya berselang beberapa detik saja ia sudah kembali dengan menggendong bayinya yang baru berusia tiga bulan.
' srek ' Kira menarik kursi dan mempersilahkan Anggun duduk.
'' uda, tu susuin Dika. Kasian mulutnya uda cuap-cuap gitu ''
Anggun pun melakukan seperti yang Kira katakan. Pun Dika terjaga karena memang haus ingin menyusu.
Kira tersenyum lalu duduk berhadapan dengan Anggun.
Ia tatap kakak iparnya yang sejak tadi menyorotnya dengan gelisah.
'' aku itu anak dirumah ini.
Bukan tamu.
Jadi mbak gak perlu melayani atau bersikap berlebihan sama aku.
Terus, omongan ibu itu gak perlu didengar semuanya. Dan jangan selalu dituruti.
Kalau mbak capek atau lagi repot sama anak, bilang aja terus terang ''
Anggun tertunduk.
Haru menyeruak di relung hatinya.
Lagi-lagi ia bersyukur. Selain suami, adik iparnya sejak dulu selalu menaruh perhatian dan selalu mengerti keadaannya.
Anggun menegakkan kepala dan menyeka ke dua sudut matanya.
'' mbak, juga. Kalau gak betah sama mertua minta aja sama mas Sarman untuk pisah rumah.
Jangan sampai memaksakan diri. Em ? ''
Anggun menggeleng.
Alasan mengapa mereka tak pisah rumah adalah karena itu memang keinginannya.
Sarman memang pernah menawarkan untuk hidup mandiri.
Namun Anggun tak sampai hati pada kedua mertuanya yang telah berusia lanjut jika ditinggal berdua.
Pun ke dua mertuanya begitu menyayangi anak-anaknya.
Ia dapat bersabar dan bertahan menghadapi sikap cerewet ibu mertuanya dengan menganggap jika hal tersebut sebagai bentuk perhatian dan ingin yang terbaik untuk rumah tangga mereka.
Kira terdiam.
Ia lalu teringat bagaimana kehidupannya yang juga tinggal seatap dengan orang tua sang suami.
Bangun paling pagi, membereskan piring kotor sisa semalam dan menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga.
Ditengah kesibukannya mengerjakan tanggung jawab rumah yang seolah tak ada habisnya, ia masih harus memperhatikan dan mengurus anak dan suaminya.
Tapi semua yang ia lakukan selalu saja tak pernah benar di mata Ibu mertuanya dan berakhir dengan kritikan .
'' apa setiap menantu yang tinggal bersama mertuanya , selalu mengalami hal seperti ini ? ''
* * *
Bersumbang - -
Jangan lupa like-nya ya
Komen juga sekalian.
__ADS_1
Makasih 🤗